Hasil pencarian
9794 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Arsitek Kesultanan Banten
DUA pucuk surat tulisan tangan Kyai Ngabehi Cakradana tersimpan di Kopenhagen. Di muka amplop salah satunya bertahun 1671-1672, ditambahkan catatan dalam bahasa Denmark: "Cinabij Sabandorz hos sultanen til Bandtam" artinya "syahbandar kota Pecinan untuk sultan Banten." Dari kata-kata itu diketahui bahwa Cakradana adalah syahbandar kerajaan sekaligus pemimpin masyarakat Tionghoa. Ternyata tak hanya itu. Dia juga dikenal sebagai arsitek permukiman dan pertahanan Banten. Tak diketahui pasti tempat dan tanggal lahir Cakradana, tapi kemungkinan dia lahir sebelum tahun 1630. Dia keturunan Tionghoa dan menyandang nama Tantseko. Mengawali karier sebagai pandai besi, dia kemudian diangkat menjadi syahbandar dan kepala bea cukai di bawah syahbandar utama, Kaytsu. Diduga, kedudukan sosial Cakradana naik berkat Kaytsu. Cakradana menggantikan Kaytsu, yang wafat pada 1674, sebagai syahbandar utama pada 23 Februari 1677 dengan gelar Kyai Ngabehi Cakradana. Dia meninggalkan agama lamanya dan memeluk Islam. Sebuah sumber Inggris tahun 1666 menyebut Cakradana "orang yang paling disukai sultan." Pedagang Prancis di Banten, Jean-Baptiste de Guilhen, tak ragu menulis: "Jelas bahwa dia adalah anak emas raja."
- Hukuman Kejam dari Sultan
PADA 28 September 1571, kegaduhan terjadi di Kesultanan Aceh. Sultan Alau’ddin Ri’ayat Syah al-Kahar, yang berkuasa sejak 1539, baru saja wafat. Sultan ini sangat dihormati rakyatnya karena berhasil melindungi Aceh dari serangan Portugis dan menyusun Undang-Undang Dasar Negara, Dustur Negara. Sepeninggalnya, tahta sultan dijabat oleh putranya, Ali Ri’ayat Syah. Pada masanya, timbul benih-benih perpecahan di kalangan keluarga kesultanan. Puncaknya terjadi setelah sultan ini wafat pada 1579. Konflik berdarah pun tak terhindarkan. Ini membawa Aceh ke dalam situasi tanpa hukum. Beberapa sultan kemudian mencoba mengembalikan hukum. Sepanjang 1579, Aceh mengalami tiga kali pergantian sultan. Seorang anak berumur empat tahun, putra Ali Ri’ayat Syah, sempat memimpin Aceh meski tak lama. Dia terbunuh akibat konflik perebutan tahta. Penggantinya adalah Raja Seri Alam, putra Alau’ddin Ri’ayat Syah al-Kahar sekaligus adik Ali Ri’ayat Syah. Dia datang ke Aceh dari Pariaman (Sumatra Barat) menuntut penobatan dirinya sebagai sultan. Tuntutannya dipenuhi, tapi hanya bertakhta dua bulan. Kekejaman dan perangainya yang jahat memicu pemberontakan rakyat yang digalang sebagian keluarga kesultanan. Dia tewas. Sultan penggantinya, Zainal ‘Abidin, memiliki riwayat yang sama: kejam dan kemudian tewas di tangan rakyat.
- Mula Indonesia Mengutang pada IMF
BRETTON Woods, desa kecil di lereng Mount Washington, negara bagian New Hampshire, Amerika Serikat, menjadi destinasi turis yang ingin menikmati keindahan alam. Desa ini bersejarah karena menjadi tempat konferensi keuangan internasional pada 22 Juli 1944. Konferensi yang dihelat Perserikatan Bangsa-Bangsa ini dihadiri perwakilan dari 45 negara. Tujuan konferensi untuk memulihkan ekonomi dunia pascaperang dan menyepakati hal-hal yang dapat mengurangi mengurangi kebijakan perdagangan, pembayaran, dan nilai tukar, yang berdampak menghambat perdagangan. Konferensi menyepakati berdirinya dua lembaga internasional: IMF (International Monetary Fund atau Dana Moneter Internasional) dan IBRD (International Bank for Reconstruction and Development atau Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan) bagian dari World Bank Group. Pada akhir 1945, 35 negara yang dianggap founding fathers, menandatangani anggaran dasar IMF. Setelah melalui persiapan, termasuk ratifikasi di DPR/Kongres masing-masing negara anggota, akhirnya IMF dinyatakan berdiri dan beroperasi pada 1 Maret 1947.
- Menyapu Dien Bien Phu
JENDERAL Vo Nguyen Giap begitu bersemangat. Di persinggahan tepi Sungai Da, dia merasakan kondisi moril para prajuritnya, dan juga rakyat, amat tinggi. Meski harus menempuh medan berat dan perjalanan masih jauh, dia tak mendengar sedikit pun keluhan. Mereka semua bulat tekad berperang untuk mengusir imperialis Prancis. Kejadian yang berlangsung sekitar Oktober 1953 itu meninggalkan kesan mendalam dalam benak Giap. Dia menuliskannya dalam memoar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Letjen TNI (Purn.) M. Munir dan diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2017. Dien Bien Phu, yang dikelilingi lembah dan perbukitan, adalah tujuan mereka. Ia merupakan tempat paling strategis di Indochina barat-laut, memiliki akses menuju Laos di barat dan Tiongkok di utara. Di sana pulalah Prancis membangun basis pertahanannya.
- Tan Malaka Tak Pernah Menguap Ketika Ngobrol
DI INDONESIA, nama Tan Malaka masih di-blacklist bahkan hingga kini, 71 tahun setelah wafatnya. Penyitaan salah satu buku karyanya, Merdeka 100 Persen, dari tangan mahasiswa usai berdemonstrasi di Banten beberapa waktu lalu merupakan buktinya. Nama Tan justru dihormati di Belanda, negeri yang kolonialismenya dia lawan sejak muda hingga akhir hayatnya. Nama Tan digunakan untuk menamakan sebuah jalan di Amsterdam. “Tahun yang lalu di Amsterdam ada rumah-rumah yang baru dan nama-nama jalan yang baru. Dan di sana sudah disebut Tan Malaka, seperti nama jalan. Ini istimewa dan ini lebih cepat daripada di Indonesia,” kata sejarawan Harry A. Poeze, yang 40 tahun lebih meneliti Tan, dalam Dialog Sejarah bertajuk “Indonesia Dalam Mimpi Tan Malaka” di kanal Youtube Historia, Jumat, 16 Oktober 2020.
- Julisa Rastafari dari Manila ke Manila
SORE itu, 5 September 2019, di salah satu bidang lapangan basket Gelora Bung Karno. Seolah tak mau kalah dari keriuhan sekitar arena yang dikeluarkan suporter timnas Indonesia jelang pertandingan Indonesia kontra Malaysia, Julisa Rastafari acap mengeluarkan suara lantangnya. Urat di tenggorokannya berulangkali menegang kala ia memberi instruksi lewat teriakan. Maklum, arahannya harus terdengar para anak asuhnya. Gaya melatih Julisa memang keras. Seringkali omelan dengan kata-kata kasar keluar dari mulutnya. Sesekali tangannya tampak “gatal” seperti ingin menampar. Namun, semua itu cair ketika anak-anak asuhnya bisa mempraktikkan arahannya dengan benar, yang diikuti tos atau sekadar acungan jempol. Pun begitu, tak sekali pun terlihat orangtua anak-anak didiknya naik pitam atas gayanya melatih pasukan putri U-14 Indonesia Muda (IM). Sebaliknya, laku-laku Julisa justru beberapakali mengundang tawa kecil beberapa aparat keamanan di pinggir lapangan.
- Arief Amin Dua Kali Turun Pangkat
PERANG Dunia II membuat banyak pemuda jadi tentara. Kondisi “abnormal” akibat perang itu menghentikan banyak roda kehidupan dan menyisakan hanya sedikit pilihan. Tentara adalah hal paling mungkin dimasuki. Itulah jalan kehidupan yang dipilih pemuda kelahiran Padang, 27 Mei 1925 bernama Arief Amin. Waktu zaman pendudukan Jepang, Arief menjadi bintara dalam tentara sukarela bentukan Jepang di Sumatra yang disebut Gyugun. Dari periode singkat pendudukan Jepang itu, dia pernah menjadi wakil komandan seksi Gyugun di Gadut, Bukittinggi. Sewaktu revolusi kemerdekaan Indonesia pecah, Arief ikut terjun dengan terus menjadi tentara. Arief memulainya dari Badan Keamanan Rakyat (BKR) hingga berubah jadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan terakhir Tentara Nasional Indonesia (TNI). Di sinilah dia mulai menjadi perwira, dengan pangkat awal Letnan Dua. Mula-mula di Kompi II, Batalyon I, Resimen III, sebagai komandan seksi II.
- Curhat Soe Hok Gie Kepada Arief Budiman
TAK banyak orang tahu, sejak remaja Soe Hok Gie sempat tak pernah akur dengan Soe Hok Djin, sang kakak yang kemudian merubah namanya menjadi Arief Budiman. Menurut Arief, situasi itu terjadi cukup lama: hampir 10 tahun. Gegaranya hanya soal-soal sepele saja. “Terkait soal-soal remaja-lah, misalnya saya kesal Hok Gie kadang malas mengurus piaran-piarannya yang sebenarnya itu adalah kewajibannya,” ungkap Arief kepada Rudy Badil (sahabat Soe Hok Gie) pada suatu hari. Namun seiring waktu, permusuhan itu mulai mencair ketika mereka berdua sama-sama kuliah di UI. Bahkan tiga tahun menjelang kematian Soe Hok Gie pada 16 Desember 1969 di Puncak Mahameru, bisa dikatakan hubungan Soe Hok Gie dan Arief terbilang sangat akrab.
- Hamid Arief, Aktor Film Lintas Genre
REZA Rahadian mungkin saja satu dari segelintir aktor yang mampu berperan dalam berbagai genre film. Sementara dunia film Indonesia lawas punya nama besar Abdul Hamid Arief, yang bermain baik dalam film-film bergenre drama, aksi, maupun komedi. Hamid Arief dilahirkan di Jakarta, 25 November 1924. Menurut Wim Umboh dalam majalah Aneka edisi 1 November 1952, studi Hamid harus berhenti di tengah jalan saat masih duduk di bangku MULO―Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah lanjutan setingkat SMP. Sebab, waktu itu Jepang keburu mengambil alih kekuasaan atas Indonesia pada 1942. Di masa Jepang, Hamid terjun di bidang kesenian. Menurut majalah Siasat edisi 26 Juni 1949, Hamid ikut dalam rombongan sandiwara Bintang Surabaya, sebuah perkumpulan sandiwara besar yang dibentuk pengusaha bioskop era kolonial, Fred Young.
- Antara Sukarni dan Sukarno
SUKARNI Kartodiwirjo bersama Adam Malik, Chaerul Saleh, dan Wikana menculik Sukarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok sehari sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Peran istrinya, Nursjiar Machmoed, tak bisa diabaikan begitu saja. “Di rumah ada dua anak. Bapak berani bilang saya begini, saya begitu itu karena di rumah ada mama. Kalau mama nggak ada, dengan anak dua, apa berani Bapak? Nggak berani,” kata Emalia Iragiliati Sukarni, putri Sukarni, dalam peluncuran bukunya, Sukarni dan Actie Rengasdengklok, di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta (20/4/2013). Namun, Emalia mengatakan dia tak pernah mendengar cerita soal pekerjaan ataupun kiprah ayahnya. Dia pernah bertanya, semisal, kenapa ayahnya dipenjara Sukarno tapi dia tak mendapat jawaban memuaskan. Ayahnya selalu menjawab singkat dan menutup kesempatan untuk bertanya lagi. Di sisi lain, orangtuanya menjadikan rumah steril dari urusan politik.
- Bertemu Gadis Kala Menyamar, Sukarni Lari
DI TENGAH kesibukannya mempersiapkan Kongres Indonesia Muda (IM) VI di Surabaya, Desember 1936, Roeslan Abdulgani dikagetkan oleh kunjungan seorang pemuda. Roeslan, pejabat Ketua Pengurus Besar IM yang dipilih untuk menggantikan Ketua Sukarni yang menghilang setelah digerebek oleh PID pada 19 Juni 1936, tak menyangka pemuda yang mendatanginya itu adalah Sukarni yang selama ini dicari-cari. “Dia datang naik perahu dan berpakaian hitam-hitam ala orang Madura. Perahunya berhenti malam-malam di pinggir Sungai Kalimas, sekitar daerah Kampung Plampitan, dekat rumah saya,” kata Roeslan dalam testimoni “Pejuang Kemerdekaan yang Merakyat” yang termuat di buku Sukarni Dalam Kenangan Teman-Temannya suntingan Sumono Mustoffa. Oleh Roeslan dan kawan-kawannya, Sukarni pun langsung disembunyikan. Sukarni, yang sudah kehilangan jabatan di IM, dalam kunjungan rahasia itu hanya ingin memesankan kepada rekan-rekannya agar IM tetap berjiwa radikal-revolusioner meski situasi yang dibuat pemerintah kolonial sudah amat membahayakan gerakan nasionalisme.
- Ketika Sukarni Berkerudung
PADA 1952, Sukarni selaku ketua Partai Murba mengajak Husein Yusuf, jurnalis Suara FONI yang pernah menjabat sebgai Ketua Umum Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Kalimantan Timur, ke Balikpapan untuk napak tilas. Sukarni akan menemui teman-teman lamanya ketika bekerja di Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Lebih-kurang tiga tahun Sukarni tinggal di Kalimantan, tempat dia berkenalan dengan Yusuf. Selama di Kalimantan, ia pindah-pindah tempat untuk menghindari endusan dan penangkapan aparat PID. Aktivitas politiknya di Indonesia Muda (IM) dan Parindra yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dianggap pemerintah kolonial amat meresahkan. Akibat aktivitas politiknya itu, kata Sukarni kepada Yusuf, dia dijadikan target penangkapan. “Dari informasi yang didapatnya Belanda telah siap untuk menangkapnya, dan akan mengasingkannya ke Boven Digul di Nieuw Guinea (sekarang Irian Jaya),” kata Yusuf dalam testimoninya, “Maidi di Kalimantan”, yang terhimpun di buku Sukarni dalam Kenangan Teman-Temannya.





















