Masuk Daftar
My Getplus

Duka Kuba di Laut Karibia

Pesawat Cubana de Aviacions 455 yang mengangkut para atlet anggar Kuba tak berdosa "dimangsa" bom yang dipasang para oposan Fidel Castro yang didukung CIA.

Oleh: M.F. Mukthi | 16 Okt 2021
Tugu peringatan untuk mengenang para korban pesawat Cubana de Aviacion 455 yang dibom di Bridgetown, Barbados. (Bernd-Christian Fuhrmann/wikipedia.org)

Perasaan senang menghinggapi para gadis anggota timnas anggar Kuba. Mereka baru saja menjuarai mayoritas nomor yang dikompetisikan dalam Kompetisi Anggar Regional Amerika Tengah-Karibia 1976 di  Caracas, Venezuela. Saking senangnya, mereka tetap mengenakan medali emas mereka ketika pesawat DC-8 Cubana de Aviacions nomor penerbangan 455 yang mereka tumpangi singgah di Bandara Seawell (kini Grantley Adams International Airport) di Bridgetown, Barbados pada 6 Oktober 1976. Mereka tak sabar ingin segera sampai di rumah dan berbagi kesenangan dengan sanak-famili.

Hanya keceriaan yang terpampang di wajah mereka. Kesedihan apalagi ketakutan tak punya tempat di benak mereka.

Padahal, beberapa waktu sebelum pesawat mereka mengudara dari Caracas, di sana Luis Posada Carriles telah menunggu hasil dari rencana pentingnya yang ditujukan pada Cubana 455. Posada merupakan eksil Kuba penentang pemerintahan Fidel Castro yang paling gigih mengupayakan pembunuhan Castro dan para pendukungnya. Dia "adik kelas" Castro di Universitas Havana, tempat Posada kuliah di Jurusan Kimia. Setelah Castro naik ke puncak kekuasaan, Posada bergabung dengan kelompok oposisi. Dia kemudian dipenjara namun berhasil melarikan diri ke Meksiko sebelum ke Miami, Amerika Serikat (AS) pada 1961.

Advertising
Advertising

Setelah di Miami, Posada dididik dinas intelijen AS CIA. Dia terlibat dalam Invasi Teluk Babi yang hampir membawa umat manusia ke dalam perang nuklir.

“Di mana 1.500 orang eksil anti-Castro yang dilatih CIA menyerbu Kuba. Lebih dari seratus orang terbunuh; sisanya ditawan dan kemudian ditebus dengan $53 juta dalam bentuk bantuan medis dan makanan,” tulis tulis Ann Louise Bardach dalam Cuba Confidential: Love and Vengeance in Miami and Havana.

Baca juga: CIA Incar Jenggot Castro

Posada selamat dalam invasi itu. Dia kemudian masuk angkatan darat AS dan menjalani pendidikan di Fort Benning.

“Dua tahun setelah invasi Teluk Babi berakhir dengan kegagalan memalukan di pantai-pantai Kuba, dua pemuda Kuba di pengasingan berdiri berdampingan di bawah sinar matahari musim semi di Fort Benning, Georgia, berlatih untuk pawai berikutnya di Havana. Saat itu tahun 1963, saat Amerika demam merencanakan melawan kekuasaan Fidel Castro. Kedua pria itu selamat dari operasi Teluk Babi yang ceroboh. Kedua orang itu, Jorge Mas Canosa dan Luis Posada Carriles, telah mendaftar di Angkatan Darat Amerika Serikat, yakin bahwa Presiden Kennedy akan melancarkan serangan lain untuk menghalau komunisme dari belahan bumi. Mereka bersumpah bahwa kali ini mereka akan berhasil,” sambung Ann Louise.

Dalam perencanaan di Caracas tadi, Posada “berkongsi” dengan Orlando Bosch, yang juga eksil penentang gigih Castro. Bosch dan Castro sebaya dan sama-sama kuliah di Universitas Havana meski beda jurusan. Keduanya berada dalam satu barisan sebagai penentang rezim Fulgencio Batista.

“Bosch menjadi pemimpin mahasiswa, dan menjadi oposisi terbuka terhadap kediktatoran Batista. Dia bergabung dengan pasukan pemberontak pada 1958, bertempur dengan orang-orang Che Guevara di provinsi tengah Las Villas,” tulis Nick Caistor dalam Fidel Castro.

Namun setelah Batista tumbang dan Castro naik, Bosch berpisah jalan. Bosch memimpin pemberontakan terhadap pemerintahan baru Castro. Setelah pemberontakan yang dipimpinnya dipatahkan, Bosch menyingkir ke Miami pada Juli 1960. Sambil menjadi dokter anak di sana, Bosch membentuk organisasi untuk meneror pemerintahan Castro bernama Cuban Power.

Baca juga: Pesawat Mata-Mata Amerika Ditembak Jatuh di Kuba

Pembunuhan dan pengeboman berulangkali dilancarkan Cuban Power baik di AS maupun Kuba. Namun, sebuah upayanya meledakkan kapal Polandia yang menuju Kuba pada 1968 membawa Bosch ke dalam “hotel prodeo”. Alih-alih kapok, Bosch makin "gila" setelah bebas. Saking banyaknya teror yang dilakukannya, pemerintah AS memutuskan untuk menangkapnya. Namun Bosch berhasil melarikan diri ke Venezuela sebelum ditangkap.

Di Venezuela, Bosch bekerjasama dengan Posada. Bersama beberapa tokoh eksil lain, keduanya mendirikan Commandos of the United Revolutionary Organizations (CORU) di Republik Dominika pada Juni 1976. CORU merupakan organisasi wadah yang menyatukan kelompok-kelompok anti-Castro ekstrim di luar Kuba. Pendonor utama CORU adalah taipan Pepin Bosch kendati disinyalir tetap ada "rembesan" dana CIA.

“Pusat utama terorisme pengasingan yang didukung AS adalah Yayasan Kuba-Amerika (CAF), yang merupakan saluran untuk mendanai aksi teroris yang ditujukan terhadap Kuba,” tulis buku yang dieditori Salim Lamrani, Superpower Principles: US Terrorism Against Cuba. “Orang-orang Kuba yang diasingkan di Amerika Serikat, secara kolektif, mungkin merupakan kelompok teroris paling tahan lama dan paling produktif di dunia.”

Dalam rapat pendirian CORU itu pula disusun teror apa saja yang akan dijalankan CORU untuk setahun ke depan. Yang terpenting, CORU merencanakan lebih dari 50 pengeboman terhadap kepentingan Kuba dan negara-negara yang bekerjasama dengannya. Kapal maupun pesawat sipil termasuk ke dalam target yang akan diserang.

“Semua pesawat Castro adalah pesawat tempur,” kata Bosch, dikutip Caistor.

Oleh karena itulah CORU berkepentingan mendapatkan jadwal penerbangan maskapai penerbangan milik Kuba. Berbekal jadwal itu, CORU melancarkan pengeboman-pengeboman terhadap pesawat sipil Kuba. Pada 9 Juli 1976, bom teroris CORU berhasil meledak di pesawat DC-8 Cubana de Aviacion yang –disewa dari Air Canada; Cubana de Aviacion menyewa tiga pesawat DC-8 saat itu– berada di Kingston, Jamaika.

Namun, sasaran CORU yang jauh lebih penting adalah Cubana de Aviacion dengan nomor penerbangan 455. Sebab, pesawat itu mengangkut tim anggar Kuba yang berlaga di kejuaraan anggar regional di Caracas. Berdasarkan jadwal, pesawat bernomor registrasi CU-T1201 itu akan bertolak dari Caracas ke Havana melewati Port Spain (Trinidad and Tobago), Bridgetown (Barbados) dan Kingston (Jamaika). Sesuai manifes penerbangannya, Cubana 455 mengangkut 73 orang yang –terdiri dari 25 kru dan 48 penumpang, termasuk 24 orang anggota tim anggar Kuba beserta pelatih dan pejabat olahraga negeri itu– berkewarganegaraan Kuba, Korea Utara, dan Guyana.

Baca juga: Saat Pesawat Sipil Dihantam Misil

Melalui Freddy Lugo dan Hernan Lozano, dua pekerja di perusahaan keamanan milik Posada, CORU berhasil menempatkan dua bom di Cubana de Aviacion 455 –satu di toilet belakang, satu lagi di bagian tengah kabin penumpang– ketika pesawat itu transit di Seawell Airport, Bridgetown. Lugo dan Luzano berhasil naik ke Cubana 455 dari Trinidad and Tobago dan turun ketika pesawat itu transit di Seawell.

Sebelas menit setelah Cubana 455 lepas landas dari Seawell, bom pertama meledak hingga menghancurkan kabel pengendali pesawat. Pilot Kapten Wilfredo Perez segera mengontak petugas Air Traffic Control.

“Seawell, CU-455, kami meminta pendaratan segera. Kami mengalami keadaan darurat total!” kata Wilfredo sebagaimana dikutip Ann Louise.

Namun belum lagi pendaratan darurat itu terwujud, bom kedua meledak. Kabin penumpang bagian tengah pun bolong. Kondisi itu membuat Kapten Wilfredo yakin pesawatnya tidak mungkin lagi menjalani pendaratan darurat. Dia pun mengarahkan pesawatnya menjauh dari pantai menuju Laut Karibia guna menghindari para turis jadi korban. Tak lama kemudian Cubana 455 menghujam laut di jarak delapan kilometer dari Seawell Airport. Seluruh penumpang, termasuk para gadis-atlet anggar yang ingin merayakan kemenangan mereka bersama keluarga, tewas dalam teror pesawat udara sipil petama di dunia itu.

“CIA menciptakan dan melepaskan Frankenstein,” kata Peter Kornbluh, kepala proyek independen Arsip Keamanan Nasional Kuba yang bertahun-tahun berupaya membongkar dokumen terkait Posada, mengomentari Posada, sebagaimana dikutip Gisela Salomon dalam artikelnya yang dimuat apnews.com, 24 Mei 2018.

TAG

fidel castro kuba cia

ARTIKEL TERKAIT

CIA, Tan Malaka, dan Kampret Agen CIA dalam Operasi Habrink CIA dan Penelitian tentang Indonesia Menolak Membantu Agen CIA Pertama di Indonesia Operasi Agen CIA Pertama di Indonesia Ketika Jakarta Tiba Intelijen Indonesia Kebobolan Agen CIA Penghubung CIA dan Badan Intelijen Indonesia Mantan Agen CIA Gagal Jadi Duta Besar di Indonesia (2) CIA, PRRI, dan PSI