top of page

Hasil pencarian

9725 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Jenderal Belanda Tewas di Aceh

    BELANDA khawatir Aceh jatuh ke tangan negara Barat lain setelah melihat Aceh mengadakan hubungan dengan konsul-konsul Amerika dan Italia. Sultan Aceh juga mengirim utusan ke luar negeri untuk mencari bantuan senjata dan dukungan politik sebagai persiapan menghadapi kemungkinan serangan Belanda. Pada 18 Februari 1873, Menteri Jajahan Van de Putte atas nama pemerintah Belanda menginstruksikan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda James Loudon di Batavia agar penyerangan ke Aceh dapat segera dimulai. Loudon mengadakan sidang khusus Dewan Hindia Belanda membahas teknis pelaksanaan penyerangan. Ditetapkan Wakil Ketua Dewan Hindia Belanda, Frederik Nicolaas Nieuwenhuyzen sebagai Komisaris Pemerintah untuk Aceh, dan Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler, komandan teritorial Sumatra Barat, sebagai panglima ekspedisi militer pertama ke Aceh.

  • Malaka: Imperium Negeri Jiran

    KRI Dewaruci mampu memacu lajunya hingga 9-10 knot sehingga berhasil tiba di perairan Malaka sehari lebih awal dari jadwal. Namun meski tiba pada 29 Juni 2024 dinihari, Dewaruci tak bisa langsung merapat. Baru pada 30 Juni 2024 pagi kapal antik di bawah komando Angkatan Laut Indonesia itu merapat di Fort Tanjung Bruas dengan sambutan hangat. Setelahnya, para peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah (MBJR) yang dibawa Dewaruci bergerak menuju bekas pusat dari Melaka atau Malaka. Kerajaan Malaka cukup penting di jalur rempah. Wilayah Malaka kini menjadi bagian dari Kerajaan Federasi Malaysia. Letak daratannya berada di Semenanjung Malaya, tepat berada sisi timur di Selat Malaka. Kapal-kapal dagang dari berbagai negeri melewati wilayahnya. Malaka menarik banyak pedagang. Tome Pires dalam Suma Oriental mencatat, komoditas dagang utama yang diangkut dari Malaka antara lain: cengkeh, bunga pala, biji pala, kayu cendana, mutiara, kemenyan, dan tanaman obat lignaloes . Selain rempah-rempah dari timur, barang yang masuk ke Malaka juga terdapat timah, emas, kain sutra dan lain-lain. Perdagangan membuat Malaka ramai oleh pedagang.

  • Persaudaraan Setia Hati pada Masa Pendudukan Jepang

    PADA masa kolonial Belanda, kegiatan pencak silat mendapat kekangan. Hal ini karena perguruan pencak silat terlibat dalam perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Pada 1930, misalnya, Perguruan Pencak Silat Sekar Pakuan yang didirikan di Bandung memiliki motto “berlatihlah hingga berani melawan Belanda”. Motto tersebut kemungkinan terinspirasi oleh perlawanan Haji Hasan Arif, pemimpin pesantren dan perguruan silat, terhadap Belanda di Cimareme, Garut. “Pada 1918, Perguruan Pencak Silat Siwarame, yang dipimpin oleh Haji Hasan Arif, sempat memimpin perlawanan singkat terhadap Belanda di Cimareme, Garut. Setelah menolak menyerahkan sebagian hasil panen padinya kepada pejabat setempat, Haji Hasan dan dua anggota keluarganya terbunuh dalam bentrok senjata,” tulis Ian Douglas Wilson dalam Politik Tenaga Dalam: Praktik Pencak Silat di Jawa Barat.

  • Ketika Timnas Indonesia Mengajari Jepang Main Bola

    TIMNAS sepakbola Jepang boleh jemawa sebagai kesebelasan paling tangguh se-Asia saat ini. Setidaknya, dalam 20 tahun terakhir, Timnas Jepang terlihat dominan baik dalam turnamen Piala Asia maupun langganan keikutsertaan di Piala Dunia. Merujuk ranking FIFA, Jepang kini menempati posisi 15 –tertinggi dari semua negara Asia, terpaut jauh mengungguli Indonesia yang bertengger di posisi 113. Jepang juga sudah memastikan tempat dalam putaran final Piala Dunia 2026, sementara Timnas Indonesia mesti berjuang lagi di babak kualifikasi ronde ke-4. Namun, di masa lalu, Timnas Indonesia pernah eksis sebagai “macan Asia”. Timnas Jepang –yang kini merajai sepakbola Asia– bahkan turut jadi korban “keganasan” Timnas Indonesia pada masa jayanya. Dalam turnamen Merdeka Games Cup 1968 di Malaysia, Indonesia dan Jepang bertemu dalam satu grup, Grup A. Laga antara kedua tim berlangsung pada hari ketiga turnamen, 11 Agustus 1968, di Stadion Perak, Ipoh.

  • Kucing-kucingan Orang Ambon dengan Tentara Jepang

    AUGUST Isaac Tanasale alias Nono Tanasale tak tinggal diam di zaman Jepang. Dia memilih ambil risiko daripada menderita apalagi mati konyol meskipun risikonya bisa kehilangan nyawa.   Bukan tanpa alasan Nono mengambil sikap. Sebab, kehidupan orang Ambon sangat sulit di zaman pendudukan Jepang. Mereka dicap dekat pemerintah Hindia Belanda. Padahal, di kalangan orang Ambon sendiri jelas ada perbedaan. Ada yang di zaman Hindia Belanda ikut pergerakan nasional seperti Mr. Johannes Latuharhary, AM Sangadji, Alexander Jacob Patty atau Johannes Leimena; ada pula yang setia kepada Belanda meski di zaman pendudukan Jepang.   Akibat sikapnya itu, Nono suatu kali tertangkap oleh tentara Jepang dan dibawa ke markas polisi militer Jepang ( Kempeitai ) di daerah Tanjung Priok, Jakarta Utara. Terdapat markas Kempeitai Kaigun (polisi militer angkatan laut Kekaisaran Jepang) di sana.

  • Skandal Sesama Jenis Pejabat VOC

    PADA suatu hari di bulan Juni 1644. Gubernur Jenderal VOC, Antonio van Diemen (menjabat 1636–1645), belum lama menyelesaikan makan malamnya. Seorang halberdier, prajurit penjaga yang membawa tombak, datang menghadapnya untuk membicarakan hal penting. Prajurit muda yang berasal dari Champagne, Prancis itu melaporkan Joost Schouten, anggota Dewan Hindia, yang telah merayunya agar bersedia menjadi pasangannya. Van Diemen terkejut mendengar laporan itu. Sadar aduan halberdier  itu bisa menjadi fitnah karena tidak didukung bukti, terlebih orang yang diadukan adalah pejabat tinggi VOC dan tokoh berpengaruh di Batavia, sang gubernur jenderal menyuruhnya untuk mengatur pertemuan dengan Schouten.

  • Kiprah VOC di Pulau Dejima

    PADA 2 Juli 1609, dua kapal dagang Maskapai Perdagangan Hindia Timur (VOC) –De Rode Leeuw met Pijlen dan De Griffioen– berlabuh di Hirado, sebuah pulau di pantai barat Kyushu. Itu menjadi kali pertama kapal dagang Belanda masuk ke wilayah Jepang, setelah tahun 1600 kapal ekspedisi mereka secara tidak sengaja terdampar di Teluk Usuki, Kyushu, saat sedang mencari tempat berdagang di Asia Timur. Dua awak kapal, sekaligus saudagar besar Belanda, Abraham van den Broek dan Nicolaas Puyck, diperkenankan bertemu penguasa Jepang Shogun Tokugawa Ieyasu. Dalam kesempatan itu mereka meminta izin mendirikan kantor dagang Belanda di Hirado. Pada Agustus, izin tersebut disetujui. Belanda juga boleh memasuki semua pelabuhan Jepang. Jacques Speck ditunjuk sebagai kepala perwakilan VOC di Jepang.

  • Belanda Menghalangi Salat Id di Jakarta

    LEBARAN 1 Syawal 1367 Hijriah jatuh pada hari Jumat, 6 Agustus 1948. Saat itu, Jakarta diduduki tentara Belanda. Pemerintah Republik Indonesia telah hijrah ke Yogyakarta. Bertepatan dengan bulan kemerdekaan, penduduk Jakarta bertekad mengadakan salat Id di halaman rumah Pegangsaan Timur 56, tempat Sukarno membacakan Proklamasi kemerdekaan. Bekas rumah Sukarno dijadikan gedung perwakilan pemerintah Indonesia. Pada 4 Agustus 1948, PID ( Politiek Inlichtingen Dienst  atau Dinas Intelijen Politik) mendatangi panitia salat Id menyampaikan bahwa HTB ( Hoofd Tijdelijk Bestuur  atau Kepala Pemerintahan Sementara) melarang salat Id di lapangan Pegangsaan Timur 56. Keesokan harinya, panitia menemui Pokrol Jenderal ( Procureur Generaal atau Jaksa Agung) Belanda melaporkan soal larangan itu. Ternyata, pendirian Pokrol Jenderal juga sama dengan PID, keberatan salat Id dilaksanakan di Pegangsaan Timur 56.

  • Ketika VOC Memburu Perompak Makassar

    PADA 1673, VOC pusat di Batavia mendapat laporan tentang situasi gawat di perairan Nusa Tenggara. Sejumlah besar kapal dagang yang melintas di sana, antara September hingga Desember 1673, dilaporkan tidak pernah sampai ke tempat tujuan. Mereka menghilang dalam perjalanannya mengangkut komoditi dari pesisir Jawa menuju Nusa Tenggara. Berdasarkan laporan pejabat Belanda di Lombok ( Daghregister, Oktober 1673), setidaknya ada 100 sampai 150 buah kapal yang dihancurkan di perairan tersebut. Hanya sedikit sekali kapal bisa merapat kembali ke pesisir Jawa. Kalau pun ada yang selamat, kondisi kapal rusak parah dan para awak kehilangan barang bawaan mereka. Bahkan tidak sedikit kru kapal yang terbunuh.

  • Kue Bika Bernama Majelis Ulama

    TELEPON di rumah Hamka berdering. Hamka beranjak menyongsong telepon, meninggalkan tayangan tinju Muhammad Ali vs Joe Bugner di televisi pada akhir Juni 1975.  Si penelepon orang Departemen Agama. Dia menyampaikan pesan bahwa Menteri Agama Mukti Ali ingin segera bertemu Hamka. Pokok bahasannya seputar rencana pemerintah mendirikan majelis ulama dan menjadikan Hamka sebagai ketuanya. Hamka berjanji pertemuan bakal terlaksana dalam waktu dekat. Percakapan telepon berakhir.  Gagasan pembentukan majelis ulama muncul dalam musyawarah alim ulama se-Indonesia di Jakarta pada 30 September–4 Oktober 1970. Gagasan itu berasal dari Pusat Dakwah Islam Indonesia, organisasi bentukan pemerintah. Mereka meminta partisipasi ulama dalam pembangunan dan pembinaan kerukunan antarumat beragama.

  • Merayakan Keberagaman Imlek Kala Pandemi

    ORANG Tiongkok datang ke Nusantara sejak puluhan abad lampau. Mereka yang datang umumnya para pedagang. Hal ini diketahui dari catatan Fa Hsien dari abad ke-4 dan I-Tsing pada abad ke-7. Gelombang kedatangan mereka kian banyak memasuki era kebangkitan Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) pada abad ke-17.  Gelombang ini berbeda dari gelombang sebelumnya. Orang-orang dari Tiongkok kali ini datang sebagai kuli atau pedagang. Hubungan mereka dengan VOC cukup baik. Tapi hubungan itu berubah jadi saling curiga sejak peristiwa pembantaian orang Tionghoa di Batavia pada 1740. Pembantaian dipicu isu bahwa mereka akan memberontak terhadap VOC.

  • Klenteng Hok Lay Kiong, Buah Pemberontakan Buruh Tionghoa Terhadap VOC

    DUPA dinyalakan. Wanginya menyebar ke setiap sudut ruangan klenteng Hok Lay Kiong. Pak Osin, kemudian melanjutkan kewajibannya membersihkan dan merapikan klenteng. Aktivitas itu sudah dilakoni Pak Osin bertahun-tahun. Bedanya, Pak Osin bekerja dalam sepi. Sejak pandemi Covid-19, kegiatan di klenteng berkurang. Begitu juga dengan jumlah orang yang berkunjung. “Kalau dulu itu, ada saja orang datang setiap harinya, meski bukan suasana Imlek. Sekarang, ya seperti ini. Sepi,” ungkap Pak Osin.

bottom of page