top of page

Meriung di Warung Makan Tempo Dulu

Penduduk Batavia suka sarapan di warung makan pinggir jalan setelah mandi di kali. Warung makan jadi tempat berkumpul sambil membahas berbagai persoalan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Warung di Batavia antara tahun 1885 dan 1915. (Tropenmuseum/Wikimedia Commons).

  • 6 Apr 2023
  • 3 menit membaca

BUKA puasa bersama menjadi tradisi yang tak boleh terlewatkan di bulan Ramadan. Bagi sebagian orang, kegiatan ini seakan menjadi agenda tahunan yang begitu dinanti karena menjadi ajang silaturahmi dengan saudara maupun teman. Beragam warung makan dan restoran pun ramai didatangi masyarakat. Bahkan ada yang reservasi dari jauh hari ke restoran atau rumah makan pilihan agar kebagian tempat untuk buka puasa bersama orang-orang terdekat.


Bicara mengenai warung makan, kebiasaan makan di luar atau di warung makan pinggir jalan sudah menjadi kebiasaan orang-orang tempo dulu. Justus van Maurik, seorang pengusaha yangmengunjungi Jawa tahun 1800-an, menulis dalam catatan perjalanannya,Indrukken van Een Totok bahwaorang-orang di Batavia melakukan berbagai aktivitassebagian besar di ruang terbuka, mulai dari makan, minum, bercukur, membersihkan telinga, hingga mengukur serta menjahit pakaian.



Tak heran banyak warung kecil atau pedagang pikulan hilir mudik menjajakan makanan dan minuman. Menurut Maurik, beberapa pedagang yang menjajakan makanan dan minuman itu merupakan pedagang Tionghoa. “Di jalan, orang Tionghoa terus-menerus menjajakan makanan, yang biasanya ia tahu cara memasaknya dengan sangat enak. Kadang-kadang ia menawarkan ikan goreng atau nasi yang dimasak dengan daun pisang dengan bumbu, lalu ia membujuk orang yang lewat untuk makan sup atau kue,” tulis Maurik.


Berdasarkan pengamatannya, Maurik menyebut warung makan lebih banyak ditemukan di wilayah permukiman Tionghoa. Di warung yang biasanya toko kecil itu dijajakan berbagai makanan dan minuman, seperti nasi, ikan goreng, dendeng, sambal, kopi, buah-buahan, kembang gula, kue kering hingga pisang goreng.


“Para tamu biasanya duduk di depan lubang terbuka persegi yang berfungsi sebagai etalase dan jendela toko sekaligus, mereka kemudian duduk di bale bale (bangku) lalu makan,” sebut Maurik. Namun ada pula warung yang memiliki ruang makan di dalamnya yang terdiri dari ruangan gelap dan berasap.



Selain Maurik, pelancong lain, Augusta de Wit, juga memiliki kesan tersendiri dengan warung makan pinggir jalan saat mengunjungi Jawa pada akhir 1890-an. Menurut Achmad Sunjayadi dalam “Kuliner dalam Pariwisata Kolonial di Hindia”, termuat dalam Titik Balik Historiografi di Indonesia, tak hanya menulis deskripsi terkait warung pinggir jalan yang ia temukan di Batavia dalam bukunya berjudul Java Facts and Fancies, De Wit juga mengamati bagaimana penduduk pribumi (di bukunya ia menyebutnya orang Jawa) menikmati sarapan pagi di warung makan pinggir jalan setelah mandi di kali.


Warung yang biasa didatangi penduduk pribumi bervariasi. Dalam bentuk yang paling sederhana dan ringkas, warung terdiri dari dua kotak kayu, yang satu berisi bahan-bahan makanan dan makanan yang telah diolah, bagian lainnya ditempati anglo yang penuh bara api serta persediaan barang pecah belah. Dalam perkembangannya, ada pula warung yang tampak seperti gubuk kecil beratap jerami, tempat selusin lebih pengunjung makan di bawah pengawasan pemilik warung yang duduk bersila di konter, di antara tumpukan buah-buahan, sayuran, dan kembang gula.



Menurut De Wit, pengunjung warung makan pinggir jalan berasal dari berbagai kalangan, mulai dari kusir sado, pedagang kecil, perajin, pegawai pemerintah, polisi, pelayan, haji, serta para wanita. “Mereka berbicara dan tertawa. Urusan seluruh Batavia dibahas di sini: intrik, urusan cinta, kisah petualangan hingga kepentingan kantor,” tulis De Wit.


Beberapa warung semacam itu dapat ditemukan di sekitar Tanah Abang dan Koningsplein (kini Jalan Medan Merdeka atau kawasan Monas) serta di beberapa area permukiman penduduk pribumi. Sementara penjual makanan keliling dapat ditemukan di mana-mana: pinggir kali, stasiun kereta api, tempat-tempat pemberhentian sado, sepanjang kanal, dan sudut-sudut jalan.


“Masing-masing juru masak keliling ini memiliki tempatnya sendiri di jalan atau jalan raya, yang diakui oleh yang lain dengan kesepakatan tersirat,” sebut De Wit.


Para pedagang umumnya memulai persiapan untuk menjajakan makanan dan minuman sejak pagi hari. Achmad Sunjayadi menulis, pagi-pagi sekali para pedagang telah memikul dagangannya, lalu aneka dagangan, piring, gelas, serta botol diatur sedemikian rupa agar menarik minat pembeli.


“Ada yang menjual nasi, ikan asin dengan sambal, kue hijau yang diberi parutan kelapa berwarna putih, pelbagai macam kue yang tampaknya terasa manis berwarna-warni mencolok (oranye, merah jambu, dan coklat tua) tampak kontras ketika disajikan di atas daun pisang segar berwarna hijau,” tulis Achmad.



Keberadaan penjual makanan keliling yang dipandang seperti “dapur berjalan” mencuri perhatian para pelancong asing yang mengunjungi wilayah Nusantara. Tak sedikit yang memandangnya cukup eksotis dan mampu menarik minat para turis. Oleh karena itu, Achmad Sunjayadi menyebut berbagai jenis penjual makanan keliling ini pun kerap jadi objek foto atau gambar yang kemudian dimuat dalam kartu pos.


Sementara itu, terkait dengan warung pinggir jalan, ada aturan yang harus dipenuhi oleh para pedagang saat hendak berjualan di Batavia, salah satunya terkait tempat berjualan. Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia menulis, ada hitungan tersendiri bagi para pedagang yang hendak menyewa kios atau warung untuk berjualan.


“Hitungannya menurut ukuran kaki (bukan meter), dan dihitung mulai dari badan jalan. Boleh jadi konsep ini yang melahirkan sebutan warung kaki lima sampai sekarang,” sebut Mona.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Setiati rallied women to commemorate the first anniversary of Indonesia’s independence at the site where the Proclamation was read. They pressed on despite being blocked by Gurkha soldiers.
bg-gray.jpg
Gerakan Pramuka pernah punya andil dalam menggiatkan pembangunan melalui transmigrasi. Namun, Transmigrasi Pramuka dinilai kurang tepat dan gagal.
bg-gray.jpg
An Italian general and national hero was commanding his ship when the Aceh War broke out. Alas, in the waters off Aceh, he contracted cholera and met his demise.
bg-gray.jpg
Henk Ngantung sebagai perancang lambang Kostrad diakui secara resmi oleh Soeharto. Dia juga menjadi warga kehormatan Kostrad. Namun, setelah peristiwa 1965, jasanya seakan dilupakan.
Sosok kontroversial yang lahir dari keluarga fasis. Jurus-jurus politiknya mengubah wajah Formula One.
Sosok kontroversial yang lahir dari keluarga fasis. Jurus-jurus politiknya mengubah wajah Formula One.
Saat tim-tim kejutan lain berguguran, Maroko masih bertahan. Sejauh mana tim Singa Atlas mampu meng-upgrade catatan sejarahnya?
Saat tim-tim kejutan lain berguguran, Maroko masih bertahan. Sejauh mana tim Singa Atlas mampu meng-upgrade catatan sejarahnya?
Habis cuju, terbitlah sepakbola modern. Tim Naga membuka peluang mengulang lolos ke Piala Dunia usai membekap “Garuda”.
Habis cuju, terbitlah sepakbola modern. Tim Naga membuka peluang mengulang lolos ke Piala Dunia usai membekap “Garuda”.
Terinspirasi dari legenda sepakbola Jerman Franz Beckenbauer, Christian Hadinata ingin jadi pemain dan pelatih hebat.
Terinspirasi dari legenda sepakbola Jerman Franz Beckenbauer, Christian Hadinata ingin jadi pemain dan pelatih hebat.
Lima puluh tahun sudah ajang tahunan Pasar Malam Besar di Malieveld, Den Haag, Belanda digelar. Inilah festival terbesar budaya Indisch.
Lima puluh tahun sudah ajang tahunan Pasar Malam Besar di Malieveld, Den Haag, Belanda digelar. Inilah festival terbesar budaya Indisch.
Lebih dari 100 warga Palestina dihabisi Israel dalam enam pekan terakhir. Deretan derita warga Palestina sejak 70 tahun lalu bertambah.
Lebih dari 100 warga Palestina dihabisi Israel dalam enam pekan terakhir. Deretan derita warga Palestina sejak 70 tahun lalu bertambah.
transparant.png
bottom of page