Masuk Daftar
My Getplus

Salam Nasional Pekik Merdeka

Cerita di balik lahirnya salam nasional pekik “Merdeka!” Diusulkan Oto Iskandar di Nata, dipopulerkan Sukarno.

Oleh: Hendri F. Isnaeni | 02 Sep 2023
Sukarno mengepalkan tangan sambil memekikkan "Merdeka" bersama Mohammad Hatta bertemu rakyat, Oktober 1945. (IPPHOS).

PADA 31 Agustus 1945, Presiden Sukarno menyampaikan maklumat pemerintah yang menetapkan pekik “Merdeka” sebagai salam nasional. Dalam maklumat itu, Sukarno menulis:

“Sejak 1 September 1945 kita memekikkan pekik ‘Merdeka’. Dengungkan terus pekik itu sebagai dengungan jiwa yang merdeka! Jiwa merdeka yang berjuang dan bekerja! BERJUANG dan BEKERJA! Buktikan itu!”

Setelah proklamasi kemerdekaan, muncul kebutuhan akan salam nasional. Oto Iskandar di Nata mengusulkan pekik “Merdeka”.

Advertising
Advertising

Baca juga: Kisah Pembunuh Si Jalak Harupat

Menurut Iip D. Yahya dalam biografi Oto Iskandar di Nata: The Untold Stories, sehari setelah pelantikan anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) oleh Presiden Sukarno pada 22 Agustus 1945, di Kramat diadakan rapat BPKKP (Badan Pembantu Keluarga Korban Perang) yang dihadiri oleh semua daidanco (komandan batalion) dan ketua BPKKP dari tingkat karesidenan.

“Dalam rapat tersebut, Otista menganjurkan, untuk pertama kalinya, penggunaan pekik ‘Merdeka’,” tulis Iip. Otista singkatan dari Oto Iskandar di Nata.

Informasi itu, kata Iip, dikemukakan oleh Sutisna Senjaya dalam harian Sipatahoenan pada pengujung September 1950. Sutisna bermaksud mengoreksi wacana yang beredar, antara lain disuarakan oleh politisi PNI Arnold Mononutu, bahwa pencipta pekik “Merdeka” adalah Sukarno.

Baca juga: Grafiti Setelah Proklamasi

Kantor berita Antara, 29 September 1950, kemudian mengangkat polemik ini ke tingkat nasional. Seorang wartawannya menemui Presiden Sukarno untuk meminta konfirmasi. Sukarno membenarkan bahwa dalam rapat BPKKP di Kramat, Otista menganjurkan untuk memberi salam satu sama lain dengan ucapan “Indonesia Merdeka”.

“Kalau menurut pendapat saya, Oto Iskandar di Nata yaitu pada suatu malam ketika kami berkumpul di rumah Oto Iskandar di Nata dekat Prapatan Lima. Dia mengatakan, agar kita mendapat semangat, kan baik bila menyebar dan merakyat dengan menyebut ‘Merdeka, Merdeka, Merdeka!’ Perkataan ‘Merdeka’ akhirnya menjadi semboyan dan jelas pula, perkataan itu Oto Iskandar di Nata yang menyampaikan gagasan pertama.”

Anak Oto Iskandar di Nata, Martini Soemali, menyaksikan bagaimana ayahnya mencetuskan salam perjuangan pekik “Merdeka”. Dalam tulisannya, “Pengalaman Bersama Bapak”, yang termuat dalam Si Jalak Harupat: Biografi R. Oto Iskandar di Nata, 1897–1945 karangan Nina Herlina Lubis, Martini mengungkapkan, “Saya masih ingat waktu beliau meminta pendapat saya mengenai salam perjuangan yang tepat. Di rumah, sambil mondar mandir memakai kamer jas, dengan mengepalkan tangan bapak meneriakan ‘Indonesia merdeka!’, tetapi karena dirasa terlalu panjang, akhirnya disingkat menjadi ‘Merdeka!’ Itulah salam perjuangan yang dikenal sampai sekarang.”

Oto Iskandar di Nata.

Baca juga: Arti Ibu Pertiwi hingga Pekik Merdeka

Penjelasan lain tentang lahirnya pekik “Merdeka” terdapat dalam Ensiklopedi Politik (1955) karya Tatang Sastrawiria dan Haksan Wirasutisna. Disebutkan bahwa Presiden Sukarno mengadakan pembicaraan dengan Oto Iskandar di Nata pada 19 Agustus 1945. Mereka membahas tentang perlu adanya salam nasional, yaitu suatu pekik yang dapat menggelorakan jiwa seluruh rakyat Indonesia. Beberapa pekik ditinjau bersama-sama, misalnya pekik “Hidup” [salam di kalangan anggota Barisan Pelopor], pekik “Indonesia”, pekik “Indonesia Merdeka”, dan pada waktu itu belum diambil sesuatu keputusan.

“Pada rapat BP [Badan Pekerja] KNIP di Kramat oleh Oto Iskandar di Nata dianjurkan untuk memberikan salam satu sama lain dengan ucapan ‘Indonesia merdeka’,” tulis Tatang dan Haksan. “Pada 1 September oleh Presiden Sukarno dikeluarkan dekrit untuk memberi salam satu sama lain dengan ucapan ‘Merdeka’.”

Baca juga: Pekik Merdeka Gaya Soeharto

Dalam memberikan salam itu, sebut Tatang dan Haksan, kelima jari dari tangan kanan diangkat ke dekat telinga. Namun, ada pula yang mengepalkan tangan seperti disebut B.M. Diah, pendiri harian Merdeka pada awal Oktober 1945.

“Pekik ini atas saran Oto Iskandar di Nata. Harus dipekikkan dengan penuh semangat, lengan kanan naik sampai setinggi bahu dan tangan dikepalkan sambil berteriak ‘Merdeka!’,” tulis Toeti Kakiailatu dalam biografi B.M. Diah Wartawan Serba Bisa.

Ketika ada yang memberi salam pekik “Merdeka”, maka jawaban dari yang diberi salam harus “Merdeka” pula. Namun, menurut Tatang dan Haksan, lambat laun jawaban itu berubah-ubah sampai banyak ragamnya, misalnya “tetap”, “buat rakyat”, “sampai ke akhir zaman”, dan sebagainya. Oleh karena itu, dalam pertemuan pada 20 April 1950, Sukarno mengingatkan rakyat supaya pekik “Merdeka” dijawab dengan “Merdeka” pula.

Iip menyimpulkan bahwa Oto Iskandar di Nata adalah penemu salam nasional pekik “Merdeka” sedangkan Sukarno yang mempopulerkannya. “Dalam kapasitasnya sebagai presiden, ia akan labih didengar dan diikuti rakyat. Oleh karena itulah, ia disebut sebagai penyambung lidah rakyat.”*

TAG

sukarno oto iskandar di nata

ARTIKEL TERKAIT

Rencana Menghabisi Sukarno di Berastagi Supersemar Supersamar Yang Tersisa dari Saksi Bisu Romusha di Bayah Kemaritiman Era Sukarno Obrolan Tak Nyambung Sukarno dengan Eisenhower D.I. Pandjaitan Dimarahi Bung Karno Anak Presiden Main Band Pengawal-pengawal Terakhir Sukarno* Membidik Nyawa Presiden Sukarno Sukarno, Patung, dan Patung Sukarno