Hasil pencarian
9828 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Isaac Irot dari Marsose ke TNI
MENJELANG kedatangan tentara Jepang ke Hindia Belanda pada awal 1942, beberapa anggota pasukan khusus tentara kolonial Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), Marechaussee alias Marsose, dikirim ke daerah koloni Inggris Malaka. Pasukan Marsose itu dipimpin Kapten Supheert. Agar perlawanan terhadap tentara Jepang bisa dilanjutkan, setelah Februari 1942 pasukan itu harus mundur ke Sumatra. Pasukan itupun dibagi menjadi dua kelompok ketika akan menyeberangi Selat Malaka dengan perahu. Saat itulah Prajurit kelas dua Irot mengambil peran besar bagi pasukannya. Dia mempertaruhkan nyawanya untuk tugas berbahaya yang tak satupun dari rekannya bersedia mengambilnya.
- Sepenggal Kisah dari Kolonel Hidajat Martaatmadja
BUKITTINGGI, 19 Desember 1948. Hawa dingin masih membekap pagi, ketika Mayor Chairun Basri, Kepala Intelijen Panglima Komandemen Sumatra, mendengar suara ketukan. Begitu pintu dibuka, nampaklah Kapten Islam Salim, ajudan Panglima Teritorium Sumatra Kolonel Hidajat Martaatmadja. Setelah memberi hormat, dia menyampaikan pesan Hidajat supaya Chairun cepat datang menemui sang kolonel di markas besar. Ada rapat penting terkait rencana penyerbuan Belanda ke seluruh wilayah di Indonesia. Singkat cerita bertemulah mereka bertiga dengan staf lainnya di kantin markas. Baru saja rapat dibuka Kolonel Hidajat, tetiba terdengar raungan suara pesawat tempur musuh di langit Bukittinggi.Raungan bak suara ribuan tawon itu kemudian diikuti ledakan bom dan rentetan senjata otomatis. Markas Komandemen Sumatra dan Markas Komando Sumatra Barat yang posisinya berdampingan seketika porak poranda. Tak ada yang bisa dilakukan oleh Kolonel Hidajat dan anak buahnya kecuali bertiarap di lobang-lobang perlindungan yang memang sudah tersedia sekitar markas. Ketika sebuah bom jatuh menimpa sebuah lubang perlindungan, baru saja Mayor Chairun meninggalkannya.
- Harta Peninggalan dalam Arsip Perwalian
HAK perwalian anak kerap kali menjadi persoalan pelik. Kasus Gala Sky, putra pasangan selebritas Bibi Adriansyah dan Vanessa Angel, adalah satu contoh yang pernah menghebohkan publik beberapa waktu silam. Gala menjadi yatim piatu setelah orang tuanya meninggal akibat kecelakaan. Namun, perwaliannya berbuntut konflik antara keluarga besar ayah dan ibunya saling klaim hak asuh. Itu hanyalah segelintir perkara perwalian anak yang mencuat ke permukaan. Belum lagi kasus penyalahgunaan hak perwalian yang jamak terjadi di tengah masyarakat. Sejatinya, lembaga perwalian sudah diatur sejak zaman kolonial. Ia bernama Weeskamer, yang dibentuk pada masa Gubernur Jenderal VOC Pieter de Carpentier tertanggal 1 Oktober 1624. Setelah Weeskamer, dibentuklah Boedelkamer atas resolusi Gubernur Jenderal Antonio van Diemen pada 26 Mei 1640. Pada masanya, kedua lembaga inilah yang berperan mengatur urusan perwalian anak.
- Fights for Oil in Jambi, Indonesia
CORNELIS Plaatzer was just 20 years old when he enlisted as a volunteer in the Royal Netherlands Army (Koninklijk Landmacht/KL) shortly after World War II. This young man from Putten, the Netherlands, was then sent to newly independent Indonesia to restore Dutch control, which had been lost following the defeat of Japan. The Netherlands had to wage war against Indonesia to reclaim the territory it once called the Dutch East Indies. Cornelis Plaatzer arrived in Indonesia as part of Battalion 2 of the 9th Regiment of the KL. He was then selected for the Red Beret special forces paratroopers. By late 1948, he was stationed near Bandung, living in a military barracks. His unit was the paratrooper company of the Regiment Speciale Troepen (RST), and he was part of the parachute unit. On August 20, 1948, Cornelis, the son of Jan Plaatzer and Jannetje Kool, was temporarily promoted to corporal.
- Pembersih Gigi Zaman Kuno
RUMPUT kadang menjadi masalah jika dibiarkan tumbuh liar, terutama jenis rumput yang dikenal sebagai rumput teki (Cyperus rotundus). Tanaman khas daerah tropis ini, yang juga mudah ditemui di berbagai wilayah Indonesia, merupakan salah satu rumput liar paling buruk untuk dikontrol karena persebarannya yang invasif. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa rumput teki berperan penting dalam kehidupan manusia di zaman kuno. Bak pasta gigi di zaman modern, rumput teki merupakan pembersih gigi yang ampuh. Sebuah penelitian terhadap sisa-sisa tengkorak yang terkubur di situs arkeologi Al-Khiday, dekat Sungai Nil di Sudan, dan usianya dapat ditarik sampai tahun 6700 SM menunjukkan bahwa rumput teki sudah dikonsumsi orang-orang prasejarah.
- Cara Pria Asia Tenggara Kuno Memuaskan Pasangan
ANTHONY REID, sejarawan ahli Asia Tenggara dari Australian National University, menunjukkan kebiasaan tak lazim masyarakat Asia Tenggara dalam berhubungan seksual. Para pria biasanya menggunakan aksesoris pada penis untuk memuaskan pasangannya. Mereka melakukannya, sekalipun proses pembuatannya menyakitkan, demi sensasi seksual tiada tara. Di Siam (kini, Thailand), pria yang menginjak usia 20 tahun mengiris penis dengan pisau halus lalu memasukan bola-bola atau lonceng kecil pada kulit lepas di sisi sekitar kepala penis.
- Bertani Zaman Kuno
TIKUS-tikus menyerang ladang. Seorang laki-laki nampak sedang membakar sesuatu. Asapnya diarahkan pada ladang yang sedang diserang tikus itu. Dia hendak menghalau tikus-tikus itu agar tak mengganggu ladangnya. Penggambaran itu terpahat pada relief Karmawibhangga di Candi Borobudur. Pada panil relief lainnya, babi muncul sebagai pengganggu. Ia pun ditombak oleh warga. Di panil lain digambarkan dua orang yang bertugas menjaga sawah. Mereka menunggu di dalam gubuk di tengah sawah. Ada pula seekor anjing yang berbaring di bawah gubuk itu. “Hama tikus diberantas pakai emposan, itu pakai daun kelapa yang kering dibakar tidak ada apinya, yang dipentingkan asapnya. Itu juga ada anjingnya disuruh jegok-jegok, nanti terus digropyok orang [tikusnya],” kata Djaliati Sri Nugrahani, dosen arkeologi Universitas Gadjah Mada kepada Historia.
- Mata Uang Zaman Kuno
JUAL beli bukan hal baru bagi masyarakat Hindu-Buddha awal. Wli, istilah Jawa Kuno, untuk beli ditemukan dalam prasasti dari 878 M. Begitu juga istilah Sansekerta, wyaya, ditemukan pada tahun yang sama dalam prasasti lain. “Ini mengindikasikan memang sudah ada transaksi jual beli pada masa itu. Namun, belum diketahui dengan pasti apakah memang semua transaksi menggunakan mata uang,” tulis arkeolog Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa. Prasasti dari akhir abad 9 M hingga awal 10 M mengindikasikan mata uang perak dan emas telah umum digunakan. Jumlahnya terbatas dilihat dari nilai mata uang emas dan perak yang berharga besar. Maksudnya, untuk pembelian barang berharga tinggi, misalnya seekor kerbau kira-kira 39,569 gram emas atau mas 1 su. Jika dengan perak seberat 212,301 gram atau dha 5 ma 8. Sementara kambing, harganya pirak 4 ma.
- Hiburan Masyarakat Jawa Kuno
DI JAWA, seni pertunjukan jalanan sudah ada sejak abad 9. Kesenian itu dipertontonkan di kerumunan pasar dan di keramaian jalanan. Begitu pula dengan pertunjukan wayang yang semula digelar saat penetapan sima (tanah bebas pajak), kemudian hadir dalam pesta perkawinan rakyat. Arkeolog Puslit Arkenas Titi Surti Nastiti dalam Pasar di Jawa menjelaskan, dalam prasasti dikenal juga pertunjukkan keliling. Para pemainnya disebut menmen. Candi Borobudur, melalui reliefnya memperlihatkan suasana bagaimana tarian pinggir jalan dilakukan sebagaimana pengamen jalanan di masa kini. Mereka mendapatkan penghasilan dari para penonton. Berikut ini keterangan dari prasasti, naskah kesusastraan, dan relief di candi, mengenai hiburan masyarakat Jawa Kuno.
- Begal di Jawa Kuno
KEN ANGROK barangkali perampok paling melegenda di Jawa. Sepak terjangnya tidak saja membuat resah masyarakat di wilayah timur Gunung Kawi, tapi juga membuat penguasa di Tumapel hingga Daha kerepotan mengejarnya. Ternyata, banyak aksi bandit yang tercatat dalam berbagai sumber jauh sebelum Ken Angrok lahir pada abad 12 M. Dalam banyak kasus, penguasa tak tinggal diam dengan mengamankan jalan yang menghubungkan antardesa untuk distribusi barang dagangan. Prasasti Mantyasih dari 907 M menceritakan penduduk Desa Kuning ketakutan yang diperkirakan di lokasi itu sering terjadi pembegalan atau perampokan. Lima orang patih pun ditugaskan menjaga keamanan jalan.
- Siapa Van der Parra, Pemilik Rumah Kuno di Depok?
SEBAGIAN besar atapnya rubuh. Beberapa temboknya juga hilang. Tanaman rambat menutupi sebagian tembok yang masih berdiri. Rumput liar tumbuh tak terurus. Rumah kolonial itu lebih mirip rumah hantu. Namun, jendela-jendela kacanya yang besar menunjukkan rumah itu bukan milik orang biasa. Kini, rumah di Cimanggis itu diperbincangkan karena akan dirobohkan untuk membangun Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Wakil Presiden Jusuf Kalla justru menilai tak ada yang perlu dibanggakan dengannya, karena rumah itu bekas hunian istri kedua gubernur jenderal VOC yang korup. Ratu Farah Diba, ketua Depok Heritage Community, menyayangkan pernyataan ketua Yayasan UIII itu. “Jangan menilai tinggalan sejarah dari kehidupan pemiliknya. Namun, dari segi peninggalan bersejarahnya,” kata Farah kepada Historia, Selasa (16/2).
- Dreamsea, Pusat Data Naskah Kuno Se-Asia Tenggara
MENGANTISIPASI kondisi naskah-naskah kuno se-Asia Tenggara yang minim perhatian, Centre for the Study of Manuscript Cultures (CSMC) Universitas Hamburg, Jerman bekerjasama dengan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (PPIM UIN) Syarif Hidayatullah (Syahid) meluncurkan program bertajuk Dreamsea pada Rabu (24/2/17) siang di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Program itu didanai lembaga amal Arcadia. Dreamsea merupakan program digitalisasi naskah-naskah kuno se-Asia Tenggara yang digagas pada Desember 2017. Proses digitalisasi akan berjalan mulai Juni 2018 hingga 2022. Selama enam bulan pertama sejak Desember 2017, tim Dreamsea mempersiapkan protokol pendigitalan naskah kuno. “Target secara keseluruhan 240 ribu gambar karena kalau menyebut manuskrip, satu manuskrip bisa jadi 50 halaman, jadi ini gambar. Cara pengumpulan lewat Jaringan Masyarakat Pernaskahan Nusantara, untuk di Indonesia khususnya. Kemudian, di Asia Tenggara kita menggunakan jaringan asosiasi-asosiasi sejarah. Di Filipina, misalnya, Philippine Historical Association,” kata Prof. Dr. Oman Fathurahman, salah satu penggagas Dreamsea dari PPIM UIN Syahid, kepada Historia.





















