Hasil pencarian
9915 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sukarno dan GBK
TAGAR #SaveGBK menjadi trending topic di twitter. Tagar itu muncul sebagai bentuk penolakan atas rencana konser boy band asal Inggris, One Direction, pada 25 Maret mendatang, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK). Pasalnya, penyelenggaraan konser itu berdekatan dengan jadwal kualifikasi Piala Asia U-23. Para netizen menganggap GBK adalah stadion sepakbola, bukan untuk konser. Sukarno membangun GBK karena Federasi Asian Games menetapkan Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games IV pada Agustus 1962. Syarat minimum yang harus dipenuhi tuan rumah adalah ketersediaan kompleks multiolahraga. Maka, Sukarno mengeluarkan Keppres No. 113/1959 tanggal 11 Mei 1959 tentang pembentukan Dewan Asian Games Indonesia (DAGI) yang dipimpin Menteri Olahraga Maladi. Sebagai insinyur teknik sipil, dan juga karena memiliki ambisi dan selera tinggi dalam proyek-proyek pembangunan, Sukarno tak tinggal diam. Dia turun tangan, mulai dari pemilihan tempat sampai perancangan.
- Di Balik Pembangunan Stadion GBK
SALAH satu agenda Nikita Khrushchev dalam kunjungan ke Indonesia adalah meninjau proyek-proyek pemerintah. Dalam sebuah kesempatan, Presiden Sukarno mengundang rombongan Khrushchev menyaksikan lokasi rekonstruksi kompleks olahraga. Sebuah stadion dengan atap melingkar menjadi pusatnya. “Sukarno meminta agar kami membangun stadion di ibu kota negaranya, Jakarta, yang akan menampung ribuan penonton,” kenang Khrushchev dalam memoarnya Memoirs of Nikita Khrushchev: Volume 3. Pada Februari 1960, proyek itu masih berbentuk maket ketika Khrushchev meninjaunya. Kini, ia menjadi stadion kebangaan milik rakyat Indonesia: Gelora Bung Karno (GBK).
- Sepakbola Jepang dan Indonesia
KEJUTAN kembali terjadi dalam Piala Dunia 2022 di Qatar. Setelah Arab Saudi mengukir sejarah dengan mengalahkan Argentina 2-1, giliran Jepang menumbangkan Jerman dengan skor yang sama, 2-1. Jepang merupakan salah satu tim tersukses di Asia. Jepang berhasil menjuarai empat kali Piala Asia (1992, 2000, 2004, 2011), runners-up Piala Konfederasi FIFA (2001), dan tujuh kali tampil di Piala Dunia. Pertama kali tampil di Piala Dunia 1998 di Prancis membuat Jepang menempati rangking sembilan FIFA. Penampilan terbaik Jepang di Piala Dunia lolos ke babak 16 besar pada 2002, 2010, dan 2018. Kemajuan Jepang dalam waktu singkat menjadi inspirasi dan contoh bagaimana mengelola sepakbola. Sepakbola Jepang baru sepenuhnya profesional pada 1990-an setelah belajar kepada sepakbola Indonesia. Ironisnya, prestasi sepakbola Jepang kemudian meninggalkan jauh sepakbola Indonesia. Kalau perlu, Indonesia balik berguru pada Jepang selaku salah satu raksasa Asia saat ini.
- Maria Amin, Penyair Wanita Zaman Jepang
HARI Puisi Sedunia diperingati setiap 21 Maret. Perayaan ini pertama kali digelar pada 1999 oleh UNESCO untuk mempromosikan puisi sebagai cara berkomunikasi lintas batas dan perbedaan kebudayaan. Indonesia memiliki penyair-penyair hebat. Misalnya, Chairil Anwar, Si Binatang Jalang yang dipandang sebagai salah satu penyair pelopor Angkatan ‘45. Sajak-sajaknya yang revolusioner dan menggugah semangat perjuangan membuatnya berurusan dengan penguasa Jepang. Selain Chairil Anwar, ada juga penyair wanita, Maria Amin, yang produktif menulis sajak dan prosa pada 1940-an. Maria lahir di Bengkulu tahun 1921. Tamatan sekolah menengah atas ini memiliki perhatian terhadap pergolakan politik. Ia menuliskan pandangannya dalam bentuk puisi dan prosa.
- Revolusi Sepakbola Jepang
SAMBIL menyelam minum air. Mumpung masih di Jepang, Menteri BUMN Erick Thohir tak hanya ikut mendampingi Presiden Joko Widodo di KTT G7, ia selaku Ketua Umum PSSI juga bertemu petinggi sepakbola Jepang dalam rangka kerjasama dengan JFA (Japan Football Association, induk sepakbola Jepang). Di luar ingar-bingar emas sepakbola SEA Games dan rencana FIFA matchday kontra Argentina, PSSI mengalihkan kiblat pengembangan sepakbola ke Negeri Sakura. Mengutip laman resmi PSSI, Senin (22/5/2023), Erick bersua Presiden JFA, Tashima Kohzo, di Prince Takamodo Memorial JFA YUME Field, Chiba, Jepang untuk menandantangani Memorandum of Understanding (MoU) kerjasama PSSI-JFA. Namun apa saja yang dikerjasamakan tak dibeberkan, kecuali poin-poin yang jadi tujuan bersama. Di antaranya pengembangan sepakbola putri, peningkatan kualitas wasit, dan benchmarking manajemen liga.
- Sejarah Panjang Mi Kuah Khas Jepang
JEPANG tak hanya maju dalam sains dan teknologi, tetapi juga terkenal memiliki beragam kuliner, seperti ramen, sushi, yakiniku, gyoza hingga yakitori. Salah satu makanan andalan restoran-restoran Jepang di Indonesia adalah ramen. Makanan berbahan dasar mi ini dipadukan dengan kuah kari, miso, shoyu maupun shio yang memiliki rasa gurih. Agar lebih menggiurkan, ramen diberi topping seperti rumput laut, jagung, irisan daging ayam atau sapi, hingga telur rebus. Nikmatnya mi kuah dengan beraneka topping lezat itu membuat ramen digemari banyak orang hingga didapuk sebagai salah satu ikon kuliner Jepang. Ternyata, awalnya ramen tak langsung digemari banyak orang di Jepang. Makanan ini juga memiliki sejarah panjang. George Solt, akademisi dan penulis buku The Untold History of Ramen menyebut ada tiga kisah asal-usul yang berbeda tentang kemunculan ramen di Negeri Matahari Terbit. Kisah pertama diungkapkan sejarawan makanan Kosuge Keiko yang menyebut sejarah kehadiran ramen berkaitan dengan Tokugawa Mitsukuni alias Mito Komon (1628–1701), seorang daimyo atau penguasa lokal yang berpengaruh dalam politik pada zaman Edo. Tokoh sejarah yang populer ini disebut sebagai orang pertama yang makan ramen di Jepang. Catatan aktivitas Mitsukuni pada abad ke-17 menunjukkan bahwa seorang pengungsi Tiongkok dari masa pemerintahan Ming yang tinggal di Mito, yakni Zhu Shun Shui, memberikan saran kepada Mitsukuni tentang cara menyiapkan mi kuah ala Cina yang mungkin mirip dengan ramen.
- Setelah Kapal Selam Amerika Serikat Menghabisi Ratusan Pelajar Jepang
KOBARAN api dan kepulan asap di tengah kegelapan malam di perairan Kepulauan Tokara, Jepang pada 22 Agustus 1944 begitu jelas terefleksi dari bola mata Kiyoshi Uehara. Jeritan panik kawan-kawannya dan guru-gurunya dari dek bawah juga menyesaki gendang telinga bocah 10 tahun itu. Dengan berat hati, naluri bertahan hidup mendorongnya untuk loncat dari kapal Tsushima Maru ke lautan yang ganas. “Kiyoshi sempat terdiam memikirkan bagaimana caranya para guru dan kawan-kawannya bisa keluar dengan tangga dari dek bawah. Namun ia merasa tak punya waktu lagi. Sang bocah segera memakai jaket pelampung, menggenggam tangan dua kawan di sampingnya, naik ke railing dan loncat dari kapal,” tulis Don Keith dalam Final Patrol: True Stories of World War II Submarines. Begitu sampai di air, Kiyoshi dan kedua temannya berenang menjauh sebisa mungkin dari kapal yang terlalap api dan hendak tenggelam. Di tengah keadaan laut sedang ganas diterpa badai, ketiganya mati-matian memberi sinyal tangan pada beberapa kapal Jepang lain yang jadi bagian dari konvoi. Tetapi tak satupun yang mendekat dan menyelamatkan mereka.
- Pendiri Historia.ID Terima Penghargaan Reiwa dari Dubes Jepang
PEMERINTAH Jepang melalui Duta Besar Jepang untuk RI, Kenji Kasunugi, untuk kedua kalinya memberikan Penghargaan Kepala Perwakilan di Luar Negeri untuk Tahun Reiwa ke-5 (paruh kedua). Penghargaannya diberikan kepada delapan tokoh, salah satunya Bonnie Triyana, pendiri dan redaktur senior media berbasis sejarah, Historia.id. Pada medio April 2023, penghargaan yang sama (paruh pertama) sempat pula diberikan kepada satu tokoh dan dua komunitas atau kelompok. Menyusul bulan ini, sebagaimana dikutip dari rilis pers Kedutaan Jepang, Jumat (15/9/2023), Dubes Kasunugi memberikan Penghargaan Reiwa ke-5 itu untuk delapan tokoh yang menonjol dalam bidang masing-masing punya jasa mempererat persahabatan RI-Jepang yang sudah terjalin lebih dari enam dasawarsa. Selain Bonnie Triyana, tujuh penerima Penghargaan Reiwa ke-5 adalah Chieko Nakano (ketua Pembina Surya Laras Jepang), Fadilah Hasim (ketua Yayasan Semarak Pendidikan Indonesia), Fusami Ito (ketua Cross Cultural Artisan Association/CCAA), Kazuyo Suda (penerjemah), Mariko Surjanto (pendiri Himawari Kai), Urara Numazawa (penerjemah), Yasunobu Kuboki (ketua Indonesian Education Promoting Foundation/IEPF).
- Exhuma dan Sisi Lain Pendudukan Jepang di Korea
SEBUAH keluarga kaya Korea yang bermukim di Los Angeles, Amerika Serikat, mengalami berbagai rangkaian peristiwa misterius yang tidak biasa hingga mengancam keselamatan anggota keluarga mereka. Khawatir kondisi tersebut semakin buruk, salah satu anggota keluarga meminta bantuan sepasang dukun muda. Mereka merasakan ada bayangan gelap leluhur yang terikat di keluarga itu.Dengan bantuan seorang ahli fengshui dan petugas pemakaman, proses pembongkaran kuburanpun dilakukan guna menyelamatkan keluarga tersebut. Namun tanpa mereka sadari sesuatu yang lebih besar dan jahat turut terkubur di makam nenek moyang keluarga itu. Kisah di atas merupakan sinopsis film Exhuma yang tengah ramai diperbincangkan warganet. Film bergenre horor-misteri asal Negeri Gingseng Korea Selatan itu tayang di bioskop sejak 28 Februari 2024.
- Pyonsa dan Perlawanan Rakyat Korea Terhadap Penjajahan Jepang
NARATOR film bisu seperti benshi tak hanya muncul di Jepang pada awal abad ke-20. Selama periode tersebut, di Korea juga muncul pyonsa atau byoensa yang bertugas menjelaskan dan menarasikan film bisu kepada penonton Korea. Namun, yang menarik pyonsa juga berperan besar dalam mendorong semangat nasionalisme dan menjadi corong perlawanan terhadap penjajahan Jepang. Meski tanggal pasti asal muasal profesi ini belum dapat ditentukan, pyonsa diperkirakan mulai dikenal pada 1907, bersamaan dengan berdirinya bioskop di Korea. Meski begitu, pyonsa bukanlah ciptaan Korea. Peran ini diadopsi dari benshi di Jepang. Areum Jeong menulis dalam How the Pyonsa Stole the Show: The Performance of the Korean Silent Film Narrators bahwa narator film diperlukan untuk penonton karena film-film yang ditayangkan pada masa awal perkembangan film di Korea merupakan buatan luar negeri dan terdiri dari budaya asing. Karena penonton Korea pada umumnya hanya memiliki sedikit pengetahuan dan wawasan mengenai budaya di luar budaya lokal mereka, peran pyonsa sangat penting dalam menjembatani hubungan antara film yang ditayangkan dengan penonton.
- Yang Tercecer dari Pertempuran Biak
UNTUK pertama kali sejak dua dekade, Prabowo Subianto bisa masuk kembali Amerika Serikat (AS). Sejak tahun 2000, Prabowo kena “cekal” masuk Amerika. Larangan itu sekonyong-konyong dicabut pemerintah AS selepas Prabowo dilantik jadi menhan pada Oktober 2019. Dalam kapasitasnya sebagai menteri pertahanan (menhan) inilah ia bersua koleganya, Menhan AS Mark Esper di Pentagon (markas Kemenhan Amerika), Arlington County, Virginia, 16 Oktober 2020 guna membahas tiga hal. Menukil laman resmi kemenhan AS pada 16 Oktober 2020, tiga hal yang dibicarakan Esper dengan Prabowo yakni: dukungan modernisasi alutsista Indonesia, niat kerjasama keamanan maritim, dan kesediaan Indonesia membuka akses untuk mencari para kombatan Amerika yang masih hilang dari masa Perang Dunia II.
- Kerangka Serdadu Jepang dari Pertempuran Biak
SEBANYAK sembilan kerangka manusia yang diduga kuat merupakan sisa-sisa serdadu Jepang di era Perang Pasifik yang sudah terkumpul di Kabupaten Biak Numfor, Papua, kini siap diserahkan kepada pemerintah Jepang lewat proses repatriasi. Proses ekskavasi, evaluasi, dan pengumpulannya itu merupakan kelanjutan dari kesepakatan antara pemerintah RI dan Jepang yang sempat tertunda gegara Pandemi Covid-19. Sebagaimana keterangan pers yang diterima Historia, Jumat (28/6/204), Dirjen Kebudayaan, Kemendikbudristek RI, Hilmar Farid mengungkapkan, ekskavasi sisa-sisa jasad para serdadu Jepang di Papua itu merupakan agenda utama kerjasama antara pemerintah RI dan Jepang dalam “Agreement between the Government of Japan and the Government of the Republic Indonesia on Excavation, Collection and Repatriation of the Remains of Japanese Soldiers who died in the Second World War in the Province of Papua and the Province of West Papua” yang ditandatangani pihak Kemendikbudristek RI dan Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang pada 25 Juni 2019. Untuk proses ekskavasinya dibentuklah Tim Teknis Gabungan Indonesia dan Jepang untuk melakukan tugasnya di sekitar Biak. “Terlepas dari sejarah masa lalu, tentunya upaya ini merupakan misi kita untuk memuliakan manusia sekaligus pengingat agar tidak terulang di masa mendatang,” ungkap Hilmar.





















