Hasil pencarian
Cari di situs ini
10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Jenderal Jenggot Gatot Soebroto Mengumpat Monyet
GATOT Soebroto identik dengan jenggot lebat. Dalam berbagai potret, jenggot lebat sang jenderal kerap menjadi daya tarik. Pada zaman itu, tidak ada jenderal lain yang memelihara jenggot selebat punya Gatot. Kebanyakan jenderal tampil klimis dengan rambut cepak rapi sebagaimana ciri khas tentara. “Tidak ada tentara di Indonesia ini yang gue lihat sepanjang sejarah dari dulu sampai sekarang yang berewokan. Cuma Gatot Soebroto dan enggak ada yang berani melarang,” ujar Donatus Donny A. Sheyoputra, pengamat militer Universitas Pertahanan, kepada Historia.ID. Amelia Yani, putri Jenderal TNI Ahmad Yani, termasuk yang bergidik ngeri bila melihat jenggot lebat Gatot Soebroto. Yani dan Gatot adalah kolega di pucuk pimpinan Angkatan Darat (AD). Ketika Gatot menjabat Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) pada 1950-an, Yani menjadi bawahannya sebagai Asisten IV Kepala Staf AD (Kasad) yang saat itu dijabat Jenderal TNI Abdul Haris Nasution. Di luar hubungan atasan-bawahan, Yani dan Gatot bersahabat karib meskipun Gatot berusia jauh lebih tua.
- Jagoan PKI Anti Peluru
PADA 19 September 1948, PKI dan aliansinya yang menamakan diri Front Demokratik Rakyat (FDR) melakukan gerakan bersenjata di Madiun. Menurut Soe Hok Gie, perebutan kota tersebut berlangsung sejak jam 02.00. “Pagi-pagi pada 19 September, pemerintah RI ditumbangkan,” tulis Soe Hok Gie dalam Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan. Sehari kemudian Kolonel Djoko Soedjono, salah satu tokoh FDR, menegaskan bahwa tindakan-tindakan di Madiun bukanlah suatu pemberontakan. Dia menyebut istilah gerakan itu sebagai bentuk koreksi dari para pemuda revolusiener. Namun pemerintah RI di bawah Sukarno-Hatta terlanjur menganggapnya sebagai suatu upaya kudeta.
- Sikap PKI Atas Papua
WAJAH D.N Aidit, Ketua Central Comite (CC) PKI nongol di televisi Uni Soviet. Saat itu, dia diwawancarai oleh Georgi Afrin, eks koresponden TASS (Kantor Berita Uni Soviet) di Jakarta. Kepada Afrin, Aidit menerangkan tugas-tugas pokok PKI yang sedang digencarkan. “Mempersatukan dan memobilisasi rakyat Indonesia guna membebaskan wilayah negerinya yang masih dijajah oleh kaum kolonialis Belanda, yaitu Irian Barat,” kata Aidit kepada Afrin, dikutip Harian Rakjat, 24 Oktober 1961. Wawancara itu terjadi di sela Kongres ke-12 Partai Komunis Uni Soviet. Aidit hadir sebagai ketua delegasi PKI. Momentum itu memantik perhatian dunia, khususnya bagi negara-negara berideologi kiri. Pernyataan Aidit jadi agenda partai komunis sedunia guna memperjuangkan antikolonialisme dan penghapusan feodalisme.
- Romusha dan Revolusi Indonesia di Singapura
KAPAL Belanda S.S. Tjisedane yang mengangkut 807 eks romusha mendekat pelabuhan Tanjung Priok. Di atas kapal, Kriamadja, lelaki asal Purbalingga (Jawa Tengah) berusia 34 tahun, bercerita bagaimana ia bisa terlantar di Singapura. Pada 1942, Kriamadja menerima pesan dari lurah untuk segera melapor kepadanya. Tak ada alasan yang diberikan sama sekali. Setelah melapor, dia tidak diizinkan pulang. Keesokan harinya, dia diangkut ke Singapura oleh Jepang. Empat hari setelah tiba di sana, dia dikirim ke Siam dan dipekerjakan di Jalur Kereta Api Maut, jalur rel sepanjang sekitar 415 km yang menghubungkan Ban Pong (Thailand) dan Thanbyuzayat (Burma/Myanmar). Selama Perang Dunia II, militer Jepang memobilisasi jutaan rakyat di Jawa untuk dijadikan romusha. Ribuan di antaranya dikirim ke berbagai kawasan di Asia Tenggara melalui Singapura, kota pelabuhan utama di Selat Malaka sekaligus pusat imperialisme Jepang dan Inggris di Asia Tenggara —untuk kemudian disebar ke Malaysia, Thailand, hingga Burma. Mereka dipaksa membangun infrastruktur militer seperti pangkalan, lapangan udara, benteng, dan jalur kereta api demi kepentingan perang Jepang. Para romusha ditempatkan dalam kondisi yang tidak manusiawi. Menghadapi jam kerja yang ekstrem, siksaan fisik, kelaparan, dan wabah penyakit.
- Azab Pemburu Cut Meutia
TEUKU Raja Sabi sedang memancing ditemani seorang pengawal pada suatu hari. Si pengawal berdiri tidak jauh di dekatnya. Teuku ditemani pengawal karena ibunya, Cut Meutia, sedang tidak bisa menemaninya. Waktu itu, Cut Meutia baru sebulan menjanda setelah kematian Pang Nangroe, ayah tiri Raja Sabi. Ini adalah kedua kalinya Cut Meutia menjanda karena tentara Belanda. Di tengah keasyikan memancing tadi, Teuku Raja dan pengawalnya dikejutkan sebuah suara. Suara itu bukan panggilan orangtua yang menyuruh anaknya pulang, tapi suara peringatan bahaya. “'Kaphé datang!” bunyi peringatan yang diteriakkan dari sebuah pos jaga orang-orang Aceh untuk menandakan tentara Belanda mendekati mereka. Tak lama kemudian, suara tembakan terdengar. Raja Sabi langsung dipeluk pengawalnya lalu dibawa pergi lebih jauh ke dalam hutan menghindari bahaya. Sementara, sang ibu Cut Meutia terbunuh dalam perlawanannya.
- Gaya PKI Memikat Rakyat
SEBELUM menjadi partai terlarang, PKI mengusung citra sebagai partai rakyat. Penabalan ini bukan bualan belaka. Di berbagai daerah, PKI cekatan menangkap kegelisahan masyarakat. Program partai berlambang palu arit ini secara umum ditujukan untuk meninggikan harkat hidup wong cilik. Mulai dari upah kerja yang layak, pembagian tanah, jaminan kesehatan, pendidikan, hingga rekreasi. “Meski kebijakannya sentralistik, pendekatan PKI di daerah amat disesuaikan dengan kondisi masyarakat,” kata pengamat politik Arbi Sanit, yang menulis buku Badai Revolusi: Sketsa Politik Kekuatan PKI di Jawa Tengah & Jawa Timur, kepada Historia.ID. Di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang jadi basis utama, PKI tampil penuh totalitas. Biaya besar tidak segan digelontorkan untuk mendanai kegiatan. Dengan garis komando terpadu mulai dari Central Comite (CC) hingga tingkat resort (desa), program PKI tidak kesulitan peminat.
- Nasib Getir Anak-anak Palestina
SEIRING genosida terus terjadi di Palestina, anak-anak tak luput dari kekejian zionis Israel. Di Jalur Gaza, puluhan ribu anak meregang nyawa akibat pembataian dan di Tepi Barat ribuan anak mendekam di penjara dengan kondisi memilukan. Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Francesca Albanese, melihatnya buah dari sistem apartheid Israel yang didasarkan superioritas ras. Hal itu juga jadi bagian dari “propaganda” bahwa Israel adalah negara paling demokratis di Timur Tengah. “Ketika saya mendokumentasilan (laporan), pertama-tama Israel dikatakan sebagai model dari demokrasi. Di Eropa mereka mengatakan, (Israel) satu-satunya negara demokratis di Timur Tengah. Apa artinya? Itu ada sebuah model karena didasarkan pada keunggulan ras. Itu sangat terintegrasi ke dalam sistem dan apartheid ini tidak akan bertahan jika bukan karena keterlibatan banyak dari negara-negara Barat secara kasat mata,” kata Albanese dalam diskusi “Honoring Palestinian Sumud in the Midst of Genocide” yang digelar Amnesty International Indonesia di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (21/10/2026) malam. Di Palestina, utamanya Tepi Barat, memang masih terdapat pemerintahan Otoritas Palestina, PA. Namun, ia masih terkungkung pendudukan Israel. Maka sejak Israel melancarkan genosidanya sejak 7 Oktober 2023, kekerasan militer maupun para pemukim ilegal Israel kepada warga Palestina melonjak tinggi. Hingga sekarang, di Gaza sudah lebih dari 21 ribu anak tewas oleh genosida Israel. Uni Eropa melalui Lembaga Europe Union External Action (EEAS), yang digalang Belgia dan Yordania, menyerukan kepada dunia melalui forum Sidang Umum PBB ke-81 agar segera bertindak mencegah makin bertambahnya korban jiwa anak-anak di Gaza dan Tepi Barat. “Sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 73.669 warga Palestina tewas di seluruh Gaza, berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan di Gaza. Di antara mereka setidaknya 21.280 anak-anak yang tewas dan puluhan ribu lainnya terluka dan ribuan lainnya diperkirakan masih terperangkap di bawah reruntuhan. Di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, lebih dari 1.135 korban tewas warga Palestina, termasuk setidaknya 250 anak-anak,” tulis pernyataan EEAS di laman resminya, 20 September 2026. Serangan dan pencaplokan rumah dan lahan oleh teroris pemukim Israel juga meroket sejak Oktober 2023. Warga Palestina di berbagai wilayah Tepi Barat yang melawan terhadap aneksasi rumah dan lahan mereka, bakal jadi korban kekerasan dan penahanan, tak terkecuali anak-anak. Pada 15 Oktober 2026, Al Jazeera –berdasarkan data Palestinian Prisoner’s Society– melaporkan lebih dari 2.000 anak-anak Palestina ditahan oleh otoritas Dinas Penjara Israel, IPS, sejak Oktober 2023. Banyak yang memang sudah dibebaskan namun hingga kini masih ada 350 lainnya yang masih terpenjara, kebanyakan tanpa dakwaan. Di antaranya di Penjara Megiddo dan Penjara Ofer. Albanese turut menyertakan persoalan ini dalam satu dari sembilan laporannya kepada Dewan HAM PBB, “Torture and genocide: Report of the Special Rapporteur on the Situation on human rights in the Palestinian territories occupied since 1967”, tertanggal 23 Maret 2026. Yang terjadi di Tepi Barat menurutnya tergolong genosida. “Sebagai pelapor khusus, saya mendokumentasikannya ke dalam sembilan laporan. Tujuh di antaranya saya tulis saat genosida masih terjadi. Bahwa genosida adalah kehancuran yang disengaja terhadap sekelompok populasi. Bukan pemusnahan, bahwa mereka tak perlu membunuh mereka semua, (tapi) mereka bisa menciptakan kondisi kehidupan yang tak berfungsi,” tambahnya. Francesca Paola Albanese (kiri) pelapor khusus PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina dalam diskusi yang dihelat Amnesty International Indonesia (Randy Wirayudha/Historia.ID) Kondisi anak-anak Palestina di penjara-penjara Israel begitu memilukan. Setengah dari lebih dua ribu anak yang pernah mendekam di Penjara Megiddo atau Penjara Ofer sejak Oktober 2023, dipenjara tanpa dakwaan dan pengadilan. Anak-anak itu pun tak mendapat akses bertemu keluarga apalagi pengacara. “Di penjara-penjara yang dioperasikan IPS, khususnya Megiddo dan Ofer, militer Israel menahan anak-anak dengan hukuman serupa yang diterapkan kepada tahanan-tahanan dewasa. Beberapa testimoni mendeskripsikan mereka diborgol sampai tangannya berdarah, dipukuli, diseret-seret, dibuat kelaparan, dibiarkan kedinginan, tak diberikan perawatan medis, diserang oleh anjing militer, sel isolasi, pelecehan seksual, dan ancaman perkosaan dan pembunuhan kepada keluarga mereka,” tulis Albanese dalam laporan itu. Albanese mengaku kesulitan melacak seberapa banyak anak yang akhirnya jadi korban. Satu kasus tercatat pada Maret 2025 tentang kematian tahanan di bawah umur, Walid Khalid Ahmad, di Penjara Megiddo. Dari otopsi yang dilakukan kepada remaja berusia 17 tahun itu, terkuak bahwa Walid menderita kelaparan, dehidrasi, dan pembiaran infeksi secara sistemik. Apa yang dilakukan Israel soal penahanan terhadap anak-anak Palestina sudah secara sistematis selama bertahun-tahun. Utamanya sejak 1967 pasca-zionis unggul dalam Perang Enam Hari (5-10 Juni 1967). Membuat zionis merebut Gaza dari Mesir dan Tepi Barat dari Yordania dan menerapkan pendudukan ilegal. “Setelah 1967 hukum militer Israel diterapkan kepada segenap populasi Palestina di Tepi Barat. Pengadilan-pengadilan militer tanpa jaminan dasar, di mana anak-anak Palestina (yang ditahan) tak diizinkan akses kepada keluarga atau pengacara sampai mereka disidangkan di pengadilan militer. Biasanya anak-anak itu diciduk di rumah-rumah mereka pada malam hari, mendapatkan kekerasan psikis, verbal, dan fisik di pusat-pusat penahanan, termasuk dipaksa memberi pengakuan palsu,” tulis Heidi Morrison dalam artikel “The Right to Resist” di buku Lived Resistance Against the War on Palestinian Children. Itu menjadikan Israel sejak 1967 jadi satu-satunya negara di dunia yang punya sistem pengadilan militer anak yang eksklusif untuk anak-anak Palestina. Sejak 1967 hingga kini tercatat sudah lebih dari 50 ribu anak Palestina pernah ditangkap. Kasus anak Palestina paling muda berusia 6 tahun, Muhammad Daoud Dirbas. Mengutip laman resmi Organisasi HAM yang berbasis di Ramallah, Al-Haq, tanggal 12 Januari 2012, Daoud diciduk di rumahnya di Al-Isawiya pada 3 Januari 2012 petang. Saat itu Daoud pulang sendiri dengan berjalan kaki usai pergi ke klinik gigi, di mana ayahnya masih di klinik itu. Namun ketika sudah sampai di depan rumah, Daoud disergap tiga pasukan zionis. Bocah itu langsung dipiting, diborgol, dan matanya ditutup kain sebelum dibawa pergi ke kantor polisi di Yerusalem Timur. Daoud diinterogasi dengan teror psikis hingga bocah itu mengalami kejang-kejang. Ayahnya yang menyusul ke kantor itu baru dapat menemui putranya setelah lima jam penahanan. Daoud ditahan dengan tuduhan penimpukan batu terhadap aparat Israel. Baru setelah tujuh jam dalam penahanan dan karena aparat Israel tak dapat keterangan lagi akibat memburuknya kondisi Daoud, bocah itu dilepaskan. “Para tahanan anak-anak dari tahun ke tahun, kebanyakan dibebaskan tanpa pemberitahuan kepada keluarga dan dilepaskan di lokasi-lokasi acak, konsisten dengan pola bahwa mereka tak dianggap harga dirinya. Kadang hanya mengenakan popok atau celana dalam. Ada pula tahanan-tahanan anak yang kehilangan anggota tubuh, kehilangan penglihatan, atau kemampuan mereka untuk bicara karena gangguan mental,” tukas Albanese dalam laporannya.
- Soegoro Atmoprasodjo Memperkenalkan Nasionalisme Indonesia di Papua
MARCUS Kaisiepo, siswa Sekolah Pamong Praja di Kota Nica (sekarang Kampung Harapan di Jayapura), mendengar berita Proklamasi kemerdekaan Indonesia dari radio. Dia bersama pelajar lain mendiskusikan Proklamasi itu. Silas Papare meminta Marcus memberitahu J.P.K. van Eechoud, residen Papua dan pendiri Sekolah Pamong Praja bahwa orang Papua tidak menghendaki apa pun dengan adanya Proklamasi itu. Tentu saja Van Eechoud senang karena dia lebih berupaya membangun identitas kepapuaan ketimbang turut mengikuti irama nasionalisme Indonesia. Namun, dia blunder dengan merekrut Soegoro Atmoprasodjo sebagai pengajar dan direktur asrama Sekolah Pamong Praja yang menghimpun para pemuda lokal untuk menjadi pegawai pemerintah Belanda. Beberapa di antaranya kemudian menjadi tokoh lokal terdidik dan elite pertama Papua, seperti Frans Kaisiepo, Nicolaas Jouwe, Marthen Indey, Corinus Krey, Silas Papare, Baldus Mofu, O. Manupapami, dan Herman Wajoi. “Soegoro sangat dipercaya oleh Van Eechoud dan dianggap loyal kepada Belanda sehingga diangkat menjadi direktur pertama Sekolah Pamong Praja di Hollandia,” tulis Bernarda Meteray dalam Nasionalisme Ganda Orang Papua. Namun, Soegoro memanfaatkan kedudukannya itu untuk menyemai nasionalisme Indonesia. Tindakannya menentang pemerintah Belanda membuat kecewa Van Eechoud yang selama ini telah menganggapnya sebagai anak emas.
- Jalan Panjang Sofia
USAI diberlakukannya Perjanjian Renville pada Januari 1948, Bandung yang ada dalam kontrol Negara Pasundan, situasinya agak tenang. Kondisi seperti itu membuat penduduknya bisa melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari, termasuk Sofia yang fokus mengelola restoran kecil milik sang mertua. Menjelang keluar dari dinas ketentaraan, Sofia sejatinya pernah dekat dengan seorang anggota FP Yogyakarta yang tengah ditugaskan di palagan Karawang-Bekasi. Namanya Wagino Dachrin Mochtar. Namun, karena Sofia belum bisa lepas dari bayangan kematian Edi dan kondisi revolusi yang serba tak menentu, hubungan itu pun tak berlanjut. “Tak ada pikiran untuk menikah lagi saat itu,” ungkap Sofia kepada jurnalis Yoyo Dasrio.
- Serangan Udara Amerika yang Tergesa-gesa
PADA 4 Desember 1983, ada yang tak biasa di langit Bikfaya, 15 mil timur Beirut, Lebanon pada pagi. Dari rumahnya, Joe Cherabie melihat langit lebih terang dan berisik dari biasanya. Situasi mencekam. “Langit penuh dengan asap bola api dan tembakan anti-pesawat. Saya bisa mendengar bom meledak di kejauhan,” ujarnya sebagaimana dimuat The New York Times, 5 Desember 1983. Apa yang dilihat Joe merupakan pertempuran udara antara pesawat-pesawat AL Amerika Serikat (AS) melawan senjata-senjata anti-pesawat yang ditembakkan milisi-milisi Muslim yang didukung militer Syria. Pertempuran dibuka oleh AS sebagai pembalasan atas serangan bom terhadap barak marinir AS di Bandara Internasional Beirut pada 23 Oktober 1983.
- Sersan Mayor Bernama Sofia
DI GARUT, Otang (88) masih ingat peristiwa itu. Sekira tahun 1947, sebuah pertunjukan drama berjudul Nantikan Aku di Seberang Jembatan Emas karya Mayor Mohamad Rivai, seorang perwira Divisi Siliwangi, telah digelar. Rakyat pun menyambut secara antusias drama yang dimainkan oleh para prajurit tersebut. Itu terbukti dengan adanya permintaan waktu pertunjukan: dari hanya dua hari menjadi empat hari. “Orang berbondong-bondong datang ke lapangan Talun (yang menjadi tempat pertunjukan itu diadakan) hanya untuk cari hiburan di tengah perang,”ungkap eks anggota lasykar BPRI (Barisan Pemberontak Rakjat Indonesia) Bandung itu. Salah satu pemain drama yang memukau dan menjadi buah bibir para penonton adalah seorang prajurit perempuan. Namanya Sersan Sofia, istri dari Kapten Edi Endang, seorang perwira di lingkungan Divisi Siliwangi wilayah Garut. Dalam pertunjukan tersebut, Sofia berperan sebagai ibu dari seorang pejuang.
- Kuntilanak dan Pontianak
JAUH sebelum Suzzanna dikenal karena aktingnya sebagai kuntilanak dalam film-film horornya, kota Pontianak sudah lama diidentikkan dengan kuntilanak. Pontianak bahkan dianggap sebagai nama lain dari kuntilanak. Kuntilanak adalah hantu yang dipercaya berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia. Hantu semacam ini tak hanya dipercaya di Kalimantan Barat ataupun Jawa, di Thailand pun juga. Di Pontianak, kisah tentang kaitan kuntilanak dan nama kota itu dimulai oleh cerita rakyat (folklore) yang mengisahkan tentang Sultan Syarif Abdurahman bin Husin Alkadrie (1729-1807) sang pendiri Kesultanan Pontianak. Dalam cerita rakyat dikisahkan, Sultan Syarif Abdurrachman suatu ketika hendak membuka sebuah negeri di Kalimantan Barat. Ketika dia memulai pendirian daerah itu, konon pontianak (kuntilanak) datang untuk mengganggunya.





















