Masuk Daftar
My Getplus

Putri Bulutangkis dengan Segudang Prestasi

Legenda bulutangkis serba bisa. Keunggulan postur dan teknik pukulan Verawaty Fadjrin berbuah prestasi berlimpah.

Oleh: Randy Wirayudha | 27 Sep 2021
Ilustrasi Verawaty Fadjrin (Betaria Sarulina/Historia)

SUDAH lebih dari sepekan pebulutangkis legendaris Verawaty Fadjrin tergolek di Rumahsakit Pusat Kanker Nasional Dharmais, Jakarta Barat. Sejak 17 September 2021, Verawaty dirawat intensif karena kanker paru-paru dan semenjak itu pula perhatian dan bantuan terus mengalir dari banyak pihak.

Selain Presiden RI Joko Widodo, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri BUMN Erick Thohir, Menpora Zainudin Amali juga ikut menyumbang. Kemenpora bahkan menanggung biaya perawatannya di RS Dharmais.

“Saya sampaikan pada keluarga maupun pada Pak Dirut (RS Dharmais, dr. R. Soeko W. Nindito), silakan dirawat secara maksimal dan pemerintah akan menanggung semuanya. Jadi enggak ada masalah, karena kita tahu ibu Verawaty ini adalah legenda bulutangkis Indonesia sehingga pemerintah memberikan perhatian dan apresiasi,” ungkap Zainudin di laman Kemenpora, 20 September 2021.

Advertising
Advertising

Verawaty sudah bolak-balik untuk perawatan kanker yang diidapnya sejak Maret 2020. Mengingat punya segudang prestasi yang mengharumkan nama Indonesia di banyak pentas bulutangkis, sudah patut jika Verawaty di masa senjanya mendapat perhatian penuh pemerintah.

Baca juga: Tati Sumirah, Pahlawan Piala Uber

Menpora Zainudin Amali (tengah) saat membesuk Verawaty Fadjrin di RS Dharmais (kemenpora.go.id)

Darah Bulutangkis

Lahir di Jakarta pada 1 Oktober 1957 dengan nama Verawaty Wiharjo, bakat bulutangkisnya diturunkan dari kedua orangtuanya. Mengutip Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia karya Sam Setyautama dan Suma Mihardja, ayah Verawaty, Oey Joen Ho (Gani Wiharjo), dan ibunya, Elsyewati Mualim, adalah pebulutangkis tingkat daerah.

“Ayahnya Oen Joen Ho adalah juara tunggal di turnamen Sin Ming Hui (1948). Ibunya Elsyewati pernah masuk babak final kejuaraan PBSI di Malang (1959),” tulis Sam dan Suma.

Pada umur tujuh tahun, Verawaty mulai dikenalkan pada raket dan shuttlecock oleh ayahnya. Posturnya yang tinggi jadi keunggulan Verawaty. Di bawah bimbingan sang ayah, Vera langganan juara singkat SD. Ketika usia 15 tahun, Verawaty bahkan sudah juara tunggal putri Kejurda DKI 1972.

Baca juga: Utami, Srikandi Bulutangkis Putri

Diungkapkan Broto Happy Wondomisnowo dalam Baktiku Bagi Indonesia, postur tubuh Verawaty sudah mencapai 176 cm atau di atas rata-rata pemain seumurannya. Dengan keunggulan itu dan dipadu bakat alami, sang ayah memasukkannya ke klub Gaya. Tetapi bak kutu loncat, Verawaty berpindah-pindah klub, dari Gaya ke PB Jaya Raya, hingga kemudian PB Tangkas.

“Saya pindah-pindah klub untuk mencari yang terbaik. Apalagi ketika itu pindah-pindah klub begitu mudah,” kata Verawaty dikutip Broto.

Di bawah besutan Ferry Sonneville di PB Tangkas, performa Verawaty makin melejit. Ia juga mulai main rangkap, tunggal dan ganda. Setelah juara di Kejurnas 1976 dan meraih perak di Kejuaraan Asia 1976 serta PON 1977, Verawaty mulai masuk pelatnas PBSI Senayan.

Di pentas SEA Games era akhir 1970-an dan awal 1980-an, Verawaty langganan meraih emas. Ia bahkan satu kali membawa pulang emas Asian Games 1978. Namun di Piala Uber dan Piala Dunia Bulutangkis, Verawaty justru kerap gigit jari sebagai spesialis finalis. Terutama setelah menikah dengan Fadjriansyah Biduin Aham pada 1979 –setelah menikah, Vera mengganti nama belakangnya dari Wiharjo menjadi Fadjrin di samping masuk Islam.

Baca juga: Ivana Lie, Srikandi yang Tak Diakui

Puncak Prestasi

Kendati kampiun All England 1979 dan tunggal putri Kejuaraan Dunia 1980 dengan mengalahkan Ivana Lie, performa Vera naik-turun. Pada 1983-1985, Vera bahkan vakum dari bulutangkis. Baru setelah kembali terjun, performanya bangkit lagi dan konsisten jadi juara.

“Seperti Minarni, Verawaty sebenarnya pemain penuh bakat. ‘Sayangnya’ mereka punya sifat-sifat feminim yang mereka sendiri tak mampu menghilangkannya. Verawaty yang dari segi postur maupun teknik pukulan yang dikuasainya, sebenarnya memiliki kesempatan merajai bulutangkis putri dunia. Tapi prestasinya kurang memenuhi harapan. Pada saat selangkah lagi merenggut juara, ia tergelincir dan gagal. Baru setelah ditangani satu regu pelatih bermutu terdiri dari Ferry, (Tan) Joe Hok, Eddy Jusuf, Po Djian bersama Tahir Djide, dan Minarni, Verawaty berhasil mencetak puncak prestasinya,” ungkap Max Karundeng dalam Pasang Surut Supremasi Bulutangkis Indonesia.

Baca juga: Minarni, Nona Manis Jagoan Bulutangkis

Pasca-vakum, Vera juga mulai tampil di ganda campuran. Ia dipasangkan dengan Eddy Hartono. Ia tetap langganan medali emas SEA Games. Puncak prestasi Vera diraih di nomor ganda campuran bersama Eddy di Piala Sudirman 1989.

Di Piala Sudirman 1989, Vera tampil di nomor ganda campuran berpasangan dengan Eddy dan ganda putri berpasangan dengan Yanti Kusmiati. Indonesia berada di subgrup A bersama Korea Selatan dan Inggris. Laju Indonesia mulus sampai final dan kembali bersua Korea Selatan.

Tak seperti di babak grup, tim “Negeri Ginseng” memberi perlawanan lebih alot di final. Pasangan Vera/Yanti yang –merupakan gabungan dari pebulutangkis putri berpostur tertinggi dan terpendek– turun di laga kedua bahkan kalah dua set langsung, 12-15 dan 6-15, dari Hwang Hye-young/Chung So-young. Indonesia pun tertinggal 0-2 lantaran di laga pertama ganda putra Eddy Hartono/Rudy Gunawan juga keok.

Baca juga: Kawin-Cerai di Ganda Campuran

Beruntung, di laga ketiga Susy Susanti menang di nomor ganda putri. Eddy Kurniawan akhirnya membawa Indonesia menyamakan kedudukan setelah menang di tunggal putra. Penentuan juara pun berada di pundak Verawaty/Eddy di nomor ganda campuran.

Tak ingin mempermalukan publik tuan rumah, kerja keras Verawaty/Eddy berbuah kemenangan 18-13 dan 15-3. Kemenangan manis itu memastikan gelar juara jatuh ke Indonesia.

“Kami bersyukur merebut Piala Sudirman. Kemenangan di partai kelima bersama Kempong (panggilan akrab Eddy Hartono, red.) itu sungguh mendebarkan. Kekalahan saya di ganda putri bersama Yanti Kusmiati, seperti terbayar lunas,” kenang Verawaty dikutip Broto.

Baca juga: Sudirman Bukan Sembarang Piala

Namun sayangnya, raihan Piala Sudirman 1989 itu jadi yang pertama sekaligus terakhir hingga kini. Walau diinisiasi dan menyandang nama tokoh bulutangkis Indonesia, Sudirman, trofi Sudirman sejak 1989 belum pernah “pulang” lagi ke tanah air.

Setelah Piala Sudirman, Vera masih menunjukkan tajinya di banyak event. Dia antara lain merebut perak dan perunggu Asian Games 1990, finalis Piala Uber 1990, dan runner-up Prancis Terbuka 1990.

Vera gantung raket pada 1990. Selepas pensiun, ia tetap mendedikasikan dirinya di bulutangkis. Selain masuk tim kepelatihan Pelatnas, Vera juga menyibukkan diri di Pelatda Ragunan. Belakangan, Vera masuk arena politik dengan menjadi pengurus Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

“Dedikasi saya untuk bulutangkis Indonesia saya sumbangkan dengan ikut menangani pemain-pemain junior. Semoga saja, mereka ini kelak bisa ikut meneruskan kejayaan yang dulu pernah kami rintis dari sejak masih membela klub Tangkas hingga kemudian dipanggil masuk Pelatnas,” tandas Verawaty.

Baca juga: Yuni Kartika, dari Arena ke Layar Kaca

Catatan Prestasi Verawaty Fadjrin:

Kejurda DKI

1972 – Emas (Tunggal Putri)

 

Kejurnas

1976 – Emas (Tunggal Putri)

1978 – Emas (Tunggal Putri)

 

SEA Games

1977 – Emas (Beregu Putri); Perak (Tunggal Putri); Perunggu (Ganda Campuran & Ganda Putri)

1979 – Emas (Beregu Putri & Ganda Putri); Perak (Tunggal Putri)

1981 – Emas (Beregu Putri & Ganda Putri)

1985 – Emas (Beregu Putri); Perak (Ganda Putri)

1987 – Emas (Beregu Putri, Ganda Putri & Ganda Campuran)

1989 – Emas (Beregu Putri & Ganda Campuran); Perak (Ganda Putri)

 

Asian Games

1978 – Emas (Ganda Putri); Perak (Ganda Campuran)

1986 – Perunggu (Beregu Putri)

1990 – Perak (Beregu Putri & Ganda Campuran); Perunggu (Ganda Putri)

 

Kejuaraan Asia

1988 – Emas (Ganda Putri)

 

Kejuaraan Dunia

1980 – Emas (Tunggal Putri); Perak (Ganda Putri)

1989 – Perak (Ganda Campuran)

 

Piala Dunia

1979 – Perak (Ganda Putri); Perunggu (Tunggal Putri)

1980 – Perak (Ganda Putri)

1982 – Perak (Tunggal Putri)

1986 – Emas (Ganda Campuran); Perunggu (Ganda Putri)

1987 – Perunggu (Ganda Putri)

1988 – Perunggu (Ganda Putri)

1989 – Perunggu (Ganda Putri)

 

Piala Uber

1978 – Runner-up

1981 – Runner-up

1986 – Runner-up

1988 – Juara III

1990 – Juara III

 

Piala Sudirman

1989 – Juara

 

All England

1979 – Juara (Ganda Putri)

1980 – Runner-up (Tunggal Putri)

1982 - Runner-up (Ganda Putri)

 

Juara Turnamen Terbuka

Denmark Open – 1978 (Ganda Putri)

Canada Open – 1979 (Ganda Putri)

Indonesian Open – 1982 (Tunggal & Ganda Putri); 1988 (Ganda Putri); 1989 (Ganda Campuran)

Chinese Taipei Open – 1986 (Ganda Putri)

China Open – 1986 (Ganda Putri)

Malaysia Open – 1986 & 1988 (Ganda Campuran)

Dutch Open – 1989 (Ganda Campuran)

TAG

bulutangkis

ARTIKEL TERKAIT

Badminton is Coming Home! Menguber Uber Cup Elizabeth Latief dan Semangat Kartini Indonesia dan Kejayaan All England Alan Budikusuma Terpuruk di Kuala Lumpur, Berjaya di Barcelona Kawin-Cerai di Ganda Campuran Pertarungan Terakhir Pahlawan Piala Uber Arek Malang Jagoan Raket Telah Berpulang Susi Susanti yang Tak Sedramatis Kisah Asli Kristalisasi Keringat dan Air Mata Susi Susanti