Pilih Bahasa: Indonesia

Antara Sukarni dan Sukarno

Sukarno-Sukarni, laksana sepasang kakak-beradik dalam perjuangan kemerdekaan.
Ki-ka: Tan Malaka, Sukarni, dan Sukarno.
Historia
pengunjung
8.1k

SUKARNI, bersama Adam Malik, Chaerul Saleh, dan Wikana, “menculik” Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok sehari sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Peran istrinya, Nursjiar Machmoed, tak bisa diabaikan begitu saja.

“Di rumah ada dua anak. Bapak berani bilang saya begini, saya begitu itu karena di rumah ada mama. Kalau mama nggak ada, dengan anak dua, apa berani Bapak? Nggak berani,” kata Emalia Iragiliati Sukarni, putri Sukarni, dalam peluncuran bukunya, Sukarni dan Actie Rengasdengklok, di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta (20/4/2013).

Namun, Emalia mengatakan dia tak pernah mendengar cerita soal pekerjaan ataupun kiprah ayahnya. Dia pernah bertanya, semisal, kenapa ayahnya dipenjara Sukarno tapi dia tak mendapat jawaban memuaskan. Ayahnya selalu menjawab singkat dan menutup kesempatan untuk bertanya lagi. Di sisi lain, orangtuanya menjadikan rumah steril dari urusan politik.

Sukarni lahir di desa Sumberdiren, Blitar, Jawa Timur, pada 14 Juli 1916. Dia anak dari pasangan seorang warok, Dimun Kartodiwirjo dan Supiah. Darah “perlawanan” mengalir dari kakeknya di pihak ayah, Onggomerto, seorang pengawal setia Pangeran Diponegoro. Namun, justru ibunya yang menjaga darah “perlawanan” tetap mengalir dalam diri Sukarni.

Sukarni terjun ke dalam pergerakan kemerdekaan sejak usia belasan. Atas dorongan Ibu Wardoyo, kakak Sukarno, Sukarni ikut pendidikan jurnalistik di Bandung di bawah bimbingan Sukarno. “Perkenalan dengan keluarga Bung Karno sejak berusia 14 tahun tersebut merupakan awal dari kedekatan Sukarni dengan Bung Karno,” tulis Emalia.

Pada 1930, Sukarni menjadi anggota Perhimpunan Pemuda Pelajar Indonesia (PPPI). Empat tahun kemudian dia menjadi ketua pengurus besar PPPI. Tak puas dengan PPPI, dia mendirikan Persatuan Pemuda Kita yang terbuka bagi pelajar dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Pada 1936, dia aktif menyebarkan pemikiran Tan Malaka melalui brosur atau pamflet secara klandenstin. Setahun kemudian, dia menjadi ketua umum Indonesia Muda, fusi dari beberapa organisasi pemuda.

Pada masa pendudukan Jepang, dia bersama temannya mendirikan sekolah untuk kaderisasi pemuda dengan gurunya antara lain Sukarno. Kala itu dia bekerja di kantor berita Antara yang berganti nama menjadi Domei, tempat dia berkenalan dengan Adam Malik dan beberapa pemuda lain. Aktivitas politik Sukarni kian meningkat.

Sewaktu kabar kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik samar-samar terdengar, Sukarni dan beberapa pemuda radikal mendesak kemerdekaan segera diproklamasikan. Mereka menculik Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok. Sempat terjadi silang pendapat antara kedua generasi itu, Sukarno-Hatta akhirnya setuju dan keesokan harinya membacakan proklamasi.

Bersama Wikana dan Chaerul Saleh, Sukarni lalu membentuk Komite van Aksi dan Angkatan Pemuda Indonesia (API). Dia juga memobilisasi kalangan buruh dengan membentuk Barisan Buruh Indonesia. Sukarni, Adam Malik, dan Chairul Saleh lalu bergabung ke dalam Persatuan Perjuangan, organisasi oposisi terbesar yang didirikan Tan Malaka pada 1946.

“Selain Bung Karno, Pak Tan (Malaka) merupakan idola Sukarni,” tulis Emalia. “Kedekatan Sukarni dengan Pak Tan baru terlihat sewaktu didirikannya Partai Murba (7 November 1948).” Partai Murba merupakan gabungan dari Partai Rakyat, Partai Buruh Murba, Partai Rakyat Djelata, dan Permi (Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia).

Setelah Pemilu 1955, Sukarni terpilih menjadi anggota Konstituante dan Badan Pekerja KNIP. Setelah itu, dia menjadi anggota DPA. Antara 1961-1964, Sukarni menjabat duta besar di Republik Rakyat Tiongkok dan Mongolia.

PKI menyebut Partai Murba penganut ajaran Trotsky. Atas desakan PKI, Sukarno membekukan Partai Murba pada September 1965 karena dituduh terlibat dalam Barisan Pendukung Soekarnoisme (BPS), mendukung Manifesto Kebudayaan, dan menerima uang US$100 juta dari CIA untuk menggulingkan Presiden Sukarno. Sukarni ditahan pada 15 Januari 1965.

“Sukani ditahan oleh orang-orang yang diplih namanya untuk dicantumkan dalam naskah proklamasi kemerdekaan. Namun, tidak ada rasa dendam pada orang-orang yang memenjarakannya,” tulis Emalia.

Setelah Sukarni keluar pejara, Sukarno merehablitiasi Partai Murba melalui Keputusan Presiden No. 223 tahun 1966 pada 17 Oktober 1966.

“Pertengkaran antara Sukarno-Sukarni sering terjadi, walaupun mereka sebagai kakak-beradik karena hampir serupa dan senama,” kenang Adam Malik dalam memoarnya Mengabdi Republik. “Namun demikian Sukarno-Sukarni, laksana sepasang kakak-beradik dalam perjuangan kemerdekaan, akan selalu terkenang dalam ingatan saya, yang satu berpici hitam dan yang satu lagi berpici merah, yang seakan-akan merupakan lambang dari kepribadian mereka masing-masing. Sama-sama tampan tapi juga sama-sama keras seolah-olah tak akan pernah ada titik-temu di antara mereka.”

Setelah Sukarno jatuh, Sukarni masih sempat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung pada 1967. Namun kehilangan istrinya, yang meninggal pada 1967, membuat hidupnya lebih sepi. Dia bertahan hingga ajal menjemputnya pada 7 Mei 1971.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Ki-ka: Tan Malaka, Sukarni, dan Sukarno.
Ki-ka: Tan Malaka, Sukarni, dan Sukarno.