Empat Tradisi Perang Ketupat (Bagian II – Habis)
Ketupat tak hanya jadi bagian dari tradisi Lebaran Ketupat tapi juga ritual Perang Ketupat. Lantaran alasan-alasan tertentu, di beberapa daerah sudah tak lagi dipertahankan.
HARI Raya Idul Fitri atau lebaran rasanya kurang lengkap tanpa ketupat. Hidangan karbohidrat yang dimasak dalam kemasan anyaman janur berbentuk persegi itu senantiasa jadi penyempurna suguhan di hari raya umat Islam walau dengan beragam tradisi masyarakat.
Bagi masyarakat di Jakarta dan sekitarnya serta Jawa Barat, ketupat acap dihadirkan tepat pada Idul Fitri, 1 Syawal. Berbeda bagi sebagian masyarakat di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. Di sana, lazimnya ketupat baru dihadirkan saat Lebaran Ketupat atau Riyoyo Kupat yang jatuh sepekan setelahnya (8 Syawal).
Di beberapa daerah pun ketupat tidak hanya jadi pelengkap makanan saja. Ada tradisi Lebaran Ketupat yang di dalamnya terdapat ritual perang ketupat.
Lantaran ketupat juga sudah dikenal lama di daerah lain pada masa pra-Islam, masyarakat Hindu di luar Jawa juga punya tradisi perang ketupat yang bercorak sendiri. Berikut dua tradisi perang ketupat lainnya:
Baca juga: Empat Tradisi Perang Ketupat (Bagian I)
Perang Ketupat di Kudus dan Jepara
Perang ketupat yang dilakukan masyarakat Kudus, Jawa Tengah merupakan ritual bagian dari tradisi Lebaran Ketupat. Perang ketupat kemudian juga menjadi bagian dari Kupatan Bulusan.
Lazimnya, masyarakat melakukan perang ketupat atau saling melempar ketupat tak lama selepas shalat Ied. Mengutip Tempo, Selasa (25/3/2025), tradisi saling melempar ketupat ini diiringi dengan kegiatan saling memaafkan.
Lebaran Ketupat berlanjut pada hari ketujuh pasca-Idul Fitri atau pada tanggal 7 Syawal dengan ritual bernama Kupatan Bulusan. Menurut dosen sejarah Undip Sri Indrahti dalam Kudus dan Islam: Nilai-Nilai Budaya Lokal dan Industri Wisata Sejarah, Kupatan Bulusan berakar dari tradisi dan upacara bulusan atau upacara memberi makan kura-kura (bulus) yang diperkirakan sudah terjadi sekitar akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16. Upacaranya berkaitan dengan cerita rakyat tentang adanya bulus di sumber air di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus.
“Lama-kelamaan terciptalah keramaian yang kemudian berubah menjadi tradisi Kupatan Bulusan. Dari waktu ke waktu tradisi ini terus berkembang dengan diselenggarakannya berbagai pertunjukan dan hiburan,” tulis Sri Indrahti.
Baca juga: Merayakan Lebaran di Masa Lampau
Jika di Kudus ada Lebaran Ketupat dan Kupatan Bulusan, di Jepara –yang berbatasan dengan Kudus di sebelah timur– ada tradisi Pesta Lomban yang juga digelar setiap 7 Syawal oleh warga di pesisir pantai yang mayoritas nelayan. Menurut Dewi Puspita Ningsih dalam artikel “Nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi Lomban Masyarakat Jepara” yang termaktub dalam Jurnal Ilmiah Mandala Education, Vol. 3, No. 2, Oktober 2017, tradisi Lomban sebagai puncak Pekan Syawalan itu setidaknya sudah ada sejak akhir abad ke-19.
“Pesta Lomban oleh masyarakat Jepara sering pula disebut ‘Bada Lomban’ atau ‘Bada Kupat’ karena pada saat itu masyarakat Jepara merayakannya dengan memasak ketupat dan lepet disertai rangkaian masakan lain. Istilah Lomban oleh sebagian masyarakat disebutkan dari kata ‘lomba-lomba’. Namun ada sebagian yang mengatakan bahwa kata ‘Lomban’ berasal dari kata ‘Lelumban’ yang artinya bersenang-senang. Pesta Lomban dilaksakanan warga masyarakat nelayan dan masa kini dalam perkembangannya sudah menjadi milik (semua) masyarakat Jepara,” tulis Dewi.
Biasanya, pesta Lomban akan dimulai saat fajar 7 Syawal menyingsing dengan ritual melarung sesaji berupa kepala kerbau dan suguhan-suguhan lainnya yang telah didoakan ke lautan. Para peserta pesta kemudian menyusul dengan perahu-perahu mereka ke tengah Teluk Jepara. Masing-masing dari mereka membawa “amunisi” berupa ketupat dan lepet di perahu-perahunya.
“Setelah sesaji dilepas, beberapa perahu nelayan berebut mendapatkan air dari sesaji itu yang kemudian disiramkan ke kapal mereka dengna keyakinan akan mendapat banyak berkah dalam mencari ikan. Ketika berebut sesaji ini juga dimeriahkan tradisi perang ketupat, di mana antarperahu yang berebut saling melempar ketupat,” lanjutnya.
Akan tetapi dengan alasan kebermanfaatan dan alasan keselamatan, perang ketupat mulai ditiadakan dalam Pesta Lomban sejak 2010. Tempat acaranya pun digeser dari tengah laut ke Pantai Kartini, sementara ketupat dan kuliner sajian lain tidak lagi dijadikan “senjata” perang ketupat namun diganti menjadi festival ketupat, di mana ketupat-ketupatnya jadi rebutan warga sebagai bentuk syukur.
Perang Ketupat di Lombok
Agama Hindu diperkirakan sudah masuk ke Lombok sejak abad ke-14, sedangkan Islam mulai masuk ke pulau itu pada abad ke-16. Di abad itu pula lahir tradisi Perang Topat alias Perang Ketupat seiring kedua agama itu menyebar di Lombok. Tradisi yang bertahan hingga sekarang itu dilakukan oleh umat Hindu dan Islam sebagai bentuk toleransi dan harmonisasi kerukunan umat beragama.
Menurut Susilo Edi Purwanto dalam Pergulatan Ideologi Antar-Keberagaman Beragama Umat Hindu dan Islam, Perang Topat selalu dilangsungkan di Pura Lingsar di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat. Pura terbesar di Pulau Lombok itu dibangun oleh Raja Karangasem Anak Agung Ngurah pada 1759.
“Prosesi ini didominasi masyarakat yang berasal dari dua etnis berbeda, yakni etnis Sasak (muslim) dan etnis Bali (Hindu). Keduanya memiliki peranan signifikan terhadap keberlangsungan keberadaan dan aktivitas ritual di Pura Lingsar. Perang Topat dimaksudkan sebagai wahana berterimakasih dan memohon berkah kepada Sang Pencipta,” tulis Susilo.
Baca juga: Menengok Tradisi Sadran di Dua Desa
Ritual puncak Perang Topat, menurut Sudadi dalam Keunikan Pura Lingsar, biasanya dihelat setahun sekali pada hari ke-15 bulan ke-6 dalam kalender Bali atau hari ke-15 bulan purnama ke-7 dalam penanggalan Sasak. Umumnya dalam kalender Masehi perhitungannya dilaksanakan sekitar November atau Desember.
“Perang Topat mengikuti serangkaian prosesi ritual. Sehari sebelum puncak acara, warga Hindu dan penganut Islam Wetu Telu (Sasak) mengadakan ritual Ngiring Kao (menggiring kerbau) dengan arak-arakan mengitari Taman Langsar, di mana kerbau yang diarak dipegangi dua pemimpin agama Hindu dan Islam Wetu Telu. Kerbau digunakan karena dianggap hewan pemersatu karena sapi dianggap hewan suci oleh penganut Hindu, sementara babi hewan yang diharamkan dimakan dagingnya oleh umat Islam,” ungkap Sudadi.
Sebelum puncak acara, lanjut Sudadi, masyarakat juga mengadakan ritual mengelilingi purwadaksina di kawasan bangunan Kemaliq Lingsar. Ritualnya dilakukan umat kedua agama itu dengan turut diiringi tarian Gendang Beleq dan tarian Batek Baris.
Puncak acara Perang Topat dilakukan setelah waktu Ashar tiba. Masing-masing peserta dari umat muslim maupun Hindu dengan pakaian tradisional mereka sembari membawa ketupat akan saling berhadapan. Ritualnya ibarat perang-perangan tapi tanpa rasa dendam dan benci, justru berbalut suasana suka cita atas nama kedamaian dan kerukunan umat beragama.
“Menjelang Maghrib, ritual Perang Topat harus berakhir. Sisa-sisa ketupat berserakan tetapi peserta ritual tidak membiarkannya mengotori lingkungan pura maupun kemaliq. Usai Perang Topat, ketupat sisa ritualnya akan dibenamkan ke sawah. Warga Lingsar meyakini ketupat sisa ritual itu akan menyuburkan tanah mereka dan hasil tanaman akan melimpah,” tandas Sudadi.
Baca juga: Tak-tak-tak, Dung, Ini Sejarah Bedug
Tambahkan komentar
Belum ada komentar