Masuk Daftar
My Getplus

Tewasnya Kapten "Sakti" Paris

Dianggap sakti dan kebal, Kapten Paris malah terbunuh di Aceh. Sisa pasukannya dipimpin Kromodikoro yang terluka parah.

Oleh: Petrik Matanasi | 05 Okt 2023
Pasukan Marsose tenar lewat Perang Aceh (Tropenmuseum)

Dengan kondisi luka parah akibat memburu Teuku Cut Ali, Marsose Kromodikoro “ketiban” tugas berat. Ia harus memimpin sisa pasukan yang komandannya tewas. Kromodikoro hanya punya pilihan melanjutkan perlawanan dalam ketidakberdayaannya, atau kalah.

Kromodikoro merupakan pria kelahiran Landusari, Kedu, Jawa Tengah tahun 1883. Dia masih bayi ketika Gunung Krakatau meletus. Sebagaimana banyak pemuda Jawa di masa itu, Kromodikoro ketika dewasa memilih “jual kepala” dengan menjadi serdadu Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL). Dia lulus dan diberi nomor stamboek 8138. Di angkatan perang kolonial yang hanya bisa melawan pemberontak yang kurang senjata ini, Kromodikoro tergabung dalam satuan khusus anti gerilya bernama Korps Marsose Jalan Kaki.

Kendati pasifikasi Belanda di koloni Hindianya bisa dianggap telah berhasil, perlawanan bersenjata di berbagai daerah belum benar-benar padam di paruh awal abad ke-20 itu. Di Aceh, yang telah “ditaklukkan” Jenderal Van Heutzch lebih dari 10 tahun, perlawanan bersenjata masih terjadi. Bahkan, dalam perlawanan di Bakongan pada 11 Agustus 1926), Letnan WAM Molenaar Jr terbunuh.

Advertising
Advertising

Baca juga: Ganden Sang Ksatria

“Kematian Moleenaar Jr. membuat Marechausee berang,” tulis sejarawan Nasrul Hamdani dalam Peutjoet (Kerkhot): Dahulu, Kini dan Nanti.

Tahun itu juga, pasukan Marsose di bawah komando Kapten Joannes Paris bekerja. Marsose itu hendak memburu Teuku Cut Ali, Teungku Banta Saidi atau Panglima Raja Lela, dan Teuku Angkasah di Aceh Selatan.

Kapten Joannes Paris, yang menurut arsip catatan militernya lulus Akademi Militer Breda tahun 1910 itu adalah anak dari Joannes Paris Sr dengan Wijntje Bickel yang lahir di Nieuw Amstel, Belanda pada 27 Juni 1889. Sebagai perwira KNIL, Kapten Paris terbilang masih sangat muda, bahkan dia lebih muda dari Kromodikoro. Koran De Locomotief tanggal 7 April 1926 menyebut Paris yang sempat bertugas di Malang itu, ditugaskan di Aceh pada 1914. Empat tahun setelah kedatangannya ke Aceh, dia ditempatkan di Korps Marsose. Darul Qutni Ch dalam Sejarah Perjuangan Bangsa Kita di Bahagian Barat Nusantara dan Sayed Mudhahar Ahmad dalam Ketika Pala Mulai Berbunga: Seraut Wajah Aceh Selatan menyebut Kapten Paris adalah sosok yang sakti dan kebal peluru.

Baca juga: Demam Kebal Peluru di Front Bandung

Dalam perburuannya menangkap Teuku Cut Ali dkk., Kapten Paris membawa sepasukan Marsose yang terlatih dalam pertarungan klewang. Kromodikoro juga berada di dalam pasukan tersebut.

Namun, kesaktian Kapten Paris dan keahlian serta pengalaman para serdadunya tak serta-merta membuat mereka unggul apalagi menang di Bakongan. Perlawanan dari pasukan Aceh justru membuat Marsose itu kewalahan. Kromodikoro sendiri terluka parah dalam pertempuran itu.

“Cerita tentang Kapten J. Paris yang memburu Teuku Cut Ali juga berakhir tragis. Ia tewas di ujung pedang Teungku Banta Saidi dalam duel satu lawan satu di Bakongan. Tubuh perwira yang disebut-sebut kebal senjata tajam ini ditemukan penuh luka tebasan dengan lengan terpisah dari badannya,” sambung Nasrul.

Baca juga: Belanda Mengganggu Kemerdekaan Aceh

Koran-koran kolonial menyebutkan Kapten Paris terbunuh dalam serangan klewang orang-orang Aceh. Setelah Kapten Paris terbunuh, pasukannya tergantung pada Kromodikoro.

“Marsose Kromodikoro yang terluka parah, mengambil alih komando dan berhasil mendorong sisa brigade untuk bertahan,” catat Henri Zentgraaff dalam Atjeh.

Pertempuran berlangsung di Kampong Pasé, Muara Kroeeng Kloeët, Tapaktuan. Kromodikoro dan personel Marsose yang tersisa, sebagaimana diberitakan De locomotief edisi 29 Juni 1929, selama berjam-jam melawan orang-orang Aceh hingga bala bantuan kemudian tiba. Dalam pertempuran itu setidaknya ada 19 orang Aceh terbunuh. Sementara dari pihak Marsose, selain kehilangan Kapten Paris juga banyak anggotanya terluka.

Kromodikoro yang berhasil membawa pulang sisa pasukan Kapten Paris itu kemudian naik pangkat menjadi kopral. Dia juga mendapat bintang Ridder Militaire Willemsorde kelas 4, berdasarkan Koninklijk Besluit 12 November 1926 nomor 19. Tiga tahun kemudian, Kromodikoro pindah tugas ke Batalyon Infanteri ke-2 KNIL yang berada di Magelang, tempat dia kembali mendapat bintang jasa dan tinggal hingga akhir hayatnya pada 1937.

TAG

knil perang aceh

ARTIKEL TERKAIT

Murid Westerling Tumbang di Jogja Pengemis dan Kapten Sanjoto Abdoel Kaffar Ingin Papua dan Timor Masuk Indonesia JJ Nortier Kabur dari Nazi ke Front Pasifik Serdadu Württemburg Berontak di Semarang KNIL Pakai Pendeta dan Ulama Sersan Zon Memburu Panglima Polim Dikira Sudah Mati, Boediardjo Ternyata Selamat Persahabatan Dua Insan Bumiputra Beda Pandangan Politik Usai Peristiwa Olo Orang Nias Berontak Kepada Belanda