Hasil pencarian
9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Harmoko dan Aneka Safari
HARMOKO mengadakan safari Ramadan semasa menjabat menteri penerangan pada 1983 berlanjut hingga dia menjadi ketua DPP Golkar (1993-1998). Tujuannya komunikasi politik dengan kegiatan keagamaan. Tapi ujung-ujungnya: kampanye pemenangan pemilihan umum partai berkuasa, Golkar. Menurut sejarawan Asvi Warman Adam, Harmoko melakukan safari Ramadan ke daerah-daerah di seluruh Indonesia sambil bertemu kader-kader Golkar. Perjalanan itu dibiayai Departemen Penerangan tapi digunakan pula untuk kepentingan kampanye partai. Beberapa ulama dibawa dalam kunjungan dengan tujuan ganda tersebut.
- Harmoko, Hari-Hari Omong Konfrontasi
DUA pria berhidung mancung mengenakan jas dan bertopi bak pesulap. Salah satunya, yang topinya bertuliskan Union Jack, memecutkan cambuk ke seorang pria yang sedang menunggang kuda lumping. Pria berkumis dan berpeci itu, dengan baju bertuliskan Tengku, seketika mengucapkan kata: “Perang... Perang”. Karikatur bertajuk “Circus from Malaysia” itu dimuat di harian Merdeka , 28 April 1964. Temanya seputar Konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia yang sedang hangat-hangatnya saat itu. Pesannya jelas: penggambarnya ingin menunjukkan bahwa Tengku Abdurahman Putra, perdana menteri Malaysia, adalah boneka Inggris, negara yang mendorong pembentukan Federasi Malaysia yang ditentang Sukarno.
- Harmoko Anak Senen
LELAKI muda itu turun dari kereta. Wajahnya kucel setelah menempuh perjalanan belasan jam Solo-Jakarta. Dia menyeret kopor kulitnya dan berjalan keluar Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Becak-becak menyambutnya. Dia memilih satu untuk mengantarkannya ke daerah Planet Senen. Di sini dia akan tinggal sementara untuk mencari pekerjaan dan belajar kepada seniman Senen. Harmoko, lelaki muda yang kelak menjadi menteri penerangan 1983–1997 itu, telah lama mendengar tentang keajaiban di Pasar Senen. Selama belajar mendalang wayang dan karawitan di sanggar Himpunan Budaya Surakarta, Solo, pada 1950-an, dia diberitahu oleh kawannya tentang tempat berkumpulnya para seniman di Jakarta. Semacam Rue de Montmarte-nya Jakarta.
- The Cideng Camp: A Hell on Earth
Cideng Barat Street, Central Jakarta, is bustling with heavy traffic even though the sun is already high in the sky. Rows of shop houses line both sides of the street. If you enter the small streets between Cideng Barat Street and Cideng Timur Street, you will see several colonial-era houses, some of which are still well maintained. They are surrounded by modern houses and shops. It was in this area that tens of thousands of people lived a bitter life under the threat of bayonets and guns. Eight decades ago, during the Japanese occupation (1942-1945), the Cideng area was “hell” for its residents, namely the internees at a place called Cideng Camp. "Cideng became one of the most notorious camps, so much so that the internees called it ‘Hell Camp Cideng’ because they were treated inhumanely there. One can imagine that a small camp house could be filled with 80 people," explained Nunus Supardi in his two books, Documenta Historica: Kamp Interniran (Documenta Historica: Internment Camps) and Beragam Segi Kehidupan di Balik Kamp Interniran: Masa Pendudukan Jepang hingga Revolusi di Indonesia (Various Aspects of Life Behind Internment Camps: The Japanese Occupation to the Revolution in Indonesia).
- Josef Mengele Dokter Keji Nazi
PADA 11 Januari 2017, dokter Daniel Romero Muñoz, ketua Jurusan Medis Legal Universitas Kedokteran São Paulo, akhirnya mendapatkan hasil dari perjuangannya. Izin menggunakan tulang-belulang Josef Mengele, dokter muda Jerman-Nazi, untuk objek penelitian didapatnya setelah berkali-kali mengajukan. Selama tiga dekade, tulang-belulang Mengele hanya teronggok di dalam kantong jenazah di Institut Legal Medis São Paulo. Tulang-belulang sisa jasad dokter keji itu tak pernah berhasil dibawa pulang keluarganya ke Jerman pasca tewasnya Mengele pada 7 Februari 1979.
- Jalan Tarung Karaeng Karunrung
KARAENG Karunrung, penasihat sekaligus Mangkubumi Kerajaan Gowa, menentang keputusan Sultan Hasanuddin, Raja Gowa XVII (memerintah 1653-1669) yang menandatangani perjanjian damai Bongaya dengan Belanda pada 18 November 1667. Karunrung memilih terus berjuang. Karunrung yang bermukim di istana megah di Bontala, mempersiapkan diri. Pada 21 April 1668 pecahlah kembali perang. Pasukannya dengan cerdik menembus beberapa blokade pasukan dan menuju benteng Jumpandang –sekarang Fort Rotterdam– yang telah dikuasi Belanda .
- Kisah Pertemuan Pangeran Makassar dan Padri Spanyol
OKTOBER 1657, sebuah kapal dari Manila, Filipina tiba di Pelabuhan Makassar. Dari kapal itu turunlah seorang pendeta Katolik Spanyol bernama Domingo Navarrete. Seorang pangeran Makassar dari Kerajaan Tallo yang oleh bangsa latin Eropa dipanggil Carrin Carroro atau Carrin Cronron akan ditemui sang pendeta di sebuah rumah orang kaya terpandang di sana. Pangeran Carrin Cronron adalah putra dari Carrin Patin Galoa atau Carrin Patengaloan, yang dalam palafalan setempat dieja sebagai Karaeng Pattingngaloang. Sedangkan sang pangeran yang disapa Carrin Cronron adalah Karaeng Karunrung Abdul Hamid (1631-1685). Pendeta Domingo Navarrete, sebagaimana dikisahkan dalam “The Travel and Controversies of Frier Domingo Navarrete” yang tersua dalam Indonesia Timur Tempo Doeloe, akhirnya bertemu pembesar Makassar itu pada siangnya. Hari berikutnya, Pendeta Domingo diantar oleh Kapten Francis Viera, yang orang Portugis pemeluk Katolik, mengunjungi istana Karaeng Karunrung. Setelah berjalan 3,5 km, mereka tiba di istana megah sang pangeran. Di dalamnya terlihat oleh pendeta sebuah perpustakaan yang kaya koleksi peta dan buku-buku Eropa milik Karaeng Pattingngaloang. Sebuah jam dinding juga terpampang di sana. Pendeta Domingo, Kapten Viera, dan pangeran pun bicara banyak hal. Termasuk soal agama. Kapten Viera, yang Katolik fanatik, pun merasa tak nyaman. “Seperti berada di neraka,” katanya. Mendengar perkataan Kapten Viera, Karaeng Karunrung turun tangan meskipun tak sampai menumpahkan emosi. “Jangan berkata seperti itu, Kapten,” tegur Karunrung. Karaeng Karungrung selalu menjaga adab. Dia tak gengsi untuk mengunjungi Pendeta Domingo di tempatnya tinggal. Sebaliknya, mendapati dirinya dikunjungi orang penting, Pendeta Domingo langsung menyambut pangeran Makassar itu dengan menjabat tangannya. “Tuhan Kami memberkati Anda,” kata Karaeng Karunrung. Karaeng Karunrung memposisikan dirinya tetap sebagai seorang Muslim yang mengharapkan kebaikan dari Tuhan yang disembahnya kepada pendeta Katolik itu. Di sana, Karaeng Karunrung lebih banyak mendengar pendeta Domingo berkhotbah. Sang pendeta tahu, nasihatnya ibarat hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri Karaeng Karunrung saja meski dia tahu sang pangeran ingin mendengarkannya. Toh, Karaeng Karunrung tetap kepercayaannya. Sebelum kedatangan Pendeta Domingo, Karaeng Karunrung telah diangkat menjadi raja Tallo dengan gelar Sultan Harun pada 1654. Dia merangkap Mangkubumi negara persekutuan Gowa-Tallo, menggantikan ayahnya –Karaeng Pattingngaloang– yang wafat pada 1654. Ketika Karunrung berkuasa di Tallo, raja Gowa merangkap raja Gowa-Tallo adalah Sultan Hasanuddin. “Beliau memiliki beberapa raja kecil di bawah pemerintahannya. Negeri ini berlimpah beras,” catat Pendeta Domingo. Kerajaan Gowa-Tallo punya armada laut kuat dengan banyak kapal dan prajurit-prajurit cakap ketika Pendeta Domingo berkunjung ke sana. Perdaganganlah yang membuat negeri-negeri Makassar menjadi kerajaan kuat. Karena itu, Makassar menjadi incaran banyak pihak termasuk kongsi dagang Belanda Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kareang Karunrung sendiri bisa dekat dengan orang Portugis atau Spanyol, namun tidak dengan orang Belanda yang tergabung dalam VOC. Dirinya tegas ikut melawan VOC yang hendak menguasai Makassar. Maka setelah Gowa-Tallo dan sekutunya dikalahkan armada VOC dan dipaksa menandatangani perjanjian Bongaya, Karaeng Karunrung termasuk yang tidak terima. “Perjuangan kita belum berakhir, kami akan berjuang sampai titik darah penghabisan,” kata Karaeng Karunrung, yang hidupnya tidak nyaman ketika Belanda berkuasa di Makassar dan kemudian menjadi orang terbuang, seperti dicatat Hannabi Rizal dkk dalam Profil Raja dan Pejuang Sulawesi Selatan, Volume 1.*
- Memotong Khitan Perempuan
YAYASAN Assalaam Bandung, yang bergerak di bidang agama, sosial, dan pendidikan, punya tradisi melaksanakan khitan massal. Pesertanya bukan hanya laki-laki, tetapi juga perempuan. Pada 10 Januari 2016, sebanyak 150 laki-laki dan 75 orang perempuan ikut khitanan massal. Usianya beragam. Peserta khitan laki-laki umumnya anak-anak berusia taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Sedangkan peserta perempuan ada yang remaja, bahkan mahasiswi, dengan usia 22 tahun. Khitan perempuan ditangani tim khusus yang semuanya kaum hawa. “Khitan perempuan berbeda dengan khitan anak laki-laki karena sebatas mengambil amat sedikit kulit sehingga diolesi obat langsung sembuh,” ujar Cecep Suryana, ketua panitia, dikutip pikiran-rakyat.com .
- Perempuan-Perempuan dalam Pelukan Hitler
RUANGAN sedalam 30 kaki di bawah tanah Gedung Kekanseliran Jermanitu begitu muram. Tak ada hiasan meriah, tiada jam dinding, tamu-tamu kehormatan, apalagi katering mewah. Situasi di Führerbunker itu sunyi meski mirip neraka di luarnya karena Pertempuran Berlin (16 April-2 Mei 1945) tengah berkecamuk. Entah tanggal 28 April malam atau 29 April dini hari, Adolf Hitler dan Eva Braunmenanti dengan sabar kedatangan seseorang pejabat yang bakal mempersatukan mereka secara resmi. Hitler berbusana jas formal seperti biasanya, sementara Eva mengenakan gaun taffeta sutera hitam yang membuatnya tetap anggun. Sebagai saksi, hadir Menteri Propaganda Joseph Goebbels dan Ketua Partai Nazi Martin Bormann.
- Menyingkap Selubung Suci Pembawa Misi
INGWER Ludwig Nommensen berusia 27 tahun ketika kapal Pertinax membawanya berlayar dari Amsterdam menuju Padang saat malam Natal, 24 Desember 1861. Setelah 142 hari mengarungi samudra, Nommensen menjejakkan kaki di negeri koloni Hindia Belanda, 16 Mei 1862. Dari Padang, Nommensen menetap sebentar di Barus, kemudian meneruskan muhibah ke arah pedalaman. Dia mengemban tugas suci: memberitakan Injil ke Tanah Batak. Pada 11 November 1863, Nommensen singgah di bukit Siatas Barita. Dari puncak bukit, dia pandangi lembah Silindung, tempat mukim orang-orang suku Batak asli yang masih merdeka ( onafhankelijk gebied ). Beristirahat sejenak, lalu dia menghatur doa. “Hidup dan mati biarlah aku tinggal di tengah-tengah bangsa ini, untuk menyebarkan firman dan kerajaan-Mu,” demikian doa Nommensen kutip Patar M. Pasaribu dalam Dr. Ingwer Ludwig Nommensen: Apostel di Tanah Batak .
- Maskapai Pelayaran Hampir Bangkrut
KONDISI beberapa perusahaan pelayaran negara menjadi sorotan. Modal hampir habis. Utang menumpuk. Anggota-anggota parlemen pun berpendapat masalah itu sudah cukup untuk memutuskan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut harus dibubarkan. Demikianlah yang dialami dua perusahaan pelayaran yang didirikan oleh negara, yakni PT Djakarta Lloyd dan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) pada 1950-an. KH Muslich, anggota DPR dari Fraksi Nahdlatul Ulama (NU), menggunakan hak bertanya sesuai pasal 69 Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) dengan mengirimkan surat kepada pemerintah. Dalam suratnya, Muslich menanyakan berapa modal ( geplaatst kapitaal ) serta hutang Djakarta Lloyd dan Pelni sejak didirikan kepada pemerintah dan badan-badan lainnya serta berapa jumlah harta benda dan kekayaan (inventaris) keduanya pada 1 Juli 1957.
- Sukarelawan Asing dalam Perang Kemerdekaan
AKUN The Kyiv Independent ( @KyivIndependent , 8/3) memposting foto sukarelawan asing pertama yang bergabung dalam Legiun Internasional. Mereka bertempur melawan tentara Rusia di luar Kyiv. Menurut Angkatan Darat Ukraina, para sukarelawan tersebut berasal dari Amerika Serikat, Inggris, Swedia, Lithuania, Meksiko, dan India. Sukarelawan asing selalu hadir dalam sejarah peperangan di dunia. Begitu pula dalam perang kemerdekaan Indonesia. Orang-orang asing yang bergabung dengan Indonesia melawan Belanda umumnya desersi atau membelot, seperti mantan tentara Jepang termasuk yang berasal dari Korea, beberapa tentara Belanda, dan serdadu India muslim bagian dari pasukan Inggris (Sekutu).






















