Masuk Daftar
My Getplus

Menumpas Gerakan Aron

Kepala polisi Jepang melakukan perjalanan propaganda melawan gerakan Aron di Sumatra Utara. Lima orang pemimpin Aron dihukum pancung.

Oleh: Andri Setiawan | 28 Jan 2023
Para kepala suku di Kabanjahe, Sumatra Timur antara tahun 1911-1914. (Tropenmuseum/Wikimedia Commons).

Inoue Tetsuro, Kepala Kepolisian Kabupaten Deli-Serdang telah mempersiapkan semuanya pada 11 Agustus 1942 untuk memberantas gerakan Aron. Ia mengumpulkan 30 kuli untuk membawa peralatan, makanan dan obata-obatan, sepuluh polisi sebagai penjaga, seorang penerjemah bahasa Karo dan seorang penerjemah bahasa Indonesia, serta seorang petani Karo sebagai pemandu. 

Tetsuro begitu detil menulis misinya itu dalam memoarnya “Bapa Jango: Bapa Djanggut” yang termuat dalam The Japanese Experience in Indonesia: Selected Memoirs of 19421945.

“Selain itu, kami memiliki seekor kuda bernama Marco untuk saya (ras Anglo Norman), dan dua kuda (ras lokal) untuk penerjemah. Sebelum kami berangkat, saya menginstruksikan urutan berbaris berikut (dengan kepala di sebelah kiri): polisi, pemandu, saya, penerjemah bahasa Indonesia, inspektur polisi, polisi, kuli, penerjemah bahasa Karo, polisi,” tulis Tetsuro.

Advertising
Advertising

Sejak insiden Aron meletus di Arnhemia, Tetsuro telah diperintah oleh chokan (gubernur) untuk mengadakan penyelidikan menyeluruh dan menghancurkan gerakan Aron.

“Orang Indonesia asisten utama Tetsuro pada waktu itu ialah Tengku Arifin Tobo –sebelumnya bertugas di bagian intelijen politik Belanda di Medan dan juga anggota istana Kerajaan Serdang,” tulis Anthony Reid dalam Menuju Sejarah Sumatra antara Indonesia dan Dunia.

Baca juga: Gerakan Aron di Sumatra Timur

Sebelum melakukan perjalanan, Tetsuro terlebih dahulu berpidato di alun-alun Arnhemia, 17 km dari Medan. Tetsuro mengatakan bahwa pemerintah Jepang akan memperhatikan kesejahteraan para petani. Para petani di Arnhemia menuntut agar diberi lebih banyak ladang, sawah, diizinkan membudidayakan palawija, serta meminta peningkatan distribusi garam. Tetsuro berjanji mengusahakan tuntutan itu.

Tetsuro mencatat, sekira 60 orang petani Aron secara terbuka meninggalkan Aron dan meminta ryominsho atau sertifikat kewarganegaraan yang baik. Rombongan Tetsuro patut berbangga. Namun, perjalanan masih panjang. Kini mereka menuju desa Namo Rambei, Urung Serbanyaman.

Setelah melewati perbukitan dan sungai yang deras, rombongan Tetsuro sampai di Namo Rambei pada sore hari dan disambut oleh kepala desa. Keesokan harinya, kampanye di alun-alun desa juga berjalan lancar.

“Tiga puluh lima orang maju untuk menyatakan telah meninggalkan afiliasi mereka dengan Aron,” tulis Tetsuro.

Kesuksesan propaganda juga diraih Tetsuro di desa Namo Ukuru sore harinya. Ia mendapat sambutan warga desa, bahkan dengan tarian dan jamuan makan. Sekira 30 orang Aron menyatakan keluar dari gerakan.

Pada 13 Agustus 1942, rombongan Tetsuro melanjutkan perjalanan ke desa Gunung Mulia. Perjalanan kali ini lebih menantang, mereka harus melewati jalan setapak yang curam, sungai deras, bahkan tebing. Di tengah jalan, seorang utusan datang membawa surat dari Arnhemia. Isinya informasi bahwa ada rencana untuk membunuh Tetsuro.

Baca juga: Insiden-insiden Gerakan Aron

Setelah melanjutkan perjalanan, mereka sampai di dekat sebuah jembatan kayu di atas lembah. Tetsuro menaruh curiga. Ia memerintahkan para polisi mengambil posisi di kanan-kiri jembatan dan mulai menembaki. Seorang petani terluka.

Di Gunung Mulia, Tetsuro mendapati keganjilan. Desa yang dipagari bambu itu begitu sunyi. Hanya ada anjing setengah kelaparan dan babi yang lepas. Rombongan Tentsuro mengalami beberapa insiden namun ia tak bisa menceritakannya. Tetsuro sebenarnya hendak bermalam dan berharap ada petani yang mau keluar dari Aron.

“Namun, karena semua polisi dan kuli benar-benar takut tinggal di sana dan hanya ingin meninggalkan desa secepat mungkin, saya harus melakukan perjalanan malam ke tujuan berikutnya, Tanjung Beringin yang jaraknya delapan kilometer,” tulisnya.

Di wilayah-wilayah lain, seperti Duabelas (Kota) dan distrik Sukapiring, rombongan Tetsuro kembali mengalami insiden-insiden. Namun, ia tak bisa menceritakan dalam memoarnya. Rombongan pun kembali ke Medan.

Pada awal Oktober 1942, ketika Tetsure tengah mempelajari rencana penyewaan tanah perkebunan tembakau Belanda untuk penduduk guna mencegah insiden Aron, sebuah peristiwa terjadi. Sekira 300 petani Aron diinternir di sebuah bangsal karena menggarap lahan secara liar di Ujung Labuhan, 15 km dari Arnhemia.

Bangsal besar yang atapnya terbuat dari nipah itu telah dikepung polisi bersenjata. Parang milik petani kemudian dikumpulkan. Tiga orang petani yang diidentifikasi sebagai penjahat segera dibawa ke Medan. Sementara lima orang yang dianggap sebagai pemimpin dibawa ke hadapan 300 lainnya.

“Lima orang lainnya harus dikorbankan demi perdamaian rakyat Deli Hulu, karena mereka, dalam kata-kata chokan, ‘secara nyata bersalah melakukan perlawanan dengan kekerasan dan antimiliterisme’,” tulis Tetsuro.

Baca juga: Lagak Laskar Sumatra Timur

Lima orang ini dipenggal menggunakan katana di hadapan ratusan petani. Sontak para petani tiarap dan suasana mencekam. Hanya terdengar isak tangis para perempuan. Peristiwa ini berdampak besar bagi runtuhnya gerakan Aron untuk selamanya.

Namun, wajah Aron yang dianggap sebagai “kanker Sumatra Utara” itu ternyata berbeda di mata penduduk Batukarang. Pada awal 1960-an, tugu setinggi lima meter dibangun untuk mengenang para petani Aron.

Jika melihat tugu itu, menurut Tridah Bangun dkk. dalam biografi Dr. K. Pri Bangun, Presdir Tranka Kabel, Pejuang dan Pelopor Industri Kabel Indonesia, generasi penerus akan tahu sejarah kampung itu di zaman Jepang. Sejarah perjuangan penduduk Batukarang khususnya, rakyat Karo umumnya memang penuh heroisme.*

TAG

gerakan aron sumatra timur

ARTIKEL TERKAIT

Hitung-hitungan ala Soeharto Dibuang Gara-gara Menagih Utang Foya-foya Bos Pertamina Ibnu Sutowo Multatuli dalam Bingkai Kritik Pascakolonial Ahmad Subardjo dan Keponakannya Pamer Kemewahan Hasil Jarahan Julius Caesar Menyeberangi Rubicon Operasi Monte Carlo, Misi Intelijen Koes Bersaudara Menonton Eksekusi Hukuman Mati di Batavia Gubernur Jenderal VOC Dijatuhi Hukuman Mati