top of page

Hasil pencarian

9860 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Moestopo vs Hatta di Tengah Pertempuran Surabaya

    AKHIR Oktober 1945. Brigade Infanteri ke-49 Divisi India ke-23 pimpinan Brigadir A.W.S. Mallaby ada di ambang kehancuran. Menurut sejarawan militer Richard McMillan, para veteran Perang Dunia II itu seolah tak berkutik dalam kepungan arek-arek Suroboyo. Hingga hari ke-2 pertempuran), mereka telah membunuh ratusan serdadu Inggris, termasuk 16 perwira di dalamnya. “Karena suatu 'pamer kekuatan', 427 nyawa dari pasukan yang secara keseluruhan memiliki sekira 4.000 prajurit, melayang begitu saja,” ungkap McMillan dalam The British Occupation of Indonesia, 1945-1946. Para pejuang Surabaya itu dipimpin oleh seorang dokter gigi bernama Moestopo. Lelaki kelahiran Kediri pada 13 Juni 1913 itu bukanlah orang sembarangan. Selain pernah menjadi salah satu lulusan terbaik sekolah calon perwira PETA di Bogor, dia juga termasuk daidancho (komandan batalyon) kharismatik di Jawa Timur.

  • Ketika Brigadir Mallaby Bertemu dengan “Menteri Pertahanan RI”

    DUA hari setelah pembacaan Proklamasi, Presiden Sukarno mengumumkan kabinetnya yang pertama. Semua tokoh pejuang yang diangkat oleh presiden sebagai anggota kabinet mengonfirmasi kesediaan mereka kecuali Supriyadi, menteri keamanan rakyat. Hingga batas waktu yang ditetapkan, tokoh pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (Peta) di Blitar itu tak memberikan kabar. Dia hilang bak ditelan bumi. “Banyak yang bilang saat itu Supriyadi sudah dibunuh tentara Jepang. Ya itu bisa saja,” kata sejarawan Rushdy Hoesein. Kekosongan itu diisi oleh pejabat sementara bernama Soeljadikoesoemo. Namun, karena komunikasi saat itu serba sulit, berita pengangkatan tersebut tak diketahui banyak orang. Termasuk oleh para pejuang yang tengah menghadapi pendaratan tentara Inggris di Surabaya.

  • Moestopo Usulkan Gelar Doktor Kehormatan untuk Soeharto

    MANTAN Presiden Republik Indonesia Megawati Sukarnoputri dianugerahi gelar profesor kehormatan oleh Fakultas Strategi Pertahanan jurusan Ilmu Pertahanan di bidang Kepemimpinan Strategis Universitas Pertahanan (Unhan) Jakarta pada 11 Juni 2021. Penganugerahan itu menjadi pelengkap 9 gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Causa) lainnya yang juga disandang ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut. Gelar doktor kehormatan pernah pula hampir disandang oleh mantan Presiden Soeharto. Ceritanya, saat memperingati Hari Pahlawan yang ke-40, Mayor Jenderal TNI (Pun.) Prof. Dr. Moestopo mengusulkan kepada tiga universitas besar di Indonesia (Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Gajah Mada) untuk memberikan gelar doktor kehormatan (Doctor Honoris Causa) kepada Presiden Soeharto. Pemimpin Pertempuran Surabaya itu menyatakan Soeharto sangat pantas untuk mendapat gelar tersebut mengingat jasa-jasanya di tingkat nasional maupun internasional. Secara nasional, kata Moestopo, Soeharto telah mampu mewujudkan pembangunan di bidang pertanian dan industri. Sedangkan di tingkat internasional, Soeharto merupakan inisiator penanggulangan bencana kelaparan di berbagai belahan dunia lewat Forum Roma yang berlangsung pada 14 November 1985.

  • Kisah Moestopo, Penyandang Gelar Terbanyak

    MEGAWATI Sukarnoputri dianugerahi gelar sebagai profesor kehormatan oleh Fakultas Strategi Pertahanan jurusan Ilmu Pertahanan di bidang Kepemimpinan Strategis Universitas Pertahanan (Unhan) Jakarta pada 11 Juni 2021. Penganugerahan itu menjadi pelengkap 9 gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Causa) lainnya yang juga disandang ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut. Dengan pengukuhan itu, Megawati menjadi salah satu tokoh Indonesia yang menyandang gelar terbanyak. Namun jauh sebelumnya, ada seorang tokoh yang telah memiliki gelar lebih banyak yakni Moestopo. Dia tercatat setidaknya memiliki 18 gelar. “Kalau kita meminta dia menulis namanya secara lengkap maka tanpa ragu-ragu dia akan menulis: Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan), Profesor, Doktor, OS, ORTH, OPDENT, PROSTH, PEDO/DHE/BIOL./PANC., Bapak Publistik Ilmu Komunikasi, Bapak Ilmu Kedokteran Gigi Indonesia, Bapal Ilmu Bedah Rahang Indonesia, Penyandang Maha Putera Utama dan Pengawal Pancasila,” tulis Pikiran Rakyat, 20 Februari 1986.

  • Moestopo Sang Jenderal Nyentrik

    SATYA GRAHA Graha masing ingat pertemuan itu. Ketika mendaftar menjadi anggota Markas Besar Pertempuran Djawa Timoer di Madiun, dia diwawancarai langsung oleh pimpinan pasukan Mayjen TNI Moestopo. Saat wawancara berlangsung, pelayan datang menyuguhi secangkir kopi. Alih-alih dinikmatinya, Moestopo malah menggeser cangkir kopi itu ke hadapan Satya. “Nih kamu minum saja kopinya, soalnya hanya satu cangkir,” ujar sang jenderal. Moestopo dikenal sebagai sosok egaliter sekaligus nyeleneh. Ketika memimpin Divisi Mobil yang beroperasi menggunakan kereta api, dia kerap nekat menyerang militer Belanda dari atas kereta api yang dikendarai dengan kecepatan tinggi.

  • Wasit Hindia di Olimpiade

    RABU malam, 13 Juni 1928. Stadion Olimpiade di Amsterdam, Belanda, dipenuhi ribuan penonton. Mereka antusias untuk menyaksikan final ulangan cabang sepakbola Olimpiade yang mempertemukan dua kekuatan besar Amerika Selatan: Uruguay dan Argentina. Di tepi garis lapangan, berdiri seorang hakim garis dari negeri jauh di timur. Sosoknya mungkin tidak dikenal oleh publik Belanda. Namun, kehadirannya menjadi kebanggaan tersendiri bagi sepakbola Hindia Belanda. Dia adalah Max Foltynski. Foltynski tak sendirian. Di sisi lapangan lainnya terdapat H. Maeck dari Belgia. Sementara yang memimpin pertandingan adalah J. Mutters dari Belanda. Begitu peluit berbunyi, Uruguay langsung menekan. Kemelut terjadi di depan gawang Argentina. Penonton menahan napas. Permainan berkembang cepat. Bola bergerak dari sisi ke sisi. Dua tendangan sudut berganti diambil dan sorak seru protes terdengar bersahutan. Di tengah hiruk-pikuk itu, Foltynski selalu sigap. Benderanya terangkat setiap kali garis offside terlewati. Keputusannya tegas tanpa gentar di bawah tatapan ribuan pasang mata.

  • Naskah Pegon Tertua di Jawa

    SEBUAH naskah kuno Islam dari masa keemasan Majapahit ditemukan. Naskah ini ditulis dengan huruf Arab dalam bahasa Jawa atau disebut pegon. Berdasarkan angka tahun yang terbaca di dalamnya, diduga naskah ini ditulis pada 1347 Masehi. Naskah ini sekaligus menjadi naskah pegon tertua di Jawa sejauh ini. Isinya tentang sejarah para nabi dan ajaran tasawuf dalam bentuk tembang. “Naskah ini dimiliki seorang kolektor, katanya ditemukan di NTB (Nusa Tenggara Barat). Ternyata, menurut beberapa info dan beberapa temuan lain, ada upaya membawa naskah ini ke luar negeri. Saya berterima kasih kepada kolektor yang membawa naskah ini ke Salatiga,” kata Masyhudi Muhtar, peneliti bidang arkeologi Islam di Balai Arkeologi Yogyakarta, dalam diskusi daring berjudul “Beberapa Jejak Peradaban Asing di Jawa”, Kamis, 15 April 2021. Saat ditemukan oleh tim peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta pada 2019, naskah ini dalam kondisi kurang terawat. Naskah berbahan daluwang ini disimpan di dalam kotak kayu yang di dalamnya terdapat botol berisi minyak. Bahan daluwang dibuat dari kulit kayu atau serat tanaman.

  • Akulturasi Budaya dalam Naskah Pegon

    BALAI Arkeologi Yogyakarta menemukan naskah pegon di Salatiga pada 2019. Naskah pegon ini ditemukan di Nusa Tenggara Barat. Sempat ada upaya untuk membawa naskah pegon ini ke luar negeri. Beruntung kolektor benda kuno menyelamatkannya ke Salatiga. Peneliti menyakini naskah pegon itu tertua di Jawa, yang diketahui dari angka tahun yang terbaca di dalamnya, yaitu 1347 Masehi. Masyhudi Muhtar, peneliti arkeologi Islam di Balai Arkeologi Yogyakarta, yang meneliti naskah pegon itu, menjelaskan pada bagian akhir naskah terdapat kalimat puji-pujian dan memohon pertolongan kepada Allah. Puji-pujian itu ditulis dalam bahasa Arab. Di bawahnya terdapat angka Arab yang dibaca 1347 (bihamdillah wa ‘aunihi sanah 1347 M), yang di bawahnya terdapat huruf mim.

  • Meninjau Kembali Temuan Naskah Pegon Tertua di Jawa

    NASKAH pegon temuan Balai Arkeologi Yogyakarta tahun 2019 diklaim sebagai yang tertua karena peneliti membaca angka tahun 1347 sebagai tahun Masehi. Masyhudi Muhtar, peneliti bidang arkeologi Islam di Balai Arkeologi Yogyakarta, menjelaskan, pada bagian akhir naskah terdapat kalimat puji-pujian dan memohon pertolongan kepada Allah. Puji-pujian itu ditulis dalam bahasa Arab. Di bawahnya terdapat angka Arab yang dibaca 1347 (bihamdillah wa‘aunihi sanah 1347 M), yang di bawahnya terdapat huruf mim. “Mim dalam bahasa Arab itu meladiyah, artinya kelahiran, yang dimaksud di sini adalah kelahiran Nabi Isa AS, maka angka tahun ini diambil dari angka tahun Masehi,” kata Masyhudi dalam diskusi daring berjudul “Beberapa Jejak Peradaban Asing di Jawa”, Kamis, 15 April 2021.

  • Humor ala Bakir

    RAWANA mengadakan pesta. Ia memberi minuman kepada raksasa, berupa “brandi dan konyak syampanye, maka sekaliannya mabuk... Maka piala yang bertatahkan ratna mutu manikam pun diisi oranglah daripada minuman arak dan brem dan anggur sampanye dan brandi konyak”. Cuplikan adegan dalam Hikayat Sri Rama, yang disadur Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman bin Fadli, terasa janggal bila pembaca berbekal bingkai cerita Ramayana. Naskah yang selesai disalin pada 17 Desember 1896 ini memang memuat cerita yang bersumber pada Ramayana. Namun Bakir menyisipkan kejadian aktual. Bahkan, dalam cerita wayang dan petualangan, dia memasukan nama-nama tempat di Jawa; Batavia, Gunung Gede, Muara Ancol, Muara Baru, Pasar Baru, dan Bekasi. Tujuannya, “memberikan aspek realis, modern, dan profan kepada cerita fiksi, kuno, dan sedikit banyak sakral,” tulis Henri Chambert-Loir dalam pengantar Katalog Naskah Pecenongan Koleksi Perpustakaan Nasional: Sastra Betawi Akhir Abad-19.

  • Kapten Marah, Komandan Hilang Kuping

    AKHIR tahun 1963, Letnan Kahardiman ditugaskan oleh Deputi Menteri Panglima Angkatan Udara (DMPAU) Komodor Soeharnoko Harbini untuk pergi ke Salatiga, Jawa Tengah. Di sana Kahardiman akan mendampingi Fransiskus Xaverius Adisusanto alias Toto. Toto diseret ke pengadilan karena menyerempet perwira kavaleri Angkatan Darat ketika sedang belajar mengemudikan mobil. Ketika di Salatiga, Letnan Kahardiman mengunjungi salah satu orang berpengaruh di Salatiga, yakni Komandan KOREM 073/Makutarama Letnan Kolonel Roestamadji Wibowo. Kahardiman menyampaikan keperluannya di Salatiga. Komandan KOREM, meski sama-sama Angkatan Darat dengan perwira kavelari yang diserempet tadi, rupanya juga telah berhubungan dengan baik dengan keluarga Toto. Bahkan KOREM rajin mengirimi beras kepada keluarga Rahayu, Ibu Toto. Kahardiman diterima dengan baik oleh komandan KOREM. Bahkan, komandan Korem bercerita tentang masa lalunya. “Aku dulu pernah marah dengan komandanku karena dia menggoda istriku,” cerita Roestamadji pada Kahardiman tentang peristiwa yang terjadi sekitar 1950-an itu. “Iya, Pak,” tanggap Kahardiman. “Kok, ‘Pak’ lagi. ‘Mas’, gitu,” kata Roestamadji meminta Kahardiman memanggilnya. “Waktu itu saya masih kapten, melihat dia menggoda istri saya. Kemarahan saya tak dapat terbendung, langsung saya potong kupingnya satu,” terang Roestamadji. Kahardiman tak tahu harus bilang apa soal pengakuan perwira yang lebih tua darinya itu. Begitulah kisah yang didapat Letnan Kahardiman ketika mendampingi perkara Fransiskus Xaverius Adisusanto bin Agustinus Adisucipto alias Toto, yang akhirnya tak mendapat hukuman berat. Kahardiman mencatat perjalanannya ke Salatiga itu dalam Hakim Agung Kahardiman: Dari Oditur, Opstib hingga Arbiter. Namun dia tak menyebutkan komandan Roestamadji yang dipotong salah satu kupingnya itu. Mayor Jenderal Soehario Padmodiwirio, yang dikenal sebagai Hario Kecik, punya cerita singkat tentang seorang perwira Angkatan Darat yang salah satu daun telinganya dipotong bawahannya. Hario Kecik adalah orang Surabaya yang suka bicara apa adanya. “Suprapto Sukowati atau Pingji, yang terkenal karena satu daun telinganya dipotong oleh seorang kapten anak buahnya karena ia selingkuh dengan istri kapten itu,” catat Hario Kecik dalam Pemikiran Militer Sepanjang Masa Bangsa Indonesia Volume 3. Pingji tampaknya singkatan dari Kuping Siji. Bahasa Jawa itu jika diterjemahkan menjadi kuping satu. Suprapto Sukowati yang dimaksud Hario Kecik adalah Letnan Jenderal (Letjen) Suprapto Sukowati (1922-1972), yang pernah menjadi pimpinan di Sekretaris Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar). Mulanya Sekber Golkar adalah gabungan dari Front Nasional dengan organisasi atau golongan kekaryaan, di mana Brigadir Jenderal Djuhartono sebagai ketua umum pertamanya. Setelah Djuhartono yang Sukarnois diganti Sukowati, Sekber Golkar menjadi penting bagi Soeharto dan kemudian Golkar menjadi kekuatan politik setara partai politik. “Dia melakukan serangkaian tur keliling Jawa Bali,” tulis David Reeve dalam Golkar: Sejarah Yang Hilang. Sukowati ikut membesarkan Sekber Golkar. Menjelang Pemilu 1971, nama organisasinya disingkat menjadi Golonga Karya (Golkar) saja. Golkar berhasil menjadi pemenang nomor satu dalam Pemilu 1971. Siapa sesungguhnya Sukowati yang berhasil mengantarkan Golkar menang pemilu 1971 itu? Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat mencatat, Suprapto Sukowati atau Soeprapto Sokowati adalah mantan komandan Batalyon 3 Divisi Ronggolawe pada 1947. Tiga tahun kemudian, dia menjadi komandan Bridage Mobil dalam Ekspedisi Indonesia Timur. Mantan Shodancho (komandan peleton PETA) di Solo itu pernah pula menjadi komandan Resimen ke-16 di Kediri. Letjen Suprapto Sukowati, yang kelahiran Sragen pada 12 November 1922, tutup usia pada 9 Oktober 1972 di Jakarta. Setahun setelah Golkar menang dalam Pemilu pertamanya. Meski menyebut Sukowati sebagai komandan yang satu kupingnya dipotong oleh anak buahnya yang berpangkat kapten, Hario Kecik tidak menyebutkan secara detail siapa nama jelas kapten yang memotong kuping Sukowati tersebut.*

  • Literasi Orang Betawi

    BANYAK orang mengira masyarakat Nusantara, termasuk masyarakat Jakarta buta huruf sebelum kedatangan kolonial Belanda. Padahal, jauh sebelum itu masyarakat Betawi telah memiliki tradisi literasi dalam penulisan dan pembacaan naskah aksara Arab-Jawi dengan bahasa Melayu. Ini menunjukkan masyarakat Betawi telah mengenal baca tulis dengan baik. Dengan demikian, mereka hanya buta huruf Latin yang diperkenalkan melalui pendidikan dan budaya kolonial. “Kebudayaan menulis dan membaca telah berkembang jauh sebelum kedatangan kolonial Belanda. Pada masa itu, masyarakat telah mengenal pendidikan agama Islam yang menjadi medium berkembangnya tradisi literasi. Melalui pendidikan tersebut, masyarakat terbiasa mencatat dan membaca menggunakan aksara Arab maupun Jawi. Sehingga mereka itu bukan buta huruf, tetapi buta huruf Latin,” kata Siswantari, sejarawan Universitas Indonesia, kepada Historia.ID. Bukti budaya literasi masyarakat Betawi dapat dilihat dari Pecenongan. Kawasan yang kini dikenal sebagai pusat kuliner, dahulu menjadi pusat kegiatan literasi masyarakat Betawi yang menyimpan banyak manuskrip penting. Pada abad ke-19, Pecenongan dikenal sebagai kawasan yang memiliki banyak skriptorium atau tempat penulisan dan penyalinan naskah.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page