top of page

Hasil pencarian

Search this site

10005 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Identitas Brontë Bersaudara

    JAUH sebelum novel pertamanya terbit, Charlotte Brontë pernah mengirimkan surat dan puisi-puisi karyanya kepada penyair terkemuka Robert Southey pada 29 Desember 1836. Dia berharap memperoleh masukan. Balasan surat tiba namun isinya mengejutkan. Kendati dinilai memiliki “kemampuan berpuisi”, Charlotte diminta untuk tidak melanjutkan niatnya untuk mengejar karier di bidang sastra. “Sastra tidak bisa menjadi fokus utama di dalam hidup seorang perempuan, dan memang seharusnya tidak demikian,” tulis Southey dalam surat balasannya kepada Charlotte tertanggal 12 Maret 1837, dikutip Elizabeth Gaskell dalam The Life of Charlotte Brontë. Jawaban itu terdengar kejam. Tapi begitulah sudut pandang yang dominan dan dipengaruhi oleh nilai-nilai era Victorian. Penulis perempuan bukanlah sesuatu yang lazim di masyarakat pada saat itu. Dunia buku dan kepenulisan didominasi hampir seluruhnya oleh laki-laki. Bahkan, perempuan yang bermimpi untuk menjadi penulis seringkali dicegah dan diyakinkan untuk mengubur mimpinya. Memang ada segelintir perempuan yang menjadi penulis, namun topik yang diizinkan hanya sebatas tentang agama, cerita anak-anak atau rumah tangga, dan fiksi romantis yang ringan. Charlotte, yang saat itu berusia 20 tahun dan bekerja sebagai guru, senang membaca balasan surat itu. Dia membalas surat Southey dengan sangat sopan dan berterima kasih atas nasihatnya. Bahkan, dia menulis, "Ayahku memberiku nasihat yang sama seperti yang Anda berikan." Kendati demikian, Charlotte tak langsung menyerah. Hasrat menulis Charlotte dan saudari-saudarinya (Emily dan Anne) tak bisa dibendung. Untuk menyiasati prasangka gender di masa itu, mereka menggunakan nama pena pria: Charlotte Brontë menjadi Currer Bell, Emily Brontë menjadi Ellis Bell, dan Anne Brontë menjadi Acton Bell. Dengan nama pena itulah, karya mereka terbit dan memperoleh pengakuan sebagai sastra klasik Inggris. Putri Pendeta Charlotte, Emily, dan Anne adalah anak dari pasangan Patrick Brontë dan Maria Brontë yang tinggal di sebuah desa bernama Haworth di West Riding of Yorkshire, Inggris. Umur mereka berjarak sekitar dua tahun: Charlotte lahir 21 April 1816, Emily 30 Juli 1818, dan Anne 17 Januari 1820. Tiga saudaranya yang lain adalah Maria, Elizabeth, dan Branwell. Sang ayah, Patrick Brontë, adalah seorang pendeta Anglikan asal Irlandia yang berasal dari keluarga miskin namun berhasil kuliah di University of Cambridge karena kecerdasannya. Patrick adalah sosok yang eksentrik, berwawasan luas, dan menyukai dunia tulis-menulis (ia sendiri menerbitkan beberapa puisi dan esai). Sang ibu, Maria Brontë, berasal dari keluarga mapan di Cornwall dan merupakan perempuan terpelajar yang menyukai kisah-kisah Gothic. Tragisnya, Maria meninggal akibat kanker pada 1821, tepat ketika putri bungsunya, Anne, baru berusia 20 bulan. Setelah kematian ibunya, mereka diasuh oleh sang ayah dan bibi mereka, Elizabeth Branwell. Belum terlalu lama sejak Maria meninggalkan keluarga Brontë, duka kembali datang. Mereka kehilangan dua kakak tertua mereka, Maria dan Elizabeth, yang meninggal dunia akibat TBC pada 1825. Sejak itu, Charlotte, Branwell, Emily, dan Anne dididik ayahnya di rumah. Rumah mereka terletak di tepi dataran tinggi Yorkshire yang luas, sepi, dan berangin kencang. Mereka jarang berinteraksi dengan anak-anak lain di luar rumah. Namun, hidup terisolasi di desa terpencil justru memaksa Brontë bersaudara mencari pelarian ke dalam dunia literasi. Kebebasan membaca dan menulis yang diberikan oleh sang ayah menjadi dorongan bagi energi kreatif mereka. “Tinggal di daerah terpencil, di mana pendidikan sangat sedikit kemajuannya, dan karenanya tidak ada dorongan untuk mencari pergaulan sosial di luar lingkaran keluarga kami sendiri, kami sepenuhnya bergantung pada diri sendiri dan satu sama lain, pada buku dan belajar, untuk kesenangan dan kesibukan hidup. Dorongan tertinggi, sekaligus kesenangan terbesar yang pernah kami rasakan sejak kecil, terletak pada usaha menulis,” catat Charlotte dalam “Biographical Notice of Ellis and Acton Bell”, kata pengantar yang ditulis tahun 1850 untuk edisi anumerta gabungan novel cetakan ulang novel Wuthering Heights karya Emily dan Agnes Grey karya Anne. Suatu hari, pada musim gugur tahun 1845, secara tidak sengaja Charlotte menemukan buku catatan puisi rahasia milik Emily. Charlotte membacanya dan kagum dengan keindahan puisi Emily. “Aku menganggapnya padat dan singkat, kuat dan jujur. Di telingaku, mereka juga memiliki musik yang unik –liar, melankolis, dan mengangkat semangat.” Sementara itu, Anne juga menghasilkan beberapa puisi dan menawarkan Charlotte untuk melihat karyanya. “Aku tidak bisa tidak menjadi hakim yang sedikit memihak, tapi aku pikir puisi-puisi ini juga memiliki kesedihan yang manis dan tulus dengan cara mereka sendiri,” catat Charlotte. Butuh waktu berhari-hari bagi Charlotte untuk meyakinkan Emiluy bahwa puisi-puisi itu layak diterbitkan. Akhirnya, bersama Anne, Charlotte berhasil membujuk Emily untuk menerbitkannya bersama-sama. Alih-alih menggunakan nama asli, mereka memilih nama pena laki-laki. Charlotte memakai nama Currer, Emily memilih Ellis, dan Anne memilih Acton. Nama keluarga pun disamarkan menjadi Bell. Alasannya, selain menghindari publisitas pribadi, mereka tak suka menampilkan diri sebagai perempuan. "Kami merasa penulis perempuan sering dipandang dengan prasangka. Kami menyadari para kritikus terkadang mengkritik dengan cara menyerang pribadi si penulis, atau memuji si penulis padahal pujian tersebut tidak tulus," ungkap Charlotte. Pada Mei 1846, mereka menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul Poems by Currer, Ellis, and Acton Bell. Penerbitannya didanai sendiri oleh mereka menggunakan uang warisan dari bibi mereka. Buku ini memuat total 61 puisi, dengan pembagian Charlotte menyumbang 19 puisi, sedangkan Emily dan Anne masing-masing menyumbang 21 puisi. Sayangnya, karya puisi ketiga saudari ini tidak laku. Angka penjualannya hanya bisa dihitung dengan jari. Namun, Brontë bersaudara tak menyerah. Cover buku karya masing-masing Brontë bersaudara. Karya Tiga Saudari Kegagalan proyek puisi mereka justru membakar semangat. Mereka kemudian beralih dan mendedikasikan waktu untuk menulis novel prosa. Mereka kemudian menawarkan tiga manuskrip novel pertama mereka. Tiga novel tersebut adalah The Professor oleh Charlotte (Currer Bell), Wuthering Heights oleh Emily (Ellis Bell), dan Agnes Grey oleh Anne (Acton Bell). Naskah-naskah ini terus-menerus diajukan ke berbagai penerbit di London selama satu setengah tahun. Hasilnya? Ditolak. Namun, sebuah penerbit bernama Thomas Cautley Newby akhirnya bersedia menerbitkan novel Emily dan Anne, tapi menolak novel Charlotte. Kendati novelnya ditolak, Charlotte mendapat surat penolakan yang membangun dari penerbit lain, Smith, Elder & Co. Penerbit tersebut mengatakan mereka tertarik jika "Currer Bell" memiliki karya lain yang lebih panjang dan penuh aksi. Charlotte yang saat itu baru saja menyelesaikan Jane Eyre langsung mengirimkannya. Penerbit tersebut takjub dan menerbitkannya pada Oktober 1847. Jane Eyre langsung menjadi bestseller dan sukses besar secara instan. Melihat kesuksesan Jane Eyre (oleh Currer Bell), penerbit Thomas Cautley Newby buru-buru mencetak Wuthering Heights dan Agnes Grey pada Desember 1847 untuk mendompleng popularitas nama "Bell". Jane Eyre bercerita tentang karakter utama seorang anak yatim piatu bernama Jane Eyre, yang mengalami banyak kesulitan sejak kecil hingga dewasa. Jane harus berjuang sepanjang hidupnya, terutama melawan kemiskinan, penindasan, dan kungkungan status sosial. Karakter Jane digambarkan sebagai seorang perempuan yang mandiri, berani menentang norma sosial, dan menjunjung tinggi kesetaraan. Wuthering Heights jauh lebih gelap. Kisah antara tokoh utama Catherine dan Heathcliff merefleksikan hubungan cinta yang obsesif dan destruktif. Ceritanya sarat akan tema balas dendam dan kedengkian yang diturunkan dari generasi satu ke generasi lainnya. Masalah pelik yang ditimbulkan perbedaan kelas dan status sosial juga menjadi salah satu dasar penopang cerita. Wuthering Heights awalnya menuai kecaman karena ceritanya dianggap terlalu brutal dengan perilaku amoral para karakternya, serta permainan psikologis yang gelap dan tabu. Namun, seiring waktu novel ini mendapatkan apresiasi atas ceritanya yang multidimensional dengan penggambaran emosi tiap karakternya yang mendalam. Tak ayal, Wuthering Heights dianggap sebagai salah satu novel terbaik dan paling berpengaruh dalam literatur Inggris. Sementara Agnes Grey mengeksplorasi tema tentang pekerjaan governess (pengasuh sekaligus guru) di zaman Victoria. Novel ini juga menggambarkan kebobrokan yang ditimbulkan oleh perbedaan kelas dan status sosial terutama di kalangan keluarga kaya. Berbeda dari buku puisi mereka, tiga novel debut dari Brontë bersaudara ini mendapat reaksi yang luar biasa. Karya mereka sangat populer dan laris manis, bahkan menarik perhatian para kritikus sastra. Menguak Tabir Karena kesuksesan novel-novel Brontë bersaudara, publik Inggris mulai berspekulasi. Banyak yang mengira bahwa Currer, Ellis, dan Acton Bell adalah satu orang pria yang sama, karena gaya menulis mereka yang sama-sama kuat. Bahkan, ketika menerbitkan novel kedua Anne berjudul The Tenant of Wildfell Hall, penerbit Thomas Cautley Newby mengklaim kepada sebuah penerbit di Amerika Serikat bahwa novel tersebut adalah karya Currer Bell atau Charlotte. Kebohongan Newby jelas mengancam kehormatan dan integritas sastra Brontë bersaudara. Kesal dengan rumor dan kecurangan tersebut, pada Juli 1848, Charlotte dan Anne pergi ke London untuk mendatangi kantor penerbit Smith, Elder & Co. Di sana, mereka mengungkap identitas asli mereka sebagai perempuan dan membuktikan bahwa “Bell beraudara” adalah tiga orang yang berbeda. Rumor itu menjadi titik balik krusial bagi Brontë bersaudara untuk membuka tirai misteri mengenai identitas asli di balik mahakarya mereka. Charlotte membantah bahwa semua karya yang diterbitkan dengan nama Currer, Ellis, dan Acton Bell adalah hasil karya satu orang. Dalam pengantar singkat pada edisi ketiga Jane Eyre, yang terbit pada April 1848, dia (Currer Bell) menjelaskan bahwa, “klaim saya atas gelar novelis didasarkan pada karya ini saja. Karena itu, jika kepengarangan karya fiksi lain telah dikaitkan kepada saya, suatu kehormatan diberikan di tempat yang tidak pantas; dan akibatnya, ditolak di tempat yang seharusnya.” Anne melakukan hal yang sama. Sekalipun terpukul, Anne tak mengikuti saran Charlotte untuk memutuskan hubungan dengan Newby dan pindah ke penerbit Smith, Elder & Co. Dia menolak melanggar kontrak. Sebagai gantinya, dia menuntut Newby untuk menyertakan kata pengantar baru pada cetakan edisi kedua guna meluruskan segalanya. Dalam kata pengantar tersebut, yang terbit Agustus 1848, Anne tidak hanya meluruskan masalah identitas nama pena "Bell bersaudara", tapi juga membalas kritik yang menyebut novelnya tidak pantas ditulis oleh seorang perempuan. Dia menegaskan bahwa pembaca harus menilai karya dari isinya, bukan dari jenis kelamin sang penulis. “Mengenai identitas penulis, saya ingin agar dipahami dengan jelas bahwa Acton Bell bukanlah Currer maupun Ellis Bell, dan oleh karena itu jangan sampai kesalahannya dikaitkan kepada mereka. Mengenai apakah nama itu asli atau fiktif, hal itu tidak terlalu penting bagi mereka yang hanya mengenalnya melalui karya-karyanya. Menurut saya, sama tidak pentingnya apakah penulis yang disebut demikian adalah seorang lelaki atau perempuan, seperti yang diklaim oleh satu atau dua kritikus.” “Saya yakin bahwa jika sebuah buku itu bagus, maka buku itu tetap bagus terlepas dari jenis kelamin penulisnya. Semua novel ditulis, atau seharusnya ditulis, untuk dibaca oleh lelaki dan perempuan, dan saya bingung bagaimana seorang lelaki dapat membiarkan dirinya menulis sesuatu yang benar-benar memalukan bagi seorang perempuan, atau mengapa seorang perempuan harus dicela karena menulis sesuatu yang pantas dan sesuai untuk seorang lelaki.” Namun, upaya Charlotte dan Anne tetap gagal meyakinkan orang. Di tengah kesuksesan novel Brontë bersaudara, kemalangan menyelimuti keluarga ini. Hampir seluruh keluarga Brontë berumur pendek dan meninggal karena penyakit tuberkulosis. Branwell, satu-satunya anak laki-laki di keluarga ini, meninggal pada 24 September 1848. Emily meninggal pada 19 Desember 1848 di usia 30 tahun. Sedangkan Anne meninggal beberapa bulan kemudian, yakni pada 28 Mei 1849 di usia 29 tahun. Setelah kepergian Emily dan Anne, Charlotte mencoba menghapus kabut yang menyelimuti nama Ellis dan Acton. Dia menulis pengantar yang ditulis tahun 1850 untuk edisi anumerta gabungan novel cetakan ulang novel Wuthering Heights dan Agnes Grey. “Misteri kecil yang dulu memberi sedikit kesenangan tak berbahaya, kini sudah kehilangan daya tariknya; keadaannya sudah berubah. Maka, menjadi tugas saya untuk menjelaskan secara singkat asal-usul dan penulis dari buku-buku yang ditulis oleh Currer, Ellis, dan Acton Bell.” Charlotte mengungkap semuanya. Masa kecil, proses kreatif, karya-karya mereka, kritik terhadap karya mereka, hingga akhir hidup Emily dan Anne yang tragis. “Saya bisa menyimpulkan semuanya dengan mengatakan, bagi orang asing mereka bukan siapa-siapa, bagi pengamat dangkal kurang dari siapa-siapa; tetapi bagi mereka yang mengenal mereka seumur hidupnya dalam hubungan dekat, mereka sungguh baik dan benar-benar hebat. Mereka adalah sosok yang murni, jujur, dan memiliki keteguhan moral yang luar biasa.” “Catatan ini ditulis karena saya merasa sebagai kewajiban suci untuk membersihkan debu dari batu nisan mereka, dan meninggalkan nama-nama mereka tercinta bebas dari kotoran.” Poster film drama biografis Les Sœurs Brontë (1979) yang disutradarai oleh André Téchiné (Sumber: Wikimedia Commons) Warisan Sastra Charlotte, yang menjadi satu-satunya saudari yang bertahan hidup lebih lama, berhasil menerbitkan empat novel dengan nama pena Currer Bell. Selain mahakaryanya Jane Eyre, dia menerbitkan Shirley (diterbitkan 1849), Villette (1853), dan The Professor (1857), novel pertamanya yang diterbitkan secara anumerta setelah kematiannya. Charlotte meninggal dunia pada 31 Maret 1855 di usia 38 tahun, hanya sembilan bulan setelah menikah dengan Arthur Bell Nicholls, asisten pendeta ayahnya. Sertifikat kematian resminya mencatat penyebabnya adalah tuberkulosis. Namun, para pakar medis modern meyakini dia meninggal akibat komplikasi kehamilan. Tinggallah Patrick Brontë sebatang kara. Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Patrick meminta novelis Elizabeth Gaskell untuk menulis biografi resmi putrinya, yang kemudian terbit dengan judul The Life of Charlotte Brontë tahun 1857. Buku inilah yang kali pertama membuka mata dunia tentang kisah hidup keluarga Brontë yang luar biasa. Buku ini juga secara gamblang menceritakan bagaimana Charlotte dan adik-adiknya berjuang mempertahankan identitas mereka di balik nama pena laki-laki. Patrick Brontë meninggal pada 7 Juni 1861 di usia 84 tahun akibat penyakit bronkitis kronis dan gangguan pencernaan. Charlotte, Emily, dan Anne meninggal di usia muda. Namun, mereka telah meninggalkan warisan penting bagi dunia sastra. Karya-karya mereka berhasil mendobrak batas kesopanan era Victoria yang kaku. Mereka memadukan kritik sosial atas ketimpangan kelas, kekangan terhadap perempuan, dengan atmosfer psikologis yang gelap. Gaya penulisan ini menjadi cetak biru (blueprint) bagi ribuan novel romansa misteri dan fiksi psikologis modern. Warisan mereka terus hidup melalui adaptasi film, serial televisi, teater musikal, hingga budaya pop. Rumah mereka di Haworth, Yorkshire, kini menjadi Brontë Parsonage Museum, dan sering dikunjungi oleh ratusan ribu “peziarah sastra” setiap tahunnya.*

  • Kekalahan Pasukan Diponegoro dalam Pertempuran Plered

    OPERASI pengejaran Pangeran Diponegoro diteruskan ke wilayah Yogyakarta Utara. Mayor Jenderal Joseph van Geen mengerahkan kekuatan dua kolone. Masing-masing pasukan dipimpin oleh Kolonel Frans David Cochius dan Kolonel Bernard Sollewijn. Kolonel Cochius, perwira zeni paling senior, mendapatkan informasi adanya pemusatan pasukan Diponegoro di Plered, bekas keraton Sunan Amangkurat I. “Benteng Plered dengan tinggi lebih dari 20 kaki dan tembok tebal merupakan tempat pertahanan yang bagus. Benteng ini dipertahankan oleh 800-1000 orang yang dipimpin oleh Tumenggung Kerto Pengalasan,” tulis sejarawan Saleh Asʼad Djamhari dalam Strategi Menjinakkan Diponegoro: Stelsel Benteng 1827–1830.

  • Kado Istimewa Pernikahan

    KGPAA Mangkunegara VII ingin memberikan kado istimewa untuk pernikahan Putri Juliana, anak Ratu Belanda Wilhelmina, dengan Pangeran Bernhard. Sementara raja-raja lain di Nusantara mempersembahkan permata dan benda-benda berharga, dia memilih pentas tari. Kado itu semakin istimewa karena putrinya yang cantik, Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemo Wardhani atau kerap disapa Gusti Nurul, bakal jadi penarinya. “Romo (bapak), mempunyai gagasan dalam tarianku,” ujar Gusti Nurul, lahir pada 17 September 1921, dalam Lembar Kenangan Gusti Noeroel. Pementasan tari akan diiringi gamelan Kyai Kanyut Mesem yang dimainkan di Pura Mangkunagaran, Solo. Alunan gamelan dipancarkan secara langsung melalui stasiun radio Solosche Radio Vereeniging (SRV) ke Negeri Belanda. Tarian yang dipilih Sari Tunggal, “tari dari Keraton Yogyakarta yang selama ini telah kupelajari dari kakak ibuku, Pangeran Tedjo Koesoemo,” kata Gusti Nurul.

  • Perwamu dari Politik Hingga Sosial

    ISTRI-istri dari anggota terkemuka Murba tak mau tinggal diam. Pada 17 September 1950, mereka memprakarsai terbentuknya Persatuan Wanita Murba (Perwamu). Ny. Maroeto Nitimihardjo terpilih sebagai ketua. Selain mendukung kegiatan Partai Murba, Perwamu bergerak dalam kegiatan-kegiatan sosial. Menurut sejarawan Harry A. Poeze, Perwamu tak punya kantor sendiri. Di kantor Partai Murba di Jalan Tanah Abang No. 85, ada dua kamar disediakan untuk Perwamu, dan di sanalah para pemimpin Perwamu bersidang setiap bulan. Dalam The Women’s Movement in Postcolonial Indonesia, Elizabeth Martyn menyebut Perwamu bergiat dalam sektor pendidikan, sosial, dan ekonomi. Aktivitasnya termasuk indoktrinasi dan pendidikan politik tentang “masalah-masalah yang berhubungan dengan perjuangan rakyat” dan pendidikan umum untuk kaum perempuan. Untuk itu, mereka mendirikan sekolah dan taman bacaan.

  • Cerita di Balik Sinetron Si Doel Anak Sekolahan

    MESKI sudah lulus kuliah dan meraih gelar insinyur, Doel (diperankan Rano Karno) tak kunjung mendapat pekerjaan. Sabeni (Benyamin S), ayah Doel, gelisah bukan kepalang lantaran sudah menghabiskan banyak harta untuk menyekolahkan Doel. Leila (Aminah Cendrakasih) lantas menyarankan Sabeni berziarah ke makam leluhur. Begitulah tradisi Betawi kaulan, yaitu janji untuk menunaikan nazar atas berkah yang dirindukan. Sabeni setuju usulan istrinya. Keesokan hari, oplet, kendaraan andalan keluarga Sabeni, mengantar rombongan ke Senayan. Mereka antara lain Sabeni, Leila, Engkong Ali (mertua Sabeni diperankan Haji Tile), Mandra (adik ipar Sabeni), Doel, dan Atun (putri bungsu Sabeni diperankan Suti Karno). Mandra bahkan membawa teko berisi kopi sebagai suguhan saat ziarah. Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Stadion Istora Senayan (kini Gelora Bung Karno). Lanjut kemudian ke lapangan golf Senayan, tempat ayah Sabeni dimakamkan. Setibanya di Stadion Senayan, Sabeni sekeluarga menggelar tikar. Sabeni lantas berkisah di tempat itulah dirinya dilahirkan. Di sudut sana dia bilang dulu ada pohon gatet. Di sudut lain ada tempat jamban. Tiba-tiba, seorang pelatih sepakbola datang mengusir mereka karena lapangan sedang dipakai untuk latihan. “Ape lu, mau ikut kaulan? Ayo ke sini,” kata Engkong Ali. “Bapak nggak boleh di sini,” hardik pelatih. “Emang ngapa sih nggak boleh, sombong amat,” sahut Mandra. “Anda nggak lihat kita sedang latihan,” bentak pelatih. “Sebentar, mau kaulan,” timpal Sabeni. Tak ingin terjadi keributan, Doel membujuk Sabeni untuk lekas pulang. Mereka pun bergegas. Tapi, Sabeni masih dongkol. Sebelum meninggalkan lapangan, dia menghampiri pelatih dan menyampaikan kata-kata menohok tepat di depan mukanya. “Latihan... latihan... Latihan mulu menang kagak,” ejek Sabeni yang seolah-olah mencerminkan prestasi sepakbola nasional. Adegan keluarga Sabeni ziarah ke Senayan itu selalu membekas dalam sinetron keluarga Si Doel Anak Sekolahan yang tayang pada 1990-an. Selain mencerminkan budaya dan tradisi keluarga Betawi, adegan itu juga sarat kritik sosial. Banyak kampung asli Betawi yang telah hilang di Jakarta, bersalin rupa menjadi bangunan-bangunan modern simbol kota metropolitan. Begitu pula dengan ruang-ruang dan interaksi budaya yang mulai hilang ditelan zaman. “Di era Orde Baru itu kan represi terhadap kritik sosial sangat keras. Adegan ziarah ke Senayan itu nyaris tidak tayang,” kata Harry Tjahjono, penulis cerita skenario Si Doel dalam peluncuran bukunya, Si Doel Anak Sekolahan: Filosofi Orang Kampung di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, Jakarta, 12 September 2026. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, yang dikenal sebagai Doel, tokoh dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan. (Martin Sitompul/Historia.ID). Menurut Rano Karno, aktor utama sekaligus sutradara Si Doel, kisah Si Doel sebenarnya sudah tamat pada episode pertama begitu Si Doel mendapatkan gelar sarjana. Namun, di tangan Harry Tjahjono, cerita Si Doel terus bergulir dari episode ke episode. Hingga akhirnya 78 episode dalam empat musim, Harry menukangi jalannya cerita Si Doel. “Seorang Harry Tjahjono-lah yang bisa menemukan [karakter] Karyo (Basuki), Atun, Zaenab (Maudy Koesnaedy), Pak Bendot, Rodiyah (Nacih), Engkong Tile, Engkong Caak (Bodong). Jadi, Harry Tjahjono yang menciptakan kampung di Si Doel,” kata Rano Karno yang kini menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Rano mengenang, cerita Si Doel sedemikian kompleks karena banyak adegan-adegan yang terjadi di luar skenario. Itulah yang membuat penulis skenario bekerja keras untuk menyambungkan cerita di luar skenario sesuai dengan skenario Si Doel. Misalnya, dialog Sabeni yang menginginkan Doel sekali-kali jadi gubernur, yang justru terjadi di kehidupan nyata Rano Karno. Begitu pula dengan karakter-karakter unik seperti Engkong Ali, Nyak Rodiah, dan Pak Bendot yang buta huruf. “Jadi kalau syuting mereka bertiga, saya enggak pakai cut. Biarin dia capek sendiri, sampai dia bilang, kapan cut-nya nih,” tutur Rano. Ketika tayang di RCTI pada 1994, Si Doel langsung menyedot perhatian penonton. Tak hanya menawarkan cerita drama keluarga dan komedi, ia juga memotret kehidupan keluarga Betawi dengan segala interaksi budayanya yang khas. Begitu pula suasana kampung Betawi yang saat ini sudah jarang ditemukan, termasuk jadi sorotan dalam latar Si Doel. Peluncuran buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis cerita skenario Si Doel Anak Sekolahan di PDS H.B. Jassin Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, 12 September 2026. (Martin Sitompul/Historia.ID). Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra menyebut fenomena Si Doel berhasil membuat “gaduh” masyarakat sejak awal penayangannya. Saat itu, Yahya menjadi guru ngaji, mendapati anak-anak didiknya pada ngacir saban kali mendekati jam tayang Si Doel. Ternyata, mereka bolos ngaji demi meluangkan waktu nonton sinetron Si Doel. “Itu anak-anak yang biasa rutin ngaji mangkir semua karena dia nonton Si Doel. Itu yang paling kacau tuh dari Si Doel. Sehingga, yang saya lakuin terpaksa, yang seharusnya ngaji sehabis sembahyang Magrib kita ubah menjadi abis sembahyang Ashar,” terang Yahya. Kendati demikian, kisah Si Doel ditulis bukan tanpa tujuan. Menurut Harry, Si Doel ditulis agar orang Betawi tak menjadi tamu di rumahnya sendiri. Itulah sebabnya, nuansa Betawi sangat kental ditampilkan, mulai dari percakapan, latar, tradisi, hingga musik. Seiring makin banyaknya kampung Betawi yang hilang, tayangan Si Doel Anak Sekolahan selalu dirindukan sebagai wahana ruang nostalgia. “Yang sangat kehilangan kita adalah kampung. Sedih saya melihat tontonan kita nggak pernah ada nuansa kampung. Saya nggak menganggap Si Doel itu baik, tapi Si Doel itu hidup. Ibu bapak akan mendengar atmosfer suara radio RRI, ada ayam, ada burung, lagu dangdut. Kesannya di rumah Si Doel kayak ada di dalam kampung. Nonton sinetron sekarang, ibu nggak akan dapat suasana kampung. Itulah yang hilang,” tutup Rano.*

  • Batalyon Jawa yang Merepotkan Tuan Tanah di Toraja

    BATALYON Andjing Laut melawan tentara Belanda pada masa revolusi kemerdekaan di Jawa Timur. Komandannya Mayor Ernest Julius Magenda (1919–1972), mantan perwira tentara sukarela Pembela Tanah Air (Peta). Anak buahnya di antaranya Bungkus, Djaharup, dan Dul Arif. Bungkus menyebut Magenda berasal dari Sangihe-Talaud (Sangir, Sulawesi Utara). “Ia terlihat seperti peranakan Portugis atau Belanda. [Posturnya] Cukup tinggi,” kata Bungkus kepada Ben Anderson dalam “The World of Sergeant-Major Bungkus”, di jurnal Indonesia, No. 78, Oktober 2004. Bungkus menyebut 85 persen personel Batalyon Andjing Laut adalah orang Madura. Andjing Laut pernah dianggap bagian dari bekas Angkatan Laut yang masuk Brigade 18 dari Tentara dan Teritorium Brawijaya, Jawa Timur. Batalyon ini terlibat dalam penumpasan pemberontakan di Indonesia Timur.

  • Persahabatan Petinju Jerman dan Afro Amerika

    SELEMBAR kertas berisi alamat itu dilihatnya kembali sesaat keluar dari mobil. Kegugupan mulai muncul di benaknya saat melangkah ke pintu di hadapannya. Bel di pintu rumah yang dikunjunginya pun beberapakali dipencetnya untuk memanggil tuan rumah. Sembari memencet bel, ia terus memainkan topi fedoranya dari tangan kiri ke kanan dan sebaliknya. Kegugupannya belum pergi. Pada hari di tahun 1954 itu, Max Schmeling, pria tadi, sengaja berperjalanan dari Jerman ke Chicago, Amerika Serikat. Dia ingin melakukan klarifikasi. Seorang perempuan lalu muncul dari balik pintu. Schmeling menuturkan niat kedatangannya untuk bersua sang tuan rumah. Namun, kata si perempuan, sang tuan rumah tengah bermain golf. Seraya mempersilakan Schmeling menunggu di dalam, perempuan itu menyampaikan pesan ke klub golf bahwa di rumah sedang ada tamu.

  • Ketika Mohammad Hatta Merayakan Natal di Jerman

    JERMAN, Pekan Natal 1921. Seluruh daratan telah memutih. Jalanan dan atap-atap bangunan tampak ditutupi oleh lapisan salju. Asap pun mulai membumbung dari rumah-rumah. Di tengah udara menggigit itu Mohammad Hatta dan Dahlan Abdullah berjalan. Menyusuri jalan utama dengan pakaian musim dinginnya. Meski telah tiga bulan di Eropa, keduanya tetap belum terbiasa dengan udara di sana. Terlebih Natal tahun itu menjadi perayaan musim dingin pertama mereka di Benua Biru. Kedatangannya ke Jerman bukan sebagai warga koloni Hindia Belanda. Melainkan pelajar dari Belanda. Kala itu Hatta sedang menempuh pendidikan Ekonomi di Handels Hogeschool, Belanda. Pada Desember 1921, ia mendapat jatah libur tahunan, menyambut Natal dan Tahun Baru, selama lebih dari tiga minggu.

  • Bunuh Diri Massal Penduduk Jerman di Demmin

    WALTRAUD Reski masih berusia 11 tahun ketika kengerian melanda Demmin, kota kecil 220 kilometer di utara Berlin yang jadi tempat tinggalnya, pada 30 April 1945. Kendati belum paham apa yang sebenarnya sedang terjadi, batinnya diliputi ketakutan ketika mendengar derap langkah dan deru kendaraan tempur Tentara Merah memenuhi Demmin. “Suara ini –tank-tank bergerak masuk– suara yang menakutkan. Setiap kali saya melihatnya dalam sebuah film, sekarang ingatan ini kembali kepada saya,” ujarnya sebagaimana dikutip sejarawan Laurence Rees dalam bukunya yang berjudul Their Darkest Hour: People Tested to the Extreme in WW II. Sebagaimana warga Demmin umumnya, ketakutan Waltraud timbul akibat berbulan-bulan terus dicekoki berita propaganda oleh pemerintah Jerman-Nazi. Sejak Jerman kalah di Stalingrad, Menteri Propaganda Joseph Goebbels selalu mempropagandakan kengerian yang bakal diterima rakyat Jerman apabila tentara Soviet mencapai tempat tinggal mereka. Dalam pidatonya Goebbels menyatakan begitu “Gerombolan Bolshevik Mongol” –demikan julukan kaum fasis terhadap pasukan Soviet– tiba, mereka akan membumihanguskan kota-kota Jerman yang dilalui, membiarkan penduduk kelaparan, mengirim penduduk kerja paksa ke tundra, dan memerintahkan eksekusi massal. Para prajurit Soviet juga bakal menjarah apa saja yang mereka temui, menyiksa anak-anak sebelum membunuh mereka, dan memperkosa perempuan-perempuan yang ada.

  • Akhir Tragis Penduduk Jerman di Fase Akhir Rezim Fasis

    SETELAH lebih dari 10 tahun dari kunjungan pertamanya, fotografer-jurnalis Margaret Bourke-White kembali mendapat kesempatan meliput ke Jerman pada awal 1945. Pada kunjungan pertamanya, tahun 1932, Margaret yang masih bekerja untuk Majalah Fortune mendapati keadaan Jerman mengkhawatirkan. Jerman yang saat itu dilarang memiliki militer dalam jumlah besar oleh Perjanjian Versailles usai Perang Dunia I, justru getol melakukan pelatihan militer dan sedang diwabahi Naziisme. “Dia tinggal di Jerman cukup lama untuk memotret pasukan Jerman yang sedang berlatih dengan peralatan tiruan, seperti senapan kayu. Saat itu, Jerman dilarang memiliki tentara yang besar dan menimbun persenjataan,” tulis Emily Keller dalam biografi Margaret berjudul Margaret Bourke-White: A Photographer’s Life. Maka ketika mendapat kesempatan kedua mengunjungi Jerman, Margaret bersemangat. Dia berangkat pada Maret 1945, ketika negeri itu telah berada di jurang kekalahan dalam Perang Dunia II. Sebagai fotografer-koresponden AD Amerika Serikat, Margaret bertugas mendokumentasikan dan melaporkan keadaan di tempat-tempat yang disinggahinya mengikuti gerak-maju Tentara Ketiga AD AS pimpinan Jenderal George Patton.

  • Lonceng Kematian Kapal Kebanggaan Jerman

    BARU kemarin Oberbootsmannmaat (setara sersan kepala) Wilhelm Gödde merayakan Hari Natal bersama rekan-rekannya, hari berikutnya awak Scharnhorst –nama kapal tempur kebanggaan Kriegsmarine (Angkatan Laut Jerman)– itu terombang-ambing di perairan Nordkapp, Tanjung Utara, Norwegia. Di kegelapan malam dengan hawa dingin dari salju yang turun dan air laut yang membeku, Gödde hanya bisa menggantungkan nasibnya pada Yang Kuasa. Gödde satu dari sedikit penyintas Scharnhorst yang tenggelam pada malam 26 Desember 1943 usai dikeroyok kapal-kapal armada Inggris dalam Pertempuran Tanjung Utara. Pertempuran itu jadi ajang terakhir bentrok antarkapal permukaan murni tanpa keterlibatan kapal selam dan pesawat udara di front Eropa. Bersama sekitar selusin rekannya, Gödde mesti susah payah dan nyaris menyerah saat belum diselamatkan musuhnya, awak kapal perusak HMS Scorpion. Para awak Scorpion sudah mencoba menurunkan jaring dari lambung kapal namun Gödde dan rekan-rekannya sudah lebih dulu kehabisan tenaga untuk memanjatnya.

  • Lika-liku Kisah Pelarian Tawanan Sekutu dari Kamp Jerman

    UDARA dingin yang menusuk tulang tak memadamkan keinginan kuat Letda (penerbang) Bertram Arthur James untuk meraih kebebasannya. Menjelang tengah malam, 24 Maret 1944, James bersama puluhan rekan sesama tawanan perang di Kamp Stalag Luft III di Sagan, Silesia (kini Żagań, Polandia) merangkak di terowongan bawah tanah yang lebarnya hanya 60 centimeter (cm). “Musim dingin tahun itu sangat buruk. Itu bulan Maret terdingin selama 30 tahun dan orang-orang yang berjalan kaki akan sangat menemui kesulitan,” James berkisah. Tetapi bukan perkara mudah bagi James dkk. bisa keluar dengan selamat. Tebalnya salju di atas tanah berpasir di sekitar kamp membuat bagian ujung terowongan sepanjang 102 meter itu amblas. Butuh sekira satu jam bagi rekan-rekan James di bagian depan untuk memperbaiki terowongan itu, termasuk pintu terowongan yang membeku.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page