Hasil pencarian
9938 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Siapakah Kakek Menpora Dito Ariotedjo?
PADA 3 April 2023 lalu, Presiden Joko Widodo melantik Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) yang baru, Ario Bimo Nandito Ariotedjo, atau biasa disapa Dito Ariotedjo, untuk menggantikan Zainudin Amali yang mengundurkan diri setelah terpilih sebagai wakil ketua umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Politisi Partai Golongan Karya (Golkar) berusia 32 tahun tersebut menjadi menteri termuda dalam Kabinet Indonesia Maju setelah sebelumnya disandang Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Menristekdikti) Nadiem Makarim (35). Dito memiliki beberapa rekam jejak dan pengalaman di bidang olahraga, di antaranya sebagai Chef de Mission (CdM) kontingen Indonesia pada gelaran Youth Olympic Games 2018 di Buenos Aires, Argentina, serta bekerja sama dengan artis Raffi Ahmad membentuk RANS Sport dan menjabat sebagai chairman RANS Nusantara FC dan RANS PIK Basketball. Keluarga Dito pun tak luput dari sorotan setelah diketahui bahwa ia adalah putra bungsu dari Arie Prabowo Ariotedjo, mantan direktur utama PT Aneka Tambang (Antam) dan cucu dari Marsekal Madya TNI (Purn.) Sri Bimo Ariotedjo.
- Penduduk Belanda Melawan Nazi dengan Bunga
SATU per satu penduduk Belanda berdatangan ke Istana Noordeinde di Den Haag, Belanda, pada 29 Juni 1940 untuk merayakan ulang tahun Pangeran Bernhard. Ini merupakan ulang tahun pertama anggota keluarga kerajaan sejak Belanda diduduki Nazi Jerman. Kedatangan penduduk Belanda tidak untuk menemui anggota kerajaan, karena istana sudah tidak lagi ditinggali oleh Ratu Wilhelmina, Pangeran Bernhard, dan Putri Juliana. Ketiganya telah diungsikan ke London, Inggris, ketika Jerman menginvasi Belanda pada Mei 1940. Oleh karena itu, meski tetap ramai seperti tahun-tahun sebelumnya, penduduk hanya menandatangani buku ucapan selamat yang telah disediakan di area istana. Sementara itu, kabar mengenai rencana demonstrasi besar-besaran untuk menentang pendudukan membuat Jerman memberlakukan sejumlah larangan menjelang peringatan ulang tahun Pangeran Bernhard. Arkeolog Gilly Carr mencatat dalam “Symbolic Resistance”, termuat di Protest, Defiance and Resistance in the Channel Islands, pada 25 Juni 1940, empat hari sebelum ulang tahun Pangeran Bernhard, Jerman melarang pemasangan bendera nasional atau bendera berwarna oranye di gedung-gedung publik. Berbagai ornamen dan atribut yang berkaitan dengan kerajaan juga tak diizinkan. Larangan itu membuat masyarakat Belanda mengenakan lambang kesetiaan nasional pada hari ulang tahun Pangeran Bernhard. Mereka mengenakan pita oranye atau lambang berwarna merah, putih, dan biru. Selain itu, penduduk Belanda mengenakan bunga anyelir putih kesukaan Pangeran Bernhard dalam acara-acara resminya. Sebagai bentuk perlawanan, penduduk Belanda yang datang ke istana meneriakkan dukungan untuk Ratu Wilhelmina dan Kerajaan Belanda. Sorak-sorai itu diiringi dengan slogan-slogan seperti “Usir orang-orang Jerman” dan “Usir Hitler”. Hari Anyelir Salah seorang yang datang ke istana adalah Jenderal Henri G. Winkelman, Panglima Tertinggi Belanda. Keikutsertaan Winkelman memberi makna mendalam bagi masyarakat. Sebab, pada 15 Mei 1940, Winkelman menandatangani perjanjian kapitulasi di dekat Rotterdam, dan dengan keberangkatan pemerintah Belanda ke London, sang jenderal menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di Belanda. Sementara itu, mereka tidak hanya menandatangani buku ucapan selamat, tetapi juga meletakkan bunga di patung berkuda Willem van Oranje di depan Istana Noordeinde. Ketika itu Menteri Propaganda Reich Joseph Goebbels tengah berada di Den Haag. Dari Istana Kneuterdijk, dia melihat massa yang bersemangat bergerak menuju Istana Noordeinde. Goebbels memerintahkan gerakan itu segera dihentikan. Kepala kepolisian Den Haag, N.G. van der Mey, yang khawatir aksi tersebut memicu tindakan balasan yang lebih keras dari Jerman, memutuskan menutup area sekitar istana sekitar pukul dua belas siang. Oleh karena itu, kerumunan menyebar ke seluruh kota. Penutupan Istana Noordeinde tidak langsung mengakhiri aksi perlawanan penduduk Belanda. Di tempat-tempat lain di Den Haag, beberapa orang terus melanjutkan aksinya. Mereka meletakkan karangan bunga di Plein 1813 dan monumen Ratu Emma di Jozef Israëlsplein. Di tempat lain, para pelajar dan pesepeda berkeliling sambil mengenakan hiasan berwarna oranye, membunyikan bel sepeda, dan meneriakkan slogan-slogan kecintaan mereka terhadap Kerajaan Belanda. Penduduk Belanda menyematkan bunga-bunga di lubang kancing atau kerah pakaian. Ketika tersiar kabar anggota Partai Nazi Belanda merobek bunga-bunga dan lambang-lambang yang disematkan di kerah dan lubang kancing, masyarakat menyisipkan potongan pisau cukur ke dalam anyelir sehingga jari-jari anggota Nazi terluka. Dengan demikian, alih-alih meredam perlawanan masyarakat Belanda, larangan yang diberlakukan Jerman justru memicu protes terbuka pertama yang dikenal sebagai Anjerdag atau Hari Anyelir. Perlawanan Simbolis Menurut Roger Hermiston dalam The Greatest Traitor: The Secret Lives of Agent George Blake, tindakan-tindakan kecil perlawanan telah menandai bulan-bulan awal pendudukan Jerman di Belanda. Perlawanan simbolis ini ditunjukkan melalui menanam bunga dengan warna-warna nasional, menamai bayi yang baru lahir sesuai nama anggota keluarga kerajaan yang masih hidup, serta mengenakan pin yang terbuat dari koin bergambar Ratu Wilhelmina. “Pada 29 Juni 1940, hari ulang tahun Pangeran Bernhard, masyarakat di seluruh negeri mengibarkan bendera nasional sebagai bentuk penentangan terhadap larangan Jerman. Mereka juga menghentikan pekerjaan dan turun ke jalan-jalan mengenakan anyelir di lubang kancing jas mereka,” tulis Hermiston. Tak pelak lagi, aksi masyarakat Belanda di Hari Anyelir memicu kemarahan Jerman. Tak lama setelah peringatan ulang tahun Pangeran Bernhard, Jenderal Winkelman ditangkap karena terlibat dalam aksi perlawanan itu. Sebagai tindak lanjut dari Hari Anyelir, Jerman menetapkan bahwa nama dan jabatan anggota keluarga kerajaan tidak boleh lagi disebutkan di radio atau surat kabar. Gerakan kepanduan yang membantu aksi perlawanan dinyatakan sebagai organisasi terlarang, dan menyanyikan lagu “Wilhelmus” menjadi tindakan yang dapat dihukum. Pada 1 Agustus 1940, Jerman melarang segala bentuk demonstrasi yang mendukung keluarga kerajaan Belanda. Bendera, lambang, atau benda apa pun yang berwarna oranye dilarang, termasuk bunga anyelir sebagai simbol kesetiaan kepada monarki Belanda. Carr menulis, karena ulang tahun ke-60 Ratu Wilhelmina jatuh pada 31 Agustus 1940, Jerman yang telah melihat apa yang terjadi pada ulang tahun Pangeran Bernhard, menyusun rencana dengan sigap dan matang, bahkan membuat aksi memamerkan sekuntum anyelir dapat dikaterogikan sebagai tindakan kriminal.*
- Persiapan KAA, Gubernur Jawa Barat Bersiap Total
SANOESI Hardjadinata, gubernur Jawa Barat (1951-1957), rupanya ingin menjadi tuan rumah yang baik dalam perhelatan KAA. Demi kesuksesan hajatan bangsa-bangsa Asia-Afrika itu, Sanusi membentuk tim panitia lokal pun yang diketuai dirinya sendiri. Tim panitia lokal itu beranggotakan 14 orang dari lingkungan pemerintahan provinsi Jawa Barat. Tugas tim panitia lokal KAA meliputi persiapan akomodasi, ruangan rapat, kendaraan, telekomunikasi, alat keperluan konferensi, hingga urusan konsumsi bagi para delegasi KAA. Ada 14 hotel, 15 tempat istirahat swasta, 8 gedung pemerintah dan 8 rumah milik Palang Merah Indonesia disediakan untuk menampung 1.300 peserta KAA.
- A.A. Maramis dari Pendudukan Jepang Hingga Menjadi Anggota BPUPK
MENJADI orang kulit putih atau memiliki anggota keluarga berkulit putih adalah nasib buruk pada masa pendudukan Jepang. Jepang mengambil sikap keras pada orang-orang Eropa ataupun yang telah bercampur dengan anak negeri. Orang Eropa dan Indo jadi pariah. Dipites seolah caplak. Diinjak serupa kecoa. Di Jakarta, Jepang menyita rumah-rumah orang Belanda di kawasan Cideng. Rumah-rumah itu jadi tempat tahanan bagi perempuan sipil, anak-anak perempuan, dan anak lelaki berusia di bawah 10 tahun dari berbagai bangsa Eropa. Laki-laki sipil dewasa dan berusia di bawah 10 tahun ditempatkan secara terpisah. Mereka semua disebut interniran. Ditahan di area pagar kawat berduri dua meteran. Penjara seperti ini tersebar di beberapa tempat di Jawa. Bahkan sampai ke luar Indonesia. Yang di luar Indonesia ditujukan untuk personil militer atau aparatur pemerintahan Belanda.
- Kisah Bolang Melawan Jepang
KETIKA balatentara Jepang mendarat pada awal 1942, serdadu KNIL Frederik Bolang alias Fred Bolang bertugas di kesatuan Batalyon Garnisun Kalimantan Barat. Waktu itu, KNIL tidak berdaya, sehingga Hindia Belanda dengan mudah diambil alih balatentara Jepang. Wilayah Kalimantan ditetapkan sebagai bagian dari Armada Selatan Kedua Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Kaigun). Bolang termasuk serdadu KNIL yang menjadi tawanan perang Jepang. Namanya tercatat dalam kartu tawanan perang Jepang koleksi Arsip Nasional Belanda. Di situ tertera F.M. Bolang lahir pada 10 November 1919 dan berasal dari Kampung Kawangkoan, Tonsea, Keresidenan Manado. Dia adalah anak dari N. Bolang dan K.A. Makatuuk. Bolang ditahan selama dua tahun di Pontianak, Kalimantan Barat, dan Kuching, Serawak, Malaysia. Dia lalu dipekerjakan sebagai Heiho (pembantu tentara) atau romusha (pekerja paksa) oleh militer Jepang. Dia dan beberapa kawannya berhasil melarikan diri.
- I Was There When Hiroshima Was Bombed
HIROSHIMA, 6 August 1945. That early morning, Hasan Rahaya with his three other colleagues were sitting in a lecture room. They could hear the siren signaling all clear, a sign that the U.S. aircraft had crossed the sky. The students were ready for their Physics class. The lecturer, an elderly man with a bald head, had just scribbled a few letters on the board when a blinding flash blasted the window. Hasan turned his head to the sudden intrusion. Without warning, his body darted off, smashed into the ceiling, and fell to the ground. The ceiling above him was the next to crumble, dropping a piano from the upper floor that hit Hasan’s head. Blood instantly gushed, and the shock knocked him unconscious. Fortunately, it was that same piano that shielded his life from the deadly wreckage. A few minutes later, Hasan woke up with excruciating pain weighing his head down. His skin was completely covered in ashes. He attempted to stand, clearing the debris around the piano and his body. It appeared that the surrounding buildings of Hiroshima University, his campus, had all shattered, leaving behind a mere part of the main building.
- Yang Tertinggal di Hiroshima
HIROSHIMA, 6 Agustus 1945. Pagi itu, Hasan Rahaya bersama tiga mahasiswa lainnya berada di ruang kuliah. Suara sirene tanda aman sudah terdengar; pertanda pesawat udara Amerika sudah melintas. Mereka siap mengikuti pelajaran fisika. Dosen mereka, seorang tua berkepala plontos, baru mulai menulis beberapa huruf di papan tulis ketika cahaya seperti kilat menyambar dari arah jendela. Hasan menoleh ke jendela. Tiba-tiba tubuhnya terpelanting, menghantam langit-langit, lalu jatuh ke lantai. Menyusul kemudian langit-langit ambrol. Sebuah piano terjatuh dari lantai atas mengenai kepalanya. Darah mengucur. Dia pingsan. Tapi berkat piano itu pula dia terlindung dari reruntuhan. Beberapa menit kemudian, Hasan siuman. Kepalanya sakit luar biasa. Kulitnya tertutup debu. Dia mencoba bangkit, menyingkirkan puing-puing bangunan dari sekitar piano dan tubuhnya. Dia melihat bangunan Universitas Hiroshima, kampusnya, luluh lantak. Hanya tersisa sedikit bangunan utama.
- Kasus Pencurian Uang yang Menggegerkan Hindia Belanda
PADA September 1913, publik Hindia Belanda, khususnya Batavia, dihebohkan dengan kabar penangkapan A.M. Sonneveld di Hong Kong. Kepala kasir perusahaan Escompto Batavia ini membawa kabur uang kas perusahaan senilai ribuan gulden. Kabar penangkapan Sonneveld dan istri ramai diberitakan surat kabar di Hindia Belanda. Koran Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, 11 September 1913 memberitakan, manajemen Nederlandsch Indie Escompto Maatschappij menerima kabar Sonneveld ditangkap di Hong Kong. Abdul Hakim dalam Jakarta Tempo Doeloe menyebut kasus pencurian uang perusahaan yang menyeret Sonneveld menghebohkan masyarakat golongan elite di Hindia Belanda karena pria itu memiliki latar belakang yang mentereng. Sebelum menjabat kepala kasir Escompto Batavia, Sonneveld merupakan mantan anggota KNIL dengan pangkat terakhir sersan mayor. “Ia di-onslag (diberhentikan) kata orang dulu,” tulis Abdul Hakim.
- Dibuang Gara-gara Menagih Utang
PERSOALAN utang piutang kerap memicu perselisihan. Akibatnya bahkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kekerasan, pembunuhan hingga pembuangan, seperti dialami Kapitan Melayu Wandoellah. Ia dibuang ke Ceylon (kini Sri Lanka) karena berani menagih utang kepada Diederik Durven, yang kemudian menjabat Gubernur Jenderal Hindia Belanda (berkuasa 1729–1732). Arsiparis-cum-sejarawan Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia menyebut Wandoellah merupakan putra seorang Kapitan Melayu bernama Wan Abdul Bagus yang berperan dalam mendirikan Kampung Melayu di wilayah Meester Cornelis (kini Jatinegara). Wandoellah menggantikan posisi ayahnya menjadi Kapitan Melayu selama 16 tahun sejak 1716 hingga dipecat oleh Gubernur Jenderal Durven. Menurut ahli sejarah Jakarta, Adolf Heuken SJ dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, di zaman kolonial Belanda, Kapitan Melayu merupakan tokoh yang berpengaruh di dalam masyarakat. Selain menjadi perantara bagi pihak pemerintah kolonial dengan penguasa pribumi, Kapitan Melayu juga bertindak sebagai ceremonie-meester atau kepala protokol.
- Perjuangan Untung Membela RI
SETELAH tentara Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II, Batalyon Sudigdo di Wonogiri, Jawa Tengah, menjadi sibuk. Terutama setelah Tentara Belanda memasuki Baturetno. Para komandan pasukan yang berada di bawah komando Mayor Sudigdo pun bersiap, termasuk Kusman alias Untung Sjamsoeri. Mereka berbagi tugas. Pasukan Djumali akan bergerak dari arah utara, pasukan Wisnu dari barat, pasukan Prayitno dari selatan, dan pasukan Kusman dan Samijo dari arah timur. Pada hari penyerbuan itu, pasukan Untung berada di daerah Batuwarna. Segala persiapan pertempuran sudah mereka lakukan. Dari pukul 10 pagi dia berjalan ke arah kota. Sekitar pukul 12 siang, pasukan Untung mendengar suara tembakan. Dengan segera pasukan Untung mengambil posisi untuk menghadang tentara Belanda yang sudah mengetahui rencana pasukan republik itu.
- Aneka Kuliner Favorit Diktator Korea Utara
ADA yang berbeda dari penampakan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, saat memimpin rapat Partai Buruh di Pyongyang, 15 Juni 2021 lalu. Setelah lama tak muncul di muka publik, diktator berusia 37 tahun itu tampil dengan tubuh dan pipinya tak segembul satu atau dua tahun silam. Sejumlah pengamat politik dunia pun mengumbar spekulasi mengomentarinya. Ada yang mengatakan Kim Jong-un ingin bertenggang rasa terhadap rakyatnya yang sedang mengalami krisis pangan. Pendapat lain mengatakan, penampilan Jong-un disebabkan diet untuk tujuan kesehatan. Seperti ayahnya, Kim Jong-il, dan kakeknya, Kim Il-sung, Jong-un punya masalah obesitas karena selera makannya besar hingga memicu penyakit jantung sebagaimana dialami ayah dan kakeknya. Isu penyakit jantung yang dialaminya sudah merebak sejak tahun lalu ketika Jong-un tak hadir dalam milad kakeknya. Hong Min, analis senior Korea Institute for National Unification, meyakini bahwa setahun terakhir ini Jong-un menjalani diet ketat agar menghindari potensi serangan jantung akibat obesitas dan tak menampakkan gejala sakit di hadapan publik.
- Akhir Tragis Pembelot Korea Utara (I)
“APAKAH Tuan sudah tahu, tahanan baru yang menempati salah satu sel di blok Tuan berasal dari Korea Utara. Konon kabarnya ia memiliki hubungan dengan Kim Jong-il,” kata seorang penjaga Pusat Penahanan Seoul kepada Hwang Sok-yong, seorang aktivis dan veteran Perang Vietnam, yang pada 1993 dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara karena melakukan perjalanan pertukaran budaya tanpa izin ke Korea Utara. Kabar itu diketahui Hwang Sok-yong sekitar Juni 1994, ketika media Korea Selatan gencar melaporkan pembicaraan prospektif mantan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter dengan pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Il-sung terkait pengembangan senjata nuklir Korea Utara. Meski tak terlalu tertarik dengan informasi yang diberikan penjaga pusat penahanan, Hwang Sok-yong akhirnya bertanya pula tentang orang baru di blok tahanannya itu. “Saya bertanya apakah tahanan baru itu juga telah melanggar Undang-Undang Keamanan Nasional seperti dirinya, dan sang penjaga menjawab bahwa si wajah baru adalah seorang plate,” tulis Hwang Sok-yong dalam memoarnya, The Prisoner: A Memoir.




















