top of page

Sanghyang Dedari, Pertunjukan Penolak Marabahaya dari Bali

Bali memiliki cara unik dalam menolak wabah dan bahaya. Salah satu ritualnya dengan mengadakan pertunjukan tari.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Penari Sanghyang Dedari sedang mengalami kerawuhan (Pusat Data Nasional Kekayaan Komunal Indonesia, Direktorat Jenderal Intelektual Kementrian Hukum dan HAM , Republik Indonesia)

29 Nov 2022
3 menit membaca

Diperbarui: 16 Mar

MENCARI pertunjukan seni saat berkunjung ke Bali bukan hal yang sulit. Umumnya wisatawan akan disuguhkan pertunjukan tari Kecak. Tari ini mudah ditemui di berbagai pura.


Jauh sebelum tari kecak terkenal sebagai pertunjukan profan, ia merupakan tari pengiring tari Sanghyang. Perbedaannya, tari Kecak mengambil lakon Ramayana sedangkan Sanghyang hadir sebagai pertunjukan tanpa lakon tertentu.


Pertunjukan Sanghyang atau yang bisa pula disebut tari Sanghyang bukanlah pertunjukan biasa. Ia tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan namun juga sakral. Sanghyang merupakan bagian dari ritual masyarakat Bali. Tarian ini ditampilkan sebagai salah satu cara menolak wabah dan mara bahaya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
transparant.png
bottom of page