Hasil pencarian
9870 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ajudan Bertaruh Nyawa
TERBUNUHNYA Brigadir Yosua Nofriansyah Hutabarat, ajudan Inspektur Jenderal Pol. Ferdy Sambo pada 8 Juli 2022, atas perintah sang jenderal dari Saguling itu melalui tangan bawahannya yang lain, membuka mata publik bahwa menjadi ajudan atau orang terdekat jenderal tidaklah selalu menyenangkan. Tangan beberapa bawahan Sambo pun menjadi kotor. Bhayangkara Dua Richard Eliezer Pudihang Lumiu, yang diperintahkan Sambo untuk menembak Yosua, harus jadi pesakitan dan menjalani pengadilan. Ini belum termasuk yang dialami ajudan Sambo yang lain. Sambo punya beberapa ajudan. Mereka adalah para brigadir polisi, setara sersan di TNI. Publik mengira semua yang menjaga Sambo adalah ajudan. Eliezer sendiri bukanlah ajudan, dia hanya sopir sang jenderal.
- Sukarno Marah Ajudan Salah Cerita Sejarah
BRIGADIR Polisi M. TAMIM tak pernah lupa situasi pasca-diberlakukannya gencatan senjata antara pasukan Indonesia dan Belanda selepas Agresi Militer Belanda II. Perang pengaruh masih begitu kuat di berbagai tempat. Dalam suasana seperti itu, Tamim ditawari menjadi anggota polisi Belanda. Tentu saja Tamim menolak mentah-mentah tawaran itu. “Kalau tidak, obsesinya yang ingin mengabdi kepada keluarga Bung Karno dan dekat dengan Bung Karno akan menguap sia-sia,” tulis Kadjat Adra’i, teman dekat Guntur Sukarnoputra sekaligus wartawan yang pernah mewawancara Tamim, dalam bukunya Suka-Duka Fatmawati Sukarno: Seperti Diceritakan Kepada Kadjat Adra’i. Bagi Tamim, Presiden Sukarno dan keluarganya bukan merupakan orang asing. Ayah Tamim, Nur’ain, merupakan supir di Istana Bogor. Nur’ain tinggal di dalam perumahan karyawan istana yang terletak di kompleks istana. Di sinilah Tamim dilahirkan pada 1926 dan bertumbuh bareng-bareng anak-anak pegawai yang lain.
- Kencan Ajudan Presiden Sukarno
SUDAH menjadi rahasia umum jika Presiden Sukarno merupakan pengagum perempuan cantik. Hal itu dikatakan bukan saja oleh kawan-kawan dekatnya, namun juga diakui Bung Karno sendiri. “Bukan suatu dosa atau tidak sopan kalau seseorang mengagumi perempuan cantik”, ungkapnya seperti dikutip Cindy Adams dalam Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia. Kendati demikian, Bung Karno tidak mau menyimpan kebiasaannya itu untuk diri sendiri. Kepada orang-orang terdekatnya, dia pun kerap mendorong untuk mencari pasangan yang cantik dan menarik. Salah satu “korban” Bung Karno adalah ajudannya: Mayor KKo Bambang Widjanarko. Demikian diceritakan oleh Bambang Widjanarko dalam otobiografinya, Sewindu Dekat Bung Karno.
- Ajudan bukan Ajudan Pribadi
MUHAMMAD Akbar Pera Baharudin ditangkap polisi karena kasus penipuan. Ia dikenal sebagai selebgram ajudan pribadi. Kini, ajudan hanya nama jabatan, biasanya di pemerintahan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ajudan adalah perwira yang diperbantukan kepada raja, presiden, atau perwira tinggi, biasanya diberi tugas mengurus segala keperluan yang berhubungan dengan pekerjaannya. Di dalam militer, ajudan jenderal atau presiden pangkatnya macam-macam. Dulu, Presiden Sukarno punya ajudan Mayor Mohamad Sabur (belakangan brigadir jenderal) dan Kolonel Bambang Widjanarko. Jenderal TNI A.H. Nasution pernah punya ajudan Letnan Satu Pierre Andreas Tendean.
- Muljono Dukung PKI
SEKITAR September 1967, beberapa anggota regu tembak berlatih. Mereka akan melaksanakan tugas mengeksekusi beberapa terpidana mati: bekas Letnan Kolonel (Letkol) Untung, Letnan Ngadimo, Mayor Sujono, dan Mayor Muljono Surjowedojo. Mereka dianggap bersalah dalam Gerakan 30 September 1965 (G30S). Untung, Ngadimo, dan Sujono terlibat dalam G30S di Jakarta, yang menewaskan Men/Pangad Letnan Jenderal Ahmad Yani dkk. pada dini hari 1 Oktober 1965. Sementara, Mayor Mulyono adalah pelaku di balik tewasnya Danrem Yogyakarta Kolonel Katamso dan wakilnya, Letkol Sugijono, pada hari yang sama namun beda jam. Sehari-harinya, Mayor Mulyono menjabat sebagai perwira staf V Korem 72. Namun, Mayor Muljono tak anti politik. Dia punya banyak sekutu nonmiliter di Yogyakarta.
- Setia Sampai Sati
TATKALA seorang bangsawan atau pemimpin tertinggi meregang jiwa, selir dan para pelayan yang paling setia bersumpah: “Dalam kematian kami akan ikut denganmu.” Lalu upacara kremasi pun digelar. Bangunan tinggi dari kayu didirikan. Tumpukan kayu bakar diletakkan. Peti mati dimasukkan saat api mulai membesar. Ketika api berkobar-kobar, selir bersama dua atau tiga pelayan yang telah bersumpah mulai naik ke atas bangunan, menari dan berkeliling, menunggu waktu yang tepat, lalu melemparkan diri ke kobaran api dan terbakar bersama junjungan mereka. Deskripsi tersebut dicatat Ma Huan, penerjemah dalam ekspedisi Cheng Ho ke Jawa antara 1413 dan 1415. Ma Huan mengunjungi Majapahit dan menyaksikan upacara kremasi tersebut.
- Sudiro dari Sulawesi ke Jakarta
SEBUAH pesan diterima Sudiro pada 1953. Isinya panggilan agar gubernur Sulawesi tersebut menemui Menteri Dalam Negeri Mr. Hazairin. Dalam pertemuan di kantor menteri, Sudiro diminta memilih, menjadi gubernur Kalimantan atau kepala daerah Jakarta Raya. “Terserah saja pada pemerintah,” jawab Sudiro. Pemerintah memutuskan Sudiro menjadi kepala daerah Jakarta Raya. Dia akan menduduki posisi wali kota menggantikan Sjamsuridzal. Soebagijo I.N. mencatat dalam Sudiro, Pejuang Tanpa Henti, mengacu pada keterangan resmi Menteri Dalam Negeri Mr. Hazairin, terhitung sejak 9 November 1953 Wali Kota Jakarta Raya Sjamsuridzal digantikan oleh Sudiro. Sjamsuridzal sendiri akan ditempatkan di Kementerian Dalam Negeri.
- Dangdut Rasa Pantura
SUASANA pesta pernikahan di desa Kanci, Cirebon, mulai semarak. Di atas panggug, Kiki Afita (21 tahun) menyanyikan lagu “Kawin Batin” karya Dadang Anesa dengan logat Cirebon yang khas. Kiki terlihat enerjik, melangkah ke setiap sudut panggung, mengajak penonton bergoyang. Tepakan kendang, alat musik tradisional Sunda, menghentak cepat. Suling, gitar, saksofon, dan organ ikut mengiringi. Warga berdesakan di depan panggung. Karena lokasi hajatan berada di tengah lingkungan perumahan yang sempit, sebagian dari mereka menaiki pagar. Beberapa anak kecil memperhatikan biduan bergoyang sambil duduk di pojok depan panggung. Sementara di belakang panggung, menunggu giliran menyanyi, lima biduan mengecek riasan wajah atau memainkan telepon seluler. Sesekali bibir mereka bergerak sesuai lirik lagu yang didendangkan Kiki. Hiburan musik berlangsung siang dan malam. Setelah istirahat jam empat sore, pementasan dilanjutkan dari jam delapan sampai tengah malam. “Tergantung permintaan yang punya hajat,” ujar Kiki kepada Historia.
- Sukarno Sahabat Pangeran Kamboja
TIM nasional sepakbola Indonesia U-22 akhirnya berhasil merebut medali emas SEA Games 2023 usai mengalahkan timnas Thailand di final, 5-2. Dalam pertandingan dramatis yang panjang itu, timnas Indonesia tak hanya didukung suporter tanah air tapi juga negara tetangga seperti Vietnam dan tuan rumah Kamboja. Salah satu warga Kamboja yang mendukung langsung di stadion adalah Visal yang merupakan pemilik sebuah warung kopi. "Saya penuhi janji saya. Saya datang bersama putri saya. Kamboja untuk Indonesia!" kata Visal, dikutip bola.com, 16 Mei 2023. Persahabatan rakyat Kamboja dan Indonesia telah terjalin lama. Pemimpin kedua negara, Pangeran Norodom Sihanouk dan Presiden Sukarno, bahkan telah bersahabat sejak 1950-an.
- Ketua PSI Meninggal di Sukamiskin
RAJA Bolaang Uki, Hasan Iskandar van Gobel, suatu hari dapat satu permohonan bahwa ketua atau presiden Partai Sarekat Islam (PSI) –yang pada 1929 berganti nama menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)– ingin berpidato di hadapan ribuan rakyat Bolaang Uki. Maka sang raja langsung memanggil ketua PSI itu. Sebuah pembicaraan pun terjadi. “Katakan saja padaku apa yang ingin kamu jelaskan kepada rakyat. Saya akan memberi tahu mereka tentang hal ini. Ketika kamu berbicara, orang-orangku yang bodoh mengira kamu adalah rajanya. Untuk menghindari kesalahpahaman seperti itu, saya tidak bisa mengizinkan Anda menyapa orang-orang di sini dan saya juga melarang Anda mendirikan cabang PSI di sini. Di sini kita tidak memerlukan partai agama. Dalam hal ini saya juga bisa memimpin rakyat saya,” kata raja kepada presiden PSI Bolang Mongondow yang bernama Adampe Dolot. Raja Hasan merupakan penganut Islam, sama seperti Adampe Dolot. Menurut De Indische Courant, 19 Januari 1940, raja rajin pergi ke masjid. Raja Hasan menurut pihak Belanda tidak menginginkan adanya perpecahan rakyat di wilayahnya. Tentu saja penolakan itu mengecewakan Adampe Dolot. Lelaki yang kiprahnya telah dicatat koran berbahasa Belanda tahun 1940 dan 1928 ini sepak terjang politiknya tidak kaleng-kaleng. Sejak era 1920-an, Adampe telah aktif di Sarekat Islam.
- Menyepak Bola sampai Kanada
SEBAGAIMANA Amerika Serikat (AS) dan Australia, orang-orang Kanada juga menyebut sepakbola dengan soccer. Dibanding dua tetangga kawasannya, AS dan Meksiko, Kanada yang paling “anak bawang” di level Piala Dunia. Tahun ini jadi keikutsertaan Kanada yang ketiga kali di Piala Dunia kendati berstatus tuan rumah bersama dengan AS dan Meksiko. Sebagai co-host, timnas Kanada besutan Jesse Marsch itu terundi di Grup B bersama Swiss, Qatar, serta Bosnia-Herzegovina. Di partai pembuka grup yang dihelat di Toronto Stadium pada 12 Juni 2026 lalu, Kanada nyaris kehilangan muka ketika dua host lainnya, AS dan Meksiko, sama-sama mengemas kemenangan. Menjamu Bosnia-Herzegovina, tim “Daun Mapel” itu tertinggal lebih dulu hingga akhirnya bisa menyamakan skor, 1-1, berkat gol yang ditorehkan pemain pengganti, Cyle Larin. Skor bertahan sampai akhir laga dan meskipun gagal menang, hasil imbang dan perolehan 1 poin itu begitu historis buat Kanada. Sebab sejak tampil di Piala Dunia 1986 dan 2022, Kanada tak pernah sekalipun menang atau setidaknya mengumpulkan sebutir poin pun. Di Piala Dunia Meksiko 1986, Kanada dibekuk 0-1 oleh Prancis, dibekap 0-2 oleh Hungaria, dan keok 0-2 dari Uni Soviet di penyisihan Grup C. Adapun di Piala Dunia 2022 di Qatar, Kanada juga jadi juru kunci Grup F usai ditaklukkan Belgia 0-1, dihajar Kroasia 1-4, dan disingkirkan Maroko 1-2. “Ini Piala Dunia ketiga kami dan butuh waktu begitu lama hanya untuk mendapatkan satu poin pertama. Satu poin pertama sudah kami dapatkan, sekarang waktunya kami berusaha mendapatkan kemenangan pertama, itu sangat penting jika ingin lolos (ke 32 besar) dari grup ini,” cetus bek Kanada Alistair Johnston, dikutip Canadian Soccer Daily, 14 Juni 2026. Alistair William Johnston (ujung kanan) turut merayakan gol Kanada ke gawang Bosnia (X @CANMNT_Official) Tur ke Inggris hingga Medali Emas Olimpiade Di kota Toronto, sepakbola bermula menjamah Kanada. Sama halnya dengan di AS yang sepakbola modernnya mulai dibawa para imigran Skotlandia dan Irlandia via New Orleans, di Kanada permainan si kulit bundar juga diretas mereka di masa yang sama, 1850-an. Tercatat pernah ada sebuah pertandingan dimainkan tim imigran Irlandia melawan tim dari organisasi amal St. George’s Society pada Oktober 1859, namun belum dianggap pertandingan resmi. “Kanada pada masa itu punya banyak komunitas imigran dari Inggris Raya dan yang mendorong kehadiran sepakbola datang dari para imigran Slotlandia dan para imigran Irlandia, di mana kelak seorang imigran Ulster kelahiran Skotlandia, David Forsyth, jadi sosok yang berjasa mengembangkan sepakbola sekaligus jadi pendiri Western FA (1880),” tulis William J. Murray dalam The World’s Game: A History of Soccer. Sepakbola, lanjut Murray, lantas menyebar seiring eksistensi jalur keretaapi yang membawa para imigran mencapai Winnipeg hingga Vancouver di garis pantai Pasifik. Saat itu sepakbola modern yang paling berkembang tetap berada di Toronto. Laga resmi pertama di Kanada tercatat pada 1876. Namun justru dimainkan oleh tim kriket dan lacrosse. “Banyak tipe sepakbola dimainkan di wilayah dominion (Kanada, red.); namun, pertandingan resmi pertama yang menggunakan aturan-aturan resmi Football Association dimainkan di Jalan Parlemen, Toronto, pada (21 Oktober) 1876. Pertandingannya mempertemukan Carlton Cricket Club dan Toronto Lacrosse Club. Saat itu, merupakan hal umum menemukan klub-klub kriket yang juga memainkan sepakbola,” ungkap Stuart dan Philip Laycock dalam How Britain Brought Football to the World. Setahun berselang, beberapa asosiasi mulai bermunculan. Di antaranya Dominion Football Asssociation pada 1877, Western Football Association (Western FA) pada 1880, Manitoba Football Association pada 1896, Ontario FA pada 1901, Saskatchewan FA pada 1905, dan Province of Quebec FA pada 1911. Asosiasi yang mempersatukan semuanya, Dominion of Canada FA, lahir pada 1912. David Forsyth jadi motor Western FA yang paling menonjol di antara semuanya sebelum kemunculan Dominion of Canada FA (DCFA). Oleh karenanya, namanya tercatat di Aula Kehormatan Sepakbola Kanada sebagai “Bapak Sepakbola Kanada”. Dialah yang membawa sepakbola Kanada pertama kali “go-internasional” dengan membawa tim asal Kanada ke AS, Irlandia, dan Inggris. “Dalam upaya menetapkan laga-laga internasional secara reguler dengan Amerika Serikat pada pertengahan 1880-an dan kemudian pada 1888 Forsyth membawa sebuah tim Kanada dalam turnya ke Skotlandia, Irlandia, dan Inggris. Saat kembali tur ke sana pada 1891, timnya diperkuat para pemain dari Fall River dan Pawtucket, Rhode Island, AS,” sambung Murray. Tim yang dibawa Forsyth pada tur 1888 yang sukses itu adalah Timnas Western FA dengan skuad 17 pemain, termasuk Forsyth juga tampil sebagai pemain. Mereka tampil di 23 laga kurun 1 September-31 Oktober 1888 dari Belfast, Glasgow, Edinburgh, hingga Oxford dan Birmingham. “David Forsyth memimpin sebuah tim Kanada dalam sebuah tour Inggris pada 1888, melakoni 23 pertandingan dalam 60 hari. Tim Kanada itu menang sembilan kali dan mendapat hasil imbang lima kali,” ungkap suratkabar Truth edisi 3 April 1904. Tim Galt FC yang mewakili Kanada untuk cabang sepakbola di Olimpiade 1904 (canadasoccer.com) Sepakbola Kanada pra-Perang Dunia I dan Perang Dunia II terbilang gemilang. Bahkan mereka pernah menyabet medali emas Olimpiade cabang sepakbola, tepatnya di Olimpiade St. Louis 1904. Ini gelaran olimpade pertama di luar Eropa sekaligus olimpiade pertama yang atlet-atlet pemenangnya dihadiahi medali emas karena sebelumnya sang pemenang dikalungi medali perak. Di Olimpiade itu, cabang sepakbolanya yang dimainkan di Francis Olympic Field (16-23 November 1904) hanya diikuti tiga tim dan itupun bukan timnas, melainkan klub amatir. AS sebagai tuan rumah diwakili dua tim yang sama-sama berasal dari kota St. Louis, Missouri, AS: Christian Brothers College dan St. Rose Parish. Sedangkan Kanada didelegasikan klub Galt FC. “Didirikan pada 1881 di Ontario, Galt FC pada awal 1900-an cukup sering melakukan tur, mengingat di masa itu belum ada liga nasional. Hanya ada (turnamen) Ontario Cup yang mereka menangkan tiga kali berturut-turut (1901, 1902, 1903). Saat tur ke Manitoba dalam 25 hari, mereka menang 16 dari 17 pertandingan dan oleh sebab itu dipilih mewakili Kanada di Olimpiade 1904. Hanya memainkan dua laga, mereka menang mudah 7-0 dari Christian Brothers College dan mengalahkan St Rose 4-0. John Gourlay sang kapten memimpin tim membawa pulang medali emas buat Kanada. Kesuksesan yang kian meancing perhatian lebih besar terhadap sepakbola di Kanada,”tulis Philip Rourke dalam Forgotten Football Clubs: Fifty Teams Across the World, Gone But Never Forgotten. Namun, pasca-Perang Dunia I yang diikuti Depresi Besar ekonomi dan kemudian Perang Dunia II, geliat sepakbola di Kanada berjalan stagnan. Bisa dikatakan nyaris lumpuh. Baru pada 1946 sepakbola Kanada perlahan bangun dari mati surinya setelah reorganisasi DCFA. Pada 1948, Kanada mendaftarkan diri jadi anggota FIFA dengan nama asosiasinya FA Canada. Kelak, FA Canada berubah jadi Canadian Soccer Association, mengikuti lema “soccer”, lantaran klub dari Kanada mulai 1946 juga berkompetisi di liga AS, North American Soccer League (NASL). Selain itu, timnasnya juga diformulasikan kembali. Kanada untuk pertamakalinya ikut kualifikasi Piala Dunia 1958 namun hampir tiga dekade kemudian Timnas Kanada baru lolos ke Piala Dunia Meksiko 1986.*
- Detik-detik Terakhir Sukarno
SEPI, sunyi, dan terasing. Perasaan itulah yang dialami Sukarno, presiden pertama Republik Indonesia menjelang akhir hayatnya. Prahara politik menjatuhkannya dari gelanggang kekuasaan. Setelah dilengserkan, Bung Karno memasuki masa karantina politik alias jadi tahanan rumah. Pada Mei 1967, pihak berwenang memutuskan bahwa Sukarno tidak lagi diperkenankan menetap di Jakarta. Sukarno hanya diizinkan tinggal di salah satu paviliun Istana Bogor. Namun, semuanya tidak lagi sama. Anak-anak Sukarno mengenang periode ini sebagai masa kepahitan dalam keluarga mereka. “Bapak sangat kesepian. Padahal Bapak seorang pribadi yang suka keramaian, suka dikelilingi kawan dan sahabat untuk berbicara tentang banyak hal. Pengasingan atas diri Bapak merupakan beban mental dalam dirinya,” kata Rachmawati Sukarnaputri, putri ketiga Sukarno, dalam Bapakku Ibuku: Dua Manusia yang Kucinta dan Kukagumi.





















