Bandit-Bandit Kakap Batavia dan Sekitarnya

Tiga bandit legendaris. Hidup dalam satu zaman. Berbeda tampang, tapi sama-sama menakutkan.

08 March 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Bandit-Bandit Kakap Batavia dan Sekitarnya
Seorang algojo menghukum pelaku kriminal di Hindia Belanda pada 1900-an. (javapost.nl).

Belum hilang kenangan penduduk tentang sosok Si Tjonat, Si Pitung, dan Si Ronda, penduduk Batavia dan Ommelanden mesti berkarib lagi dengan sosok bandit lainnya. Mereka adalah Si Gantang, Si Kesen, dan Si Oesoep. Nama mereka sohor sepanjang 1900—1930-an.

Nama Gantang, Kessen, dan Oesoep tercatat dalam arsip kolonial dan pers sezaman. Orang Belanda dan pers sezaman menyebut mereka "toekang bongkar orang poenja roemah" (perampok), "ganggoe anak bini orang" (pemerkosa), dan "pembonoe" (pembunuh).

Tiga bandit tersebut memiliki ciri fisik, daerah operasi, dan gaya berbeda dalam merampok. Mari mulai dari Gantang.

Si Gantang

Orang ini perawakannya benar-benar kriminal. “Perampok Gantang dideskripsikan tinggi, berbulu, penuh parut (bekas luka), dan berpenyakit kelamin. Ditambah lagi Gantang punya bekas pukulan rotan, bentuk hukuman kolonial saat itu,” tulis Margreet van Till dalam Batavia Kala Malam Polisi, Bandit, dan Senjata Api, mengutip Bataviaasch Nieuwsblaad, 20 Februari 1904.

Tetapi Gantang pandai menyamarkan kondisi fisiknya. Dia kerap menggunakan pakaian asisten residen tiap kali beraksi. Anak buahnya pun meniru kebiasaannya. Mereka berpakaian menyerupai polisi anak negeri. Daerah operasi mereka di seputaran Buitenzorg (Bogor sekarang).

Asal usul Gantang masih samar. Margreet hanya menyebut Si Gantang berasal dari sebuah keluarga melarat di wilayah Vila Nova (kawasan Condet, Jakarta Timur sekarang). Dia tumbuh dalam lingkungan menyimpang. Masa remajanya habis untuk belajar beladiri, teknik membobol rumah, dan elmu gaib.

Reputasi Gantang naik seiring tewasnya Si Pitung pada Oktober 1893. Gantang lekas mengisi kekosongan sosok bandit sosial alias bandit yang sudi berbagi hasil rampokannya ke kaum kere. “Ia membenci orang kaya dan murah hati pada si miskin,” tulis Margreet.

Gantang memimpin gerombolannya dari dalam hutan Ommelanden. Mereka sering muncul tiba-tiba dari balik hutan. Sasaran mereka adalah rombongan pedagang kaya yang melintasi jalan setapak di hutan. Tak ada pedagang bisa lolos dari sergapan mereka. Julukan "Si Radja Oetan" pun tersemat pada Gantang.

Tapi sesekali Gantang dan kawanannya keluar dari hutan. Mereka pernah merampok di rumah sejumlah keluarga Belanda dan Tionghoa. Bahkan mereka sempat bermarkas di wilayah Pondok Gede, 15 kilometer dari pusat kota Batavia dan pemerintahan kolonial.

Siapa yang tak ingin rumahnya dirampok oleh Gantang harus membayar upeti kepadanya. Upeti itu juga sebagai jaminan perlindungan bagi yang membayarnya dari serangan kelompok bandit lain.

Gantang amat gandrung pada perempuan. Ketika berpesta merayakan hasil rampokan, dia mengundang sejumlah perempuan. Kemudian dia indehoy dengan seorang atau beberapa perempuan yang menarik matanya. “Gantang-gantang kecil pun lahir,” tulis Margreet. Perilaku rakus tersebut menyebabkan dia menderita penyakit kelamin. Hingga menjadi bukti di pengadilan kelak bahwa dia adalah Gantang.

Polisi pernah menangkap dan memenjarakan Gantang dua kali. Pengadilan memvonisnya hukuman mati pada 1895. Tapi dia kabur dari penjara. “Ia menjadi berita sensasional terutama karena sukses mengolok-ngolok ‘pihak otoritas yang tidak berdaya’,” tulis Margreet.

Gantang tertangkap untuk kali kedua pada 1903. Polisi meminta bantuan polisi militer demi menangkapnya. Dia merasa senang berhadapan dengan lawan sepadan meskipun dia menyayangkan polisi militer kehabisan amunisi sebelum berhasil menangkapnya.

Polisi menganiaya Gantang hingga wajahnya tak bisa dikenali. Dia kemudian diseret ke pengadilan. Para saksi dan korban Gantang ikut memberikan keterangan. Mereka meragukan lelaki pesakitan tersebut adalah Gantang. Tapi polisi yakin betul lelaki tersebut adalah Gantang. Sebab ada bekas luka pukulan rotan dan penyakit kelamin.

Pada akhirnya, lelaki pesakitan tersebut mengakui dirinya sebagai Gantang. Pengadilan hanya memvonisnya hukuman penjara. Berbeda dari vonis pertama, hukuman mati! Dia menjalani hukuman penjara di Merauke, Papua. Tidak ada yang tahu bagaimana nasibnya selama dan setelah hukuman penjara di Merauke.

Sebilangan orang masih meyakini Gantang asli belum tertangkap. Mereka menduga polisi sengaja mengklaim Gantang telah tertangkap demi menenangkan penduduk Batavia dan Ommelanden.

Si Kesen

Bandit bernama Kesen ini berbeda tipe dari Gantang meski hidup pada era yang sama. Dia adalah sebenar-benar bandit. Namanya terekam dalam laporan resmi asisten residen Tangerang pada 1903.

Tak ada sedikit pun gambaran kebaikan tentang Kesen. Dia murni merampok untuk menjadi kaya.

Kesen lebih mirip Si Tjonat. Sejak kecil selalu bikin susah orangtuanya dan penduduk kampung Rawa Bokor, 20 kilometer sebelah barat Batavia.

“Bila umurnya lima tahun adatnya si Kesen jahat sekali,” tulis Tim Inventarisasi Ceritera Rakyat Daerah Khusus Ibukota Jakarta dalam Cerita Si Kesen Satu Kepala Penyamun di Tangerang, mengutip artikel berseri tentang si Kesen di Bintang Betawi 29 Januari sampai 4 Februari 1904.

Orang Kampung Rawa Bokor mengatakan Kesen punya darah bandit. Cerita ini bermula dari perkosaan di sebuah hutan. Saat itu seorang perempuan bersuami pulang sendirian dari pasar melewati hutan. Seorang bandit menyergap, merampok, dan memperkosanya. Perempuan nahas itu bercerita tentang perampokan pada suaminya, tapi merahasiakan perkosaan terhadapnya.

Sembilan bulan kemudian, Kesen lahir dari rahim perempuan malang itu. Suami perempuan malang itu tak pernah menyadari bahwa Kesen bukanlah anak kandungnya. Perangai dan perawakan Kesen bertolak belakang dengan ayah kandungnya. Ini mengundang kecurigaan penduduk. Maka menyebarlah prasangka tersebut. Tidak ada keterangan lanjutan tentang apakah ayah Kesen akhirnya mengetahui hal tersebut.

Yang jelas, Kesen perlahan-lahan tumbuh menjadi seorang kriminal. Dari pencuri beras kecil-kecilan, kemudian meningkat sebagai pencuri telur, dan akhirnya menjadi bandit kakap yang tergila-gila pada perempuan. Dia pernah masuk penjara karena kasus pencurian telur. Sewaktu di dalam penjara, kedua orangtuanya meninggal.

Kesen keluar dari penjara. Dia tidak kembali ke kampungnya, melainkan berkumpul bersama kawanan rampok. Mereka sepakat mengangkat Kesen sebagai pemimpin gerombolan.

Gerombolan Kesen tidak hanya merampok, tetapi juga membunuh orang, memeras nelayan miskin, mengganggu anak perawan, janda, dan istri orang, dan menarik upeti dari tuan tanah dan petani.

Polisi memblokir setiap jalan menuju Ommelanden dan Batavia, kemudian menyandera orang-orang terdekat Kesen untuk menangkapnya. Kesen ditangkap dan divonis hukuman penjara 20 tahun.   

Si Oesoep

Bandit ini mempunyai perawakan menarik dan sikap simpatik. Jauh dari kesan umum tentang bandit yang berpenampilan sangar dengan wajah codetnya. Oesoep berwajah relatif terang, masih muda, dan perilakunya baik serupa seorang menak atau bangsawan.  

“Ia memperoleh pendidikan baik. Ia dapat menulis, membaca, dan berbicara dalam bahasa Belanda, Melayu, dan Arab. Bahkan dikatakan ia membaca koran untuk mengetahui apa yang ditulis tentang dirinya,” tulis Margreet.

Oesoep merampok berkali-kali dan ditangkap berkali-kali oleh polisi. Dia masuk penjara Glodok, Batavia, dan Sawahlunto, Sumatra Barat, berulang kali dan kabur berulang kali pula.

“Usup (Oesoep, red.) adalah seorang pemimpin dari kelompok perampok dan lebih ditakuti daripada bandit-bandit lain di Batavia seperti Si Gantang dan Si Pitung,” tulis Erwiza Erman dalam Membaranya Batu Bara. Dia memimpin perampokan di wilayah Pasar Baru, Kali Pasir, Matraman, dan Menteng.

Oesoep mempunyai jaringan luas. Tak hanya di Batavia dan Ommelanden, tapi juga di Sumatra Barat. Kadangkala jaringannya terbentuk di penjara. Misalnya ketika di penjara Sawahlunto, dia berkenalan dengan Moesa, bandit asal Banten, dan Djabar, bandit asal Batavia.

Nama Moesa tercatat dalam Sinar Sumatra, 26 Maret 1927. “Dua kali bisa minggat dari Sawahlunto dan di bilangan Bantam (Banten, red.) berbagi-bagi kejahatan.” Djabar juga hobi melarikan diri. Dia beroperasi di seputaran Meester Cornelis (sekarang Jatinegara, Jakarta Timur).

Moesa dan Djabar tertangkap lagi oleh polisi setelah sekian lama. Tetapi tidak dengan Oeseop. Dia buronan dan misteri sepanjang hayat. Tak ada yang tahu akhir hidupnya.

Bandit, Kriminalitas
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
8 Suka
BOOKMARK