Hasil pencarian
9807 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Menggoreskan Kisah Tragis Adinda dalam Lukisan
EKSPRESI sesosok dara dalam sebuah potret lukisan itu begitu datar tapi sepasang mata bolanya menatap tajam. Beberapa helai rambut hitamnya melambai ke samping tertiup angin. Namun takkan ada satupun pesan yang bisa keluar dari bibir manisnya karena ia terbungkam beraneka simbol –berupa barisan titik-titik, tentakel bercapit seperti kepiting, seekor kerbau terbalik, dan seekor kupu-kupu– yang saling bertumbukan dan menyumpal mulutnya. Tidak hanya mulut yang ditutupi. Dadanya juga tertutup gambar seporsi burger dan kepala kerbau yang bak menggambarkan pembungkaman terhadap hatinya. Burger berbendera VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur, red.) itu kemudian dicokoti tiga ekor tikus putih. Lukisan unik yang tersapu dengan cat akrilik di atas kanvas berdimensi 120 x 100 cm itu merupakan lukisan realis bertajuk “Kesaksian Adinda-Keganasan Kapitalisme” karya Bambang Prasadhi. Sang pelukis terinspirasi dari buku Max Havelaar (1860) karya Eduard Douwes Dekker yang bernama pena Multatuli.
- Kisah Pemalsu Lukisan-lukisan Terkenal
ELMYR de Hory dikenal sebagai pemalsu karya seni terbesar pada abad ke-20. Kariernya sebagai pemalsu karya seni dimulai pada suatu sore pada April 1946. Ketika itu, kenalannya Lady Malcolm Campbell, istri mendiang pembalap Sir Malcolm Campbell, mengunjungi studio seninya di Paris, Prancis. Kenalannya yang kaya raya itu berkeliling melihat sejumlah lukisan yang terpajang di studio seni De Hory, dan di antara lukisan-lukisan De Hory yang beraliran post-impresionisme, Campbell melihat sebuah lukisan abstrak tanpa tanda tangan dan tanpa bingkai yang ia kira karya Pablo Picasso. Tertarik dengan lukisan tersebut, Campbell yang salah mengidentifikasi lukisan itu sebagai karya Picasso segera bertanya kepada De Hory, apakah ia berniat untuk menjualnya. Campbell bersedia membelinya dengan harga sekitar 100 dolar AS. De Hory menyetujui penawaran itu.
- Pembatasan Sosial dan Isolasi Diri dalam Lukisan
SIAPAPUN Anda, yang berada di epicenter pandemi virus corona (SARS-Cov-2) diimbau keras untuk membatasi diri dari aktivitas sosial (physicaland social distancing). Isolasi diri jika tak punya keperluan penting ke luar rumah. Demikianlah inti pesan pemerintah setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan di ibukota per Jumat (10/4/2020). Imbauan, bahkan peringatan keras senada juga digaungkan sejumlah negara yang melakoni lockdown dengan tujuan memutus mata rantai penyebaran virus corona. Intinya, setiap orang diimbau untuk tetap berada di rumah. Tentu kebosanan datang. Yang biasanya sering kelayapan entah untuk bekerja atau nongkrong, kini terpaksa harus anteng di rumah. Pasti ada banyak di antara kita yang hanya bisa menatap kosong ke arah luar dari jendela rumah, kangen akan dunia di luar rumah, dan mengharap pandemi virus corona ini segera berlalu.
- Badilah Perintis Aisyiyah
SUATU siang di masa pendudukan Jepang. Badilah Zuber, Ketua Aisyiyah, sedang di sekolahnya ketika segerombolan Kempeitai mendatanginya. Sekonyong-konyong mereka mengajukan pertanyaan. “Apakah Nyonya menjadi ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah?” “Saya menjadi ketua karena saya yang paling tua di antara mereka,” jawab Badilah. “Hasil Nyonya menjadi guru itu cukup atau Nyonya mempunyai kekayaan?” “Kami orang dituntun untuk memohon kepada Tuhan agar diberi kecukupan hidup,” kata Badilah. Itu merupakan kali kedua Kempeitai mendatangi Badilah. Sebagai pemimpin organisasi perempuan Islam Aisyiyah, beberapakali ia dipanggil untuk diinterogasi. Jepang mengawasi gerakan perempuan dengan amat ketat. Semua naskah pidatonya diperiksa sebelum dibacakan kepada khalayak.
- Penggerak Kaum Perempuan
UDARA pagi menerpa wajah kaum perempuan yang berbaris di depan kantor Wani (Wanita Negara Indonesia) di gedung SKP (Sekolah Kepandaian Putri) (kemudian menjadi gedung bioskop Metropole atau Megaria) di kawasan Jalan Pegangsaan, Menteng, Jakarta, pada 17 Agustus 1946. Mereka akan pawai menuju tempat pembacaan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Saat itu, kediaman Presiden Sukarno menjadi kantor Sutan Sjahrir, perdana menteri merangkap menteri luar negeri. Sementara Sukarno hijrah ke Yogyakarta karena Jakarta tidak aman setelah diduduki Belanda yang membonceng Sekutu dan mendirikan NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda). Mengenakan pakaian berwarna merah dan putih, kaum perempuan bergerak menuju Pegangsaan Timur 56. Meski diadang pasukan Gurkha, mereka terus bergerak untuk merayakan satu tahun kemerdekaan sekaligus menyaksikan peresmian Tugu Proklamasi.
- Leo Wattimena, Si Gila Kebanggaan AURI
GELANG akar bahar selalu melekat di lengan kanan Leo Wattimena kala menerbangkan pesawat. Untuk keberuntungan, katanya. Di kalangan teman-temannya sesama penerbang, dia mendapat julukan kehormatan "penerbang gila" karena ulahnya yang sering kelewat berani. “Ulahnya memang macam-macam, tapi penuh perhitungan,” kenang kolega Leo yang juga mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal (Purn.) Ashadi Tjahyadi dalam Pahlawan Dirgantara: Peranan Mustang dalam Operasi Militer Indonesia suntingan Soemakno Iswadi. Serenceng gelar melekat pada diri Leo Wattimena. Mulai dari good pilot, G-maniac, sampai dianggap orang yang paling mengenal pesawat tempur P-51 Mustang. Salah satu kebiasaan “gila” Leo adalah kesukaannya melakukan manuver putar balik 360 derajat.
- “Aku Ingin Dengar Permintaan Maaf”
PEMENANG hadiah Nobel Perdamaian Timor Leste Uskup Carlos Felipe Ximenes Belo selama bertahun-tahun melakukan pelecehan seksual terhadap banyak remaja laki-laki, seperti terbukti dari beberapa kesaksian. “Kita harus berbicara tentang ini dan meneriakkannya dengan lantang ke dunia luar”. Pada suatu hari Minggu pagi. Paulo berdiri di antara sekian banyak umat Katolik lain yang dengan penuh perhatian mengikuti misa yang diunjukkan oleh Uskup Belo di sebuah taman dekat kediamannya di Dili, ibu kota Timor Leste. Sesudah misa Monseigneur Belo mendekati Paulo yang waktu itu masih remaja, berusia sekitar lima belas atau enam belas tahun. “Ia minta saya ikut ke kediaman beliau,” kata Paulo (42 tahun), yang demi privasi dan keamanannya sendiri serta keluarganya harus tetap anonim, karena itu diberi nama samaran. Undangan itu adalah kehormatan. “Saya senang sekali,” kata Paulo. Sebagai Uskup, Carlos Felipe Ximenes Belo bukan hanya pimpinan tertinggi gereja Katolik Timor Leste, tapi juga pahlawan nasional dan mercusuar tempat orang bertumpu harapan. Dia tampil membela tanah airnya yang begitu menderita akibat pendudukan berdarah-darah yang dilakukan Indonesia dari 1975 sampai 1999, menuntut penghargaan hak-hak asasi manusia dan hak untuk menentukan nasib sendiri. Tanpa menduga apa-apa, senja itu Paulo mendatangi kediaman Uskup yang terletak di jalan pantai Dili dengan pemandangan laut yang luar biasa indah. Malam harinya Belo mengajaknya masuk kamar tidur. “Bapak Uskup melepas celanaku, mulai menggerayangi aku dan melakukan seks oral (mulut) padaku,” kata Paulo. Bingung dan kaget, remaja belasan tahun ini tertidur. Begitu bangun “ia memberiku uang,” Paulo ingat kejadiannya. “Pagi itu aku lari kencang-kencang. Sedikit takut. Merasa sangat aneh.” Paulo merasa malu, sampai akhirnya dia sadar, “Ini bukan salahku. Dia minta aku datang. Dia seorang rohaniwan, seorang Uskup. Ia memberi kami makan, dan berbicara ramah dengan aku. Ia menyalahgunakan keadaan.” Paulo berlanjut, “Aku kira ini memuakkan. Aku tidak mau lagi ke sana.” Paulo tidak memberi tahu siapa-siapa tentang pelecehan seksual yang hanya sekali dialaminya itu. Tapi pengalaman Roberto (45) lain lagi. Dia juga harus anonim sehingga memperoleh nama samaran. Baik Paulo maupun Roberto kelak akan berangkat keluar negeri untuk membangun kehidupan di sana. Suasana kampung halaman Roberto gembira, di sana tengah berlangsung pesta gereja. Orang-orang bersukaria karena Uskup datang. Sementara Roberto menonton pertunjukan sandiwara dan mendengar musik, mata Belo menyorotinya. Bapak Uskup meminta remaja berusia sekitar 14 tahun itu untuk ikut masuk biara. Ketika dia tiba malam sudah larut, terlalu larut untuk pulang. Bapak Uskup mengajak Roberto masuk kamar penginapan, dia begitu mengantuk sehingga langsung tertidur. Tiba-tiba dia terbangun. “Bapak Uskup memperkosa aku malam itu dan melakukan pelecehan seksual,” kata Roberto. “Pagi-pagi sekali dia minta aku pergi. Aku takut karena hari masih gelap. Jadi aku harus tunggu terang sebelum bisa pulang. Dia juga meninggalkan uang untuk aku. Itu dilakukannya supaya aku tutup mulut. Dan juga untuk memastikan bahwa aku akan kembali.” Uang yang diterima terasa banyak untuk seorang remaja belasan tahun, yang sudah kehilangan banyak anggota keluarga akibat pendudukan Indonesia. Waktu itu kemungkinan sebanyak 183.000 orang Timor Leste tewas akibat kelaparan, sakit, kelelahan dan kekerasan. Pada kunjungan berikut ke kota kecil itu, Uskup Belo mengirim orang untuk menjemput Roberto. Belo memanfaatkan perasaannya. “Aku merasa diakui, dipilih, dikasihi dan diistimewakan,” kata Roberto. “Sampai akhirnya aku sadar Bapak Uskup sebenarnya tidak begitu tertarik padaku, dia hanya mementingkan diri sendiri. Waktu itu uang penting bagiku. Kami sangat butuh uang.” Ketika Roberto pindah, pelecehan seksual itu juga pindah ke kediaman Uskup di Dili. Dilihatnya beberapa anak yatim piatu yang besar di kediaman Uskup dan juga anak laki-laki lain yang seperti dia juga dipanggil. Baik Roberto maupun Paulo berkisah bahwa ada orang yang bertugas menjemput remaja dengan mobil untuk dibawa ke kediaman Uskup Belo. “Bapak Uskup menyalahgunakan kedudukan tingginya terhadap anak remaja yang hidup dalam kemiskinan berat,” kata Paulo. “Dia tahu anak-anak ini tidak punya uang. Jadi kalau dia mengundangmu, maka kamu datang, dan dia memberimu uang. Tapi sementara itu kamu jadi korban. Begitulah cara dia melakukannya.” Adalah tidak mungkin untuk berbicara tentang apa yang terjadi dalam kamar tidur Uskup Belo. “Kami takut untuk membicarakannya. Kami takut untuk menyebarkan informasi ini. Seperti aku sendiri, takut bicara tentang pengalaman burukku dengan Uskup Belo,” kata Paulo. Gereja sangat dihormati oleh penduduk Timor Leste, juga sebagai lembaga yang membantu dan menyediakan perlindungan. “Kalau sampai keluar tuduhan terhadap Uskup Belo, maka itu akan sangat merusak negara dan merongrong perjuangan kemerdekaan,” kata Roberto. Sampai sekarang orang tetap merasa sulit untuk secara terbuka berbicara tentang tuduhan delik susila yang dilakukan Uskup Belo, karena takut kena stigmatisasi, pengucilan, ancaman dan kekerasan. Paulo ingin melupakan dan mengubur ingatannya tentang pelecehan seksual. Tapi ketika bertemu seorang gadis cantik, pengalaman itu muncul kembali. “Sudah kuduga ini negatif. Apa yang dilakukan Bapak Uskup terhadap kami tidak baik”. Dari penelitian mingguan Belanda, De Groene Amsterdammer terungkap bahwa Belo telah melecehkan lebih banyak lagi korban. De Groene Amsterdammer berbicara dengan 20 orang tentang kasus ini: pejabat tinggi, pejabat pemerintah, politisi, aktivis LSM, kalangan gereja dan profesional lain. Lebih dari separuh kenal salah seorang korban, sementara yang lain tahu tentang kasus ini dan banyak yang sudah membicarakannya di tempat kerja. De Groene juga berbicara dengan korban lain yang tidak ingin mengungkap pengalamannya pada media. Baik Paulo maupun Roberto kenal orang-orang yang senasib dengan mereka. “Saya tahu beberapa keponakan. Saya tahu beberapa teman,” kata Paulo. “Mereka pergi ke rumahnya, hanya untuk minta uang.” Pelecehan ini berlangsung dalam periode lama. Tuduhan pelecehan yang dilancarkan Paulo dan Roberto berlangsung pada dekade 1990-an. Menurut penelitian kami, Belo sudah melakukan pelecehan terhadap pemuda remaja sebelum diangkat sebagai Uskup, waktu dia pada awal dekade 1980-an, di desa Fatumaca, memimpin lembaga pendidikan Salesian, Don Bosco (SDB), Kongregasi rohaniwan Katolik tempat Belo menginduk. Pada waktu itu, Uskup Agung Dili yang baru dilantik, Virgílio do Carmo da Silva belajar pada seminari kecil lembaga ini, seperti bisa dilihat dari beberapa artikel daring yang antara lain ditulis oleh Uskup Belo sendiri. *** Penelitian Penelitian ini bermula pada awal tahun 2002, tatkala seorang pria Timor Leste bertutur bahwa temannya mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh Uskup Belo. Ia sangat mengkhawatirkan adiknya, yang setiap minggu mendatangi kediaman Uskup, dan minta ibunya supaya tidak mengizinkan adik pergi lagi. Pada akhir November 2002, tiba-tiba Uskup Belo mengundurkan diri. Sejak saat itu desas-desus tentang dugaan pelecehan seksual membengkak menjadi semacam rahasia umum yang besar. Beberapa wartawan berupaya mengungkap kasus ini. Tetapi Uskup Belo itu “terlalu besar untuk bisa gagal”. Tatkala pada bulan Februari 2019 untuk pertama kali situs berita Tempo Timor mengungkap kasus bekas pastor Amerika Richard Daschbach, muncullah sekelumit kesempatan. Sejak saat itu De Groene melakukan penelitian terhadap kasus Belo, dan berbicara dengan 20 orang tentang kasus ini: pejabat tinggi, pejabat pemerintah, politisi, aktivis LSM, kalangan gereja dan profesional lain. Lebih dari separuh kenal salah seorang korban, sementara yang lain tahu tentang kasus ini dan banyak yang sudah membicarakannya di tempat kerja. De Groene juga berbicara dengan banyak korban lain. *** Carlos Felipe Ximenes Belo (74 tahun) dilahirkan pada tanggal 3 Februari 1948 dalam sebuah keluarga yang taat beragama di dukuh Wailacama, Timor Leste yang waktu itu disebut Timor Portugis, karena masih merupakan wilayah jajahan Portugal.[1] Ketika mencapai usia tiga tahun, ayahnya meninggal dunia. Kehidupan seluruh rakyat wilayah ini dililit kesulitan dan dalam kemiskinan parah. Waktu masih kanak-kanak, Belo sudah harus membantu mengolah tanah. Dia harus berjalan selama tiga jam untuk memperoleh beras dari satu keluarga. Sebagai anak laki-laki, Belo suka bermain sebagai pastor. Pada suatu hari ia memasang kulit jeruk di kepalanya, menggunakan tongkat sebagai tongkat gembala rohani dan memerintahkan para keponakan laki-laki dan perempuan untuk menciumi tangan “Uskup”. Demikian penulis Amerika Arnold S. Kohen mencatat dalam biografi penuh pujaan berjudul From the Place of Dead: The Epic Struggle of Bishop Belo of East Timor (1999). Belo masuk sekolah Katolik dan seminari. Sebagai ketua kelas dia bersikap tegas kepada sesama pelajar. Dia bisa jenaka, senang berdebat, teater, sepak bola, lagu-lagu romantis dan The Beatles. Pada 1968, dia berangkat ke Portugal untuk melanjutkan pendidikan, dan pada April 1974 menjadi saksi Revolusi Anyelir yang mengakhiri kekuasaan diktator Salazar serta kolonialisme Portugal. Dia kembali pulang ke Timor Leste dan pada tanggal 6 Oktober 1974 bergabung dalam Kongregasi Salesian Don Bosco (SDB) serta mengajar di Fatumaca. Ketika setahun kemudian Indonesia menginvasi Timor Leste pada akhir 1975, Belo baru tiba di Macau. Pada 1980, dia ditahbiskan menjadi imam. Tatkala kembali ke tanah airnya pada 1981, Belo sangat terkejut mendapati begitu besarnya ketakutan, kemiskinan, dan kekerasan perang. Tentara Indonesia menggunakan rakyat –termasuk saudara-saudara, paman, dan keponakan Belo– sebagai benteng manusia dalam operasi militer, demikian tulis Kohen. Belo pergi ke Fatumaca untuk mengurus para Novis dan setahun kemudian menjadi pimpinan seminari. Pada 1983, Paus menunjuk Belo yang waktu itu berusia 35 tahun untuk menjadi pimpinan gereja Timor Leste. Pada 1988, dia diangkat menjadi Uskup. Ini adalah kedudukan yang sangat berat. Banyak orang dalam keadaan putus asa mengetuk pintu kediaman Uskup untuk berkabar bagaimana tentara Indonesia menggerebek rumah mereka, mengambil orang-orang, menyiksa dan membunuh mereka. Belo dipanggil untuk menjadi penengah kalau tentara dan intel-intel Indonesia yang kejam mengamuk terhadap warga. Pada tanggal 12 November 1991 Belo mendengar tembakan senjata mesin. Tentara Indonesia melepas tembakan terhadap demonstran di makam Santa Cruz, Dili. Banyak pemuda tewas. Ratusan orang melarikan diri ke kediaman Uskup Belo. Ketika mendatangi makam Santa Cruz, dia saksikan sendiri korban bersimbah darah dengan tubuh berlubang ditembus peluru. Akhirnya Belo boleh masuk ke rumah sakit militer. Dia kenali banyak orang yang sebelumnya sudah diantarnya pulang, tetapi kemudian ditangkap dan disiksa dengan berat. Waktu itu Paulo masih terlalu muda, tetapi begitu mencapai usia lima belas tahun, ia mulai ikut berdemonstrasi. Hidup mereka tidak teratur dan berbahaya, banyak teman Paulo tewas terbunuh. Dalam sebuah serangan Paulo sendiri luka parah dan kehilangan teman terdekatnya. Pada 1996 Belo dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian, bersama aktivis dan diplomat José Ramos-Horta yang sekarang terpilih lagi sebagai presiden Timor Leste. Keduanya mendapat penghargaan karena upaya mereka untuk “mengakhiri konflik di Timor Leste dengan damai dan adil”.[2] Pada tanggal 30 Agustus 1999 akhirnya berlangsung referendum di Timor Leste. Walaupun diselenggarakan oleh PBB, Indonesia berupaya merongrong prosesnya dengan kekerasan brutal. 78,5% warga memilih kemerdekaan. Tanpa kenal ampun Indonesia melakukan balas dendam. Tentara dan intel Indonesia bersama milisi anti kemerdekaan Timor Leste merusak rumah, bangunan, dan infrastruktur. Mereka melakukan penjarahan, pembunuhan dan mendeportasi seperempat warga. Dalam letusan kekerasan yang terorganisir itu, sekitar 5000 orang mengungsi ke dalam kediaman uskup Belo. Pada tanggal 6 September 1999 kalangan milisi melancarkan serangan dan membakar kediaman Uskup.[3] Belo meninggalkan domba-domba gembalaannya. Semula dengan helikopter Indonesia, kemudian pasukan Australia menerbangkannya ke Darwin. Pada Oktober 1999 dia pulang ke Dili.[4] [5] Di tengah-tengah kerusakan total itu, seorang saksi berkata bahwa pelecehan seksual terus berlanjut. Pemerintah peralihan PBB berkuasa dari 1999 sampai 2002 di Timor Leste merdeka. Ada upaya untuk mengungkap pelecehan seksual yang dilakukan Belo. Tetapi dikhawatirkan akan muncul aksi pembalasan, dan ada anggapan bahwa dalam tahap begitu awal, negara muda ini tidak akan mampu menghadapi skandal yang akan begitu merusak. Orang membayar sangat mahal kemerdekaan yang mereka capai. Paulo sangat menderita trauma dan mengidap serangan panik. “Banyak hal terjadi serempak. Perang dan Uskup. Aku melampaui periode-periode gelap,” katanya. *** Mendadak sontak Uskup Belo mengundurkan diri sebagai pemimpin gereja Katolik. Pada tanggal 26 November 2002, Paus melepasnya dari semua tugas. Pemenang hadiah Nobel ini mengidap “baik keletihan fisik maupun mental”.[6] Pada Januari 2003, dia meninggalkan Timor Leste, resminya untuk menjalani pemulihan di Portugal.[7] Setelah pembicaraan dengan perfect (pimpinan) bekas Kongregasi Evangelisasi Bangsa-bangsa dan kepala Kongregasi Salesian, Belo memangku jabatan baru, demikian menurutnya dalam wawancara dengan UCA News. Mulai Juni 2004, dia menjadi “pastor pembantu” di Maputo, ibu kota Mozambik. “Saya turun dari atas ke bawah,” kata Belo kepada sebuah kantor berita Katolik dengan berita-berita Asia. Mengapa seorang Uskup yang begitu ambisius dan terkenal di seluruh dunia menerima posisi yang begitu rendah? Memperhatikan tuduhan terhadapnya, ucapannya mengenai pekerjaannya di Maputo cukup meresahkan juga: “Saya melakukan kerja pastoral dengan mengajar katekismus kepada anak-anak, melakukan retret dengan kaum muda”. Belo tidak lagi menetap di Timor Leste, tetapi hanya datang berkunjung. Kunjungan terakhir ke Timor Leste dilakukannya pada akhir tahun 2018, di sekitar Natal dan tahun baru. Beberapa tahun belakangan mulai tampak retak pada citra gereja yang selalu tanpa noda. Pada Februari 2019, situs berita Timor Leste, Tempo Timor, untuk pertama kali mengungkap kasus pelecehan seksual seorang pastor. Tahta Suci Vatikan menyatakan bahwa misionaris Amerika Richard Daschbach bersalah dan memecatnya sebagai pastor, tetapi diam tentang keputusan ini. Pada 21 Desember 2021, pengadilan Timor Leste menjatuhkan vonis 12 tahun penjara terhadap Daschbach karena melakukan pelecehan seksual terhadap gadis-gadis penghuni pusat penampungan yang dipimpinnya. Sebelum itu, pada 2015, seorang bruder divonis 10 tahun penjara karena melakukan pelecehan seksual terhadap remaja-remaja penghuni pusat penampungan di distrik Ermera, tetapi vonis ini tidak muncul dalam pemberitaan. Masih ada banyak kasus lain. De Groene berbicara dengan mereka yang mendakwa empat orang pastor di Timor Leste. Muncul kekhawatiran besar terhadap pastor Inggris Patrick Smythe yang awal tahun ini di Inggris divonis bersalah atas delik susila terhadap anak-anak, karena ternyata dia pernah datang ke Timor Leste dalam periode 10 tahun dan selama itu anak-anak menginap bersamanya di kamar hotel.[8] Beberapa sumber mengatakan bahwa otoritas gereja telah menerapkan pembatasan untuk bepergian terhadap Uskup Belo. Belo yang menetap di Portugal, tidak boleh melawat ke Timor Leste atas inisiatif sendiri, untuk itu dia harus terlebih dahulu minta izin Roma. Pembatasan perjalanan ini dibenarkan oleh ketua Konferensi Uskup-Uskup Timor Leste. “Dia harus minta izin Vatikan dulu untuk memastikan apakah dia memperoleh izin atau tidak,” ujar Uskup Norberto do Amaral dalam sebuah wawancara pada September 2019. Dia menyatakan tidak tahu alasannya. “Tentang mengapa dia tidak boleh datang ke sini, tolong tanyakan langsung pada Vatikan” karena “masalah Uskup-Uskup”, bukan wewenang gereja setempat, “melainkan wewenang Vatikan”. Pembatasan perjalanan seperti ini adalah langkah yang menurut hukum kanon bisa dikenakan selama berlangsung proses pidana dalam rangka melindungi korban, kasus penyidikan, dan terdakwa.[9] Gereja bisa juga menerapkan pembatasan setelah dijatuhkan vonis.[10] Sumber-sumber memastikan bahwa Uskup Belo masih belum boleh melakukan perjalanan secara bebas. Dia juga tidak hadir pada instalasi besar beberapa orang Kardinal baru Agustus lalu di Roma, termasuk Uskup Agung Timor Leste Kardinal Virgílio do Carmo da Silva. De Groene meminta reaksi gereja Katolik terhadap tuduhan pelecehan seksual. Tahta Suci, lembaga-lembaga yang bertanggung jawab seperti Dicastery bagi Doktrin Kepercayaan (DDF), Kardinal Virgílio do Carmo da Silva di Dili dan kepala Kongregasi Salesian tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan memilih untuk bungkam. Uskup Belo mengangkat telepon sebentar, tapi segera meletakkannya kembali. Paulo ingin agar bungkam tentang pelecehan seksual yang antara lain mengorbankan dirinya segera diakhiri. “Ini harus kita bicarakan dan dengan lantang kita serukan kepada dunia,” katanya. Roberto mengungkap kisahnya karena dia ingin membuka jalan sehingga korban lain juga bisa berbicara. “Yang aku inginkan adalah permintaan maaf Uskup Belo dan gereja. Aku ingin mereka akui penderitaan yang aku dan korban lain alami, sehingga kekerasan dan penyalahgunaan kekuasaan ini tidak akan terjadi lagi”.* Identitas para korban disimpan oleh redaksi De Groene Amsterdammer. Dengan izin penulis, artikel ini diterjemahkan oleh Joss Wibisono dari versi asli bahasa Belanda berjudul “Wat ik wil zijn excuses” yang dimuat dalam mingguan De Groene Amsterdammer No. 39 Tahun 146, edisi 29 September 2022, halaman 16–19. Artikel ini juga terbit di situs groene.nl.
- 15 Mei 1940: Para Pemuda Indonesia yang Melawan Nazi
HARI ini, 15 Mei 1940, pemerintah Belanda secara resmi menyerah kepada Nazi-Jerman. Keputusan tersebut diambil setelah pihak Belanda pesimis memenangkan pertempuran melawan pasukan Jerman dan menghindari korban sipil lebih banyak. Lima hari sebelumnya, pasukan Jerman memulai serangannya terhadap kota pelabuhan Rotterdam. Begawan ekonomi Indonesia Soemitro Djojohadikusumo ingat betul hari ketika serangan Jerman itu dimulai. Saat itu dia sedang menggarap disertasi di kamar kosnya. Tak berapa lama kemudian, pesawat-pesawat Luftwaffe Jerman membombardir kota. Bukan hanya kamar kos beserta isinya yang hancur berantakan akibat pemboman itu, nyawa Soemitro juga nyaris melayang. Menurut Richard Overy dalam The Bombing War: Europe, 1939-1945, “Prioritas Jerman adalah merebut bandara-bandara Belanda dan titik-titik kunci komunikasi, yang secara umum tercapai, meski dengan bayaran tinggi.”
- Para Jenderal Nirbaya
PERISTIWA Gerakan 30 September (G30S) 1965 menjerumuskan sejumlah jenderal ke dalam tahanan. Alasan penahanan mereka bermacam-macam. Mulai dari tuduhan terlibat dalam G30S hingga diidentifikasi sebagai loyalis Presiden Sukarno. Rumah Tahanan Militer (RTM) Nirbaya di Pondok Gede Jakarta Timur, dipersiapkan untuk mengamankan para jenderal yang dicurigai itu. Gelombang penahanan dimulai sejak 1966. Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) memberi kuasa bagi Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) merangkap Panglima Kopkamtib Jenderal Soeharto untuk menangkapi orang-orang terindikasi G30S. Oei Tjoe Tat, salah satu menteri negara yang ditangkap dan ditahan di Nirbaya, dalam memoarnya mengenang sejumlah perwira tinggi yang juga pernah masuk dalam tahanan Nirbaya. Dari Angkatan Darat adalah: Mayjen Moersjid (Deputi I Menpangad), Mayjen Pranoto Reksosamudro (Asisten III Menpangad), Mayjen Soedirgo (Komandan POM ABRI), Brigjen A.M. Soetardhio (Menteri/Jaksa Agung), Mayjen Rukman (Panglima Komando Wilayah Indonesia Timur), Mayjen S. Suadi (Gubernur Lemhanas), Brigjen Sabur (Komandan Tjakrabirawa), Brigjen Shaifuddin (Panglima Kodam Bali), Brigjen Soenarjo (Wakil Jaksa Agung). Selain itu, sejumlah perwira tinggi dari Angkatan Udara, Laut, dan Kepolisian juga turut jadi penghuni Nirbaya. Beberapa nama yang cukup popular seperti Laksamana Madya Omar Dani (Menteri/Panglima Angkatan Udara) dan Brigjen (Pol.) Soetarto (Kepala Staf Badan Pusat Intelijen).
- Benshi, Suara di Balik Film Bisu Jepang
ORANG-orang berdatangan ke salah satu bioskop terbesar di Jepang pada 1920-an. Mereka ramai-ramai mencari tempat duduk paling nyaman di dalam bioskop. Namun, alih-alih menonton film asing yang ditayangkan pihak bioskop, para penonton justru hadir untuk menyaksikan benshi. Benshi merupakan orang-orang yang memberikan narasi suara pada film bisu, baik film produksi dalam negeri maupun luar negeri. Sejarawan Giannalberto Bendazzi menulis dalam Animation: A World History Volume 1 bahwa sebagai bagian tak terpisahkan dari pengalaman menonton film bisu, benshi berperan sebagai narator dengan menyediakan “komponen verbal” yang menjadi hiburan bagi penonton hingga munculnya film bersuara tahun 1930-an. “Benshi adalah bagian penting dari penayangan film, dan dianggap sebagai salah satu alasan mengapa film bersuara membutuhkan waktu yang lama untuk berkembang di Jepang dibandingkan dengan negara lain di dunia,” tulis Bendazzi.
- Selamat Jalan Emon, Si Anak Manja
“Mas Boy…,” teriak Emon dengan gerak-gerik kemayu dalam film Catatan Si Boy (1987) . Nama Didi Petet melambung setelah memerankan Emon, yang oleh banyak orang disebut sebagai peran bencong. Padahal, Didi berulang kali menyatakan bahwa peran Emon bukanlah banci. “Didi Petet memerankan tokoh Emon, si anak manja (bukan bencong seperti dugaan sementara orang) sangat berhasil,” tulis majalah Pertiwi, 1989. Selain Didi, aktor yang juga memainkan peran sebagai gay adalah Ucok Hasyim Batubara (Cok Simbara) dalam Terang Bulan di Tengah Hari (1987) dan Mathias Muchus dalam Istana Kecantikan (1988). Namun, Mathias memerankan Nicko yang digambarkan sebagai lelaki tulen, tidak klemar-klemer seperti bencong. Film ini dianggap sebagai film Indonesia pertama yang bertema homoseksualitas. Berkat perannya ini, Mathias terpilih sebagai aktor terbaik dalam Piala Citra Festival Film Indonesia 1988, sedangkan Didi terpilih sebagai pemeran pembantu pria terbaik lewat film Cinta Anak Zaman.
- Riwayat Tangan Kanan Ali Moertopo
SEBUAH cuitan bersambung atas nama @abirekso mengungkap siapa sosok ayah Johannes Suryo Prabowo. Sebagaimana umum diketahui, Suryo Prabowo merupakan politisi loyalis Prabowo Subianto yang belakangan getol menggugat hasil pemilu dalam laman media sosialnya. Sebelum menggeluti dunia politik, Suryo Prabowo adalah seorang militer yang pernah menduduki sejumlah posisi penting. Jabatan terakhirnya Kepala Staf Umum TNI (2011-2012) dan pensiun dengan pangkat letnan jenderal. Menurut @abirekso, karier militer Suryo Prabowo tak lepas dari peran sang ayah, Rakimin Ngaeran, perwira asal Madura yang merupakan tangan kanan sang master intel Ali Moertopo. Ngaeran banyak terlibat dalam serangkaian operasi khusus intelijen. Beberapa diantaranya seperti penyusupan rahasia ke pejabat tinggi Malaysia dan menjalin penggalangan Darul Islam (DI) untuk menghantam PKI. Pada 1965, Ngaeran disebut mengepalai badan intelijen cikal bakal Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin).





















