Bus Pasar, Bus Kaum Pedagang

Tidak perlu bercampur dengan penumpang biasa. Bus ini membuat pedagang nyaman membawa pikulan, keranjang, dan karung.

14 April 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Bus Pasar, Bus Kaum Pedagang
Bus Leyland PPD. (Repro Ron Phillips, History of the Leyland Bus)

Bus Transjakarta berdek rendah berhenti menyerong. Badan besarnya menutup seluruh jalan. Petugas bus sedang mengatur ulang karung-karung milik penumpang di dalam bus. Karung-karung itu menutup ruang berdiri penumpang lain.

Si empunya karung bekerja sebagai pedagang di Pasar Tanah Abang, Jakarta. Dia terpaksa menggunakan Transjakarta untuk pergi pulang bawa karung dagangan. Bercampur dan berebut ruang dengan penumpang biasa. Tak ada transportasi publik khusus untuk pedagang pikulan atau karung seperti dirinya.

Tapi tahukah anda bahwa dulu pernah ada bus kota khusus untuk para pedagang?

Ini bermula dari kedatangan bus-bus Leyland berwarna merah buatan Inggris ke Jakarta pada 1956 melalui bantuan Colombo Plan (Organisasi Kerjasama Internasional untuk negara Australia, Asia Selatan, dan Tenggara).

“Bus-bus untuk membantu Perusahaan Pengangkutan Djakarta menyediakan layanan transportasi publik yang andal,” catat Ron Phillips dalam History of the Leyland Bus.

Angkutan Alternatif Pedagang

Bus-bus itu menambah jenis angkutan umum di Jakarta. Sudah ada oplet, becak, taksi, trem dan kereta listrik sebelumnya. Sejumlah pedagang memilih trem dan kereta listrik sebagai angkutan. Sebab pikulan atau karung milik pedagang tak kena tarif tambahan. Selain itu, trem dan kereta listrik juga mempunyai ruang lebih besar untuk menaruh pikulan dan karung.

Tapi trem dan kereta listrik mempunyai kekurangan. Trem saban waktu selalu penuh, sedangkan kereta listrik hanya ada di saat tertentu. Keduanya juga tak bisa langsung diakses oleh pedagang dari tempatnya masing-masing. “Biasanya mereka itu berjalan kaki atau mungkin naik oplet atau menggunakan truk secara gelap-gelapan,” catat Djaja, 22 Juni 1963.

Maka bus-bus Leyland gres menjadi alternatif bagi para pedagang untuk pergi ke pasar. Tersedia cukup ruang untuk menaruh pikulan dan karung. Meskipun masih harus bercampur dengan penumpang lain.

Bila pedagang naik bus Leyland bersama pikulan atau karungnya, ruang untuk penumpang lain pasti menyempit. Tergantung besar-kecilnya ukuran pikulan dan karung. Tidak masalah jika bus sedang lengang, PPD dan penumpang lain berterima saja. Tapi bagaimana saat bus padat penumpang?

Itu artinya pendapatan PPD berpotensi hilang. Sebab bus kehilangan penumpang demi memberikan tempat bagi pikulan dan karung pedagang. Penumpang lain juga bakal terganggu pikulan dan karung pedagang. Mereka sering mendongkol.

Kepadatan penumpang memperpendek usia pakai bus-bus Leyland. Satu per satu masuk ke bengkel. Sebagian rusak, tak layak jalan lagi. Beberapa lainnya bobrok. Mereka menjelma beban bagi PPD.

Beruntung PPD menerima kiriman 100 bus Leyland baru berwarna kuning siap operasi pada 1960. Aliran uang masuk ke kas PPD bisa tetap lancar.

PPD berencana menyisihkan sebilangan pendapatan dari hasil operasi bus-bus Leyland baru untuk memperbaiki 200 bus Leyland lama. Demi mengubah beban jadi pendapatan. Ide ini keluar dari kepala Mayor Josokoemoro, direktur PPD.

Soemarno, gubernur Jakarta 19601964, mendukung gagasan Josokoemoro. Dia memandang warga Jakarta sangat membutuhkan bus kota. Terlebih lagi trem listrik telah almarhum sejak awal 1960. 

Dari pasar ke pasar

Soemarno juga mengatakan bahwa bus kota penting untuk mendukung program perbaikan pasar lama dan pembangunan pasar baru sejak awal 1962.

“Sejalan dengan pemikiran ini, kemudian ditentukan adanya bus-bus pasar yang tidak mempunyai tempat duduk di tengah untuk memungkinkan pikulan-pikulan, sayur, dan buah-buahan dimuat secra mudah,” kata Soemarno dalam Karya Jaya Kenang-Kenangan Lima Kepala Daerah Jakarta 19451966.

Bus pasar melayani tiga trayek: Pasar MingguPasar Manggarai, Kebayoran LamaPasar Tanah Abang, dan Pasar Tanah AbangPasar Senen. “Tujuannya adalah memang untuk melayani golongan pedagang yang membawa barang-barang dagangannya dari pasar ke pasar,” catat Djaja.

Armada bus pasar berasal dari sebagian bus Leyland lama hasil rekondisi. Pemerintah menargetkan pengadaan 25 bus. Tapi baru tersedia 10 bus khusus untuk pedagang hingga Juni 1963.

Pedagang bisa memanfaatkan bus pasar secara gratis pada hari pertama peluncuran. Tepat saat ulang tahun ke-436 kota Jakarta, 22 Juni 1963. Hari-hari berikutnya, pedagang kena ongkos sebesar Rp20 per orang per rit ditambah Rp20 untuk barang seberat 30 kilogram. Barang di bawah berat itu gratis.

Bus pasar cepat beroleh perhatian. Foto-foto buram mingguan Djaja, 15 Juli 1963, memperlihatkan pedagang pikulan antre naik bus pasar. Terdapat tulisan besar "Bis Pasar" di badan kiri bus untuk membedakan dari bus kota biasa.

Keadaan di dalam bus pasar tampak penuh pedagang dan keranjang berisi bebuahan. Pedagang berdiri dengan kaos oblong putih, sarung tersampir, peci, dan celana pendek. Wajahnya payah dan lelah sehabis membawa keranjang-keranjang. 

Soemarno menerangkan trayek bus pasar bakal berkembang. Tak hanya dari pasar ke pasar, melainkan juga dari pasar ke pinggiran kota. Sehingga memudahkan pedagang beraktivitas.

Tapi program pengembangan bus pasar kandas. Ada kekacauan dalam manajemen PPD. Tiap tahun laba PPD merosot sementara beban operasional perusahaan terus meningkat. Akhirnya bus pasar kurang mendapat perawatan. Satu per satu rusak. Hingga akhirnya hilang sama sekali dari jalanan.

Pedagang pikulan kembali bercampur dan berebut ruang dengan penumpang biasa. Hingga sekarang.

Transportasi, Bus
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
3 Suka
BOOKMARK