Pilih Bahasa: Indonesia
John Lie | halaman 1

Si Penyelundup yang Humanis

Kisah laksamana terkemuka di masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
 
Laksamana Muda John Lie.
Historia
pengunjung
27.8k

Suatu hari di sekitar tahun 1921. Laksamana Muda John Lie tak akan pernah melupakannya. Sebuah kapal eskader Angkatan Laut Belanda berlabuh di Manado. Ukurannya besar dan canggih. Banyak penduduk ingin melihat dari dekat dan menaiki kapal itu dengan membayar 10 sen.

John Lie, yang masih berusia sekira 10 tahun, tak punya uang. Tak mau patah arang, ia bersama teman-temannya berenang menuju kapal. Berhasil. Di dekat kapal, ia berkata kepada teman-temannya, ”Nanti saya mau jadi kapten, suatu waktu akan pimpin kapal begini ini,” kenang Bian Loho sebagaimana disitir M. Nursam dalam Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie.

Lahir pada 11 Maret 1911 di Manado, Sulawesi Utara, John Lie Tjeng Tjoan merupakan anak kedua dari delapan bersaudara pasangan Lie Kae Tae dan Oei Tseng Nie. Lie Kae Tae merupakan pemilik perusahaan pengangkutan Vetol (Veem en transportonderneming Lie Kae Tae) yang terkenal sebelum Perang Dunia II dan tutup sepeninggal Lie Kae Tae pada 1957. Kedelapan anaknya tak menuruni bakat dagangnya. John Lie sendiri sedari kecil lebih tertarik dunia maritim.

Meski mendapat pendidikan di sekolah berbahasa Belanda, Hollands Chinese School (HCS), lalu Christelijke Lagere School, hasrat John Lie untuk jadi pelaut begitu kuat. Ia menabung uang hasil menagih piutang ayahnya. Ketika menginjak usia 17 tahun, ia meninggalkan Manado. “Kalo minta izin orangtua pasti nggak diberikan, karena terlalu muda,” ujar Rita Tuwasey, keponakan John Lie.

Di Batavia, ia bekerja sebagai buruh pelabuhan di sesela kesibukannya ikut kursus navigasi. Ia lalu jadi Klerk Muallim III di KPM (Koninklijk Paketvaart Mattschappij), perusahaan pelayaran Belanda. Setelah beberapa kali pindah kapal, ia bertugas di MV Tosari yang pada Februari 1942 membawanya ke Pangkalan AL Inggris Koramshar di Iran. Saat itu Perang Dunia II sedang berlangsung. MV Tosari dijadikan kapal logistik pendukung armada Sekutu. Awak MV Tosari diberi pelatihan militer.

Pada Agustus 1945 Perang Dunia II usai, tak lama kemudian Indonesia merdeka. Kabar itu membuat para pelaut yang “terdampar” di Koramshar ingin pulang. “Agar kami dapat berjuang, berbakti bersama kaum pejuang di Indonesia, untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman kami selama ini di medan kelautan,” tulis John Lie.

Keinginan itu terwujud pada Februari 1946. Kapal MV Ophir yang membawa mereka berlayar, lego jangkar di Bombay dan Kalcuta, lalu singgah di Singapura selama 10 hari. Di sini mereka meluangkan waktu untuk belajar penyapuan ranjau dan taktik pertempuran laut.

Setelah bekerja di pelabuhan dan memperdalam kelautan di Jakarta, John Lie bergabung dengan angkatan laut. Atas permintaannya, John Lie ditempatkan di Pelabuhan Cilacap. Dimulailah misi-misi menembus blokade Belanda dan penyelundupan yang membuat namanya melegenda.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Laksamana Muda John Lie.
Laksamana Muda John Lie.