Hasil pencarian
9872 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Tiga Sopir Palang Merah yang Jadi Pesohor Dunia
PALANG Merah Internasional muncul pada 1863, setelah pengalaman Jean Henry Dunant (1828-1910) dalam Pertempuran Salferino (1859). Pengalaman itu dibukukannya dalam Un Souvenir de Solferino (1862). Palang merah menjadi organ netral yang menolong siapa saja yang terluka tanpa memandang bangsa dan agama. Termasuk Dalam Perang Dunia I, palang merah hadir dan berperan penting. Kala itu kerja palang merah telah terbantu oleh teknologi bernama mobil, yang sudah dikembangkan sejak 1878 oleh Karl Benz di Jerman. Kendati punya banyak mobil, palang merah di peperangan amat kekurangan sopir sehingga membutuhkannya. Nun jauh di tanah Paman Sam, seorang pemuda bernama Ernest Hemingway ingin sekali menyaksikan langsung pertempuran dalam perang yang terjadi di Eropa itu. Maka setelah gagal mendaftar di Angkatan Darat karena penglihatannya buruk, Ernest memilih jalur lain untuk mendekati perang. Dia Menjadi tenaga sukarela untuk palang merah di Eropa.
- Agus Widjojo Sang Jenderal Reformis
SEMASA taruna di Akabri, Johny Lumintang dan Agus Widjojo berada dalam satu kompi. Di lapangan olahraga, Agus dikenal sebagai pemain sepakbola sementara Johny jago main tenis. Menjelang kelulusan, 20 orang dari angkatan mereka menjalani tes bahasa Inggris untuk mengikuti basic training di Amerika Serikat. Johny masih bisa mengikuti ujian writting, tapi sangat kesulitan ujian listening. “Gus, dari 50 soal hearing tuh, berapa [soal] yang kamu enggak tahu?” tanya Johny kepada Agus. “Yang paling enggak jelas paling satu,” jawab Agus santai. Johny kaget dan terbengong-bengong mendengarnya. Bagaimana tidak, dia dan kawan-kawan yang lain tidak mengerti dengan soal yang diujikan. Apalagi di Akabri saat itu belum ada lab bahasa Inggris. “Wah, kita, saya, Pak Luhut [Binsar Panjaitan], Pak Fachrul [Razi], segala macam itu paling dari 50, cuma satu yang kita tahu,” kenang Johny dalam diskusi buku Memoar Agus Widjojo: Militer Pemikir, Pemikir Militer di Kompas Institute, 22 Juni 2026. Agus Widjojo dan Johny Lumintang merupakan arbituren Akabri 1970. Setelah lulus dari akademi militer, Agus langsung sekolah di Amerika. Tidak hanya sebagai prajurit TNI, Johny mengenang kolega seangkatannya itu sebagai sosok intelektual yang cerdas dan kritis. Pada periode yang berbeda, Agus dan Johny sama-sama pernah menjabat sebagai Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) dan Duta Besar Indonesia untuk Filipina. “Paling tidak enak berdiskusi dengan Pak Agus karena kita kalah terus. Gimana dia perpustakaannya 2000 buku. Lah, kita [bermodal] potongan koran sama majalah dipakai melawan dia, enggak bisalah,” kata Johny dengan nada guyon, “Makanya, Pak Agus itu di lichting saya di Sesko ABRI, beliau keluar sebagai lulusan yang terbaik. Dari situ kita sudah melihat pemikiran-pemikiran Pak Agus.” Kesan yang sama juga dikenang mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn.) Endiartono Sutarto, junior satu angkatan di bawah Agus Widjojo. Ketika Agus menjadi komandan kompi di Batalion Brigif Linud 17, Endriartono salah satu komandan peletonnya. Selain Endriartono, Susilo Bambang Yudhoyono yang kelak menjadi presiden keenam juga menjadi komandan peleton di kompi yang dipimpin Agus Widjojo. Mereka bertugas dalam operasi militer di Timor Timur pada 1970-an. Meski bertugas dalam hubungan atasan-bawahan dan senior-junior, Endriartono mengaku cukup dekat dengan Agus. “Sehari-hari baik di satuan [pasukan], di home base, maupun di operasi kita sering berbincang. Yang kita bincangkan bagaimana menjadikan prajurit-prajurit lintas udara TNI ini menjadi suatu satuan yang bukan hanya sekadar diterjunkan sampai di tanah dengan selamat lalu berperang, tetapi dia harus benar-benar menjadi suatu operasi yang bisa menentukan atau mengubah jalannya peperangan,” tutur Endriartono. Kerja sama Endriartono dan Agus Widjojo berlanjut saat mereka ditugaskan untuk misi perdamaian di Timur Tengah dalam Kontingen Pasukan Garuda. Agus ditunjuk sebagai kepala seksi logistik, sedangkan Endriartono menjadi komandan peleton angkutan. Ketika Endriartono baru menjadi panglima TNI pada 2002, Agus sudah di pengujung masa jabatannya sebagai wakil ketua MPR dari Fraksi TNI-Polri. Di masa reformasi, Agus Widjojo dikenal sebagai jenderal yang mendukung reformasi TNI. Ketika masih menjabat Kepala Staf Teritorial (Kaster) TNI di masa Kepresidenan Abdurrahman Wahid, Letnan Jenderal TNI Agus Widjojo berperan dalam mengurangi peran TNI-AD dalam militer. Saat itu, Presiden Gus Dur menyerukan agar TNI-AD tak boleh lagi merasa lebih superior dibandingkan angkatan lain seperti AL dan AU. Agus menjadi salah satu petinggi TNI yang ikut dalam memberantas jenderal-jenderal nakal yang masih menginginkan dominasi militer dalam kehidupan bernegara. Dalam reformasi TNI, menurut Marcus Mietzner, peneliti politik militer Indonesia dari National University of Australia, Agus Widjojo berfokus pada masa depan struktur teritorial. Seperti kebanyakan pengamat militer, Agus menganggap struktur teritorial –meskipun di masa lalu dianggap perlu– namun pada abad 21 sudah dianggap tidak fungsional lagi. Militer yang modern di manapun sudah mengadopsi struktur yang jauh berbeda dengan struktur teritorial. “Pak Agus sebenarnya di masa Orde Baru sudah terpikir bahwa harus terjadi reformasi di bidang itu. Begitu Pak Agus punya jabatan dalam bidang itu sebagai Kaster, dia mengajukan suatu proposal untuk mereformasikan struktur teritorial secara gradual. Nah, itu tidak terjadi. Macam-macamlah pada waktu itu ada kejadian sehingga tidak berhasil,” terang Marcus. Diskusi buku Memoar Agus Widjojo: Militer Pemikir, Pemikir Militer di Kompas Institute, 22 Juni 2026. Narasumber di jajaran tengah: Marcus Mietzner, Endriartono Sutarto, dan Johny Lumintang. (Martin Sitompul/Historia.ID). Marcus menambahkan, apa yang terjadi di Indonesia saat ini, justru bertentangan dengan pemikiran Agus Widjojo. Ditandai dengan penambahan Komando Daerah Militer (Kodam) dan pembentukan struktur teritorial yang baru dalam bentuk Batalion Pembangunan. Berkebalikan dengan gagasan Agus Widjojo yang justru menginginkan penghapusan teritorial secara bertahap. “Harus dicatat memang keberanian Pak Agus untuk melawan arus. Pak Agus di banyak kalangan sudah dikenal sebagai salah seorang pemikir dan berani bertemu dengan orang-orang asing. Begitu menjadi Kaster TNI, dia banyak dilawan oleh rekan-rekannya di militer yang anggap idenya terlalu keras, terlalu radikal,” ujar Marcus. Terkait pemikiran Agus Widjojo yang melawan arus dan melampaui zaman, menurut adiknya, Nani Nurrachman, dipengaruhi oleh kultur keluarga dan kultur pendidikan. Nani dan Agus tumbuh dan dibesarkan di London ketika ayahnya, Sutoyo Siswomihardjo menjadi atase militer Indonesia di Inggris pada paruh kedua 1950. Itulah sebabnya, ketika menjadi taruna Akabri, bahasa Inggris Agus paling fasih dibanding rekan seangkatannya. Selain itu, Sutoyo terbiasa mengumpulkan anak-anaknya untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan berpikir kritis. Mayor Jenderal TNI (Anm.) Sutoyo Siswomihardjo adalah salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa G30S 1965. Sementara Agus meniti kariernya sebagai prajurit TNI, adiknya Nani kemudian menjadi psikolog. “Pendidikan di Inggris itu sedemikian rupa membuat cara berpikir kami memiliki perspektif sudut tinjauan orang Barat [dibandingkan] dengan sudut tinjauan orang Indonesia yang masih diwarnai cara berpikir lokal. Perbedaan ini kemudian berkembang setelah Mas Agus menjadi tentara,” kata Nani. Agus Widjojo wafat pada 8 Februari 2026. Saat itu, dia masih bertugas sebagai duta besar Indonesia untuk Filipina. Dia lebih dikenal sebagai tokoh intelektual TNI. Kegigihannya mendukung reformasi TNI membuat namanya dikenang sebagai jenderal reformis.*
- Van der Plank dan Kejahatan Perang di Sumatra
DI KAMPUNG Berastepu, Tanah Karo, puluhan serdadu Belanda melepaskan tembakan secara membabi-buta. Rumah-rumah penduduk digerebek. Mereka merampas harta benda pemilik rumah. Selain itu, beberapa warga kampung yang dicurigai ditangkap lalu ditembak tanpa pemeriksaan. Menurut Sumbul Ginting warga setempat yang menyaksikan kejadian tersebut, ada 9 penduduk kampung Berastepu yang ditembak mati oleh Belanda. Mereka antara lain: Meltah Sembiring, Mestik Karo-Karo, Muniken Karo-Karo, Manik Ginting, Alar Karo-Karo, Kitik Sitepu, Masar Ginting, Naik Sembiring, dan Baban Sembiring. “Demikianlah pada tanggal 1 Juni 1949 tentara Belanda yang berkekuatan 60 orang di bawah pimpinan Van der Plank telah menggerakan pasukannya dari Simpang Empat Surbakti ke Kampung Berastepu, melalui jalan setapak Jeraya dan Tambesi,” catat mantan veteran Perang Kemerdekaan, Letkol (Purn.) A. Surbakti dalam Perang Kemerdekaan II: Tanah Karo Jahe dan Dairi Area.
- Teror Van der Plank di Tanah Karo
TANAH KARO, 5 Maret 1949, segerombolan pasukan Belanda pimpinan Mayor Van der Plank mengadakan gerakan ke daerah Empat Teran (Simpang Empat) . Begitu tiba di Kampung Sigarang-garang, mereka menyatroni beberapa rumah lalu membakarnya. Di tengah aksi intimidasi itu, sebanyak 5 penduduk diberondong peluru. Kelimanya ditembak mati karena tidak mau menunjukan tempat persembunyian gerilyawan Indonesia. “Kelima penduduk yang menjadi korban keganasan Van der Plank tersebut ialah Benih Karo-karo (kepala kampung yang diangkat oleh pemerintah RI), Katan, Menet, Maca, dan Pa Ngaku,” ujar saksi mata Sumbul Ginting, seperti dikutip Letkol (Purn.) A.R. Surbakti dalam Perang Kemerdekaan II: Tanah Karo Jahe dan Dairi Area. Peristiwa penggerebekan berdarah yang terjadi di Kampung Sigarang-garang tadi bukan hanya terjadi sekali. Sepanjang paruh pertama 1949, Van der Plank melancarkan serentetan teror ke berbagai kampung di Tanah Karo. Van der Plank memimpin satuan polisi antigerilya (Troopen Intellegence Vor Gerilya/TIVG) yang bertugas memburu pejuang Republik. Namun dalam menjalankan tugasnya, pasukan Van der Plank kerap menyertakan tindakan brutal. Di beberapa tempat, mereka menjarah dan membakar kampung yang disambangi hingga membunuh warga setempat.
- Sudiro Membenahi Jakarta
JAUH sebelum istilah “blusukan” dipopulerkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (2012-2013), aksi turun ke lapangan telah dilakoni oleh pendahulunya, Sudiro, wali kota Jakarta periode 1953–1960. Saat itu, sebutan kepala daerah Jakarta masih wali kota. Alih-alih pencitraan, Sudiro blusukan untuk mengetahui permasalahan masyarakat Jakarta. Itulah yang dilakukannya kala meninjau kali Pacebokan di bilangan Glodok. Sungai kecil ini terkenal kotor dan jadi sarang penyakit. Tanto Sudiro, putra bungsu Sudiro, masih ingat ayahnya tak punya banyak waktu di rumah. Usai pulang dari kantor balai kota, Sudiro biasanya bergegas lagi untuk pergi blusukan. Sekali waktu, Sudiro bersama sopirnya ke Pacebokan. Di pinggir jalan, mereka makan sate sembari menunggu orang-orang datang ke kali.
- Trauma Serdadu Belanda
MAARTEN HIDSKES tidak menampik jika Piet Hidskes, ayah kandungnya, mengalami trauma dan penyesalan dengan apa yang pernah dia buat puluhan tahun lalu di Sulawesi Selatan. Kendati tidak dihindari, kata “Indonesia” selalu tidak pernah secara mendalam dibahas di rumah mereka. “Padahal dia pernah menghabiskan salah satu fase hidupnya sebagai seorang prajurit komando di Sulawesi Selatan,” ungkap jurnalis Belanda itu kepada Historia.ID. Menurut penulis buku Di Belanda Tak Seorang Pun Mempercayai Saya itu, tidak hanya sang ayah yang mengalami trauma di masa senjanya, kawan-kawan sesama anggota DST (Depot Pasukan Khusus) banyak mengalami situasi yang sama.
- Sultan Hamengkubuwono IX dan Alimin
SULTAN Hamengkubuwono IX sering kali dianggap sebagai penentang komunisme. Dalam Peristiwa Madiun 1948 misalnya, ia berdiri berseberangan dengan Muso. Ia bersama Presiden Sukarno, Jenderal TNI Soedirman, dan Sukiman Wirjosandjojo membuat siaran menolak “kudeta” dan menyerukan agar rakyat mendukung pemerintahan yang sah. John Monfries, visiting fellow di Australian National University, dalam A Prince in a Republic menyebut Sultan Hamengkubuwono IX memang telah mengidentifikasikan dirinya begitu kuat dengan kepemimpinan Sukarno-Hatta. Lebih lagi, ia merupakan Menteri Negara Koordinator Keamanan kala itu, yang juga diangkat oleh Hatta. “Hamengkubuwo meminta rakyat untuk berdiri di samping pemerintah Hatta, menegaskan bahwa itu artinya berdiri untuk pembangunan negara, sementara Muso dan para komunis hanya menginginkan kehancuran,” tulis Monfries.
- Membuka Topeng Psikopat
VERA Renczi lahir pada 1903 dengan anugerah kecantikan. Namun kecantikan seolah pisau bermata dua untuk putri aristokrat Rumania ini: Vera posesif dan pencemburu meski dihujani perhatian banyak pria. Sepanjang hidupnya, ia menikah dua kali. Masing-masing pernikahan tak berlangsung lama. Kedua suaminya, menurut Vera, meninggalkannya begitu saja. Tak ada yang curiga dengan pernyataannya hingga seorang perempuan melaporkan melihat suami Vera masuk ke rumah dan tak pernah kembali. Polisi yang menggeledah rumah Vera kemudian menemukan 35 peti mayat di ruang penyimpan anggur berisi jenazah pria yang membusuk: dua suami, 32 kekasih, dan putranya, Lorenzo. Vera mengaku terpaksa membunuh Lorenzo karena berniat memerasnya setelah menemukan peti-peti mati itu. Sementara kedua suami dan sejumlah kekasihnya ia racuni dengan arsenik manakala ia merasa cinta mereka berkurang atau telah terbagi dengan orang lain.
- Empat Pelatih Asing yang Diapresiasi Positif Negeri Besutannya
BANYAK pelatih asing yang punya prestasi gemilang saat menukangi tim nasional negara-negara berkembang. Meski begitu, cukup langka kesuksesan mereka diapresiasi positif secara resmi. Shin Tae-yong (STY) satu di antara yang sedikit itu. Datang dari negara mapan sepakbola Asia, Korea Selatan, STY memang harus diakui masih nirgelar –baik di level senior maupun timnas U-23– sepanjang menukangi timnas Indonesia sejak Desember 2019. STY dinilai sukses mengangkat sepakbola Indonesia kembali disegani di level Asia dengan membawa timnas senior untuk pertamakalinya sejak 18 tahun lolos babak 16 besar Piala Asia 2023. STY tak hanya mencetak sejarah membawa timnas Indonesia U-23 lolos pertamakali di Piala Asia U-23, tapi bahkan sampai membawa Nathan Tjoe-A-On dkk. melangkah sampai semifinal. Lalu, baru-baru ini STY kembali membuka peluang timnas Indonesia senior ke Piala Dunia 2026 dengan mengantarkannya ke putaran ketiga kualifikasi zona Asia (September 2024-Juni 2025).
- Philippe Troussier Si Dukun Putih
STADION Nasional Mỹ Đình di kota Hanoi, Rabu (26/3/2024) malam itu disesaki atmosfer yang campur aduk antara pilu, getir, dan kemarahan puluhan ribu suporter timnas Vietnam usai wasit meniup peluit terakhir. Kekalahan 0-3 dari tim tamu, Indonesia, membuat rasa muak mereka kepada pelatih Philippe Troussier sudah pada titik klimaks. Sejak menggantikan Park Hang-seo di kursi kepelatihan timnas Vietnam pada Februari 2023 silam, Troussier sudah banjir kritik dari publik dan media “Negeri Nguyen” itu. Sebelumnya, ia gagal mengantar Đỗ Hùng Dũng dkk. lolos fase Grup Piala Asia 2023 yang menjadi kegagalan terburuk dalam sejarah sepakbola modern Vietnam. Pun pada Kualifikasi Piala Dunia Zona AFC (Asia) Grup F. Hingga empat laga yang sudah dimainkan, Vietnam baru menang sekali. Terakhir adalah kekalahan tiga gol tanpa balas di kandang sendiri dari Indonesia.
- Klenik di Balik Final Italia vs Brasil
ROBERTO Baggio dikenal sebagai salah satu pesepakbola terbaik Italia dan dunia. Namun, dalam perjalanan kariernya, dia takkan pernah melupakan momen pahit saat gagal mengeksekusi si kulit bundar pada babak adu penalti di final Piala Dunia 1994 kontra Brasil. Tembakannya dari titik putih melayang ke langit Pasadena, Amerika Serikat, sekaligus membuat Gli Azzurri (julukan timnas Italia) gigit jari. Skor akhir tos-tosan 3-2. Brasil menjadi juara Piala Dunia untuk keempat kalinya. Padahal, menilik track record-nya, Baggio tergolong spesialis penendang penalti. “Rekor penaltinya 108 gol dari 122 tendangan (penalti). Rata-rata kesuksesannya 88 persen –masih menjadi rekor pesepakbola Italia,” tulis Ben Lyttleton dalam Twelve Yards: The Art and Psychology of the Perfect Penalty Kick.
- Para Menteri Hobi Fotografi
ADA pemandangan unik dalam gelaran KTT G20 yang berlangsung di Bali kemarin. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono tampak membaur dengan kalangan wartawan. Sambil menenteng kamera, Basuki beraksi seperti layaknya jurnalis foto sungguhan. Menteri Basuki terlihat memotret aktivitas Presiden Joko Widodo saat persemian dan pembibitan pohon mangrove di Taman Hutan Raya Ngurah Rai. Jauh dari lazimnya kesan seorang menteri, Basuki mengenakan topi secara terbalik. Bersama rombongan wartawan, Basuki ikut sibuk mengeker mata lensa guna mengabadikan momentum. Sesekali ia berbincang dengan pemimpin negara anggota G20, seperti Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri India Shri Narendra. Penampilan sang menteri cukup mencuri perhatian. Basuki memang dikenal punya hobi fotografi. Selain fotografi, ia juga berbakat di bidang musik, yakni sebagai penggebuk drum. Menteri yang punya keahlian bermusik mengingatkan kita pula pada Njoto, menteri negara pada penghujung masa kepemimpinan Presiden Sukarno. Njoto terampil memainkan alat musik gesek berupa biola dan selo.





















