Hasil pencarian
9673 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Selain Jadi Babi Ngepet
KASUS hoaks babi ngepet di Bedahan, Depok, Jawa Barat, menyedot perhatian orang. Bumbu mistis cerita babi ngepet ternyata masih punya daya tarik cukup kuat pada banyak lapisan masyarakat. Kasus itu berakhir antiklimaks. Polisi menemukan bahwa babi itu sengaja dibeli oleh seorang ustaz agar dirinya terkenal. Mitos babi ngepet telah tersebar lama di kalangan masyarakat Indonesia. Beberapa penulis Belanda dan anak negeri mencatatnya sejak 1920-an. Babi ngepet merupakan cara orang memperoleh kekayaan dengan bersekutu bersama makhluk gaib. Selain babi ngepet, mitos lain yang serupa juga berkembang di masyarakat kolonial.
- Mengungkap Sejarah Babi Ngepet
BABI hutan berwarna hitam muncul di permukiman di Depok, Jawa Barat. Warga menangkap dan melabelinya sebagai babi ngepet. Tapi polisi membongkar drama di balik kemunculan babi ini. Seorang ustaz menjadi tersangka penyebaran hoaks babi ngepet. Menurut polisi, dia membeli babi itu, menaruhnya di permukiman, dan menyebarkan isu. Motif ustaz menyebar hoaks babi ngepet itu ingin terkenal. Isu babi ngepet sempat muncul beberapa kali di sejumlah wilayah Indonesia. Peter Boomgaard, pakar sejarah ekonomi Indonesia, menyebut bahwa isu babi ngepet kadangkala tak melulu berkaitan dengan perubahan ekonomi seperti munculnya uang.
- Jenderal Hobi Berburu Babi
PRESIDEN Soeharto sekali waktu mengadakan rangkaian kunjungan ke daerah transmigrasi. Program transmigrasi memang sedang digalakkan pemerintah pada dekade 1980-an. Soeharto datang untuk melihat kemajuan program itu sekaligus mendengarkan aspirasi masyarakat transmigran. Para petani mengeluh kepada presiden tentang hama babi hutan perusak tanaman. Untuk menanggulanginya, pemimpin kelompok tani mengimbau agar dikirimkan tim Perbakin (Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia). Bertepatan pula dalam anjangsana itu, turut serta Ketua Perbakin Jakarta Brigjen (Purn.) Herman Sarens Sudiro.
- Serba-serbi Politik Gentong Babi
MASIFNYA penggunaan instrumen kekuasaan untuk memenangkan Pemilu 2024 bukan sekadar mengutak-atik produk hukum namun juga menjadikan bantuan sosial (bansos) sebagai alat politik. Film dokumenter Dirty Vote menyuguhkannya lewat penjelasan politik “gentong babi” yang sudah eksis pada era perbudakan di Amerika Serikat. Dirty Vote yang digarap rumah produksi Watchdog dengan disutradarai Dandhy Dwi Laksono ditayangkan di akun Youtube Dirty Vote dan PSHK Indonesia sejak Minggu (11/2/2024). Dokumenter ini disajikan dengan pendekatan eksplanatori oleh tiga ahli hukum tata negara: Zainal Arifin Mochtar, Feri Amsari, dan Bivitri Susanti.
- John Lie, Penyelundup yang Humanis
SUATU hari di sekitar tahun 1921. Laksamana Muda John Lie tak akan pernah melupakannya. Sebuah kapal eskader Angkatan Laut Belanda berlabuh di Manado. Ukurannya besar dan canggih. Banyak penduduk ingin melihat dari dekat dan menaiki kapal itu dengan membayar 10 sen. John Lie, yang masih berusia sekira 10 tahun, tak punya uang. Tak mau patah arang, ia bersama teman-temannya berenang menuju kapal. Berhasil. Di dekat kapal, ia berkata kepada teman-temannya, ”Nanti saya mau jadi kapten, suatu waktu akan pimpin kapal begini ini,” kenang Bian Loho sebagaimana disitir M. Nursam dalam Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie .
- Ada John Lie di Jalur Rempah
GEMERLAP lampu-lampu di daratan Malaysia terlihat indah dari geladak kapal KRI Dewaruci 19 Juni 2024 malam. Dalam pelayaran di Selat Malaka itu, Dewaruci yang dinahkodai Letnan Kolonel Rhony Lutviadhani kerap bertemu kapal-kapal niaga besar. Selat Malaka saat ini masih jalur pelayaran antar-bangsa yang sangat ramai. Mulanya, laut cukup tenang dirasakan dari atas Dewaruci yang terus meluncur ke arah utara. Namun, hujan kemudian datang hingga subuh. Bahkan, dini-hari 20 Juni 2024 badai terasa di kapal. Hujan dan badai sudah berlalu pada 20 Juni 2024 pagi. Matahari perlahan muncul menggantikan gelap. Dewaruci makin menjauh dari perairan Kerajaan Malaysia dan mendekat lagi pada daratan Sumatra.
- John Lie di Kapal Sekutu
LIE Tjeng Tjoan pernah sekolah di Hollandsch Inlandsch School (HIS) di kota Manado, Sulawesi Utara. Laki-laki kelahiran 21 Maret 1911 itu tak menghabiskan sebagian besar hidupnya di toko. Tapi sebagian masa mudanya dihabiskan di laut. Ketika usianya belum genap 20 tahun, dia sudah meninggalkan Manado dan sempat jadi buruh pelabuhan sebelum melamar jadi pelaut. “Terjun dalam dunia pelaut bukan karena asuhan keluarga, tapi karena keinginan sendiri. Ia menjadi pelaut pada 1929 sewaktu berumur 18 tahun karena tekanan penghidupan dan didorong oleh kemauannya sendiri,” tulis M. Nursam dalam Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie .
- Gowa Masuk Islam
PERMUSUHAN antara Gowa dengan Bone sudah ada ketika Gowa dipimpin oleh Karaeng Tunipalangga dan Karaeng Tunibatta. Kedua raja Gowa itu bersaudara. Beberapa kali Tunipalangga menyerang Bone dan berkali-kali itu pula Bone gagal dihancurkan. Setelah gagal berperang di Bone, Tunipalangga pulang dan meninggal dunia. Saudaranya, Karaeng Tunibatta, lalu menggantikannya sebagai raja. Tunibatta, raja Gowa ke-11, namun hanya sekitar 40 hari berkuasa karena gugur dalam perang di Gowa. Kajao Laliddong, penasehat dari Raja Bone La Tenrirawe Bongkannge, menyarankan agar jenazah Raja Tunibatta dikembalikan ke ibukota Gowa dengan upacara penuh kebesaran. Raja Bone pun berkenan melaksanakan nasihat mulia itu. Maka diutusnya pembesar Bone macam Arung Teko, Arung Berru, Arung Lamoncong, dan Arung Sanrego untuk mengantar jenazah Karaeng Tunibatta ke Gowa. “Almarhum baginda raja Gowa ke-11, jenazahnya disambut dengan penuh kebesaran pula oleh orang Gowa. Maka kagumlah para pembesar Kerajaan Gowa tentang ketulusan hati Raja Bone menghormati musuhnya,” catat Mattulada dalam Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah, 1510-1700 . Mangkatnya Tunibatta membuat putra Tunibatta yang bernama Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo naik takhta. Padahal usianya dianggap terlalu muda untuk naik takhta. Namun itu ketetapannya. Maka setelah bertakhta, Daeng Mammeta jadi raja Gowa ke-12. “Daeng Mammeta menaiki tahta kerajaan Gowa dalam usia dua puluh,” catat Abdurrazak Daeng Patunru dalam Sedjarah Gowa . Sebelum naik takhta, Daeng Mammeta telah menikahi sepupunya sendiri, putri Karaeng Tunipalangga. Sang putri pun permaisuri dari Daeng Mammeta. Daeng Mammeta berkuasa dari 1565 hingga 1590. Di masa kekuasaannya, kejadian penting terjadi di Gowa. Pada 1580, Makassar kedatangan seorang raja dari timur, Sultan Baabullah dari Ternate. Sultan Baabullah, yang baru saja mengalahkan Banggai, Buton, dan Selayar, disambut sebagai sahabat di Istana Somba Opu. Sebagai tanda persahabatan mereka, Daeng Mammeta memberikan Selayar kepada Sultan Baabullah. Sultan Baabullah ketika itu sudah memeluk Islam dan dia hendak menyebarkan keislaman kepada Gowa yang menjadi sahabatnya itu. Tapi Sultan Baabullah sadar, prosesnya tidaklah cepat. Daeng Mammeta adalah raja Gowa yang terbuka bagi bangsa mana pun. Seperti raja sebelumnya, penganut agama apa saja yang datang dibiarkan hidup nyaman di Makassar yang menjadi pelabuhan dagang oleh Raja Mammeta. Meski Daeng Mammeta belum Islam, orang-orang Islam sudah banyak di pelabuhan yang dikuasainya itu. “Raja Gowa memperkenankan untuk mendirikan masjid kepada orang Melayu, persisinya di utara Benteng Somba Opu, kawasan Mangellekanna,” tulis Nasaruddin Koro dalam Ayam Jantan Dari Tanah Daeng . Selain itu, Raja Mammeta tidak melarang orang Islam pergi naik haji. Para pedagang dan raja-raja Islam tentu menghormatinya dan Gowa terus menjadi kawan. Pada akhir abad ke-16, semasa kekuasaan I Mangarangi Daeng Manrabia yang merupakan putra Tunijallo, tiga ulama Minangkabau yang dikirim sultan Johor tiba di Gowa untuk berdagang. Mereka adalah Khatib Tunggal Abdul Makmur, Khatib Sulaiman, dan Khatib Bungsu. Sambil berdagang, mereka juga berdakwah. “Ketika dakwah di Makassar menghadapi tantangan besar, ketiganya meninggalkan Makassar menuju Luwu,” tulis Mustari Mustafa dalam Syaikh Yusuf Al-Makassari . Raja Luwu adalah raja yang dihormati oleh raja-raja lain di Sulawesi Selatan, sebab Luwu adalah akar bagi kerajaan lain di Sulawesi Selatan. Pendekatan yang baik membuat Raja Luwu La Patiwarek Daeng Parebbung mengenal Islam dan pada 1603 pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Khatib Sulaiman terus berada di Luwu hingga tutup usia di sana. Dia digelari Datuk Ri Patimang. Khatib Bungsu kemudian meninggal di Tiro dan digelari Datuk Ri Tiro. Sementara, Khatib Tunggal kemudian berhasil membuat Raja Tallo yang merangkap perdana menteri Gowa I Malingkaan Daeng Manyonri dan Raja Gowa I Mangarangi Daeng Manrabia mau menerima Islam pada 22 September 1605. Kedua raja dari Makassar itu lalu memakai gelar sultan. Raja Tallo sebagai Sultan Awaluddin dan Raja Gowa sebagai Sultan Alaudin. Setelah rajanya, rakyat Makassar di Gowa dan Tallo pun banyak masuk Islam. Setelah wafat, Khatib Tunggal Abdul Kadir digelari Datuk Ri Bandang. Dirinya tak hanya berjasa dalam Islamisasi rakyat Makassar, di Selayar dan sebagian Kalimatan Timur Islam berkembang karena Datuk Ri Bandang.*
- Daendels Hukum Mati Pelaku Korupsi
PRESIDEN Joko Widodo memilih menghadiri peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia pada 9 Desember 2019 di SMKN 57 Jakarta. Dalam sesi tanya jawab, seorang siswa bertanya mengapa negara tidak berani menghukum mati koruptor? Jokowi menjawab bahwa kalau masyarakat berkehendak, hukuman mati bagi koruptor dapat diakomodasi dalam revisi UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Sebenarnya hukuman mati sudah ada dalam UU Tipikor, yaitu Pasal 2 ayat (2) bahwa pidana mati dapat dijatuhkan bila korupsinya dalam “keadaan tertentu.” Dalam penjelasannya diterangkan bahwa maksud “keadaan tertentu” adalah tindak pidana korupsi yang dilakukan pada waktu negara dalam keadaan bahaya, terjadi bencana alam nasional, atau negara dalam keadaan krisis ekonomi dan moneter. Selama ini memang belum ada koruptor yang dihukum mati. Terlebih hukuman mati menjadi perdebatan terutama di kalangan pegiat hak asasi manusia. Dalam hal korupsi, mirisnya, pemerintah malah memberikan grasi (keringanan hukuman) kepada para koruptor. Dalam sejarah, hukuman mati terhadap koruptor pernah diberlakukan oleh Marsekal Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menjabat singkat (1808-1811).
- Hamzah Haz, Wakil Presiden Pilihan MPR
WAKIL Presiden RI ke-9, Hamzah Haz, wafat pagi tadi (24/7) di kediamannya di Tegalan, Matraman, Jakarta Timur dalam usia lanjut 84 tahun. Sepanjang hidupnya, Hamzah dikenal sebagai politisi sekaligus ketua umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), kemudian menteri di era kepresidenan Habibie dan Abdurrahman Wahid. Puncak kariernya ketika Hamzah terpilih sebagai wakil presiden mendampingi Presiden Megawati Sukarnoputri (2001-2004). “Saya diangkat menjadi Wapres di saat bangsa sedang dilanda krisis multidimensi dengan banyak persoalan yang sulit terutama di bidang ekonomi, politik, hukum, keamanan, dan moralitas bangsa,” kata Hamzah dalam pidato pelantikannya dikutip Harian Waspada , 27 Juli 2001.
- Modifikasi Cuaca Tanpa Pawang Hujan
PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Jakarta memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga hari ini, Selasa (27/1/2026). Tujuannya untuk terus menekan potensi curah hujan tinggi yang bisa berdampak pada banjir atau bencana hidrometeorologi lain di Jakarta dan sekitarnya. OMC itu dilakoni Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta, TNI Angkatan Udara, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan metode cloud seeding atau penyemaian awan. Simpelnya, OMC dijalankan oleh tiga kali penerbangan menggunakan pesawat yang akan menaburkan garam dan zat kapur ke awan untuk mengurangi curah hujan. “OMC di Jakarta ini merupakan bagian dari upaya penanganan siaga darurat bencana hidrometeorologi di wilayah Provinsi DKI Jakarta dan sekitarnya. Sebelumnya, OMC juga telah dilaksanakan pada 13-19 Januari 2026 dengan menyemai 21,4 ton NaCL dan 7,4 ton CaO pada total 31 sorti,” terang Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto dalam rilis BMKG di laman resminya . Sebelumnya, OMC sempat mendapat kritikan. Salah satunya dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), yang menyatakan bukan sekadar solusi teknis jangka pendek namun juga akan berpotensi mengakibatkan masalah kesuburan tanah dan sumber air tanah. Persiapan Operasi Modifikasi Cuaca di Lanud Halim Perdanakusumah Jakarta (X @BPBDJakarta) Eksperimen dari Texas hingga Negeri Siam Modifikasi cuaca, baik untuk memuai curah hujan atau mandatangkan hujan untuk kepentingan pertanian, bukanlah barang baru. Upaya pertama pernah dicoba Jenderal (Purn.) Robert St. George Dyrenforth, pejabat Departemen Pertanian Amerika Serikat pada 1891. Menurut Willy Ley di kolom majalah bulanan Galaxy edisi Februari 1961, “Let’s Do Something About the Weather”, Dyrenforth menjajal sebuah eksperimen untuk mendatangkan hujan. Berbekal membaca banyak catatan sejarah, ia datang dari ibukota Washington DC ke negara bagian Texas membawa serta bubuk mesiu dan bahan-bahan peledak senilai 9 ribu dolar. “Eksperimen itu terinspirasi dari cerita yang datang dari Perang Saudara, yang kira-kira berawal di Eropa seabad sebelumnya. Para veteran Perang Tujuh Tahun (Perang Napoleon 1756-1763, red. ) mengatakan kepada semua orang yang mau mendengarkan cerita mereka, bahwa setiap sehabis pertempuran besar pasti terjadi hujan deras. Cerita serupa muncul lagi setelah Perang Saudara (1861-1865) di belahan bumi barat,” tulis Ley. Kisah-kisah itu lantas dikumpulkan, dihimpun, dan dibukukan oleh Edward Powers dalam War and the Weather (1871). Dari sinilah Dyrenforth mendapatkan inspirasi eksperimennya. Teori sederhananya: asap dan uap yang ditimbulkan dari meriam-meriam di pertempuran melayang ke udara dan “merangsang” awan untuk mengguyurkan hujannya ke bumi. Dyrenforth melakoni eksperimennya pada musim panas 1891 di sebuah lahan kosong di High Plains, Texas. Bahan-bahan peledak lalu diledakkannya. Bubuk mesiunya pun diisi ke meriam-meriam tanpa peluru dan juga ditembakkan ke udara. “Pada akhirnya memang terjadi hujan setelah beberapa barel bubuk mesiu diledakkan. Namun banyak warga lokal Texas yang menyaksikan menyatakan bahwa memang pada masa itu sudah akan waktunya hujan. Tak ada yang banyak bisa dikatakan Jenderal Dyrenforth untuk menjawabnya. Meningkatnya curah hujan setelah itu tidak bisa dikatakan ditentukan oleh eksperimen itu,” imbuhnya. Seiring bergulirnya zaman dan pesatnya teknologi, riset hingga eksperimen modifikasi cuaca mulai sering dilakoni via udara ( cloud seeding) . Kala itu metode tersebut untuk “memanggil” hujan dengan menggunakan material-material higroskopis atau senyawa-senyawa yang mudah menyerap seperti perak iodida (Agl), kalium iodida (KI), es kering, hingga garam dapur (NaCl). Pada 1930-an, trio ilmuwan Alfred Wegener-Tor Bergeron-Walter Findeisen meluncurkan teori bahwa kristal es jika ditembakkan ke atas awan akan memicu hujan. Teori tersebut lantas terkonfirmasi secara tak sengaja oleh pakar kimia dan fisika Laboratorium Riset General Electric, Vincent Schaefer dan Irvin Langmuir, pada 1946 kala tengah meriset tentang airframe icing atau lapisan es di luar struktur pesawat. “Dr. Schaefer pada November 1946 mulai mencoba menebarkan es kering kristal ke awan dari udara. Ya, es kristalnya tumbuh dan membuat hujan. Tak lama kemudian periset lainnya, Dr. Bernard Vonnegut juga menemukan bahwa kristal-kristal perak iodida lebih efisien ketimbang es atau es kering. Kristal-kristal perak iodida akan memicu terbentuknya es di suhu yang lebih tinggi dari air es atau kes kering,” tambah Ley. Setelah militer AS kemudian memanfaatkannya untuk operasi-operasi militer, metode ini mulai diikuti negara-negara lain. Salah satu yang paling awal adalah negara yang sekawasan dengan Indonesia, Thailand. Negeri Siam mengalami kekeringan pada 1950-an. Maka Raja Bhumibol Adulyadej pada November 1955 menginisiasi dibentuknya Khrongkhan Fon Luang alias Proyek Pembuatan Hujan Kerajaan. Proyeknya didanai sendiri dari harta pribadi sang raja. “Ia (raja) mempercayakan M.R. Debariddhi Devakula, pakar insinyur pertanian di Kementerian Pertanian dan Koperasi, untuk memimpin risetnya. Ia melakukan riset intensif dan eksperimen dari banyak ragam pengaplikasian di banyak negara, termasuk AS, Australia, dan Israel,” tulis Chamnong Pakaworawuth dalam King Bhumibol and His Enlightened Approach to Teaching. Proyek itu jadi tanggung jawab Departemen Pembuatan Hujan dan Penerbangan Pertanian Kerajaan yang dimulai pada 1959. Butuh satu dekade untuk kemudian proyek itu bisa diujicobakan. Dengan disaksikan langsung oleh sang raja, percobaan pertama dilakukan di Taman Nasional Khao Yai pada 20 Juli 1969. Metode penyemaian awan dengan pesawat via menebar senyawa-senyawa garam hingga es kering ke atas awan dilaporkan berhasil “menciptakan” hujan. Pada 2009, Yordania negara kedua yang mengaplikasikannya dengan seizin Raja Bhumibol. Baru pada 2005 metode itu dipatenkan atas nama Raja Bhumibol. Pengaplikasiannya bisa juga untuk modifikasi kebalikannya. Bahkan Indonesia sendiri sudah mengikutinya pada 2013, baik untuk memicu hujan guna memadamkan asap dan kabut akibat kebakaran hutan di Sumatra, maupun mengurangi curah hujan demi menanggulangi bencana banjir.*






















