top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

D.I. Pandjaitan Cari Jodoh di Tengah Perang

Niatnya mempersunting kekasih hati terbentur restu calon mertua. Mulai dari sentimen terhadap militer, perkara adat, hingga insiden asbak pecah.

12 Jun 2023

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Donald Isaac Pandjaitan dan istrinya, Marieke br. Tambunan. Foto: Dok. Keluarga Pandjaitan (D.I. Pandjaitan Memorial Page)

  • 12 Jun 2023
  • 3 menit membaca

Mengenakan pantalon dan kemeja lengan pendek, Mayor Pandjaitan mengulurkan tangan. Sikapnya tampak sigap penuh percaya diri. Ditatapnya sosok wanita itu lekat-lekat.


“Pandjaitan,” katanya memperkenalkan diri.


“Marieke boru Tambunan,” sambut si wanita.


Itulah kali pertama pertemuan D.I.Panjaitan dengan Marieke yang kelak menjadi istrinya. Perkenalan itu bermula pada Mei 1946, ketika Pandajaitan pulang kampung ke Tapanuli untuk menjenguk adik-adiknya yang masih kecil. Saat itu, Pandjaitan menjabat komandan Batalion I Resimen IV TKR Riau merangkap komandan pertahanan kota Pekanbaru. 



Waktu singgah di Sibolga, Pandjaitan melapor kepada Kolonel Pandapotan Sitompul, komandan Divisi VI Sumatra. Sesuai dengan peraturan kemiliteran, Pandjaitan wajib melapor ketika memasuki wilayah Tapanuli. Selain menjelaskan keadaan keamanan di Pekanbaru, disinggung pula status Pandjaitan yang belum berumah tangga.


Kolonel Sitompul menyarankan Pandjaitan supaya menikah. Anjuran itu demi kepentingan dan kelancaran tugas. Namun, Pandjaitan masih belum punya calon. Untuk itulah Pandjaitan pulang ke Tapanuli agar berembuk dengan keluarganya.


 “Kalau begitu, ada calon yang baik dan cocok. Saya kenal pula, yaitu puteri Bapak Tambunan, saudara Letnan Victor Tambunan, staf Divisi VI Sibolga,” bujuk Kolonel Sitompul.



Perjodohan itu turut dibantu Letkol Raja Barita Sinambela, Komandan Resimen IV Divisi I Sumatra, yang dulu teman sekolah Pandjaitan di MULO Tarutung. Di rumah Letkol Sinambela banyak teman-teman seangkatan di MULO menumpang tinggal. Mereka membantu mengantarkan Pandjaitan ke kediaman Marieke si Sigompulon, Tarutung.


“Kemudian tahulah saya bahwa pemuda yang bernama Donald lsaac Pandjaitan itu seorang komandan batalion, dan tempat tugasnya di Pekanbaru. Saat itulah saya baru tahu bahwa ia tentara,” kenang Marieke dalam biografi suaminya D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran.


Meski sama-sama menaruh hati, restu tak kunjung datang dari ayah Marieke, Jansen Tambunan. Surat lamaran dari Pandjaitan diacuhkan begitu saja oleh calon mertuanya itu.  Menurut Jansen, pinangan Pandjaitan terhadap boru (anak perempuan) nya itu terlalu mendadak. Keluarga dan asal-usulnya pun belum diketahui, sebagaimana menurut adat kebiasaan orang Batak dalam menjajaki urusan pernikahan. 



Cerita lebih gamblang dituturkan Matiur, adik Marieke, dalam biografinya Bunga Pansur dari Balige: Pengabdian dan Keteguhan Seorang Istri Prajurit yang ditulis Herry Gendut Janarto. Matiur sendiri kelak diperistri Maraden Panggabean (Panglima ABRI periode 1973–1978).


Menurut Matiur, ayahnya kurang begitu suka terhadap orang militer. Di mata ayahnya, militer identik dengan sikap serbakeras dan juga kekerasan. Sentimen ini semakin kuat ketika suatu hari Pandjaitan berkunjung mengapeli Marieke, terjadilah insiden. Entah karena apa, Pandjaitan tanpa sengaja memecahkan asbak dari batu pualam yang ada di ruang tamu. Gegerlah seisi rumah. Jansen kecewa asbak kesayangannya pecah berantakan.


“Kan kamu sudah dibilang jangan bertemu, jangan diterima,” Jansen menghardik borunya itu dalam bahasa Batak, seperti dituturkan Matiur.  


Hati Jansen mulai luluh setelah abangnya, Frederik Tambunan turut membujuk untuk merestui lamaran Pandjaitan. “Paman memberikan berbagai alasan dan pertimbangan yang pantas, bahwa Pandjaitan dapat diterima sebagai calon menantu,” kenang Marieke. Hubungan Pandjaitan dan Marieke selanjutnya berlangsung lewat surat-menyurat. Letnan T.D. Pardede, staf Divisi VI Sibolga yang bertugas memimpin misi perdagangan untuk kepentingan militer antara Tapanuli dan Riau, berperan dalam memuluskan pacaran sepasang sejoli itu.



“Letnan T.D. Pardede juga berperan membantu karena sering bepergian bolak-balik Balige-Sibolga-Pekanbaru dalam pelaksanaan perdagangan barter dengan Resimen IV. Saya dan Pandjaitan dapat menitipkan sesuatu pada Letnan Pardede,” sebut Marieke. Pardede kemudian lebih dikenal sebagai pengusaha sukses “Raja Tekstil dari Medan” dan menjabat Menteri Berdikari pada Kabinet Dwikora (1965). 


Tanggal 3 September 1946, menjadi hari pernikahan Pandjaitan dan Marieke di Sigompulon, Tarutung. Pernikahan itu, kenang Matiur, berlangsung semarak serta rapi dan terencana, lengkap dengan pesta adatnya. Pasangan ini dikaruniai enam orang putra dan putri.  

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Murka karena utusannya dibantai dengan bengis, Sultan Mehmed II membalas dengan kekuatan penuh. Walau berhasil kabur, nasib Vlad Dracula berakhir tragis.
Pahit Getir Hidup Sjahrir

Pahit Getir Hidup Sjahrir

Menjelang akhir hayatnya, Sutan Sjahrir hidup sebagai tahanan dalam perawatan. Namun, justru pada saat itulah putrinya merasakan kehidupan sebagai keluarga yang utuh.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Gowa Masuk Islam

Gowa Masuk Islam

Islamisasi di Gowa dan Makassar makan waktu panjang meskipun raja-raja di sana sangat terbuka.
bottom of page