Suka Duka Bertugas di Sumatera
Bermodal nekat, para opsir yang ditugaskan Markas Besar Tentara (MBT) merambah wilayah palagan Sumatera. Berbagai cerita pun muncul: mulai “provokasi” bubur kacang hijau hingga dilucuti pejuang lokal.
Di masa tuanya, Kolonel (Purn) A.E. Kawilarang nyaris selalu bercerita kisah yang sama jika bertemu dengan Letnan Jendral (Purn) Ibrahim Adjie. Kepada kawan seperjuangannya semasa bergerilya melawan tentara Belanda itu, Alex (panggilan akrab sang kolonel) mengaku perutnya pernah “diselamatkan” oleh Adjie. Bagaimana ceritanya?
Syahdan ketika mereka ditugaskan ke Sumatera Utara pada sekira awal 1949, Alex (yang saat itu berpangkat letnan kolonel), Utaryo (berpangkat mayor) dan Adjie (berpangkat mayor) terdampar di suatu kawasan tempat gembala, beberapa ratus meter dari Kampung Pernantin.
Baca juga:
Karena merasa lapar, mereka lantas bergerak ke arah pasar. Setelah setengah jam berjalan-jalan, nampaklah oleh mereka sebuah kedai bubur kacang hijau yang banyak dikunjungi para pembeli. Alex yang terlihat lebih antusias lantas mengajak kedua kawannya untuk singgah. Sayangnya, sejak Perjanjian Renville diberlakukan (Februari 1948), wilayah tersebut dimasukan dalam kekuasaan Belanda. Hingga alat jual beli yang berlaku pun hanya “uang merah” alias “uang NICA”.
“Sedangkan kami hanya punya uang Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) dan Oeang Repoeblik Indonesia Tapanuli (ORITA),” kenang Kawilarang seperti pernah dikisahkan dalam otobiografinya Untuk Sang Merah Putih (disusun oleh Ramadhan KH).
Jadilah mereka hanya duduk-duduk saja di kedai itu. Sekali-kali ya menelan ludah melihat para pembeli dengan rakus menyantap bubur kacang hijau. Saat “situasi kritis” itulah Mayor Adjie yang dari tadi terus memperhatikan situasi sekitar, tetiba mendekati kedua rekannya.
“Willen Julie ook bubur?” tanya Adjie.
Orang-orang di kedai mulai memperhatikan mereka. Melihat situasi seperti itu, Alex hanya mengangkat bahunya dan menggerakan jempol dan telunjuknya yang mengartikan bahwa dia tidak punya uang.
“Ik heb wel” (saya punya),” ungkap Adjie sambil membuka dompetnya. Ada sekira ada enam lembar puluhan rupiah uang NICA di sana. Karena harganya semangkok bubur hanya 5 sen maka serempak mereka memesan makanan yang sudah sejak dari awal memesona mereka.
“Utaryo dan Adjie masing-masing menghabiskan dua mangkok, sedangkan saya tiga mangkok,” kenang Alex.
*
Berbeda dengan para seniornya, para perwira yang baru lulus dari Akademi Militer (MA) Yogyakarta justru menemui situasi menegangkan saat melakukan long march ke Sumatera Utara. Rombongan yang dipimpin oleh Letnan Satu HAKI Chourmain dicegat oleh Barisan Harimau Liar pimpinan A. Simarmata di Panyabungan.
Awalnya rombongan perwira MA diperlakukan secara baik. Mereka diberikan makanan dan tempat peristirahatan secukupnya. Namun di hari ke-3, A. Simarmata memangil semua anggota rombongan. Dalam wajah yang bengis, dia lantas menyatakan ketidakpercayaannya kepada rombongan MA.
“Apa betul saudara-saudara ini opsir dari Jawa? Jangan-jangan saudara-saudara adalah anak buah Bejo (Mayor Bejo). Perlu saudara ketahui, kalau Bejo itu adalah musuh saya yang paling utama! Dan saya mengira kalian ditugaskan untuk menyelidiki pasukan saya? Apa buktinya jika saudara-saudara adalah opsir dari Jawa?” katanya.
Setelah bisa membuktikan bahwa mereka betul perwira lulusan MA (lewat selembar foto pelantikan mereka yang dibawa oleh Letnan Dua Moh.Hani), Simarmata seolah tak habis alasan. Dia malah meminta para perwira MA untuk meninggalkan senjatanya masing-masing dan perbekalan obat-obatan.
Suasana tegang mewarnai pertemuan. Letnan Satu HAKI nampak tegang dan menahan marah. Kebetulan pada saat itu dia memegang tongkat yang ujungnya berupa kampak besi dan persis ada di dekat Simarmata.
“Jo sirahe dekne tak kampak-e, paling-paling mati bareng,” bisik HAKI kepada rekannya, Letnan Satu Soedirdjo. Tentu saja demi alasan keamanan semua anggota rombongan, niat itu dicegah oleh Soedirdjo.
Pada akhirnya “resmilah” rombongan perwira MA dirampok Barisan Harimau Liar. Bahkan tidak hanya senjata dan obat-obatan, anak buah Simarmata pun merampas barang-barang berharga seperti emas dan perhiasan. Demikian kisah yang terbuhul dalam Laporan Kepada Bangsa: Militer Akademi Yogya karya Daud Sinjal.
Baca juga:
Tambahkan komentar
Belum ada komentar