Masuk Daftar
My Getplus

Jack Charlton, Legenda yang Acap Bikin Kiper Berang

Kepergian Jack Charlton si "pencipta" teknik pengganggu kiper lawan kala tendangan sudut.

Oleh: Randy Wirayudha | 12 Jul 2020
John "Jack" Charlton menggenggam trofi Jules Rimet sebagai capaian puncak prestasinya sebagai pemain di Piala Dunia 1966 bersama timnas Inggris. (thefa.com).

KARIERNYA tak bergelimang harta. Namanya bahkan kalah beken dari sang adik. Namun mendiang Jack Charlton dikenal luas sebagai pemimpin natural dan berkarakter. Meski jasanya terhadap Inggris di Piala Dunia 1966 acap dibayangi para bintang lain, ia dicintai setiap insan di kampung halamannya, Ashington, hingga akhir hayat.

Charlton beristirahat dengan tenang untuk selama-lamanya pada Jumat, 10 Juli 2020 (Sabtu, 11 Juli WIB) di kediamannya karena kanker limfoma di usia 85 tahun. Tak hanya di kota kelahirannya, namanya juga sudah terpatri abadi di benak warga kota Leeds karena ia menghabiskan karier profesionalnya sebagai one-club man di Leeds United (1952-1973).

“Dia seorang legenda ketika sepakbola belum seperti sekarang. Dia tak bermain demi banyak uang. Dia mencintai sepakbola dengan sepenuh hati dan dia sosok yang sangat menyenangkan,” tutur Maria Wood, salah satu warga Ashington, dikutip BBC, Sabtu (11/7/2020).

Advertising
Advertising

“Dia legenda sepakbola Inggris dan sungguh menjadi keistimewaan bahwa dia bermain untuk Leeds sepanjang 21 tahun. Jack seorang pria sejati di lapangan. Kami takkan melupakan dirinya atau dampak yang ditinggalkannya bagi sepakbola,” papar Ketua Dewan Kota Leeds Judith Blake.

Baca juga: Lembaran Getir Tragedi Heysel

Charlton jadi orang ke-12 dari generasi emas timnas Inggris yang memenangkan Piala Dunia 1966 yang berpulang. Kini legenda yang masih hidup tersisa 10 orang, termasuk sang adik, Bobby Charlton.

Pria yang punya 35 caps di timnas Inggris (1965-1970) itu loyal pada Leeds United baik di masa sulit atau jaya. Ia bersumbangsih dengan ikut menyumbang titel Football League Second Division (kini Divisi Championship di kasta kedua) 1963-1964, Football League Cup 1967-1968 (kini EFL Carabao Cup), dan puncaknya gelar Football League First Division 1968-1969 (kini Premier League).

Sebagai pelatih, puncak prestasinya mengantarkan Irlandia pertamakali lolos ke Piala Dunia 1990. (fifa.com).

Namun rentetan pencapaian itu tetap masih kalah pamor prestasi sang adik Bobby. Akibatnya Jack acap merasa berada di bawah bayang-bayang Bobby yang melegenda di Manchester United.

Ketika gantung sepatu pada 1973, Jack langsung jadi pelatih Middlesbrough di tahun itu juga. Ia berhasil membawa “The Boro" promosi dari liga kasta ketiga ke kasta kedua dan juara Football League Second Division 1973-1974. Pun dengan Sheffield Wednesday, ia angkat dari kasta ketiga ke kasta kedua pada musim 1979-1980.

Puncak karier Jack sebagai pelatih di level internasional adalah membawa timnas Republik Irlandia untuk kali pertama lolos piala dunia pada 1990. Tim berjuluk “Plucky Ireland” itu bahkan ia bawa melangkah sampai ke perempat final.

Sepakbola dari Ibunda

John ‘Jack’ Charlton yang lahir di Ashington, 8 Mei 1935 merupakan putra sulung dari empat bersaudara pasangan Robert Wallace ‘Bob’ Charlton dan Elizabeth Ellen ‘Cissie’ Milburn. Berbeda dari Robert yang pekerja tambang batubara dan sama sekali tak tertarik pada sepakbola, Cissie sangat menggemari sepakbola.

Cissie merupakan guru sekaligus pelatih sepakbola putri di sekolah tempatnya mengajar. Di masa mudanya, Cissie pesepakbola putri. Banyak paman Jack dari pihak ibunya juga berprofesi sebagai pesepakbola: Jim, George, Jack, dan Stan Milburn. Cissielah yang memperkenalkan sepakbola pada keempat anaknya: Jack, Bobby, Gordon, dan Tommy. Namun hanya Jack dan Bobby yang akhirnya menseriusinya.

“Biasanya setelah kami bermain di taman, kami melihat Bob hanya duduk dekat perapian, membaca koran. Cissie yang lebih sering memerhatikan, menanyakan sepakbola dan keseharian di sekolah. Bukan karena dia (Bob) tak menyukai anak-anaknya, hanya saja dia tak senang keributannya,” kata Walter Lavery, sohib masa kecil Jack dan Bobby, mengenang sebagaimana dikutip Leo McKinstry dalam Jack and Bobby: A Story of Brothers in Conflict.

Cissie Milburn (kiri) saat berduel udara dengan putranya Jack Charlton. (Twitter @TheCaulfieldWay).

Kendati mereka berenam tinggal di rumah kecil dan hidup secukupnya, Cissie nyaris tak pernah absen menemani Jack dan Bobby bermain bola di taman dekat rumah dan sekolahnya. Tak jarang Cissie membawa Jack dan Bobby nonton pertandingan Ashington FC dan Newcastle United, klub yang dibela saudara Cissie, Jack Milburn.

“Ketika kami bermain bola di sekolah atau di lapangan, biasanya ada beberapa ayah dari pemain yang menemani. Hanya ada satu perempuan, Cissie Charlton, yang kerap berteriak lebih lantang dari para ayah di pinggir lapangan. Dia sering ikut di bus tim sekolah jika ada pertandingan di sekolah lain. Dia juga tahu banyak hal tentang strategi permainan,” kata Bobby Whitehead, kawan kecil Jack dan Bobby lainnya.

Baca juga: Lionel Messi, Alien Sepakbola yang Membumi

Meski begitu, Jack dan Bobby yang lebih muda dua setengah tahun nyaris tak pernah akur. Sikap itu baru mencair di usia senja.

“Seperti kebanyakan kakak, Jack menganggap saya seperti hama pengganggu saat kami kecil, terutama ketika saya memohon ikut dengannya memetik kentang atau memancing ikan. Ketika saya mengadu pada ibu, dia hanya bisa mengeluh sepanjang hari,” kenang Bobby.

Jack Charlton bergabung dengan tim muda Leeds United sejak usia 15 tahun. (thepfa.com).

Di usia 15 tahun, Jack menolak tawaran uji coba di Leeds United, klub tempat Jim Milburn pamannya bermain. Penolakan Jack didorong oleh keinginannya mengikuti jejak ayahnya sebagai penambang. Pilihan itu kemudian disesalinya.

“Jack memilih pelatihan sebagai penambang setelah lulus sekolah tetapi dia terkejut dengan kondisi bekerja di bawah tanah; ledakan untuk mengeluarkan batubara membuatnya kocar-kacir dan langsung lari ke permukaan tanah. Tidak lama kemudian dia minta keluar dari pekerjaan itu,” ungkap Jonathan Mayo dalam The 1966 World Cup Final: Minute by Minute.

“Lalu dia menerima tawaran dari pemandu bakat Leeds United sebagai ground staff boy. Artinya ia bekerja sebagai penyapu tribun stadion, penyemir sepatu sepakbola pemain, pemotong rumput lapangan, hingga membersihkan toilet,” sambungnya.

Baca juga: Frank Lampard Legenda Bermental Baja

Saat menjadi ground staff itulah Jack tak menyia-nyiakan kesempatan untuk trial lagi dengan Leeds. Ia berhasil lolos masuk tim muda Leeds di tahun itu juga (1950).

“Tumbuh di wilayah timur laut Inggris dengan budaya kelas pekerja artinya kita bekerja dengan upah yang kecil dan menjadi pesepakbola profesional adalah ambisi realistis buat para pemain bertalenta, meski tetap dibutuhkan kerja keras dan jarang mendapat penghasilan yang lebih dari biasanya yang didapat orang-orang kelas pekerja,” ujarnya dalam Jack Charlton: The Autobiography.

Warisan Taktik Usil

Dengan postur 187 cm, Jack acap diplot pelatihnya sebagai bek tengah. Butuh tiga tahun baginya untuk menembus tim senior Leeds hingga bisa menjalani debutnya pada 25 April 1953 kala Leeds menghadapi Doncaster Rovers di Football League Second Division.

Meski kemudian turut membantu Leeds juara liga kasta kedua dan promosi ke liga teratas pada musim 1955-1956, Jack sempat frustrasi di bawah kepelatihan Don Revie. Tak hanya sering “dicopot-pasang” di starting XI, Jack beberapakali ditukar posisi, seperti dari bek tengah ke penyerang tengah, oleh Revie. Kekesalan Jack makin bertambah karena Revie-menginstruksikan agar setiap pemain sudi main kasar.

Jack lebih senang mengacaukan pemain lawan lewat gangguan psikis, bukan lewat aksi-aksi kasar. Itu dipraktikkannya termasuk ketika sudah jadi benteng andalan timnas Inggris pada 1965. Duet kokohnya bersama kapten tim, Bobby Moore, turut  mengantarkan Inggris berjaya di Piala Dunia 1966, satu-satunya Piala Dunia yang dimenangkan Inggris hingga detik ini.

Salah satu cara gangguan psikis yang digunakan Jack dan lestari hingga sekarang adalah mengganggu kiper di momen tendangan sudut. Trik untuk mengacaukan konsentrasi kiper lawan ini dipraktikkan Jack mulai musim 1968-1969.

Taktik Jack Charlton yang selalu bikin berang kiper masih dipraktikkan di seluruh dunia. (mightyleeds.co.uk/Twitter @LUFCHistory).

Ketika terjadi sepak pojok, Jack dengan postur jangkungnya maju ke garis gawang lawan dan ambil posisi tepat di depan kiper lawan. Dengan begitu bola dari sepak pojok tak serta-merta dipetik kiper yang terganggu. Teman-teman setim Jack pun mendapat kans membuat gol.

“Charlton mendapatkan ide itu ketika mengusili adiknya, Bobby Charlton, yang sedang mencoba jadi kiper di sesi latihan timnas Inggris. Taktik itu bikin Bobby sangat marah hingga akhirnya Jack membujuk Revie untuk mencobanya,” singkap Rob Bagchi dan Paul Rogerson dalam The Unforgiven: The Story of Don Revie’s Leeds United.

“Itu rencana yang brilian karena bahkan kiper-kiper hebat seperti Gordon Banks dan Pat Jennings sangat membencinya. Sampai-sampai mereka sering dengan sengaja memukul kepala Charlton ketika bola (lambung sepak pojok) melayang. Tetapi akibatnya gawang mereka sering terekspos karena Charlton ternyata masih sanggup menyundulnya,” tambahnya.

Baca juga: Obituari Gordon Banks: Akhir Hayat Sang Penyelamat

Acapkali para kiper yang merasa berantakan konsentrasinya gegara taktik Jack itu memprotes kepada wasit. Namun, lanjut Bagchi dan Rogerson, wasit tak pernah melihat adanya pelanggaran.

Postur Jack saja memang sudah bisa jadi halangan dan dia dengan cerdas memanfaatkan keunggulan fisiknya itu dengan memosisikan diri. Para kiper pun pecah konsentrasi. Trik Jack itu lantas ditiru tim lain dari masa ke masa dan sampai zaman kiwari “warisan” itu masih dipakai tim manapun sekolong langit.

TAG

obituari inggris piala dunia sepakbola

ARTIKEL TERKAIT

Eddy Gombloh Kawan Tentara Memulangkan Artefak Kuno Yunani dari Genggaman Inggris Jejak Nelson Mandela di Indonesia Sepakbola Gajah dalam Piala AFF Piala AFF Perdana yang Ternoda Bob Tutupoly Tutup Usia Tjahjo Kumolo Meninggal Dunia Rima Melati Telah Pergi Santiago Bernabéu "Bapak Real Madrid" Massa Melinggis Kedubes Inggris