Hasil pencarian
9956 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sjahrir dan Sukarno dalam Peringatan HUT RI Pertama
REPUBLIK Indonesia sudah menginjak usia 81 tahun. Upacara pengibaran bendera dan atraksi alutsista dalam rangka memperingati HUT RI di Istana Negara Jakarta, Senin (17/8/2026), juga berjalan sebagaimana mestinya. Suasananya jauh lebih bisa “dinikmati” ketimbang yang terjadi delapan dekade silam dalam peringatan HUT RI pertama, 17 Agustus 1946. Dalam perjalanannya menuju satu tahun kemerdekaan, Indonesia tak hanya direcoki Sekutu dan Belanda yang ingin kembali berkuasa namun juga pergolakan politik internal. Puncaknya terjadi dua peristiwa yang bikin republik begitu rentan: penculikan Perdana Menteri (PM) Sutan Sjahrir pada 27 Juni 1946 dan Kudeta 3 Juli 1946 ketika Presiden Sukarno didesak mengganti Kabinet Sjahrir. Terlepas dari pro dan kontra yang mengiringinya, toh republik jalan terus. Para oposannya ditangkapi, mulai dari Tan Malaka, Mohammad Yamin hingga tokoh-tokoh muda yang setahun sebelumnya berperan dalam Proklamasi 17 Agustus 1945: Ahmad Subardjo, Sukarni, Adam Malik, dan Sayuti Melik. Itu yang kemudian jadi refleksi PM Sjahrir dalam pidatonya dalam menyambut hari jadi republik yang pertama. Pidatonya ia sampaikan via radio lantaran Sekutu tidak memberi izin perayaan besar-besaran, apalagi parade rakyat dan militer di Jakarta. Sehari pasca-peringatan HUT RI, Sjahrir memberikan keterangan persnya yang diperuntukkan para wartawan asing. “Pada Minggu (18 Agustus, red.), Tuan Sjahrir memberikan pernyataan kepada para perwakilan pers di Batavia. Menengok setahun ‘Republik’ ke belakang, Sjahrir mengemukakan kesulitan-kesulitan terhadap penentangan Belanda. Lebih jauh ia menggarisbawahi krisis politik serius yang telah dilalui ‘Republik’ dengan menegaskan, ‘kita semua sekarang lebih bersatu daripada sebelumnya.’ Kemarin malam Sjahrir menyampaikan pidato lewat radio Indonesia sebagai bagian dari siaran yang ditujukan kepada audiens asing; disampaikan dengan bahasa Indonesia dan diikuti dengan bahasa Inggris. Ia mendewa-dewakan gagasan rakyat Indonesia yang bersatu melawan ego nasional dan imperialisme,” tulis koran Het Dagblad edisi 19 Agustus 1946 dalam artikel “Sjahrir Aan Het Woord”. Ramai di Yogya, Dipersulit di Jakarta Sejak Januari 1946, segenap pimpinan negara dan pemerintahan pindah ke Yogyakarta yang kemudian dijadikan ibukota revolusi. Presiden Sukarno dan Wakil Presiden (Wapres) Mohammad Hatta berkantor di Gedung Agung (kini Istana Kepresidenan Yogyakarta) sedangkan PM Sjahrir tetap di Jakarta. Sjahrir menempati bekas rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 yang sekaligus dijadikan kantornya selaku PM merangkap menteri luar negeri. Di dua tempat itulah masyarakat berbondong-bondong ingin ikut merayakan hari jadi yang pertama republik pada 17 Agustus 1946. Di Gedung Agung Yogyakarta, Presiden Sukarno memimpin jalannya upacara HUT kemerdekaan yang masih bisa dihelat dengan khidmat. Mengutip Pramoedya Ananta Toer dalam Kronik Revolusi Indonesia: 1946, agendanya dipersiapkan dengan seksama. Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta juga akan me-relay siaran khusus ke pemancar-pemancar lain di seluruh Indonesia, di antaranya siaran pidato Sri Sultan Hamengkubuwana IX pada 15 Agustus malam, pidato Wapres Hatta pada 16 Agustus malam, serta siaran tanda waktu peringatan pada 17 Agustus pagi. “Jam 09.45 pemberitahuan (dari siaran RRI, red.) bahwa satu menit lagi akan dibunyikan sirine selama satu menit. Selama sirine berbunyi, semua orang yang sedang berjalan dan bekerja, juga semua kendaraan, hendaklah berhenti. Setelah berhenti, hendaknya tegak berdiri untuk mengheningkan cipta dan mendoakan kebahagiaan Negara Republik Indonesia. Acara mengheningkan cipta ditutup dengan pekik ‘Merdeka!’ dan setelah itu orang dan kendaraan boleh berjalan kembali,” ungkap Pram. Upacara peringatannya sendiri dilangsungkan di Gedung Agung tepat jam 10 pagi tanggal 17, di mana Presiden Sukarno membacakan ulang teks proklamasi. Sukarno juga berpidato setelah pidato pendahuluan oleh Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat, Mr. Assaat. Bahkan, saat itu juga sudah dihadirkan “Kelompok 10” yang diprakarsai Husein Mutahar sebagai cikal-bakal Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). “Perayaan paling ramai berlangsung di Yogyakarta di Istana Presiden, yang dihadiri oleh para pembesar dan pemimpin rakyat. Juga di alun-alun, di mana dilangsungkan parade tentara dan lasykar, disaksikan oleh Menteri Pertahanan dan para pembesar Angkatan Darat, Laut, dan Udara,” ungkap majalah Pantja Raja edisi 1 September 1946. Upacara yang khidmat itu diatur oleh Sekretaris Negara Mr. Abdoel Gaffar Pringgodigdo. Setelah pembacaan ulang teks proklamasi dan pidato Mr. Assaat, Presiden Sukarno menyampaikan pidatonya yang kemudian ditutup dengan pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih di halaman Gedung Agung. “Tatkala tanggal 17 Agustus tahun yang lalu kita memproklamirkan kemerdekaan kita dengan kata-kata yang sederhana, belum dapat kita membayangkan benar-benar apa yang kita hadapi, kita hanyalah mengetahui bahwa proklamasi kita itu adalah satu pekik ‘berhenti’ terhadap penjajahan yang 350 tahun. Kita memajukan proklamasi kita itu kepada dunia sebagai hak asli kita, hak bangsa kita, hak kemanusiaan kita, hak hidup kita dengan cara yang setajam-tajamnya,” ujar Sukarno, dikutip Pram. “Di dalam sejarah dunia sering orang dengan revolusi mendirikan suatu Republik, tetapi banyak sekali di antaranya yang gagal. Ada yang berusaia hanya beberapa bulan, ada yang beberapa minggu saja. Tetapi Republik Indonesia sudah berdiri satu tahun. Dan insya Allah kalau kita dapat berdiri satu tahun, kita dapat pula berdiri dua tahun. Kalau kita dapat berdiri dua tahun, kita dapat berdiri tiga tahun, tiga puluh tahun dan seterusnya, sampai akhir zaman,” lanjutnya. Ucapan selamat lalu berdatangan dari negara-negara dan tokoh-tokoh asing. Majalah Pantja Raja edisi 1 September 1946 mencatat, ucapan-ucapan selamat itu disampaikan via telegram di antaranya dari Ketua All-India Muslim League Muhammad Ali Jinnah, politikus Indian National Congress Morarji Desai, Ketua Partai Buruh Inggris Harold Laski, Ketua Liga Kebebasan Rakyat Anti-Fasis Myanmar Aung San, dan PM Republik Spanyol di pengasingan José Giral. Namun, keadaan berbeda terjadi di beberapa kota besar lain. Baik pemimpin tertinggi Sekutu di Indonesia Mayjen Robert Mansergh maupun Panglima Divisi ke-26 Inggris yang menaungi Sumatera, Mayjen R.C. Hedley, melarang perayaan kemerdekaan di Jawa dan Sumatera. “Hedley mengeluarkan instruksi operasi kepada para bawahannya terkait kebijakan Inggris terhadap ‘Hari Kemerdekaan’. Beberapa perwakilan (perwira) telah menerima pengajuan izin dari pihak Indonesia untuk menggelar prosesi, termasuk yang mengikutsertakan banyak perempuan dan anak-anak, di area yang diduduki Sekutu pada ‘Hari Kemerdekaan’ 17 Agustus. Tetapi tidak ada perayaan yang diperbolehkan di dalam area-area yang diduduki Sekutu. Hedley memerintahkan para bawahannya untuk mencegah parade, proses, maupun demonstrasi apapun pada 17 Agustus di area yang diduduki Sekutu, dengan cara patroli aktif,” tulis Richard McMillan dalam The British Occupation of Indonesia, 1945-1946: Britain, The Netherlands and the Indonesian Revolution. Para perwira pimpinan Sekutu, lanjut Hedley, mesti menginformasikan kepada para pemimpin lokal Indonesia agar prosesi perayaan kemerdekaan menghindari area-area militer Sekutu. Pemasangan dan pengibaran bendera Merah Putih belaka masih diperbolehkan dan para perwira maupun prajurit Sekutu dilarang keras ikut ambil bagian dalam perayaan baik formal maupun informal. Kalaupun harus diambil tindakan keras, hanya personel Inggris dan India yang boleh diterjunkan dan dilarang memobilisasi para tawanan serdadu Jepang. “Di Padang pun Serikat melarang perayaan kemerdekaan Indonesia. Hari ulang tahun kemerdekaan oleh penduduk Bogor dirayakan dengan berbagai cara, antara lain yang terpenting dengan menghancurkan tugu peringatan Jepang dan menanam pohon peringatan di Taman Merdeka. Di Bandung, musuh melancarakan serangan hebat terhadap Bandung Timur dengan senjata berat,” sambung Pram. Jakarta jadi perhatian utama Sekutu. Meski sudah ada larangan –yang disampaikan Walikota Jakarta Raya Soewirjo via radio sehari jelang perayaan usai permintaan izinnya ke pihak Sekutu dua hari sebelumnya ditolak– dan Sekutu sendiri melakukan “penebalan” penjagaan dan barikade di beberapa titik, masyarakat tetap antusias. Bersama sejumlah aktivis perempuan serta pandu-pandu putri dipimpin eks-Menteri Sosial Maria Ulfah, mereka melakukan long march ke kediaman PM Sjahrir di Pengangsaan Timur. Karuan saja mereka dihalang-halangi pasukan Sekutu. “Sesuai yang diminta markas Sekutu, Soewirjo menyampaikan siaran radio kepada penduduk Batavia pada Jumat malam (16 Agustus, red.), ia menjelaskan kenapa upacara peringatan dilarang dan ia meminta masyarakat untuk tidak berparade. Namun pada Sabtu (17 Agustus) pagi, polisi militer Inggris harus membubarkan beberapa parade kecil, sementara ratusan pelajar, dipimpin menteri perempuan Ulfah Santoso, berusaha mencapai kediaman Sjahrir melalui pekarangan belakang,” kata artikel Het Dagblad, 19 Agustus 1946, “Rustige Zaterdag”. Upacara peresmian Tugu Proklamasi (Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950) Kedatangan rombongan Maria Ulfah itu mulanya ingin menggelar upacara dan mendirikan Tugu Peringatan Proklamasi di halaman kediaman Sjahrir yang setahun sebelumnya jadi tempat pembacaan teks proklamasi. Namun larangan itu membuat mereka hanya bisa menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” di dekat pekarangan rumah Pegangsaan Timur. Sementara, Sjahrir hanya bisa menyampaikan pidatonya via radio pada 17 Agustus 1946 malam. “Perjuangan kita sekarang ini bagaimana juga aneh rupanya kadang-kadang, tidak lain dari perjuangan kita untuk mendapat kebebasan jiwa bangsa kita. Kedewasaan bangsa kita hanya jalan untuk mencapai kedudukan sebagai manusia yang dewasa bagi diri kita,” demikian bunyi petikan pidato radio Sjahrir, dikutip Rosihan Anwar dalam Mengenang Sjahrir: Seorang Negarawan dan Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Tersisih dan Terlupakan. “Oleh karena itu, kita sebagai bangsa yang percaya kepada kehidupan, percaya kepada kemanusiaan, berpengharapan kepada tempo yang akan datang. Kita telah belajar menggunakan alat-alat kekuasaan, akan tetapi kita tidak berdewa atau bersumpah pada kekuasaan. Kita percaya pada tempo yang akan datang untuk kemanusiaan, saat tiada kekuasaan lagi yang menyempitkan kehidupan manusia, tiada lagi perang, tiada lagi keperluan untuk bermusuh-musuhan antara sesama manusia. Sebagai bangsa yang balik muda kita mencari tenaga kita sebagai bangsa di dalam cita cita yang tinggi dan murni . Kita tidak percaya pada mungkin dan baiknya hidup yang didorong oleh kehausan semata-mata,” tambahnya. Sekutu hanya menghalang-halanginya pada tanggal 17 Agustus. Keesokan harinya, mereka tak lagi berjaga-jaga. Maka, massa datang lagi pada 18 Agustus pagi untuk meresmikan pendirian Tugu Peringatan Proklamasi di halaman rumah Pegangsaan Timur 56. Acaranya juga dihadiri Walikota Soewirjo dan PM Sjahrir. “Walikota Suwiryo memimpin upacara pembukaan Tugu Peringatan Kemerdekaan yang didirikan di halaman muka. Seperti dikatakan oleh Ny. Sukemi: ‘Tugu peringatan ini adalah suatu metselwerk (pekerjaan tukang batu) yang amat sederhana, tetapi mengandung arti yang mendalam. Tugu ini menyatakan jiwa kita yang sebenarnya’,” tandas Rosihan Anwar dalam Kisah-kisah Jakarta Menjelang Clash ke-I.*
- Ahmad Subardjo Melawan Penjajahan dari Sarangnya
NUN jauh dari tanah kelahirannya, Ahmad Subardjo untuk kali pertama menginjakkan kaki di Belgia. Sejak merantau ke Eropa, dia bermukim di Leiden, Belanda. Namun, pada pekan kedua Februari 1927, dia berkunjung ke Brussel, ibu kota Belgia, untuk menghadiri Kongres Anti Imperialisme sedunia. “Mereka berkumpul di sana dan saling bersuara untuk melawan kolonialisme dan imperialisme,” kata Hutomo Said, cucu Ahmad Subardjo, kepada Historia.ID. Subardjo datang ke Belgia bersama rekan sesama mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia. Mereka antara lain Mohammad Hatta, Gatot Tarunamihardja, dan Muhammad Nazir Datuk Pamuntjak. Para pemuda Indonesia inilah yang menjadi delegasi dalam Kongres Anti Imperialisme.
- Pembunuhan PM Jepang dalam Lintasan Sejarah
DI atas kotak merah penyangga kaki, Shinzo Abe berapi-api saat berorasi dekat Stasiun Keretaapi Yamato-Saidaiji di barat kota Nara, Jepang, Jumat (8/7/2022) pagi waktu setempat. Abe sedang memberikan dukungan kepada koleganya di Jimintō (Partai Liberal Demokratik (LDP) jelang Pemilu Dewan Majelis Tinggi 10 Juli 2022 mendatang. Di tengah orasi Abe, warga yang berkerumun tiba-tiba dikejutkan suara tembakan. Dari beberapa rekaman kamera amatir, tampak eks perdana menteri Jepang terlama (2012-2020) itu sudah tumbang dengan bercak darah di kemeja putihnya. Abe yang terluka dalam kondisi kritis segera dibawa ke Rumahsakit Universitas Nara dengan helikopter. Namun nyawanya tak tertolong. Dia meninggal di usia 67 tahun.
- Kisah Perancang Mode pada Zaman Jepang
SEBELUM tentara Jepang memasuki Jawa, Hindia Belanda tentu saja bersiap. Bahkan Hindia Belanda dapat kiriman serdadu dari Australia. Peter Sie, seorang bocah keturunan Tionghoa mengamati serdadu yang baru datang itu. Pakaiannya berbeda dengan tentara kolonial KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indische Leger). Tentara Australia itu memakai topi yang lebar. Kala itu pelatihan bahaya udara kerap diadakan di beberapa kota. Tak terkecuali di Bogor. Dalam pelatihan bahaya udara, sirine kerap meraung-raung di dalam kota. Hingga muncul sebuah banyolan: Sinds de geboorte van Prinses Irene, kregen we door en door sirine artinya sejak lahirnya Putri Irene, kita terus menerus mendengar suara sirene. Putri Irene adalah anak kedua Ratu Belanda Juliana dan Pangeran Bernhard. “Aku paling senang latihan-latihan serangan udara kalau sirine berbunyi,” kata Peter Sie dalam memoarnya Mode adalah Hidupku. Dia memakai panci sebagai helm,mengenakan kalung dengan bandul perak bertuliskan namanya dan kalung berbandul penghapus karetuntuk digigit jika pengeboman udara terjadi di sekitarnya.
- Melacak Jejak Jepang di Indonesia
KEHADIRAN Jepang di Indonesia tak dimulai pada Maret 1942 saat Dai Nippon mengambil alih kekuasaan dari Belanda. Beberapa abad sebelumnya, VOC (Perusahaan Dagang Hindia Timur) berperan dalam menghubungkan orang-orang Jepang dengan Nusantara. Perdagangan VOC merambah wilayah Jepang. Mulanya pusat perdagangan VOC berada di wilayah Hirado. Pada 1641 penguasa Jepang memindahkannya ke Pulau Dejima, Nagasaki, yang dibangun sekitar tahun 1634 hingga 1636. Pulau Dejima menjadi pusat perniagaan VOC yang terbilang sukses di Asia Timur. Pusat dagang ini pula yang menjadi penghubung orang-orang Jepang dengan Nusantara pada abad ke-17. Pada 1621, VOC mempekerjakan samurai tak bertuan atau ronin sebagai tentara bayaran untuk memadamkan perlawanan rakyat Banda yang menolak monopoli perdagangan rempah. Para ronin itu kehilangan tuannya sejak perang Sekigahara berakhir. Diperkirakan sekitar 68 samurai terlibat dalam pembantaian warga Banda.
- Slamet Rijadi Masa Pendudukan Jepang
SETELAH lulus Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Ardjoeno, Slamet Rijadi belajar di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Broederan di belakang Gereja Purbayan Solo. Dia tidak tamat sekolah menengah pertama itu karena tentara Jepang keburu mengalahkan dan menduduki Hindia Belanda. Jepang membuka sekolah pelaut di beberapa kota, salah satunya di Cilacap. Slamet Rijadi mendaftar ke Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) Cilacap. Dia diterima dan berkawan dengan Soejoto dan Wardiman yang belajar navigasi dek. Selain belajar tentang pelayaran, para siswa SPT dibekali pula dengan sedikit teknik militer. Setelah lulus SPT, Slamet Rijadi akan menjadi bintara kapal angkut Angkatan Darat Jepang (Rikugun). Dia bersama para siswa SPT Cilacap, SPT Tegal, dan SPT Jakarta kemudian dilatih menggunakan senapan mesin Watermantel di Jakarta.
- Abdul Razak Melawan Jepang di Papua
DI balik minimnya peran militer Belanda dalam Perang Dunia II di front Pasifik, ada peran orang-orang Indonesia yang berdinas dalam militer Belanda. Terutama di daerah Indonesia Timur. Beberapa misi penyusupan digalang oleh Netherlands East Indies Forces Intelligence Service (NEFIS) di sekitar Papua. Misi di daerah Papua yang diduduki Jepang sangat berat. Penyusup yang tertangkap bisa dihukum mati Jepang. Salah satunya misi Langs sekitar Agustus 1944. “Misi ini dipimpin oleh Komandan Letnan Laut Kelas Tiga Mohammed Abdul Razak, dengan seorang kopral Eropa, dua operator radio Eropa, dan enam tentara orang Indonesia,” tulis Louis de Jong dalam Het Koninkrijk der Nederlanden in de Tweede Wereldoorlog Deel IIC Nederlandsch Indie III.
- Impor Beras Burma Sebabkan Wabah Pes di Jawa
PACEKLIK melanda Jawa. Persediaan beras berkurang drastis hingga kekurangan. Pemerintah kolonial Hindia Belanda lantas mengimpor beras dari Burma, India, dan Tiongkok. Per Agustus 1910, peningkatan jumlah impor terjadi hingga bulan berikutnya. Beras impor itu dikirim lewat kapal-kapal dan berlabuh di Surabaya. Dari Surabaya, beras diangkut kereta api ke daerah di selatan Surabaya yang mengalami paceklik. Bersamaan dengan kebijakan impor beras itu, Burma sedang dilanda wabah pes. Namun, para petugas tidak mencurigai banyaknya tikus mati dan kutu-kutu saat muatan sampai di Sidoarjo. “Bisa diperkirakan, perjalanan yang berbulan-bulan itu, tikus ikut di dalam kapal, dia (tikus, red.) mencemari sambil makan berasnya kemudian buang kotoran di situ,” ujar Agus Setiawan, pengampu sejarah kesehatan di UI, kepada Historia.ID.
- Serdadu Jepang Dimangsa Buaya di Burma
KEJAHATAN kemanusiaan terhadap etnis Rohingya di Myanmar mengundang simpati dari berbagai pihak. Di Indonesia, elite sampai akar rumput ramai-ramai mengutuk perbuatan keji itu. Di dunia maya, solidaritas begitu tinggi. Unggahan berita terkait Rohingya bertebaran di berbagai laman, disebarkan melalui sosial media hingga grup WhatsApp. Kontan berita itu menyulut emosi para pembaca. Namun, warga net masih banyak yang meyakini dan menyebarkan berita hoax terkait Rohingya. Salah satu yang terkenal yaitu foto seorang pemuda yang tubuhnya terbakar. Berita-berita hoax menyebut pemuda itu Muslim Rohingya yang dibakar hidup-hidup. Padahal, pemuda itu merupakan aktivis Tibet bernama Jamphel Yesh yang membakar diri saat demonstrasi menentang kedatangan Presiden RRC Hu Jintao. Berita dari Burma (kini Myanmar) yang juga disangsikan kebenarannya pernah terjadi di masa lalu dan hingga kini masih dipercaya banyak orang yaitu tentang ratusan serdadu Jepang yang dimangsa buaya muara. Berita itu bermula dari kisah naturalis Bruce Stanley Wright dalam bukunya, Wildlife Sketches: Near and Far.
- Pangeran Diponegoro Hulunya Gerakan Kemerdekaan
ANIES Baswedan resmi menjabat gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Anies punya perhatian khusus kepada beberapa tokoh sejarah di negeri ini. Alih-alih menyebut “idola” dia lebih senang menyebutnya dengan “orang-orang yang dia perhatikan dengan saksama.” Ada beberapa yang dia perhatikan betul segala tindak-tanduknya sejak kecil. Salah satu tokoh sejarah yang mencuri perhatiannya adalah Pangeran Diponegoro. Pangeran yang bernama asli Mustahar dan sejak kecil menyandang nama Raden Mas Antawirya itu terkenal karena mengobarkan Perang Jawa (1825-1830). Perang lima tahun itu telah menyebabkan Belanda kehabisan akal dan nyaris membuat Belanda jatuh bangkrut. Frustrasi menghadapi gempuran-gempuran Pangeran Diponegoro, Belanda menyusun siasat licik: mengundang Diponegoro untuk berunding. Tanpa curiga Diponegoro datang memenuhi undangan Belanda ke Magelang. Namun Belanda mengkhianati Diponegoro, menangkapnya saat perundingan sedang berjalan. Penangkapan Diponegoro sekaligus menandai berakhirnya Perang Jawa.
- 4 Januari 1946: Tuntutan Merdeka 100%
HARI ini, 4 Januari 1946, di kota sejuk Purwokerto, Jawa Tengah, berlangsung pertemuan besar yang dihadiri sekitar 300 orang dari pengurus partai, badan-badan perjuangan, dan perkumpulan pemuda. Wakil-wakil pengurus partai yang hadir dari Partai Boeroeh Indonesia, Masyumi, Partai Sosialis, Partai Komunis Indonesia. Lalu dari perkumpulan lain seperti pucuk pimpinan Serikat Rakyat Indonesia, Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Gerakan Rakyat Indonesia, Persatuan Wanita Republik Indonesia, Partai Revolusioner Indonesia, Pesindo, KRIS, Hizbullah. Dua tokoh utama yang hadir adalah Tan Malaka dan Panglima Besar Jenderal Soedirman. “Tidak ada siaran pers. Semua yang hadir mendapat undangan pribadi atau melalui organisasi yang diwakilinya,” tulis Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan kiri, dan revolusi Indonesia: Agustus 1945-Maret 1946.
- Perang Sepakbola dan Kemerdekaan Kroasia
BEGITU wasit asal Argentina Néstor Pitana membunyikan peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan final Piala Dunia 2018, Luka Modric langsung lunglai. Para pemain Kroasia lain nampak pasrah kala para pemain Prancis berhamburan merayakan kemenangan. Presiden Kroasia Kolinda Grabar-Kitarovic yang hadir dan turut memberikan medali, memeluk satu per satu patriotnya di lapangan hijau seraya menenangkan dan mengapresiasi mereka. Toh, mereka berhak berbangga diri. Bukan perkara receh mereka bisa memijak laga puncak. Pencapaian baru itu patut dipuja dan dicontoh lantaran mereka berhasil melewati pencapaian timnas Kroasia di Piala Dunia 1998 yang –juga terhenti oleh Prancis di semifinal– hanya menjadi juara tiga. Pencapaian di Rusia juga mengagumkan mengingat Kroasia belum lama merdeka. Kroasia merdeka pada 25 Juni 1991 dan berhasil bangkit dari kehancuran pasca-Perang Kemerdekaan melawan Serbia (1991-1995).





















