Masuk Daftar
My Getplus

Dari Harajuku ke Haradukuh

Harajuku pernah menjadi kawasan permukiman militer Amerika Serikat. Kebangkitan ekonomi Jepang mengubah wajah Harajuku menjadi pusat fesyen dunia.

Oleh: Amanda Rachmadita | 28 Jul 2022
Seorang perempuan bergaya dengan memakai busana di Harajuku, Jepang. (Joshua Chun/Unsplash).

Tren Citayam Fashion Week memunculkan istilah-istilah unik. Salah satunya Haradukuh, pelesetan dari Harajuku yang terkenal sebagai pusat fesyen dunia. Haradukuh diambil dari nama Dukuh Atas, Jakarta Pusat, tempat anak-anak muda dari daerah-daerah penyangga Jakarta mengekspresikan dirinya dengan berbagai gaya busana. Fenomena ini seakan mengingatkan kita pada Harajuku di Jepang yang meriah oleh penampilan para pencinta fesyen yang unik dan tak biasa.

Kesibukan di wilayah Harajuku telah terjadi sejak zaman Meiji. Menurut Sigit Purnomo Adi, Agustinus Sumargo, Stephanus Budi Satya Putra dalam Perkembangan Seni Urban di Surakarta, pada zaman Meiji, Harajuku dibangun sebagai kawasan penting yang menghubungkan kota Tokyo dengan wilayah sekelilingnya. Aktivitas di wilayah tersebut meningkat usai stasiun JR Harajuku dibuka sebagai bagian dari perluasan jalur kereta api Yamanote pada 1906, serta dibangunnya Omotesando atau jalan utama menuju kuil di kawasan tersebut.

Baca juga: Dari Peragaan Busana hingga Bersulang

Advertising
Advertising

Harajuku merupakan sebutan populer untuk kawasan di sekitar Stasiun JR Harajuku yang berada di Distrik Shibuya, Tokyo. Dalam Tokyo: Geography, History, and Culture, Louis G. Perez menyebutkan, pada 1970-an dan 1980-an Harajuku merupakan pusat budaya populer anak muda. Pada masa itu, anak-anak muda berkumpul di sana dengan mengenakan pakaian yang mengacu pada gaya rock and roll ala Amerika. Para pria bergaya layaknya Elvis Presley dan Marlon Brando dengan menggunakan jaket kulit serta jin yang dilipat. Sementara para perempuan mengenakan rok poodle dengan gaya rambut bob.

Sebelum menjadi pusat mode, Harajuku merupakan kawasan yang diduduki militer Amerika Serikat. Dalam Ethnic Dress in The United States: A Cultural Encyclopedia suntingan Annette Lynch dan Mitchell D. Strauss disebutkan, sesudah Perang Dunia II, Harajuku menjadi area permukiman militer Amerika Serikat. Di wilayah tersebut dibangun sejumlah toko yang menjual berbagai keperluan bagi keluarga para prajurit. Hal itu kemudian memberikan pengaruh kebudayaan Barat pada generasi muda Jepang.

Baca juga: Pembuka Jalan Peragaan Busana di Indonesia

Dampak pengaruh budaya Barat, khususnya di Harajuku, membuat kawasan tersebut menjadi pusat berkumpul anak muda. Menurut Tiffany Godoy dalam Style Deficit Disorder: Harajuku Street Fashion-Tokyo, pada 1960-an dan 1970-an, wilayah Harajuku menjadi tempat bertemunya anak-anak muda Jepang dari berbagai latar belakang. Di sana mereka mengisi waktu dengan nongkrong dan berbelanja. Tahun-tahun itu juga menjadi saksi perkembangan budaya Barat dan Jepang. Negeri Sakura yang sempat porak poranda setelah dijatuhi bom atom pertama mulai bangkit dari kehancuran dan menjadi salah satu negara yang kuat di bidang perekonomian.

Perekonomian Jepang yang kian membaik pada 1980-an memungkinkan kaum muda hidup lebih makmur. Pendapatan dari pekerjaan tak jarang dihabiskan untuk fesyen dan hiburan. Berkembangnya pusat perbelanjaan di kawasan Harajuku sejak akhir 1970-an membuat wilayah itu menjadi tujuan anak-anak muda untuk berbelanja berbagai pakaian.

Baca juga: Fesyen dan Krisis Ekonomi

Gairah berekspresi melalui gaya busana tak padam meski krisis ekonomi melanda Jepang pada 1990-an. Kondisi ini justru membuat warga Jepang gencar membeli produk-produk lokal dibandingkan berbelanja pakaian maupun barang-barang impor dari Barat.

“Bisnis besar tak lagi mendominasi pasar, tetapi dipandang sama berisikonya dengan bisnis kecil, sehingga menciptakan lapangan usaha yang setara untuk semua usaha baru,” tulis Tiffany.

Besarnya minat masyarakat terhadap produk lokal membuat bisnis mode di Jepang bergeliat dengan lahirnya banyak perancang busana baru. Dampaknya gaya busana anak muda makin beragam. Mereka berkumpul dan mengekspresikan diri dengan berbagai gaya busana di kawasan Harajuku.

Baca juga: Kisah Perancang Mode pada Zaman Jepang

Gaya berpakaian mereka diklasifikasikan menjadi beberapa golongan seperti konsep kawaii atau imut yang warna-warni, gothic lolita yang biasanya ditandai dengan dandanan serba gelap, cyber punk, hingga cosplay yaitu berpakaian meniru gaya busana karakter di komik, serial televisi, maupun game di Jepang. Di sana para pencinta fesyen berkumpul dan tak jarang memeragakan pakaian-pakaian unik khas Harajuku Style. Seiring berjalannya waktu, gaya busana anak-anak muda di Harajuku mulai menjadi acuan para pencinta fesyen dunia.

Kemunculan internet membuat Harajuku semakin populer. Keunikan gaya busana anak-anak muda di sana mendorong sejumlah merek fesyen ternama dunia seperti Donna Karan, Calvin Klein, dan Marc Jacobs bekerja sama dengan perancang busana Jepang untuk membuat koleksi busana yang terinspirasi Harajuku Style.

Tak hanya dikunjungi para pencinta mode mancanegara, Harajuku juga masuk daftar yang wajib dikunjungi oleh wisatawan saat berkunjung ke Negeri Sakura. Harajuku yang dahulu menjadi tempat permukiman militer Amerika Serikat seiring berjalannya waktu bertransformasi menjadi pusat mode dunia bersanding dengan Paris, Milan, dan New York yang termahsyur sebagai kota mode dunia.

TAG

mode jepang

ARTIKEL TERKAIT

Secuil Cerita Jenaka dari Cianjur Semasa Pendudukan Saudara Tua Sepakbola Jepang dan Indonesia Romusa Jadi Serdadu KNIL Dr. Raden Rubini Natawisastra, Pahlawan Nasional dari Kalimantan Barat Nanlohy Bersaudara di Kapal Maut Junyo Maru Kisah Bolang Melawan Jepang Abdul Razak Melawan Jepang di Papua Rakyat Sabah Membenamkan “Matahari Terbit” Di Balik Makam Roso Slamet Rijadi Masa Pendudukan Jepang