Pilih Bahasa: Indonesia

Soemarsono di Surabaya

Kesaksian Rosihan tentang peristiwa Surabaya tak bersifat mutlak.
Historia
Historia
pengunjung
5.9k

PADA 10 November 2010 harian Kompas memuat artikel wartawan senior Rosihan Anwar yang berjudul “Inga-Inga 10 November 1945”. Ada tiga hal yang dia ingin katakan dalam artikelnya: pertama, dia adalah saksi sejarah yang turut hadir dalam beberapa peristiwa penting pada era awal revolusi Indonesia; kedua, dalam masa revolusi banyak orang yang tak bisa dipegang omongannya seperti para pemuda yang justru tidak ikut pertempuran; dan ketiga, seperti yang ditulis pada paragraf terakhir artikelnya, dia adalah seorang Sjahririest atau pengikut Sutan Sjahrir. Untuk persoalan yang ketiga, penulis tidak akan campur urusan.

Satu hal lain pula yang menarik adalah kesaksiannya yang menyebutkan kalau pemuda Soemarsono tak ada dalam pertempuran di Surabaya. Sebelumnya, Rosihan pernah menulis hal yang sama di harian Pikiran Rakyat, 22 November 2006. Sebagai sebuah kesaksian, apalagi hasil dari sebuah laporan pandangan mata seorang wartawan yang bertugas meliput pertempuran, tentu hal tersebut sah-sah saja. Tokh namanya sejarah sudah pasti terdiri dari beragam versi dan sudut pandang sepanjang berimbang dan jujur.

Tapi tulisan Rosihan tentang peristiwa Surabaya itu bak hendak meringkus satu kesimpulan final dalam genggamannya: karena dia tak melihat Soemarsono dalam tiga hari kunjungan reportasenya maka Soemarsono tak punya peran dalam pertempuran Surabaya. Pada paragraf 21 tertulis, “Selama tiga hari berada dalam kota pertempuran itu tidak satu kali pun saya lihat pucuk hidung para pemuda pejuang... Soemarsono juga tidak ada jejaknya sama sekali.” Seperti hendak meneguhkan tuduhannya, Rosihan kembali melanjutkan kalimatnya, “Inilah contoh klasik kasus perkataan bertentangan dengan perbuatan.”

Karena tidak melihat batang hidung Soemarsono di Surabaya, yang menurut kesaksiannya ia temui pada Kongres Pemuda Indonesia di Yogyakarta pada 10 November 1945, Rosihan menyimpulkan bahwa “di zaman revolusi pun –yang konon penuh dengan kesediaan berkorban– sudah ada pemuda yang berjiwa perhitungan, pragmatis, realistis. Dasar orang Indonesia tidak berubah tabiatnya.” Kesaksian yang semula berdasarkan pandangan mata, kini turun menjadi sebuah penilaian yang bersifat personal.

Baru-baru ini terbit buku Soemarsono: Pemimpin Perlawanan Rakyat Surabaya 1945 yang Dilupakan yang disusun oleh Harsutejo dan diterbitkan Pustaka Sinar Harapan (2010). Buku tersebut membeberkan pengalaman Soemarsono dalam peristiwa di Surabaya. Dari buku itu dapat diketahui bahwa Soemarsono ada dalam pertempuran Surabaya dan peristiwa pertempuran itu tidak berdiri sendiri. Ada berbagai peristiwa yang mendahuluinya, yakni insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Oranje pada 19 September 1945, rapat umum di Tambaksari, 21 September 1945 dan terbunuhnya Brigjend. AWS Mallaby pada 30 Oktober 1945 dan perintah sekutu kepada arek-arek Surabaya untuk menyerahkan senjata.

Menurut kesaksiannya, Soemarsono turut dalam peristiwa perobekan bendera di Hotel Oranje sebagai pemimpin Angkatan Muda Minyak (AMM). Dia bersama Ruslan Wijayasastra, wakilnya di AMM, berteriak-teriak, “Keep down the flag, keep down the flag.” Soemarsono pun jadi saksi bagaimana Ploegman, seorang Belanda yang mengamuk dengan mengibas-kibaskan balok ke arah pemuda akhirnya tewas di tangan para arek.

Pemuda Soemarsono juga berpidato dalam rapat umum di Tambaksari dan beberapa hari setelahnya ia mendirikan sekaligus menjadi ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang berpusat di Surabaya. Rapat umum Tambaksari tersebut memiliki arti penting dalam sejarah perlawanan rakyat di Surabaya terhadap sekutu. Pada rapat itulah rakyat yang dipelopori pemuda berkumpul menyatukan tekadnya memertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Menurut Soemarsono perlawanan rakyat Surabaya memiliki landasan ideologi yang kuat, yakni Pancasila itu sendiri.

“Saya menjelaskan arti kemerdekaan dan Pancasila menurut Bung Karno. Dalam kesatuannya Pancasila ini bagaikan lima jari yang terkepal untuk meninju kaum penjajah dan anteknya,” kata Soemarsono mengenang kembali pidato dalam rapat umum Tambaksari.

Banyak pihak menilai perlawanan pemuda di Surabaya tidak dilandasi ideologi dan pemahaman terhadap arti perjuangan itu sendiri. Sutan Sjahrir salah satu orang yang mencemaskan hal itu. Dalam risalah “Perdjoangan Kita” yang ditulisnya ia merisaukan perlawanan pemuda akan bersifat fasistis karena mewarisi perilaku Jepang.

Soemarsono berpendapat lain. “Perjuangan rakyat Surabaya bukanlah perjuangan amuk-amukan tetapi perjuangan yang dibimbing ideologi untuk mempertahankan dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia yang bermartabat,” kata dia.

Pada 9 November 1945 sore, Soemarsono yang bersama Subandi Widarta berada di Yogyakarta untuk mengikuti kongres pemuda, mendengar laporan keadaan gawat di Surabaya. Maka malam itu juga mereka kembali ke Surabaya tanpa menghadiri kongres dan baru tiba di Surabaya pada pagi buta. Inggris menepati janjinya. Bom berjatuhan di seluruh penjuru Surabaya pada 10 November 1945 pukul 06:00 pagi. Keterangan Soemarsono itu berbeda dengan kesaksian Rosihan yang menyebutkan kalau pemuda Soemarsono hadir dalam kongres dan naik ke mimbar untuk menyuruh para pemuda Surabaya pulang kampung bertempur melawan Inggris.

Menurut Soemarsono orang yang berpidato di panggung pada kongres pemuda di Yogyakarta itu adalah Muntalib wakil PRI dan wakil delegasi pemuda Jawa Timur. Muntalib sendiri kemudian gugur dalam pertempuran di Surabaya sekembalinya dari Yogyakarta. Pada 10 November 1945, setibanya di Surabaya, Soemarsono bermarkas di Pacarkeling. “Tiap pagi saya keluar dari tempat tersebut bersama Bambang Kaslan dan Supardi sesuai dengan situasi pertempuran,” kata Soemarsono seperti dikutip oleh Harsutejo.

Dalam buku Rosihan yang terdahulu, Kisah-Kisah Zaman Revolusi, Kenang-Kenangan Seorang Wartawan 1946-1949 (Pustaka Jaya, 1975), yang juga mengisahkan tentang perjalanan liputannya ke Surabaya, disebutkan kalau dia tak tahu geografi kota Surabaya dan tak pernah menyebutkan secara jelas di mana dia berada saat itu. Dalam buku yang sama dia juga tidak menulis secara jelas apakah ia datang ke front pertempuran atau hanya berdiam diri di belakang garis pertempuran. Jadi alasan Pak Cian di awal paragraf artikelnya di harian KOMPAS tiga pekan lalu mungkin bisa diterima sebagai apologia, “Pada usia 88 tahun apalah yang saya ingat dari peristiwa 10 November 1945 –65 tahun silam– saat arek Suroboyo melawan tentara Inggris. Wajah orang zaman itu telah kabur, namanya lupa, kejadiannya pun tampak samar-samar.”

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Komentar anda
Historia
Historia