Masuk Daftar
My Getplus

Gan Kam, Tionghoa Penyelamat Wayang Orang Jawa

Hampir hilang dari jagat seni pertunjukan, wayang orang berhasil diselamatkan hingga naik daun di tangan pengusaha Tionghoa.

Oleh: Sulistiani | 14 Okt 2022
Wayang Orang Pendhapan Koleksi Reksopustoko. (puromangkunegaran.com).

Alunan gending karawitan terdengar merdu dari sebuah gedung di Jalan Kebangkitan Nasional, Solo. Di dalam gedung itu, sekelompok pemain wayang orang Sriwedari tampil dengan berbagai lakon. Meskipun kembang kempis di tengah arus globalisasi, Wayang Orang Sriwedari pernah menjadi kelompok wayang orang komersial yang amat populer.

Wayang wong (wayang orang) telah lama ada di Solo. Menurut  KPH Kusumadilaga, “penciptanya” ialah Kadipaten Mangkunegaran.

“Mangkunegaran I (1755-1795) menciptakan pertunjukan wayang wong dengan cerita wayang purwa,” tulis KPH Kusumadilaga dalam Serat Sastramiruda yang terbit sekitar tahun 1850.

Advertising
Advertising

Perkembangan wayang orang di sana merosot akibat Kadipaten Mangkunegaran mengalami defisit keuangan. Pementasan wayang orang tidak lagi dilakukan karena dianggap pemborosan. Para abdi dalem, yang terdiri dari abdi dalem langenpraja (kesenian) dan abdi dalem wayang wong, diberhentikan.

Baca juga: Gan Thwan Sing, Pencipta Wacinwa

Melihat kondisi memprihatinkan tersebut, pengusaha keturunan Tionghoa bernama Gan Kam memberanikan diri menjadi sponsor pementasan wayang orang di Solo. Ia lalu berinovasi dengan membuat wayang orang lebih komersial pada 1895, yakni dengan merekrut penari dan pemain wayang orang mantan abdi dalem Mangkunegaran.

“Gan Kam berhasil merayu Mangkunegara V untuk memboyong wayang wong Mangkunegaran keluar tembok istana untuk dipasarkan, atau dapat dinikmati penduduk kota,” kata sejarawan Soedarsono dalam buku Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi.

Pagelaran wayang orang yang diinisiasi oleh Gan Kam dilakukan di sebuah bangunan besar berdaya tampung sekitar 200 penonton. “Bangunan itu diperkirakan bekas tempat pembatikan Gan Kam di sebelah selatan pasar Singosaren,” tulis akademisi seni Rustopo dalam Menjadi Jawa.

Di tangan Gan Kam, bentuk pergelaran wayang orang berbeda dari yang dilakukan di dalam Kadipaten Mangkunegaran. Di Mangkunegaran, pergelaran wayang orang dilakukan di dalam arena. Pemain berada di tengah pendopo dan penonton menyaksikan di sekelilingnya.

Baca juga: Membaurkan Cina-Jawa dalam Wacinwa

Sementara, pergelaran wayang orang yang dilakukan Gan Kam berbentuk prosenium. Pementasan dilakukan di atas panggung lebih tinggi satu atau dua meter dari posisi duduk penonton. Oleh sebab itu, wayang orang inisiasi Gan Kam sering disebut dengan wayang orang panggung. Apabila dalam pementasan arena, penonton dapat melihat dari empat sisi, di pementasan prosenium penonton hanya dapat melihat dari satu sisi.

Sebagai pengusaha, Gan Kam menganggap penonton sebagai konsumen sehingga selera penonton dipikirkan. Salah satu hasilnya, ketika pertunjukan wayang orang dengan durasi panjang dianggap membosankan, ia mengusulkan kepada Mangkunegara untuk membuat pertunjukan lebih pendek.

“Atas izin Mangkunegaran V, Gan Kam kemudian mengemas pertunjukan wayang orang dalam durasi waktu yang agak pendek, lebih mementingkan dialog daripada tarinya dan dapat menghibur penonton,” kata Soedarsono dalam buku Seni Pertunjukan dari Prespektif Politik, Sosial, dan Ekonomi.

Inovasi Gan Kam tidak bertepuk sebelah tangan. Penonton pertunjukan wayang orang panggung berdatangan dari berbagai golongan, pribumi maupun Tionghoa. Mereka tidak segan-segan menonton pertunjukan ini bersama keluarga. Masyarakat tertarik karena belum pernah menyaksikan wayang orang, yang sebelumnya selalu ditampilkan di dalam istana.

Pertunjukan Wayang Wong: drama dan tari tradisional Jawa di pelataran Mangkunegara di Solo. (collectie.wereldculturen.nl).

Sebelum ada wayang orang panggung, masyarakat sudah sering melihat pergelaran wayang kulit. Akan tetapi setelah melihat pertunjukan wayang orang, mereka dibuat kagum oleh perlengkapan busana dalam wayang kulit yang melekat pada tubuh manusia.

Sebagai pertunjukan komersial, tentu saja ada harga yang harus dibayar untuk menyaksikan wayang orang. Layaknya pertunjukan komersial ala Barat, Gan Kam membagi harga tiket berdasarkan kelas-kelas. Paling mahal kelas rose (VIP), kemudian di bawahnya ada kelas I, Kelas II, dan Kelas III. Harga tiket paling murah adalah kelas kambing, yakni untuk yang menonton berdiri.

Kesuksesan Gan Kam dengan wayang orang garapannya menginspirasi seniman-seniman lain menciptakan wayang orang serupa. Kemunculan wayang orang populer lain seperti wayang orang Sriwedari, wayang orang Sedya Wandawa, atau wayang orang Sono Harsono, membuat ketertarikan penonton terbagi. Mereka yang bosan dengan wayang orang panggung karya Gan Kam beralih menonton wayang orang-wayang orang lain yang pentas di Solo.

Baca juga: Mantra Sakti Sang Dalang Wayang

Ketatnya persaingan membuat jumlah penonton wayang orang panggung Gan Kam perlahan menurun. Penghasilan mereka pun menyusut. Mau tidak mau, Gan Kam harus menomboki biaya produksi meliputi honorarium pemain, biaya operasional, hingga pajak. Padahal di sisi lain, usaha batik milik Gan Kam juga mundur. Alhasil tidak ada sponsor untuk menunjang pergelaran wayang orang kelompoknya.

“Tidak ada informasi kapan rombongan wayang orang panggung milik Gan Kam dibubarkan,” kata Rustopo.

Kendati akhirnya tinggal nama, upaya Gan Kam telah membuat wayang orang menjadi inklusif dan disenangi rakyat. Meskipun modal yang dikeluarkannya cukup banyak dan tidak menuai keuntungan besar, jasa Gan Kam amat besar.

“Investasi yang ditanamkan Gan Kam sangat penting ketika di dalam Istana Mangkunegaran kemudian tidak ada kehidupan wayang wong lagi karena sudah bergeser ke luar tembok istana, andai Gan Kam tidak melakukan itu kemungkinan besar wayang wong benar-benar mati sejak saat itu,” kata Rustopo.

TAG

tionghoa wayang wayang orang mangkunagaran

ARTIKEL TERKAIT

Wayang Potehi Terawat di Gudo Jejak Tionghoa di Pondok Cina Kali Buatan Berbayar di Batavia Tio Tek Hong Menjual Senapan hingga Gramofon Gurihnya Sejarah Cah Kwe Menengok Sejarah Glodok Jalan Terjal Ngesti Pandowo Sambo Malu karena Kehilangan Kewibawaan Uang Tak Bisa Membeli Kebahagiaan Wayang Penerang