- 9 Mei 2019
- 4 menit membaca
Diperbarui: 28 Apr
KERJA menjaga persilangan kereta api dengan kendaraan bermotor sekilas terlihat mudah. Sudah ada sejumlah petunjuk teknis dan peralatan pembantu di dalam gardu jaga. Penjaga tinggal menerima sinyal otomatis tanda kereta api akan lewat, menjawab panggilan telepon dari petugas stasiun, membunyikan alarm, dan menekan tombol palang penutup persilangan.
Tapi ada saja pengendara dan pejalan kaki menerabas palang penutup persilangan. Tidak sabar menunggu kereta api lewat. Kecelakaan pun kerap kali berulang di persilangan. Banyak korban luka atau meninggal. Juga kerugian material dari tabrakan kereta api dengan kendaraan di persilangan.
Tanggung jawab penjaga persilangan kereta api jadi lebih berat daripada kerjanya. Mereka turut memastikan perjalanan kereta api lancar dan setiap nyawa aman selama di persilangan. Dalam sejarah perkeretaapian Indonesia, posisi mereka awalnya disebut sebagai Baanwachter. Kehadirannya seiring dengan operasional kereta api di Hindia Belanda pada 1867 sepanjang jalur Semarang-Kemijen-Tanggung di Jawa Tengah.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















