Hasil pencarian
9683 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Cerita di Balik Nama Kurma
DI bulan Ramadan, kurma bukan sekadar buah yang dikonsumsi untuk berbuka puasa, tetapi juga menjadi ikon untuk menyambut bulan suci yang penuh berkah. Di luar manfaatnya yang banyak, kurma juga memiliki cerita panjang terkait sejarah budidaya buah manis kaya nutrisi ini. Bahkan, dari namanya pun terselip cerita menarik yang menggambarkan bagaimana buah tersebut membentuk sejarah peradaban dunia. Berbeda dengan Indonesia yang mengenal buah manis ini dengan sebutan kurma, dalam bahasa Inggris kurma dikenal dengan nama dates . Sejarawan kuliner Nawal Nasrallah mencatat dalam Dates: A Global History , di masa lalu pohon kurma disebut dengan nama dactylifera yang merupakan gabungan dari kata dactylus (kurma) –dalam bahasa Yunani, dactylos – dan fero (menghasilkan). “Secara harfiah, kata Yunani dactylus berarti ‘jari’, dan nama tersebut diterapkan pada buah kurma yang berbentuk lonjong... Dalam Book of Dreams Artemidorus , seorang pria yang menderita penyakit di perutnya berdoa kepada dewa untuk disembuhkan. Dalam mimpinya, ia melihat dirinya berada di kuil dewa penyembuhan. Dewa itu memegang jari-jari tangan kanan pria itu dan meminta dia untuk memakannya. Begitu pria itu bangun, ia memakan lima kurma, dan sembuh. Artemidorus menjelaskan bahwa pohon kurma disebut jari,” tulis Nasrallah. Beberapa ahli berpandangan bahwa dactylus berkaitan dengan kata Ibrani dan Arab, deqel/dekel , yang berasal dari akar kata Semit, d-q-l. Kata Aramaik, diqla berarti “pohon kurma” dan “batang kurma”, sedangkan kata Suryani, deql adalah “pohon kurma”. “Kesamaan ini terlalu dekat untuk dianggap kebetulan. Saya juga menemukan hal yang menarik bahwa Tigris (nama Yunani untuk sungai di Mesopotamia) disebut Deqlat dalam bahasa Suryani. Dalam bahasa Akkadia, namanya adalah Idiqlat/Idiglat (Sumerian, Idekelet ), dalam bahasa Ibrani disebut Hiddekel , dan dalam bahasa Arab, Diya . Sangat mungkin bahwa ‘Tigris’ awalnya berarti ‘sungai pohon kurma’,” tambah Nasrallah. Bahasa-bahasa Eropa mengadopsi kata Yunani, dactylifera , seperti dattero dalam bahasa Italia, datte dalam bahasa Prancis, datil dalam bahasa Spanyol, dan date dalam bahasa Inggris. Namun, dalam bahasa Portugis, kata yang dipilih untuk pohon kurma adalah tamar/tamr dari bahasa Ibrani dan Arab. Besar kemungkinan ini berasal dari kata Akkadia, damu (darah), yang menggambarkan kurma matang yang berwarna merah kecoklatan. Terkait dengan tamr dan tamaris , ada kata tamur . Kamus Arab abad pertengahan menjelaskan, kata ini merujuk pada “hati” dan segala hal yang berhubungan dengannya, termasuk darah dan kemerahan. Kata ini juga melambangkan kebaikan dan segala hal yang tegak dan kokoh. Kedua makna ini sangat cocok untuk pohon kurma. Sementara itu, dalam bahasa Yunani kuno dan Latin, nama palma diterapkan pada pohon kurma yang dapat dimakan dan kerabatnya, pohon kurma kerdil hias, yang tumbuh di Eropa selatan kuno. Selain sejarah nama kurma, budidaya buah manis ini juga memiliki cerita panjang. Dalam artikel “Why are Dates Such an Important Fruit for Different Cultures?” yang dimuat di BBC , September 2024, kurma diyakini sebagai salah satu buah pertama yang dibudidayakan dalam sejarah. Hal ini didasarkan pada hasil penggalian arkeologi di Afrika Utara dan Teluk Arab, di mana buah ini telah menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari selama ribuan tahun. Pohon kurma juga muncul dalam sebuah lukisan batu di Arab Saudi. Lukisan tersebut menggambarkan sosok figur manusia kecil yang memanjat ke atas dan memeriksa buah kurma. Mengacu pada hal itu, dapat diperkirakan tanaman kurma sudah dibudidayakan sejak zaman Akkadia dan Sumeria, setidaknya 5.000 atau 6.000 tahun yang lalu.*
- The Telenovela Craze in Indonesia
There was a time when Latin American original soundtracks were very popular in Indonesia. The lyrics were familiar to many, even to school children. The generation of that era surely still remembers the intro and excerpts from these songs. Marimar... Aww! Costeñita soy. (Marimar... Aww! I am a beach girl). Or, Ay, amor, ay, amor, aquí está tu Rosalinda/ Rosalinda ay amor... ay amor ! (Oh love, oh love, here is your Rosalinda/ Rosalinda oh love... oh love!) Marimar and Rosalinda are two telenovela series starring Mexican actress and singer Thalia Sodi Miranda. Both telenovelas were produced by Televisa, a Mexican telenovela production house. Marimar aired in 1994, while Rosalinda aired in 1999. Thalia first starred in the series Maria Mercedes , also produced by Televisa, which aired in 1992. When Maria Mercedes , Marimar , and Rosalinda aired in Indonesia in the mid-1990s, Thalia's charm captivated Indonesian audiences.
- Menculik Pacar Westerling
ORANG-orang Medan pada masa revolusi kemerdekan mengenang sosok Raymond Westerling sebagai seorang algojo, tukang jagal berdarah dingin. Dia selalu bergerak saat malam. Hanya disertai dua atau tiga orang pengawal, Westerling memburu satu persatu pejuang republik. Setelah dieksekusi, mayat mereka dipertontonkan kepada khalayak. Begitulah Westerling menebar teror semasa bertugas di Medan. “Saya teringat pula akan kisah seorang algojo tentara Belanda bernama Westerling, yang di sekitar Medan melakukan teror pembunuhan,” tutur sastrawan Sitor Situmorang dalam otobiografinya Sitor Situmorang: Seorang Sastrawan 45 Penyair Danau Toba . Sitor mengawali kariernya sebagai jurnalis harian Waspada di Kota Medan.
- Westerling On the Road to Massacre
FIVE parachutists jumped from an Allied plane and landed on the airfield of Medan. There, several Japanese had been waiting for them to make sure the guests didn't possess any arms. The five parachutists were then followed by the dispatch of several containers, half of which contained weapons while the rest had logistics inside. However, one of the parachutes failed to open. The commander's eyes were fixed on the sky as he anxiously hoped that the troubled container wouldn’t cause any problem with the Japanese. Soon afterwards, the container crashed into the ground. "At the shock of landing, the container broke. There was an explosion of cigarettes. I breathed again," said the commander in his memoir, Challenge to Terror . That commander was Raymond Westerling. He wasn't yet a captain in the squad, but an English officer, whose rank was a captain, was only a second-in-command. "Because of my special training and my nationality, in practice I was chief of the team," said Westerling.
- Sebelum Westerling Beraksi di Indonesia
PANGKAT berbentuk dua garis mirip huruf “V” itu sudah tersemat di lengan Kopral Raymond Westerling. Pun dengan emblem singa bertuliskan Nederland dan satu insignia hitam kecil bertuliskan “No. 10 Commando” berwarna merah darah sebagai penanda prajurit muda itu sudah menjadi manusia “berbeda” kala tiba di kota Porthmadog, Wales, medio Juli 1942. Westerling sudah tak lagi sekadar prajurit asing dengan tugas-tugas rendahan. Darahnya masih mendidih akibat latihan khusus di Depot Komando Achnacarry, Skotlandia (Maret-Juni 1942) yang beberapakali nyaris menamatkan nyawanya. “Lolos dari maut selusin kali selama latihan, saya meninggalkan Achnacarry dengan kondisi fisik yang tangguh, keras, dan gelisah untuk berjibaku dengan musuh. Mungkin fisik saya terlalu bagus. Hampir setiap kali dalam latihan, saya tak pernah tidak antusias untuk beraksi,” kenang Westerling dalam memoarnya, Challenge to Terror .
- Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam
HAMPIR saja putra seorang guru itu menjadi seorang guru juga ketika muda. Jan Gerrit Scheurer, si putra guru tadi, sudah beberapa bulan menjadi mahasiswa calon guru. Namun ketertarikannya dalam dunia penyebaran agama Kristen (misionaris) membelokkan langkah hidupnya. Gereja Reformasi Utrecht dan Nederlandsch Gereformatie Zendingvereniging (Asosiasi Misionaris Reformasi Belanda) kemudian mengarahkannya belajar kedokteran dan diikutinya. Sedari 1888 hingga 1892, Scheurer pun sekolah kedokteran di London. Namun pendidikan kedokteran yang dijalaninya tidak untuk bertugas di Eropa, melainkan di tempat yang jauh sekali dari tempat tinggalnya. Bugitu lulus, pada 1893 Scheurer dikirim ke Surakarta. Pria kelahiran desa kecil Gelselaar pada 3 Maret 1864 itu dikirim bersama istrinya yang sudah belajar ilmu keperawatan pula. Namun Scheurer hanya sebentar di Surakarta karena pekerjaan misionaris dikurangi di sana. Dia lalu pindah ke Yogyakarta. Pada 1899, dia ikut mendirikan sebuah rumahsakit (RS) di bilangan Kotabaru, Yogyakarta. Koran De Standard edisi 20 Juni 1928 memberitakan, rumahsakit itu diresmikan pada Hari Buruh 1 Mei 1900 dengan nama Petronella Hospitaal (Rumahsakit Petronella). Nama Petronella dipilih untuk menghormati istri pertama donatur rumahsakit itu: Pendeta van Coeverden Adriani. Kiprah dr. Scheurer membuat namanya menjadi terkenal di Yogyakarta dalam hitungan tahun. Karena sering membantu orang yang sedang sakit, dia pun dijuluki dan ditulis sebagai Dokter Toeloeng atau Dokter Pitoeloengan. Humanisme menjadi “pegangan” dokter Scheurer dalam menjalani profesinya. Maka diirinya tak menolong orang hanya berdasarkan tanda salib saja alias tidak hanya menolong orang Kristen semata. Orang Islam dan penganut agama lain yang tersebar di Yogyakarta pun bila sakit ditolonginya. “Saya pernah mendengar Muslim yang taat berbicara dengan sangat baik tentang orang Kristen yang mulia itu mengklaim bahwa, meskipun tanpa disadari, dia sebenarnya seorang Islamis,” catat Clockener Brousson, pensiunan letnan KNIL yang tinggal di Yogyakarta, seperti diberitakan Winschoter Courant edisi 21 Agustus 1905. Bagi sebagian muslim Jawa yang bijak, orang yang suka menolong apapun agamanya kerap dianggap Islam dalam bersikap. Laku Islami kalau kata orang kekinian. Kebaikan misionaris-misionaris Kristen kepada penduduk Yogyakarta membuat Sultan Hamengkubuwono VII selaku penguasa Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat memperbolehkan para misionaris tinggal di Yogyakarta dengan menyewa lahan dalam jangka panjang pada awal abad ke-20 itu. RS Petronella, dengan halaman luas membentang di bagian depannya, menjadi satu dari sekian tempat misionaris bekerja di Yogyakarta. Ketika itu, rumahsakit tersebut baru punya lima bangsal paviliun memanjang, masing-masing untuk 20 pasien. Tiga bangsal untuk lelaki dan dua untuk perempuan. Pada tiap bangsal, ada ruang untuk petugas jaga. RS Petronella juga punya ruang apotek dan laboratorium. Selain dr Scheurer, rumahsakit tersebut punya perawat-perawat terlatih dari Eropa pula. Menurut Clockener Brousson, pelayanan di rumahsakit tersebut masih terhitung gratis. Pada 1906, dr. Scheurer kembali ke Eropa. Di sana dia mendalami ilmu kedokteran di Groningen. Meski tanpa dr. Scheurer, RS Petronella terus berjalan. Pun hingga setelah dr. Scheurer tutup usia pada 20 Juni 1928. Dokter Scheurer dianggap mirip dengan dokter Albert Schweitzer (1875–1965) yang menolong rakyat Afrika. Keduanya sama-sama misionaris yang berjuang lewat jalur kesehatan. Kendati penguasa di Jawa terus berganti, RS Petronella tetap bertahan, bahkan hingga sekarang. Peran penting dimainkan rumahsakit tersebut menjelang pecahnya Perang Asia Timur Raya, di mana pemerintah Hindia Belanda mempersiapkan banyak hal terkait medis, termasuk mencetak tenaga-tenaga medis. “Pendidikan juru rawat diperbanyak. Tugas semacam ini diserahkan kepada Petronella Hospital, sedangkan biayanya ditanggung oleh pemerintah,” tulis Ryadi Goenawan dan Darto Harnoko dalam Sejarah Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta: Mobilitas Sosial DI Yogyakarta . Setelah perang pecah, RS Petronella teramat sibuk. Tak hanya merawat dan menyembuhkan pasien yang membludak, rumahsakit tersebut juga mengkoordinir dua rumahsakit darurat di Pingit. Di zaman pendudukan Jepang (1942-1945) yang singkat, RS Petronella bekerja di bawah aturan Jepang dan diganti namanya. Sementara, RS Pingit beserta seluruh perlengkapannya diambil alih pemerintah pendudukan Jepang. “Semenjak datangnya beberapa dokter dan dua perawat wanita ke rumah sakit ini praktis rumah sakit telah dikuasai pemerintah pendudukan. Digantilah nama Petronella Hospital menjadi Jogjakarta Tjuo Bjoin. Berakhirlah azas dan nama Petronella Hospital,” sambung Ryadi Goenawan dan Darto Harnoko. Usai perang, dilakukan upaya pengembalian ke kondisi pra-perang. RS Petronella kembali beroperasi. Statusnya bahkan dijadikan RS Pusat. Kendati terkendala pendanaan setelah pendudukan kembali oleh tentara Belanda, RS Petronella tetap berjalan dengan sokongan dana pribadi Sultan Hamengku Buwono IX. Setelah 1 Februari 1950, RS Petronella menjadi bagian dari Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (Yakkum) dan mulai dikenal sebagai Rumah Sakit Bathesda hingga sekarang. “Rumah sakit pusat harus kembali menjadi rumah sakit Kristen. Akhirnya dalam rapat 28 Juni 1950 diputuskan agar masyarakat umum mengetahui bahwa rumah sakit pusat itu rumah sakit Kristen, dan namanya diganti menjadi Rumah Sakit Bethesda. Sejak saat itu kepengurusannya diserahkan kepada swasta,” tulis Ryadi Goenawan dan Darto Harnoko.
- Kisah Taruna Sim, Nas, dan Alex
NEGERI Belanda luluh lantak ketika Jerman mendudukinya pada 1940. Begitulah Angkatan Perang Kerajaan Belanda hancur lebur tanpa perlawanan dalam Perang Dunia II. Imbasnya sampai ke wilayah jajahan, Hindia Belanda. Pemerintah kolonial kekurangan opsir untuk menata pasukan tentara kerajaan Hindia Belanda (KNIL). Demi memenuhi kebutuhan itu, pemerintah kolonial membuka Akademi Militer Belanda (KMA) di Bandung. Baik orang-orang Belanda maupun pribumi diterima masuk KMA untuk mengenyam pendidikan perwira. Bermodal ijazah AMS (setara SMA), pemuda Tahi Bonar Simatupang mendaftar ke KMA. Keputusan Simatupang mengikuti seleksi KMA sebenarnya perjudian besar. Dia nekat mengubur cita-citanya melanjutkan studi ke sekolah tinggi kedokteran. Lagipula, postur tubuhnya yang kecil agak kurang cocok menjadi tentara. Di benak Simatupang kala itu hanya ingin membuktikan ketidakbenaran sebuah mitos. Ada anggapan umum saat itu bahwa kaum pribumi seperti dirinya tidak layak menjadi tentara.
- Kolonel Husein Yusuf Dipecat Karena Tak Ada di Tempat
KELAMAAN libur memang kerap bikin terlena. Perkara itu pula yang pernah membuat jengkel Kolonel Alex Kawilarang, panglima Teritorium I/Sumatra, terhadap bawahannya. Kisahnya bermula ketika Kawilarang berkunjung ke Kutaraja yang merupakan ibu kota provinsi Aceh pada 1950. Dalam lawatannya ke kota yang kini bernama Banda Aceh itu, Kawilarang tidak mendapati Kolonel Husein Yusuf, komandan Divisi X. Husein Yusuf tidak menyambut Kawilarang karena sedang pulang kampung di Bireuen. Absennya Husein Yusuf menyebabkan Kawilarang tersinggung.
- Kesko Siliwangi, Cikal Bakal Kopassus
MALAM menuju puncaknya. Gulita membekap kawasan Asrama Militer Batujajar, Jawa Barat ketika sekelebat bayangan bergerak cepat di belakang pos penjagaan. Sejurus kemudian, dari bagian belakang, secara kilat bayangan hitam itu membekap prajurit penjaga pos. Sang prajurit tergagap. Dia coba melawan. Namun pitingan tangan yang kuat disertai ancaman pisau komando yang terhunus membuatnya tak bisa berkutik. “Sang penyergap itu tak lain adalah Visser, instruktur sekaligus komandan kami. Dia memang begitu, nyaris setiap waktu selalu menguji kesiapsiagaan kami sebagai pasukan komando,” kenang almarhum Marzoeki Soelaiman, salah satu anak didik generasi pertama dari Roden Barendrecht Visser alias Mochamad Idjon Djanbi.
- Alex Kawilarang dan Harta Karun Jepang
SERSAN Mayor (Purn.) Sanip masih ingat perintah atasannya ketika mulai terjun di palagan Sulawesi Utara pada Agustus 1959. Kepada para prajurit Batalyon 330 Kudjang I Siliwangi, komandan tersebut menekankan jika nanti harus berhadapan dengan Panglima Angkatan Perang Revolusiener (APREV) Alex Evert Kawilarang maka diupayakan untuk ditangkap hidup-hidup. "Jangan sakiti beliau! Pak Alex adalah orang tua kita yang sedang khilaf dan harus disadarkan,” ujar sang komandan. Tak cukup hanya dengan perintah. Para prajurit Siliwangi juga menempelkan berbagai selebaran dan pengumuman tertulis di hutan-hutan Sulawesi Utara. Menurut A.H. Nasution, itu dilakukan semata-mata karena bentuk rasa hormat para prajurit asal Jawa Barat itu kepada tokoh senior Siliwangi tersebut.
- Ayah Pendiri Kopassus Tenggelam di Samudera Hindia
SEBUAH rumah di Jalan Papandayan, Bandung kedatangan tamu tak diundang pada suatu hari di tahun 1942. Perempuan pemilik rumah membukakan pintu dan mempersilahkan tamunya masuk. “Apa-apaan ini?” tanya perempuan itu kepada tamu tak diundang itu. “Sudahlah, Mam, sudahlah,” kata pemuda yang pulang di waktu yang tak tepat itu. Si perempuan itu lalu memanggil suaminya di kamar. Perempuan itu menghampiri pemuda itu lagi dan memberi peringatan kepada anak laki-laki satu-satunya itu. “Kamu bisa ditembak mati kalau tertangkap lagi. Ayo kembali saja ke sana,” perintah ibu itu kepada anaknya supaya kembali ke kamp tawanan militer Jepang.






















