top of page

Cerita Orang Biasa dalam Perang Kemerdekaan

Kisah pejuang di garis depan acap kali terlupakan dalam sejarah. Mereka ikut ambil bagian perjuangan mempertahankan kemerdekaan tanpa ingin dikenang sebagai pahlawan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Rakyat jawa Barat yang hijrah di hadapan inspeksi tentara Belanda. Sumber: Nationaal Archief.

  • 28 Mei 2024
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 6 hari yang lalu

PERANG Kemerdekaan Indonesia bukan hanya cerita tentang komandan di medan tempur. Ia juga seyogianya tak melulu membicarakan tokoh-tokoh besar yang tercatat dalam buku sejarah. Justru yang sering terluput adalah orang-orang biasa, anak buah komandan di palagan atau pendukung para pemimpin perjuangan, yang mau mengorbankan apa yang mereka punya, bahkan nyawa sekalipun. 


“Mereka berjuang tanpa memikirkan masalah apa mereka dikenang atau tidak. Tentu saja mereka jumlahnya sangat banyak, jutaan orang mungkin, yang ikut berjuang tahun 1945—1949. Dan sebagian dari mereka saya temui ketika pertama kali menjadi jurnalis tahun 1999,” tutur jurnalis sejarah Hendi Johari dalam diskusi bukunya Orang-orang di Garis Depan oleh komunitas Temu Sejarah secara daring (23/05). 


Kisah Dasuki, misalnya, mantan pimpinan gerilyawan Indonesia di Sukabumi. Semasa perang, Dasuki bertempur menghadapi sepasukan tentara Sekutu yang pernah mengalahkan Jepang di Birma. Setengah abad berselang, Dasuki tua menjalani nasib sebagai penjual mainan anak-anak di sekolah SD dekat jalan Pelabuhan Ratu. Anak-anak bocah kerap mengerumuni Dasuki yang terampil membuat mainan bebek-bebekan dari kayu.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Gerakan Pramuka pernah punya andil dalam menggiatkan pembangunan melalui transmigrasi. Namun, Transmigrasi Pramuka dinilai kurang tepat dan gagal.
bg-gray.jpg
An Italian general and national hero was commanding his ship when the Aceh War broke out. Alas, in the waters off Aceh, he contracted cholera and met his demise.
bg-gray.jpg
Henk Ngantung sebagai perancang lambang Kostrad diakui secara resmi oleh Soeharto. Dia juga menjadi warga kehormatan Kostrad. Namun, setelah peristiwa 1965, jasanya seakan dilupakan.
bg-gray.jpg
Ketimbang D.N. Aidit atau Adam Malik, A.K. Jusuf pernah dianggap murid terpandai oleh Sutan Sjahrir. Riwayat pemuda impulsif itu berujung tragis pasca menculik sang mentor.
Presiden Jokowi menjadi tamu kehormatan Republic Day India. Mengikuti jejak SBY dan Sukarno.
Presiden Jokowi menjadi tamu kehormatan Republic Day India. Mengikuti jejak SBY dan Sukarno.
Tema budaya bahari dipilih untuk mengingatkan bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan dan laut sebagai penghubungnya.
Tema budaya bahari dipilih untuk mengingatkan bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan dan laut sebagai penghubungnya.
Percampuran banyak budaya di Kota Budapest akan dituangkan lewat pameran bersama antar dua negara.
Percampuran banyak budaya di Kota Budapest akan dituangkan lewat pameran bersama antar dua negara.
Jejaring sosial bukan barang baru. Cikal-bakalnya sudah tercipta sebelum internet meluas di dunia.
Jejaring sosial bukan barang baru. Cikal-bakalnya sudah tercipta sebelum internet meluas di dunia.
Survei SMRC menunjukan mayoritas warga tidak percaya akan kebangkitan PKI. Dimanfaatkan kelompok tertentu demi tujuan politik.
Survei SMRC menunjukan mayoritas warga tidak percaya akan kebangkitan PKI. Dimanfaatkan kelompok tertentu demi tujuan politik.
Kasus 1965 disidangkan melalui Pengadilan Rakyat Internasional. Akankah mencuri perhatian internasional?
Kasus 1965 disidangkan melalui Pengadilan Rakyat Internasional. Akankah mencuri perhatian internasional?
transparant.png
bottom of page