Hasil pencarian
9853 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Mencari Mikrofon Proklamasi
DALAM pidato di hari jadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di Jakarta, 5 Oktober 1966, Presiden Sukarno menyampaikan pentingnya mikrofon yang digunakannya untuk membacakan Proklamasi kemerdekaan. “Kita telah memiliki pada tanggal 17 Agustus 1945 itu microphone. Satu-satunya hal boleh dikatakan, materiel yang telah kita miliki, satu microphone, yang dengan microphone ini kita dengungkan ke hadapan seluruh manusia di bumi ini bahwa kita memproklamasikan kemerdekaan kita,” kata Sukarno. Dari mana mikrofon itu? Sukarno menyebutnya hasil curian dari Jepang. “Aku berjalan ke pengeras suara kecil hasil curian dari stasiun radio Jepang dan dengan singkat mengucapkan proklamasi itu,” kata Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
- Mitos 350 Tahun Penjajahan
SEBAGAI orang yang nyaris 25 tahun menetap di Belanda, saya sering ditanya tentang masa lampau Belanda di Indonesia. Ada pertanyaan menarik seperti adakah bekas-bekas masa lampau itu terlihat di Belanda? Ada pula pernyataan langsung seperti “Apakah Belanda sampai 350 tahun menjajah Indonesia?” Bagi saya, itu tidak terlalu menarik. Apakah benar Belanda menjajah selama itu? Ayo kita hitung. Apakah kita harus bersetuju bahwa Belanda mulai menjajah Indonesia bersamaan dengan berdirinya VOC pada 1602? Mungkin karena tidak tahu versi angka tahun lain, biasanya langsung dijawab setuju. Ada pula versi yang mengatakan penjajahan dimulai pada 1596, ketika kakak beradik De Houtman tiba di Banten. Tapi itu pun sulit disebut sebagai awal penjajahan Belanda, karena Cornelis de Houtman cuma melakukan penjajakan. Belanda belum benar-benar menjajah. Jika awal penjajahan tahun 1602 ditambah 350, kita baru merdeka pada 1952. Bagaimana dengan proklamasi 17 Agustus 1945 dan pengakuan Belanda pada kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949?
- Tujuh Tahanan Politik Perempuan di Kamp Plantungan
KAMP Plantungan terletak di kaki Gunung Prau, Kendal, Jawa Tengah. Tempat sangat terpencil ini jadi “Pulau Buru”-nya tahanan politik perempuan. Mereka yang diasingkan ke Kamp Plantungan merupakan tahanan politik golongan B, yakni terindikasi aktif dalam organisasi komunis tetapi tidak cukup bukti untuk diadili. “Mereka sebagian besar orang-orang yang punya aktivitas politik, seni, maupun olahraga. Mereka orang-orang terdidik,” kata sejarawan Amurwani Dwi Lestariningsih kepada Historia. “Mereka yang diasingkan di Plantungan ada yang aktivis Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), mahasiswa anggota CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia), simpatisan PKI, tapi ada juga yang salah tangkap.” Misalnya, Sumilah berusia 14 tahun ditangkap di Yogyakarta. Sumilah yang sebenarnya tinggal di Desa Brosot, sedangkan dia di Prambanan. Ada pula perempuan yang ditangkap sebagai jaminan atas suaminya, seperti Ratih, istri Ooloan Hutapea, anggota Politbiro CC PKI. Ratih tidak berafiliasi dengan organisasi PKI apa pun. Begitu pula dengan istri Nyono, ketua SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), juga tidak aktif dalam gerakan.
- Pamer Kemewahan Hasil Jarahan
NAMA Mario Dandy Satrio mendadak jadi pemberitaan. Anak seorang pejabat di instansi pajak itu viral karena menganiaya David Latumahina hingga koma. Laku tercela Mario tak hanya berbuah pahit bagi dirinya dengan ditetapkan menjadi tersangka dan dikeluarkan dari kampusnya, netizen ramai mencela ulahnya. Terlebih, Mario hobi pamer harta. Banyak netizen pun menghujat ulah sombongnya itu. Fenomena suka pamer bukanlah "barang" baru di negeri ini. Fenomena sosial yang tak lazim juga muncul setelah Revolusi Sosial meletus di Sumatra Timur. Orang yang tadinya hanya jalan kaki ke mana-mana, kini mempunyai mobil. Mereka yang semula hidupnya biasa-biasa sekarang telah bergelimang harta. Mereka hilir-mudik memborong ke pasar, membelikan istri mereka pakaian dan perhiasan. Itulah pemandangan masyarakat di Pematang Siantar yang disaksikan Muhamad Radjab, wartawan Kantor Berita Antara pada 23 Juli 1947. Radjab salah satu anggota rombongan utusan Kementerian Penerangan untuk meliput keadaan revolusi di Sumatra. Menurutnya orang-orang yang kaya mendadak di Sumatra Timur beratus-ratus jumlahnya. Mereka tampil mencolok dengan pameran harta yang entah dari mana asalnya.
- Kisah Penculikan “Menteri Pertahanan RI”
HARI-hari menjelang habisnya bulan Oktober 1945 adalah waktu yang memusingkan bagi Jenderal Mayor drg. Moestopo, Komandan BKR Jawa Timur sekaligus Menteri Pertahanan RI add interim. Bagaimana tidak, baru saja dirinya membuat kesepakatan dengan Komandan Brigade ke-49 British India Army Brigadir A.W.S. Mallaby, pihak Inggris sudah memperlihatkan iktikad buruk dengan menduduki 20 titik strategis di dalam kota Surabaya. Perbuatan itu, selain mecederai kesepakatan yang sudah dibuat pada 26 Oktober 1945, juga menjadikan arek-arek Suroboyo semakin “gemas” untuk secepat mungkin menghajar tentara Inggris. Bukan rahasia lagi jika sebagian besar pejuang Surabaya tak menginginkan damai dengan tentara Inggris yang dianggap sebagai pembonceng kembali Belanda ke Indonesia. “Moestopo sendiri [sebenarnya] ingin langsung menghabisi pasukan-pasukan [Inggris] yang mendarat ini,” ungkap Lambert Giebels dalam Soekarno: Biografi 1901-1905.
- Wilhelmus Sinay Menembus Benteng Pertahanan Orang Mandar
DUA kelompok serdadu KNIL (Koninklijk Nederlandsche Indische Leger) disiapkan untuk menyerbu benteng pertahanan rakyat Mandar yang melawan Belanda di sebuah daerah di Sulawesi Barat. Di bawah pimpinan Letnan Infanteri Kelas Dua Gerardus Johannes Berenschot, yang kelak menjadi komandan KNIL, pasukan KNIL itu disebar mengelilingi benteng. Gerak maju menuju benteng tidaklah mudah. Satu kelompok pasukan harus melintasi sebuah kampung. Berenschot bergerak di sekitar kampung dekat Buntobulo. Pasukan KNIL itu berperang di medan yang cukup sulit, di daerah yang berbukit. Namun, orang Mandar yang bertahan di benteng tahu akan diserang pasukan KNIL.
- Rumah Tahanan Masyumi
YUNAN Nasution, sekjen Partai Masyumi, menunggu giliran masuk ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo pada 7 April 1962. Ia tak sendirian. Bersamanya sejumlah kader Masyumi turut digelandang polisi militer, antara lain K.H. Isa Anshary, juru bicara Partai Masyumi, dan Ir. Ondang, pejabat Bank Indonesia sekaligus fungsionaris partai. Mereka ditahan atas keterlibatan sejumlah petinggi Masyumi dalam pemberontakan di daerah. Kelompok pemberontakan ini lebih dikenal dengan nama PRRI, pemerintahan tandingan yang menentang pemerintah pusat. “Kyai Isa dan Yunan Nasution dan Ir. Ondang masuk disel. RTM artinya Rumah Tahanan Masyumi,” begitulah lelucon kawan-kawan sesama tahanan seperti dicatat Mochtar Lubis dalam Catatan Subversif. RTM resminya bernama Asrama Tuna Terpidana Militer (Astuntermil). Karena terletak di Jalan Budi Utomo No. 7, Jakarta Pusat, ia lazim disebut RTM Budi Utomo. Penjara ini seyogianya diperuntukkan bagi personel militer yang melakukan pelanggaran. Namun, pada awal 1960, RTM ini juga difungsikan sebagai tempat tahanan politik, selain tahanan militer.
- Tak Ada Lauk untuk Tapol Moncongloe
SEPANJANG tahun 1971-1972 udara di kamp pengasingan Moncongloe Sulawesi Selatan begitu terik. Tanah-tanah seperti terbakar, sungai mengering, singkong begitu susah bertumbuh. Daun-daun liar yang dijadikan sayur semua mati. Kemarau panjang. A.M. Hustin, tapol (tahanan politik) dari Barru seorang anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat, menceritakan kisah itu melalui cerita pendek, sepanjang sembilan halaman. Menulis dengan tangannya sendiri dengan tinta hitam. Judulnya Pesta Laron di Malam Natal. “Dan memang sesuai dengan keadaan dan keberadaan kami sebagai orang tahanan yang serba krisis dan tak berpunya untuk suatu pesta yang mewah. Sudah setahun lamanya kami tak mendapat sayur dan ikan dari dapur umum,” tulisnya. Hustin, menulis kisah ini pada 1972, usai melakukan perayaan Natal di gereja dalam kawasan kamp. Dia menggambarkan, kondisi para tahanan ketika kembali ke barak. Semua tak bisa tertidur. Tahanan-tahanan itu melamun, membuat kelompok-kelompok kecil dan mulai bercerita pengalaman masa lalu.





















