Hasil pencarian
9887 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Dua Musim Cinta Maria
SITI Soendari, sahabat kental Maria sejak muda, tak pernah bisa memahami bagaimana perasaan Maria terhadap pria. Dalam soal hubungannya dengan pria, Maria lebih suka memendam dalam-dalam perasaannya. Berbeda dengan Soendari yang kerap mengharu biru dalam urusan cinta, Maria lebih banyak memfokuskan perhatian pada studinya. “Tak pernah saya melihat dia menangis, tak pernah kita tukar-menukar kisah-kisah pengalaman pribadi, sebagaimana layaknya antara dua pemudi yang begitu akrab pergaulannya,” ungkap Soendari kepada Gadis Rasid mengenai Maria. Seperti diakuinya kepada Gadis Rasid, selama kuliah di negeri Belanda, Maria merasa belum siap untuk menangani masalah-masalah cinta. “Maka sekembalinya di Indonesia perhatian pada kaum pria mulai terbuka,” tulis Gadis Rasid. Di antara sekian banyak kawan seperjuangannya dan pengagum Maria Ullfah ada tiga orang yang paling akrab dengannya dan mempunyai minat lebih dari sekadar persahabatan sesama pejuang. Mereka adalah Adnan Kapau Gani, Hindromartono, dan Santoso Wirodihardjo. Adnan Kapau Gani, kata Maria, “Seorang pemuda ganteng, yang pernah jadi bintang film, adalah orang yang paling flamboyan.” Kepada Gadis Rasid, Maria melanjutkan gambarannya tentang Gani, “Tingkah lakunya agak ugal-ugalan, dan sikapnya terus terang, tanpa basa-basi.” Dia begitu yakin akan berhasil merebut hati Maria, sehingga pada suatu hari dia datang ke Kuningan untuk berlebaran dengan keluarga Bupati Mohammad Achmad. Secara halus Maria menjelaskan tentang perasaannya yang biasa saja kepada Gani. Pada zaman revolusi, Gani menjabat sebagai Gubernur Militer Sumatra Selatan, Menteri Ekonomi Kabinet Sjahrir III, dan Wakil Perdana Menteri Kabinet Amir Sjarifuddin.
- Pameran Surat-surat Pribadi Pendiri Bangsa
PUTRI proklamator Bung Hatta, Meutia Hatta, mengatakan bahwa sebelum meninggal ayahnya sempat menulis dua surat wasiat. Satu surat ditujukan kepada keluarganya, berisi permintaan agar dia tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. “Saya ingin dikuburkan di kuburan rakyat biasa yang nasibnya saya perjuangkan seumur hidup saya,” kata Hatta dalam surat wasiatnya yang dibacakan Meutia ketika memberi sambutan dalam pembukaan Pameran “Surat Pendiri Bangsa” di Museum Nasional, 10 November 2018. Surat wasiat kedua ditujukan kepada Guntur Sukarnoputra, putra sulung Presiden Sukarno. Surat wasiat kedua bukan mengungkapkan hubungan pribadi kedua proklamator tapi mengenai fakta sejarah yang saat itu ditutup-tutupi oleh rezim Orde Baru bahwa Bung Karno bukan penggagas Pancasila. “Bung Karno merupakan penggali Pancasila,” kata Hatta dalam suratnya seperti ditirukan Meutia.
- Di Sekitar Nasionalisasi Bank Sentral
HAL-hal bersifat seremonial dan risalah-risalah di akhir perundingan panjang Konferensi Meja Bundar (KMB) sudah disinggung banyak riset dan buku. Namun perihal alotnya negosiasi di sejumlah komisi, masih sangat jarang. Terlebih di komisi yang merundingkan bidang ekonomi dan moneter. Agus Setiawan dkk. dalam buku Konferensi Meja Bundar: Jalan Menuju Terbentuknya Bank Sentral Republik Indonesia mencoba menelusuri detailnya. Saat menghadapi negosiasi KMB yang berlangsung dari 23 Agustus-2 November 1949 hingga akhirnya diratifikasi pada 27 Desember 1949 oleh delegasi Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Belanda, delegasi Indonesia yang diketuai Moh. Hatta mengikutsertakan sembilan tokoh. Mereka memiliki misi di masing-masing bidang: Mr (meester in de rechten) Mohammad Roem, Prof. Dr. Soepomo, Dr. Johannes Leimena, Mr. Ali Sastroamidjojo, Mr. Soejono Hadinoto, Mr. Abdul Karim Pringgodigdo, Dr. Moewardi, Kolonel T.B. Simatupang, dan Dr. Sumitro Djojohadikusumo.
- Pandemi Tuntut Pemaknaan Ulang Nasionalisme
NASIONALISME bukanlah gagasan yang statis. Sepanjang sejarah, nasionalisme mengalami berbagai perubahan dan perkembangan makna. Dari satu gagasan abstrak yang dibayang-bayangkan para tokoh pergerakan, nasionalisme kini menuntut pemaknaan baru untuk menjawab tanda-tanda zaman yaitu pandemi. Ide tentang nasionalisme Indonesia muncul pada dekade 1920-an. Kala itu, orang Indonesia mulai memiliki kesadaran sebagai sebuah bangsa. Kesamaan nasib, musuh, bahasa, dan cita-cita kemudian menumbuhkan gerakan perjuangan kemerdekaan yang bersifat nasional, bukan lagi kedaerahan. Dari gerakan-gerakan nasional itu, ide untuk bersatu dalam sebuah negara muncul. Tonggaknya, Indonesia memproklamasikan diri pada 17 Agustus 1945.
- Menikmati Pameran “Para Sekutu Yang Tidak Bisa Berkata Tidak”
SEJAK 28 Januari 2021, Galeri Nasional, Jakarta, menggelar pameran “Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak”. Memang, karena masih dalam keadaan pandemi Covid-19, pameran tidak bisa optimal. Ada pembatasan kunjungan yang membuat masyarakat tidak bisa bebas untuk datang menikmati pameran secara langsung. Pun begitu, penyelenggaraan pameran ini tetap diapresiasi dan dipandang sebagai angin segar bagi para pegiat seni untuk tetap berkarya, berbagi perspektif dan semangat. Pameran yang juga diprakarsai Goethe-Institut Indonesien ini menghadirkan berbagai karya seniman baik dari dalam maupun luar negeri. Itu karena proyek ini merupakan bagian dari Collection Entanglement and Embodied Histories, yang adalah proyek dialog kuratorial jangka panjang.
- Menyesapi Cerita-cerita Tersembunyi di Pameran Revolusi!
GEDUNG megah berarsitektur perpaduan Gothic dan Renaissance dari abad ke-18 itu ramai pengunjung. Terik matahari dan hembusan angin ibukota Belanda, Amssterdam, Jumat (13/5/2022) itu tetap tak mengurangi keramaian orang mengunjungi bangunan yang ditempati Rijksmuseum tersebut, tempat dihelatnya pameran “Revolusi!: Indonesia Independent”. Pameran yang digelar dari 11 Februari-6 Juni 2022 itu buah kolaborasi riset selama empat tahun sebelumnya oleh empat kurator Indonesia dan Belanda: Bonnie Triyana, Harm Stevens, Amir Sidharta, dan Marion Anker. Sesuai tajuknya, pameran menampilkan aneka objek dan benda-benda seni yang berkaitan dengan revolusi fisik atau Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949. Namun yang jadi pembeda dari pameran-pameran lain, benda-benda yang dipamerkan merupakan objek-objek paling personal dari sejumlah sosok yang terlibat dalam masa pergolakan itu. Untuk menjelaskannya, Bonnie dan Stevens memandu live tour ke 10 galerinya.
- Menjelajahi Era Jepang di Nusantara dalam Pameran Sakura di Khatulistiwa
Sejak 9 Agustus 2022, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, menggelar pameran berjudul “Sakura di Khatulistiwa”. Bangunan museum ini, dulunya adalah tempat tinggal perwira militer Jepang, Laksamana Tadashi Maeda. Secara umum, pameran ini bercerita mengenai sejarah perjalanan interaksi masyarakat Nusantara dan Jepang. Dalam konteks sejarah bangsa Indonesia, interaksi tersebut tercatat berlangsung intensif pada periode 1942 dan setelahnya. Namun, jika menelusuri lebih jauh ke belakang, interaksi itu ternyata sudah berlangsung sejak 1621. Kala itu, orang Jepang masuk ke Nusantara sebagai tantara bayaran serikat dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), untuk mengatasi perlawanan rakyat Banda.
- Menjaga Kelestarian Lewat Pameran
GADIS cilik itu asik bermain lompat tali. Di dekatnya bocah lelaki sedang balap karung. Keduanya bukan anak manusia, tapi patung karya Bambang Win. Tak jauh dari keduanya, gadis lain berdiri dekat pintu masuk sambil membawa satu vas berisi bunga. Seakan hendak menyambut para tamu dan memberi hadiah bunga, gadis dalam lukisan Remy Sylado berjudul “Katakan dengan bunga” itu mengawali deretan lukisan yang mengisi pameran bertajuk “Solidarity, Peace, and Justice” yang digelar di Balai Budaya, Jakarta, 4-11 Januari 2018. Ada 30 seniman yang berpartisipasi dalam pameran tersebut. Mereka berasal dari generasi berbeda-beda, mulai dari yang senior seperti Aisul Yanto, Cak Kandar, Remy Sylado, Ika Ismurdiyahwati, hingga yang muda macam Chrysnanda Dwilaksana dan Idris Brandy.
- Kertanagara dan Nusantara
KATA “nusantara” menjadi trending topic dan polemik setelah Presiden Joko Widodo memilihnya sebagai nama ibukota baru yang akan dibangun di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Nusantara pun sepertinya tak akan lagi menjadi sebutan bagi Indonesia karena ia adalah nama ibukota. Kata “nusantara” paling awal ditemukan dalam prasasti masa Kerajaan Singhasari. Rendra Agusta, filolog Komunitas Sraddha, menjelaskan dalam utasnya, bahwa secara epigrafi kita mengenal istilah "nusantara" dalam prasasti Mūla Malurung tahun 1177 Saka (1255 M.). Penggalannya seperti ini: “mwaŋ dumadyakěn wŕ (4) ddhi niŋ yaśānurāga nira narāryya smi niŋ rāt. prakaśita riŋ nūśa para nūśa. tinūt=i parāmadigwijaya nira narāryya (5) smi niŋ rāt. an mahakěn samalělö niŋ sayawadwīpa mańůala. anūlūya ni nūsāntara”. Artinya “kedudukan Sang Prabhu menjadikan lebih teguh di singgasana emas dan menjadikan ujian bagi kemasyhuran atas kebajikannya Narāryya Smi ning rāt yang menonjol di seluruh mandala Pulau Jawa dilanjutkan ke [seluruh] Nusantara.”
- Cerita Gerilya dari Sanggabuana, Tempat Ditemukannya Ular Naga
ULAR naga yang selama ini dianggap mitos, ternyata benar-benar ada di Pulau Jawa. Ular bernama Latin Xenodermus javanicus itu ditemukan tim gabungan Sanggabuana Wildlife Ranger (SWR), mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta, dan Sispala Samaru SMA 1 Tegalwaru pada 29 Oktober lalu. “Ular naga ini kami temukan di aliran sungai Curug Cikoleangkak pada malam hari saat herping (mencari amfibi atau reptil). Siangnya kami melakukan analisis vegetasi dibantu oleh teman-teman dari Fakultas Biologi Universitas Nasional dan Sispala Samaru SMA 1 Tegalwaru,” kata Deby Sugiri, perwakilan Divisi Konservasi Keanekaragaman Hayati SWR, sebagaimana diberitakan kompas.com, 1 November 2022. Pencarian ular naga sejatinya telah dilakukan SWR sejak kurang lebih setahun belakangan. Saat menemukan ular tersebut, tim sebetulnya sedang melakukan analisis vegetasi di lokasi. Lokasi penemuan sendiri berada di Gunung Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat.
- Welcome to Wrexham, Kisah Cinderella Si Naga Merah
DI HADAPAN perwakilan Wrexham Supporters Trust, duet selebriti Hollywood Ryan Reynolds dan Rob McElhenney mengungkapkan alasan masing-masing mengapa ingin berinvestasi dan mengurusi Wrexham AFC, klub antah-berantah asal Wales. Alasan itu dikemukakan aktor asal Kanada dan Amerika Serikat (AS) tersebut dalam percakapan via Zoom medio November 2020 lalu. McElhenney yang juga fans fanatik tim American football Philadelphia Eagles menjawab, ia merasa ada satu koneksi antara kota asalnya, Philadelphia, dengan kota Wrexham yang notabene sama-sama kota para kelas pekerja. Kemenangan susah payah Eagles pada Super Bowl 2017 menghadirkan kebahagiaan tak terkira bagi setiap warga Philadelphia. McElhenney ingin menghadirkan hal serupa bagi warga kota Wrexham. “Mengapa Wrexham?” giliran Reynolds menjawab. “Kami percaya klub kalian adalah raksasa yang tertidur dengan cerita (sejarah) serta stadion dan fans yang luar biasa. Kami ingin Wrexham menjadi kekuatan global. Niat kami bukan untuk menjadikan Wrexham bagian dari cerita kami melainkan kami yang ingin menjadi bagian dari cerita Wrexham,” tukasnya.
- Laskar Napindo dari Halilintar hingga Naga Terbang
BEBERAPA pentolan laskar di pantai timur Sumatra masuk dalam radar intelijen Belanda. Di wilayah yang semasa kolonial Hindia Belanda bernama Karesidenan Sumatra Tmur itu, mereka dicap sebagai pengacau. Perusahaan perkebunan Belanda dijarah oleh laskar-laskar itu tanpa sisa. Kebanyakan berasal dari kelompok laskar Nasional Pelopor Indonesia (Napindo). “Si pencopet Timur Pane berhasil menjadi jenderal mayor di Republik itu dengan bantuan geng-gengnya. Perusahaan-perusahaan perkebunan dijarah dan instalasi pabriknya dijual ke Malaka. Bahkan alat produksi pun hilang. Beberapa juta dolar diambil untuk kepentingan Napindo, organisasi pejuang Partai Nasional Indonesia (PNI) pimpinan Dr. (A.K) Gani. Pemimpin Napindo saat itu adalah Matheus Sihombing yang terkenal, dijuluki 'Bung Mitraliur',” demikian sentil koran Belanda Nieuwe Courant, 17 Oktober 1947. Timur Pane dan Matheus Sihombing merupakan tokoh Napindo. Timur Pane menamai pasukannya laskar “Naga Terbang” sementara Matheus Sihombing dikenal sebagai pemimpin Napindo di Medan. Namun, keduanya bukanlah pemuka utama dalam pembetukan Napindo.





















