Masuk Daftar
My Getplus

Sebelum Jenderal Soeprapto Pergi

Sedih tidak kalau Bapak meninggal dunia? tanya Jenderal Soeprapto pada putri sulungnya sehari sebelum digiring ke Lubang Buaya.

Oleh: Randy Wirayudha | 29 Sep 2023
Letjen (Anumerta) Raden Soeprapto (Ilustrasi: M.A. Yusuf/Historia)

HARI itu, 29 September 1965, batin Ratna Purwati bergetar saat mendengar satu pertanyaan dari ayahnya, Deputi II/Administrasi Menpangad Mayjen Raden Soeprapto. Pasalnya, kematian tak pernah jadi topik pembicaraan ayahnya saat sedang luang di kediamannya di Jalan Besuki, Menteng, Jakarta Pusat.

Sebagai anak tertua, Ratna memang paling sering diajak ‘ngobrol’ oleh ayahnya. Dalam buku Tujuh Prajurit TNI Gugur 1 Oktober 1965: Tuturan Anak-Anak Pahlawan Revolusi, Keluarga Korban, dan Saksi pada Peristiwa Dini Hari, 1 Oktober 1965, ia mengenang, seringkali ayahnya memberi banyak nasihat dan sangat serius ketika mengupas suatu persoalan. Tapi, soal kematian tidak pernah dibicarakan. Oleh karenanya, ucapan sang ayah di hari itu dirasa sangat ganjil oleh Ratna.

“Kamu sedih tidak kalau Bapak meninggal dunia?” tanya Jenderal Soeprapto.

Advertising
Advertising

“Bapak ngomong apa sih?” Ratna bertanya balik.

Baca juga: Sebelum Jenderal S. Parman Pergi

Obrolan pun berhenti sampai di situ. Selebihnya, anak dan bapak itu tenggelam dalam diam.

Ratna yang saat itu masih berusia 18 tahun tentu belum paham soal politik. Pun soal kegiatan ayahnya yang gencar bicara vokal di berbagai forum untuk menangkis tuduhan-tuduhan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang ditujukan kepada TNI AD.

“Mayjen Soeprapto dan Mayjen (Siswondo) Parman, serta Brigjen Suwarto beberapa kali berusaha untuk mengajukan soal posisi Angkatan Darat berhadapan dengan PKI dan pemerintah, tetapi Brigjen U. Rukman, dengan disokong Kolonel A. Sjukur berhasil mencegah pembahasan mengenai soal itu,” tulis Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1947-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI.

Ratna Purwati (kanan) bersama adik-adiknya (Repro: Tujuh Prajurit TNI Gugur 1 Oktober 1965)

Dua Regu Tjakrabirawa Menjemput Soeprapto

Kamis, 30 September, petang, Ratna heran melihat ayahnya pulang dari kantor membawa banyak buku anyar. Ratna tak tahu buku-buku itu tentang apa saja.

“Kami anak-anaknya yang mengetahui hal tersebut pun sempat bertanya-tanya, untuk apa tumpukan buku baru tersebut? Namun respon kami hanya sebatas ini, tidak kurang dan tidak lebih. Ayah kami memang seorang pembaca berat. Pikiran demikian sudah lebih dari memadai untuk menyetop rasa penasaran dan sama sekali tak dibuat cemas oleh perilaku Bapak yang terhitung di luar kebiasaan itu,” sambung Ratna.

Hal yang membuat Ratna dan ayahnya kemudian gelisah dalam diam justru adalah sang adik, Sri, belum juga pulang sampai malam. Sejak petang Sri pergi ke Harmoni untuk menghadiri acara penyerahan piala lomba lari 5K yang diikuti Sri beberapa waktu sebelumnya.

“Bapak menunggu sampai beberapa jam dan selang berapa menit dari pukul 24.00, barulah Sri menampakkan diri. Bapak dan Sri tak terlibat percakapan. Bapak tidak bertanya mengapa Sri terlambat pulang dan Sri pun tidak menuturkan alasannya. Sri langsung mengincar tempat tidur. Ia sama sekali tak menyadari itu adalah kali terakhir ia melihat Bapak,” imbuhnya.

Baca juga: Raden Suprapto, Kawan Perjuangan Jenderal Soedirman yang Berakhir Mengenaskan

Di kemudian hari Sri baru berkisah bahwa acara penganugerahaan piala itu diundur waktunya dari jam 8 malam hingga jam 12 tengah malam. Lantaran tak kerasan menunggu, Sri memilih pulang zonder piala.

Sementara Ratna dan adik-adiknya, serta istrinya, Yulia, pergi tidur, Jenderal Soeprapto justru tak bisa beristirahat. Nyeri usai dicabut giginya pada siang sebelumnya membuatnya terus terjaga hingga hari berganti ke Jumat, 1 Oktober 1965.

“Karena tidak bisa tidur dan untuk mengalihkan perasaan sakit itu, ia membuat sebuah lukisan yang akan disumbangkannya kepada Museum Perjuangan di Yogyakarta. Sudah lama ia memikirkan untuk menyempurnakan museum tersebut. Ia tidak tahu pada waktu yang bersamaan di Lubang Buaya (Jakarta Timur) orang-orang PKI sedang melakukan persiapan terakhir melancarkan pemberontakan,” tulis buku keluaran Direktorat Urusan Kepahlawanan dan Perintis Kemerdekaan Depsos tahun 1995, Wajah dan Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional: Volume 4.

Oleh karenanya, ketika serdadu-serdadu bersepatu lars menggedor-gedor pintu garasi dan pintu rumahnya sekira pukul 4.30 pagi, Soeprapto sendiri yang membukakan pintu. Kediaman Jenderal Soeprapto saat itu tak dijaga pasukan manapun.

Baca juga: Tjakrabirawa Menjemput Pak Nas

Para serdadu yang datang itu berseragam Resimen Tjakrabirawa dan berkekuatan satu peleton. Mereka terdiri dari dua regu. Regu pertama dipimpin Serka Sulaiman dan regu kedua dipimpin Serda Sukiman.

“Ada apa pagi-pagi buta begini membangunkan saya?” tanya Jenderal Soeprapto.

“Bapak dipanggil untuk menghadap Presiden Soekarno sekarang juga,” jawab Sulaiman.

“Kalau begitu, izinkan saya berganti pakaian terlebih dahulu.”

“Tidak perlu berganti pakaian, harus menghadap sekarang juga!” kata salah satu rajurit, dikutip Rum Aly dalam Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966, Mitos dan Dilema: Mahasiswa dalam Proses Perubahan Politik 1965-1970.

Baca juga: Keluarga KS Tubun Setelah G30S

Ratna dan adik-adiknya serta ibu mereka hanya tertegun. Mereka terdiam saat melihat Jenderal Soeprapto dikawal pergi hanya dengan mengenakan kemeja piyama dan sarung bercorak kotak-kotak. Tiada satupun pamitan pada istri dan anak-anaknya.

“Anak-anak dan istrinya melihat bahwa para prajurit itu sempat memberi hormat kepada sang jenderal sebelum membawanya pergi, ditandai bunyi (mesin) truk. Terlihat bahwa semua berjalan dengan cara yang ‘wajar’, kecuali bahwa seorang anggota Tjakrabirawa terlebih dahulu merusak telefon yang berada di ruang tengah,” tulis Rum Aly.

Yulia Soeprapto, kata Ratna, berusaha mencari kontak ke kediaman Jenderal S. Parman yang kediamannya dekat, di Jalan Serang. Dia tak tahu Jenderal Parman juga dijemput gerombolan serupa.

Baca juga: S. Parman, Adik Petinggi PKI yang Jadi Penentang Kuat PKI

Sekira pukul 6.30 pagi, Yulia Soeprapto disambangi istri Pangdam/V Jaya, Karlinah Umar Wirahadikusumah. Sebagaimana diungkapkan Herry Gendut Janarto dalam biografi Karlinah Umar Wirahadikusumah: Bukan Sekadar Istri Prajurit, Karlinah belum mafhum dengan serangkaian “penjemputan” para pejabat teras Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) dini hari itu.

“Sebagai istri Pangdam V/Jaya, ia hanya sekilas mendengar ada sesuatu yang tidak beres di rumah Pak Nas (Jenderal Abdul Harris Nasution, red.) melalui berita telepon Subuh tadi. Selebihnya seperti biasa, ia acap secara mendadak ditinggal tugas dinas suami,” tulis Herry.

Karlinah bertamu ke rumah Yulia Soeprapto diantar sopir dengan tujuan hanya untuk mendiskusikan apel bersama di Senayan jelang HUT TNI, 5 Oktober. Sebagai komandan sukarelawati, Karlinah membawahi para istri prajurit dan unsur pasukan TNI AD.

“Selamat pagi, Bu Prapto,” Karlinah menyapa Yulia saat tiba di kediaman Soeprapto.

“Selamat pagi, Bu Umar. Silakan duduk,” jawab Yulia selaku tuan rumah.

“Apa Bu Umar tidak tahu, Subuh tadi Pak Prapto diminta menghadap Presiden ke Istana dengan segera?” tanya Yulia

Diorama penyiksaan Mayjen R. Soeprapto di Monumen Pancasila Sakti (Youtube Monumen Pancasila Sakti)

Yulia mengalihkan pembicaraan soal persiapan apel ke pembicaraan soal penjemputan suaminya. Saat itulah Karlinah baru mengetahui suaminya, Jenderal Umar, sudah lebih dulu menyambangi kediaman Soeprapto.

“Subuh tadi?” tanya Karlinah menyela.

“Ya, pasukan Cakrabirawa yang menjemput. Sampai sekarang belum ada kabar. Tadi Pak Umar juga datang ke mari, mengadakan peninjauan. Sebelumnya Pak Umar telah meninjau ke rumah Pak Nas dan Pak (Jenderal Ahmad) Yani,” terang Yulia.

“Memang Subuh tadi Pak Umar dilapori terjadi pelucutan senjata di rumah Pak Nas. Ya sudah, kalau begitu kita tidak usah ke Senayan,” tandas Karlinah yang hanya sekira 10 menit bertamu.

Baru beberapa hari kemudian datang kabar getir yang sangat sulit dicerna Yulia Soeprapto dan anak-anaknya. Ternyata Jenderal Soeprapto turut jadi korban penculikan dan pembunuhan oleh gerombolan Gerakan 30 September (G30S) di Lubang Buaya. HUT TNI ke-20 tahun itu perayaannya seketika berubah jadi pelepasan jenazah tujuh perwira AD.

Baca juga: Peristiwa G30S 1965 di Mata Saudara Tua

TAG

r soeprapto r suprapto g30s peristiwa 1965

ARTIKEL TERKAIT

Eksil, Kisah Orang-orang yang Terasing dari Negeri Sendiri Hubungan Jarak Jauh Pierre Tendean Kopral Hargijono Tak Sengaja Menembak Ade Waktu Junta Suardi Diperiksa Mukidjan Bukan Tjakra Boengkoes, Tjakra Terakhir di Cipinang Setelah Rohayan Menembak Soeprapto Kolonel Junus Jamosir Digunjing Setelah G30S Junus Samosir, D.I. Panjaitan, dan G30S Sebelum Satar Dieksekusi