Pilih Bahasa: Indonesia

Paskibraka dari Kelompok 10 hingga Formasi 17-8-45

Paskibraka mengalami beberapa kali perubahan formasi sejak awal terbentuk.
 
Budihardjo Winarno, Purna Paskibraka 1978 wakil Yogyakarta.
Foto
Historia
pengunjung
32.8k

LOBI Hotel Sriwijaya, Jakarta Pusat, sedang lengang sore itu. Sebagian besar Purna Paskibraka yang menjadi tamu hotel itu sedang mengikuti Upacara Penurunan Bendera Pusaka. Budiharjo Winarno, Purna Paskibraka 1978, karena suatu alasan tidak turut serta ke istana. Bersama Historia dia menyaksikannya dari televisi yang terpasang di lobi hotel.

“Harusnya belum (penurunan bendera, red). Aturan itu, kan, dari jam enam pagi sampai jam enam sore. Jadi upacaranya mestinya jam 17.45. Ini baru 17.20 sudah diturunkan,” ujarnya mengomentari upacara yang disiarkan secara langsung itu. Sambil memerinci aturan Upacara Penurunan Bendera Pusaka, Purna Paskibraka yang sekarang berwiraswasta ini mengeluh, “Sekarang aturan dilanggar, ya mau bagaimana lagi.”

Budiharjo sangat peduli kepada aturan dan filosofi seputar Paskibraka. Selama pembicaraan sore itu, dia banyak menjelaskan tentang hal-hal mendasar itu. Tidak hanya itu, pengetahuannya tentang sejarah Paskibraka juga terbilang detil sebagaimana dikisahkan kepada Historia.

Karena suasana Jakarta yang tidak kondusif akibat tekanan dari Belanda, ibukota Republik Indonesia akhirnya dipindahkan ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946. Di ibukota baru ini pula ulang tahun kemerdekaan Indonesia kali pertama dilangsungkan. Untuk hajatan penting itu disiapkan sebuah upacara pengibaran bendera pusaka di halaman Gedung Agung Yogyakarta.

“Presiden Sukarno memerintahkan Kak Mut selaku ajudannya untuk mempersiapkan upacara kemerdekaan itu,” terang Budiharjo. Kak Mut yang dimaksud adalah Mayor Laut Husein Mutahar atau lebih dikenal sebagai H. Mutahar, penggubah lagu hymne Syukur. “Kak Mut punya ide brilian. Upacara ini adalah untuk mempersatukan Indonesia dan menggelorakan semangat kemerdekaan.”

Untuk merealisasikan idenya itu, Mutahar lalu mengumpulkan sepuluh pemuda-pemudi dari latar belakang etnis berbeda yang saat itu tinggal di Yogyakarta. Dalam pemikiran Mutahar, dengan mengemban tugas bersama mengibarkan bendera pusaka, pemuda-pemudi Nusantara pilihan itu dapat menjadi simbol pemersatu Indonesia. “Nah, kalau pemuda-pemudi sudah bersatu, Indonesia ini akan jaya,” ucap Budiharjo menirukan Mutahar.

Itulah formasi pertama pasukan pengibar bendera pusaka yang disebut Kelompok 10. Saat itu belum ada pemanggilan pemuda dari daerah luar Jawa karena suasana yang tidak mendukung dan kendala transportasi.

Formasi ini terus dipertahankan hingga 1950. Tahun berikutnya formasi berganti dengan Kelompok 17. Saat itu, Mutahar tidak terlibat lagi dalam upacara pengibaran bendera. Hingga 1966 kegiatan tahunan itu dipersiapkan oleh Rumah Tangga Kepresidenan.

“Baru tahun 1967 kita memakai formasi 17-8-45,” ujar Purna Paskibraka wakil Yogyakarta ini. “Saat itu Pak Harto yang meminta kembali Kak Mut mempersiapkan upacara kemerdekaan. Konsep beliau adalah melambangkan tanggal Proklamasi.”

Selama perkembangan itu upacara kemerdekaan juga dipersiapkan dengan mengadopsi upacara militer. Ketika diminta menjelaskan lebih rinci bilamana upacara kemerdekaan mulai mengadopsi upacara militer, Budiharjo masih ragu. “Saya juga masih mencari-cari literaturnya,” lanjutnya.

Yang terang, meskipun sistem formasinya terus diperbarui, konsep pluralitas anggota cetusan Mutahar tetap dipertahankan. Pada awal dibentuknya pasukan pengibar bendera pusaka keanggotaannya diisi oleh anak-anak pegawai pemerintahan di sekitaran ibukota. Pangkal soalnya adalah masalah transportasi yang minim.

“Yang penting prinsip keterwakilan itu tetap terpenuhi,” ujar Budiharjo, “malah tahun 1962 semua pengibar adalah mahasiswa UI (Universitas Indonesia).”

Sistem keanggotaan yang lebih proporsional baru ditetapkan pada 1968. Saat itu dibuat aturan bahwa anggota pengibar bendera pusaka adalah wakil dari setiap provinsi. Lalu pada 1969 anggota pengibar bendera pusaka adalah siswa sekolah menengah atas dari seluruh provinsi di Indonesia. Juga masing-masing provinsi diwakili oleh sepasang remaja putra dan putri.

Sampai 1967 pasukan pengibar bendera pusaka ini belum memiliki nama resmi. Nama resmi Paskibraka sebagai singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka baru dicetuskan dan diresmikan pada 1972. Pencetus nama Paskibraka itu adalah Idik Sulaiman Nataatmaja.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Budihardjo Winarno, Purna Paskibraka 1978 wakil Yogyakarta.
Foto
Budihardjo Winarno, Purna Paskibraka 1978 wakil Yogyakarta.
Foto