top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Bekas Anak Buah Andi Azis

Begitu datang ke Jawa Tengah, bekas anak buah Andi Azis ikut operasi berbahaya. Mereka terkait dengan sejarah Banteng Raiders.

17 Apr 2023

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Upacara penerimaan kesatuan KNIL ke dalam APRIS di Malang, 1950. (Arsip Nasional Belanda).

SEBUAH kapal merapat di Pelabuhan Semarang pada awal Mei 1950. Tak lama berselang, sepasukan tentara turun dari kapal. Mereka tidak membawa senjata. Selain orang-orang Ambon, mereka ada yang orang Manado, Timor, dan juga Jawa. Mereka bekas KNIL. Sebelumnya mereka terlibat dalam Pemberontakan Andi Azis (5 April 1950) di Makassar.


Koran De Locomotief, 31 Mei 1950 menyebut di dalam rombongan pasukan dari Makassar itu terdapat dua kawan lama Panglima Tentara dan Teritorium III Jawa Tengah (Diponegoro) Kolonel Gatot Subroto. Maklum, antara tahun 1928 hingga 1942 Gatot adalah sersan KNIL.

Kolonel Gatot pun menemui mereka. Ia berusaha memastikan agar pasukan yang baru datang itu tidak dianggap penjahat perang.


“Mereka hanya ditipu oleh pemimpin mereka,” kata Gatot Subroto seperti diberitakan De Vrije Pers dan Java Bode (3 Juni 1950).



Gatot berpesan kepada masyarakat agar tidak menganggap tentara yang baru datang ini sebagai penjahat. Pasukan itu pun tidak ditahan seperti orang bersalah. Mereka dibiarkan berpesiar di Semarang.


Bekas pasukan Andi Azis itu lalu menjalani latihan lagi di Magelang. Setelah latihan, mereka dikirim melawan bekas laskar Angkatan Oemat Islam (AOI) yang dipimpin Kiai Somalangu di daerah Kebumen. Bertempur di bawah pimpinan Letnan Kolonel Ahmad Yani, mereka ikut dalam patroli bren carrier.


Dalam Kesetiaan Pahlawan Revolusi Kepada Revolusi, Suhardiman menyebut dalam perjalanan itu seorang pembantu letnan dari bekas kompi Andi Azis tampak waspada dalam patroli.



Cara bertempur bekas pasukan Andi Azis yang dilatih secara khusus di Magelang itu tentu mampu memberi hantaman kepada para pemberontak. Sedikit banyak ini mempengaruhi Yani. Maka ketika kemudian menghadapi Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Yani juga meningkatkan kualitas pasukan tempurnya.


Pada awal 1950-an itulah Yani merancang sebuah pasukan tempur khusus. Mula-mula dua kompi dilatih Yani di Batle Training Center di Purworejo. Satu kompi dipimpin Kapten Jasir Hadibroto dan kompi lainnya di bawah Kapten Pudjadi. Pasukan yang dilatih itu berisi prajurit pilihan dari batalyon yang dimiliki Diponegoro.



Setelah pertengahan 1952 dilatih, pada akhir tahun pasukan yang diberi nama Banteng Raider (BR) itu sudah memperlihatkan taringnya. Koran DeLocomotief, 07 November 1952, dan De Vrije Pers, 8 November 1952, memberitakan kegemilangan BR di Tanjung, Brebes. BR melumpuhkan sekitar 85 lawannya dalam pertempuran melawan 200 anggota DI di sana. Sebaliknya, tak ada korban berarti dari pihak BR.


Jumlah pasukan BR terus bertambah seiring perjalanan waktu, bahkan kemudian jumlahnya lebih dari dua batalyon. Satu yang terkenal adalah Batalyon Infanteri 454 yang kini jadi Batalyon Infanteri Lintas Udara 400, bermarkas di Srondol, Semarang.


Akhir tahun 1963, seperti dicatat Ken Conboy dalam Kopassus: Inside Indonesia's Special Forces, ketika Yani sudah menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), dua batalyon BR dijadikan batalion para-komando di bawah RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, kini Kopassus).*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Dari Brussel ke Jalan Astrid di Kebun Raya Bogor. Raja dan Ratu Belgia dari berbagai masa punya cerita di Indonesia.
Riwayat Konglomerat Dasaad

Riwayat Konglomerat Dasaad

Jaringan bisnis Dasaad membentang di dalam dan luar negeri. Ia tercatat sebagai pengusaha Indonesia pertama yang membuka kantor cabang di Amerika Serikat.
Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot tak sekadar ikon perfilman yang dijuluki “Marylin Monroe-nya Prancis”. Ia juga “lokomotif sejarah perempuan”.
bottom of page