- 9 Jun 2020
- 3 menit membaca
Diperbarui: 6 Jun
DARI Surabaya, ketika berusia enam tahun, Sukarno dan keluarga pindah ke Mojokerto, Jawa Timur. Mereka tinggal di daerah yang miskin. Meski demikian, tetangga-tetangga Sukarno masih punya uang untuk membeli jajan. Sedangkan Sukarno kecil tidak.
Dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Sukarno bercerita pada hari lebaran, ia mengurung diri di kamar karena tidak bisa membeli petasan. Ia hanya bisa mengintip dari lubang udara ketika teman-temannya sedang bermain petasan di luar.
“Di sekeliling terdengar bunyi petasan berletusan disela oleh sorak-sorai kawan-kawanku karena kegirangan. Betapa hancur-luluh rasa hatiku yang kecil itu memikirkan, mengapa semua kawan-kawanku dengan jalan bagaimanapun dapat membeli petasan yang harganya satu sen itu –dan aku tidak!” kisahnya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















