Hasil pencarian
9645 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Luciano Leandro Melabuhkan Cinta di Makassar
KETIKA mengingat Kota Makassar, Luciano Leandro sesekali terdiam sebelum bertutur. Ia mesti memilih momen saking banyaknya pengalaman berkesan di kota terbesar Indonesia Timur itu. Makassar merupakan kota pertama dari kiprahnya dalam persepakbolaan Indonesia. Ia merantau dari Brasil ke Indonesia pada 1995, dibawa agen bola Angel Ionita. PSM Makassar jadi klub pertamanya bareng sesama jogador (pesepakbola) senegaranya, Marcio Novo.
- Mimpi Juara Luciano Leandro Diraih di Ibukota
MIMPI menjadi juara mendorong Luciano Leandro memutuskan harus mengadu nasib ke negeri orang. Maka ketika kesempatan untuk merumput di negeri seberang menghampirinya, ia tak menyia-nyiakannya. Ia tak peduli tujuan yang akan dicapainya merupakan negeri yang sama sekali tak dia kenal. Masih kental di dalam ingatan Luciano kala meminta izin ayahnya untuk merantau sekira 15 ribu kilometer ke belahan bumi lain. “Karena saya ingin berhasil. Waktu mau ke Indonesia, aku bilang mau juara di sini. Papa (Cecilio Leandro, red .) saya juga bilang agar jangan takut gagal. Kalau gagal, mereka tetap akan menyambut saya pulang,” kata Luciano mengenang, kepada Historia . ID.
- Kisah Luciano Leandro Adu Nasib Lintas Benua
DARI Brasil untuk berhasil. Motto itu masih tertanam dalam hati Luciano Leandro, mantan bintang Persija dan PSM Makassar asal Brasil. Meski kini sudah berganti profesi menjadi pelatih, motto itu masih dipegangnya erat-erat menjadi “ruh” guna mewujudkan ambisinya. Pun begitu, ia tetap rendah hati dan selalu bersahabat. Sapaan lebih dulu terlontar darinya ketika ditemui Historia.ID . Hampir setiap kalimat ia buka dengan kata friend alias teman. Dengan bahasa Indonesia yang kadang masih terbolak-balik strukturnya, ia berkisah banyak tentang kariernya pasca-dipecat Persipura pada Juli 2019. Luci, begitu ia biasa disapa, masih optimis berkarier di klub lain untuk musim depan.
- Mayor Bedjo dan Mayor Liberty Malau Gelut di Tapanuli
PERANG Kemerdekaan di Tapanuli meninggalkan cerita kelam tentang para pejuang yang saling bertempur satu sama lain. “ Porang ni si Bedjo-Malau ” begitu kata orang-orang zaman dulu dalam bahasa setempat. Perang saudara antara Mayor Bedjo dan Mayor Liberty Malau ini jadi kenangan pahit bagi masyarakat Tapanuli masa itu. “Saya pada waktu itu menggambarkan pihak yang bertentangan ini sebagai iblis dan setan. Satupun di antaranya jangan ditemani, karena bagaimanapun suatu ketika kita akan ditelan juga,” kenang Maraden Panggabean dalam otobiografinya Berjuang dan Mengabdi .
- Tokio Jokio, Film Animasi Propaganda AS Masa Perang Dunia II
DI masa Perang Dunia II, film tak hanya diproduksi untuk tujuan hiburan, tetapi juga menjadi media propaganda. Negara-negara seperti Jerman, Amerika Serikat, hingga Jepang berlomba-lomba menayangkan film live action maupun animasi yang sarat akan pesan-pesan propaganda. Tak jarang film tersebut menampilkan karakter serta adegan yang memiliki maksud untuk mempermalukan musuh, selain yang utama yakni untuk meningkatkan semangat patriotisme di kalangan penduduk negaranya. Industri film memang tak begitu saja menghilang ketika perang berkecamuk pada 1940-an. Besarnya peran film sebagai media propaganda dimanfaatkan pemerintah untuk menarik minat masyarakat agar mau ikut ambil bagian dalam mempertahankan negara, serta melawan musuh yang dianggap mengancam kedamaian dunia. Di Amerika Serikat, sepanjang tahun 1941 hingga 1945, para animator Hollywood memproduksi banyak kartun yang tak hanya untuk menghibur tetapi juga menjadi corong propaganda di masa perang.
- Kenapa Australia Menyebutnya Soccer ketimbang Football?
GEMURUH puluhan ribu suporter tuan rumah yang memerahkan Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) pada Selasa (10/9/2024) malam berperan menyuntik spirit tim nasional Indonesia sekaligus meneror tim tamu, Australia. Tim berjuluk “Socceroos” itu melakoni laga tandang pada matchday kedua Grup C di babak ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona AFC (Asia). Sebagaimana dilansir laman resmi federasi sepakbola Australia, julukan Socceroos pertamakali dimunculkan jurnalis olahraga asal Sydney Tony Horstead pada 1960-an seiring pertandingan tur timnas Australia ke Vietnam. Lema tersebut merupakan perpaduan antara kata soccer dan kangaroos si fauna khas Australia.
- Setelah PAI Tak Ada Lagi
SETELAH Wakil Presiden Mohammad Hatta mengeluarkan Maklumat No. X tanggal 3 November 1945 mengenai pembentukan partai politik, para pemimpin Partai Arab Indonesia (PAI) justru menolak menghidupkan kembali partai yang sudah dibubarkan Jepang. Alasannya, selain tak sesuai dengan semangat kemerdekaan, partai-partai politik yang akan muncul membuka pintu bagi mereka. Para tokoh PAI pun bergabung dengan partai politik sesuai ideologi masing-masing. Umumnya memilih Masyumi, termasuk A.R. Baswedan. Hamid Algadri masuk Partai Sosialis Indonesia (PSI). Selebihnya bergabung dengan partai politik lainnya, seperti Said Bahreisj (Partai Nasional Indonesia) dan Ahmad Bahmid (Nahdlatul Ulama).
- Patra Mokoginta Gagal Jadi Raja dan Dibuang
SUKSESI raja Bolaang Mongondow sepeninggal Datu Cornelis Manopo pada 1927 memberi “berkah” pada Abraham Patra Mokoginta. Pria cendekia asal Bolaang itu berpeluang naik takhta menggantikan mertuanya itu. Namun, tidak mudah baginya menyelesaikan langkah politik yang tinggal setapak lagi itu. Patra merupakan menantu dari Raja Bolaang Mongondow Datu Cornelis Manopo. Dia menikah dengan Bua Baay Manoppo, putri sang raja. Namun bukan posisi sebagai menantu raja yang membuat Patra dikenal publik. Patra merupakan bangsawan-cendekia progresif Bolang Mongondow yang aktif berpolitik dan membangun masyarakat. Kiprahnya itu membuatnya dipercaya menjadi Jogugu , setara perdana menteri atau patih di Jawa. Dia memangku jabatan itu dari 1911 hingga 1928.
- Awal Mula Meterai di Indonesia
METERAI elektronik atau e-meterai sempat ramai disorot masyarakat seiring dibukanya pendaftaran seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) beberapa waktu lalu. Tak sedikit yang mengeluh proses pendaftaran CPNS terkendala karena sulitnya akses mendapatkan e-meterai. Kelangkaan kuota e-meterai terjadi karena para pendaftar CPNS diwajibkan untuk membubuhkan meterai elektronik pada dokumen persyaratan. Kewajiban untuk membubuhkan e-meterai pada surat lamaran dan surat pernyataan diri ini pula yang menyebabkan para pendaftar CPNS ramai-ramai mengakses portal pembelian meterai elektronik milik Perum Peruri. Banyaknya orang yang mengakses portal pembelian materai elektronik ini sempat membuat portal tersebut tak dapat diakses. Kendala e-meterai mendorong Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) untuk memperpanjang masa pendaftaran seleksi CPNS. Mulanya, pendaftaran CPNS berlangsung hingga 6 September 2024, kemudian diperpanjang hingga 10 September 2024.
- Mata Hari di Jawa
NEGERI Hindia Belanda (kini Indonesia) masih begitu asing bagi Margaretha Geetruida ‘Griet’ Zelle. Kendati begitu, seiring kapal SS Prinses Amalia berangkat dari Belanda menuju Jawa pada 1 Mei 1897, sosok yang kelak dikenal sebagai Mata Hari itu punya harapan bisa membuka lembaran kehidupan baru di tanah koloni nun jauh dari negerinya. Berangkat saat usia 21 tahun, Margaretha sudah menjadi ibu muda dengan satu anak, Norman, hasil pernikahannya dengan perwira KNIL Rudolf John MacLeod. Margaretha menerima pinangan Kapten MacLeod demi status. Keluarganya berantakan dan dia sempat jadi anak broken home pasca-ayahnya, Adam Zelle, bangkrut dan menikah lagi.
- CIA Menyadap Angkatan Darat
HOWARD Jones, duta besar Amerika Serikat untuk Indonesia, ingin pensiun pada 1964. Namun, Presiden Sukarno mencegahnya. Ini membuktikan eratnya hubungan mereka. Saking dekatnya, sampai disebut tak ada seorang asing pun yang lebih erat hubungannya dengan Sukarno daripada Howard Jones. Jones pun melanjutkan tugasnya. Sampai pada Mei 1965, Washington mengirimkan pesan kepada Marshall Green ketika dalam perjalanan ke Korea sebagai wakil Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Timur Jauh. Pesan tak terduga itu menanyakan apakah Green bersedia menjadi duta besar untuk Indonesia?
- Dana untuk Demo
SEHARI setelah Peristiwa Gerakan 30 September 1965, Brigjen TNI Sucipto, ketua G-V Koti (Komando Operasi Tertinggi), membentuk KAP-Gestapu (Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan September Tiga Puluh). Ini adalah front aksi pertama yang dibentuk untuk melawan PKI. Ketuanya Subhan Z.E. dari Nahdlatul Ulama dan Sekretaris Harry Tjan Silalahi dari Partai Katolik. Sucipto kemudian memfasilitasi pertemuan para aktivis antikomunis dari berbagai organisasi (NU, HMI, PMKRI, Pemuda Muhammadiyah, PII, Sekber Golkar, Front Nasional, Gasbindo, Gemuis, KBKI, Partai Katolik, dan PSII), untuk bertemu dengan Panglima Kostrad Mayjen TNI Soeharto di markas Kostrad.






















