top of page

Hasil pencarian

9951 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tajir Melintir Sultan Langkat

    KETIKA Istana Kesultanan Langkat dijarah dalam peristiwa revolusi sosial, banyak harta benda kesultanan ludes digondol para begundal. Konon, sejumlah pentolan laskar yang menyerbu istana menggasak tiga kaleng sigaret cap “555” berisi penuh berlian sebesar kemiri. Setelah mendapatkan harta rampasan itu, mereka tak kembali ke pasukannya. Ada yang kabur ke Penang, Malaya, dan Jawa. Kesultanan Langkat tersohor sebagai kesultanan Melayu terkaya di pantai timur Sumatra. Puncak kejayaannya berlangsung pada masa Sultan Abdul Aziz Jalil Rahmad Shah yang memerintah antara 1893–1927. Di bawah Sultan Abdul Azis, Kesultanan Langkat mencapai kemakmuran sekaligus pusat pendidikan agama Islam di Sumatra Utara. Sejarawan Universitas Negeri Medan, Ichwan Azhari menyebut Sultan Abdul Aziz berperan dalam menguatkan hubungan politik Kesultanan Langkat, mendirikan perguruan Jam’iyah Mahmudiyah’, membangun Masjid Azizi, membuka sekolah umum, memberikan beasiswa keluar negeri untuk rakyat, memberikan fasilitas kesehatan gratis dan pembangunan rumah sakit. “Kesultanan Langkat di masa kepemimpinan Sultan Abdul Aziz mencapai puncak kejayaan. Hal ini diraih berkat kecakapan beliau dalam melahirkan berbagai kebijakan yang sangat kontributif terhadap kemajuan Kesultanan Langkat,” catat Azhari dalam 100 Tokoh Melayu Nusantara. Kesuksesan Sultan Abdul Aziz tak lepas dari fondasi yang diletakkan oleh ayahnya, Sultan Musa, raja pertama bergelar Sultan yang memerintah antara 1840–1893. Sultan Musa juga menjadi sultan pertama yang menjalin kontak dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Di masa kepemimpinannya, Sultan Musa menghadapi pemberontakan puak-puak di Langkat dan ancaman Kesultanan Aceh. Situasi itu mendorong Sultan Musa untuk meminta pertolongan Belanda. Sebagai imbal baliknya, Kesultanan Langkat mengakui kekuasaan pemerintah kolonial. Campur tangan Belanda memungkinkan Sultan Musa memperoleh konsesi dari tanah Langkat yang dijadikan perkebunan tembakau dan karet. Mohammad Said dalam Kuli Kontrak Tempo Dulu: Dengan Derita dan Kemarahannya menyebut Langkat termasuk salah satu incaran kaum planters, tuan-tuan kebun Belanda yang ingin memperluas wilayah perkebunannya. Usaha perkebunan di Langkat baru dimulai pada 1871, sedangkan di Deli dan Serdang lebih dulu satu dekade sebelumnya. Pada 1875 terdapat tujuh perkebunan besar di Langkat. Sementara di Deli dan Serdang, jumlahnya jauh lebih banyak. Semakin tinggi keuntungan dari hasil perkebunan, semakin besar pula pendapatan yang masuk ke kas kesultanan. “Para Sultan memberi konsesi-konsesi tanah untuk area perkebunan kepada pihak asing dengan ikatan-ikatan perjanjian ganti rugi. Di Langkat selain konsesi untuk perkebunan terdapat pertambangan,” catat Usman Pelly dan Ratna M.S. dalam Sejarah Pertumbuhan Pemerintahan Kesultanan Langkat, Deli, dan Serdang. Bersamaan dengan ekspansi perkebunan, pada masa Sultan Musa, tanah Langkat diketahui mengandung minyak bumi. Penemuan sumur minyak secara tak sengaja di Telaga Said pada 1880-an, kemudian di Telaga Tunggal, menjadi sumber pendapatan tambahan bagi Kesultanan Langkat. Di akhir masa kekuasaannya, Sultan Musa telah mengembangkan perekonomian Kesultanan Langkat dari tiga sumber utama: perkebunan, kayu hutan di Langkat Hulu, dan tambang minyak. Dari semuanya, royalti minyak mendatangkan keuntungan paling besar. “Bahkan dengan royalti minyak saja cukup mengalahkan Kerajaan Deli yang pertama melakukan kerjasama dengan pihak kolonial,” tulis Muhammad Alfin dalam skripsi “Kehidupan Sosial-Ekonomi Bangsawan Langkat 1942–1947” di Universitas Negeri Medan. Hingga pemerintahan dipimpin Sultan Abdul Aziz, Kesultanan Langkat telah mencapai modernisasi di segala bidang. Terlihat dari gaya hidup bangsawan Langkat yang mengikuti budaya Eropa, seperti memakai jas, kemeja, tali pelikat, dan sepatu pantofel. Begitu pula dengan makanan, seperti oat gandum pengganti sarapan, makanan kaleng, dan minum anggur. Memiliki sepeda motor dan mobil pun telah lazim di kalangan bangsawan. “Hiburan bangsawan Langkat selain tari tradisional, sudah ada juga sirkus yang pertama kali ada di Jawa, dan akhirnya juga datang ke Langkat. Selain sirkus, para bangsawan juga pergi berlibur ke luar negeri atau luar kota. Para bangsawan menginap di hotel sebagai tempat peristirahatan. Kaum bangsawan juga biasa bersantai di taman menghabiskan waktu sore hari berkumpul bersama seluruh anggota keluarga,” tulis Khairun Nisa, dkk. dalam “Gaya Hidup Bangsawan Langkat (1900–1942)”, termuat di Puteri Hijau: Jurnal Pendidikan Sejarah, Januari 2023. Dengan pundi-pundi kekayaannya, Sultan Abdul Aziz membangun istana baru, yakni Istana Darussalam dan membeli kapal tanker SS Sultan van Langkat. Stabilitas dan kemakmuran inilah yang diwariskan kepada anaknya, Sultan Mahmud, yang mulai berkuasa pada 1927 setelah ayahnya mangkat. Pada masa Sultan Mahmud, pemborosan dan gaya hidup mewah kian mencolok di hadapan rakyat. Di beranda Istana Darussalam berjejer mobil-mobil mahal milik Sultan Mahmud. Pada 1933, Sultan Mahmud memiliki 13 mobil sedan limosin. Dia menjadi salah satu dari sedikit orang di Sumatra Timur yang mengendarai mobil Buick ketika menghadiri pertemuan. Sejarawan Anthony Reid menyebut Sultan Mahmud sebagai sultan paling kaya dari semua kesultanan dan kerajaan di Sumatra Timur. Pada 1931, pendapatan pribadinya dari royalti minyak sebesar f472.094, jauh di atas Sultan Deli dan Serdang yang hanya sepertiganya. Kekayaan yang luar biasa itu memungkinkan Sultan Mahmud memanjakan diri dan keluarganya dengan berbagai rupa plesiran. Mulai dari koleksi kuda pacu, menyelenggarakan pesta semarak untuk orang-orang Eropa berpengaruh, sampai perjalanan wisata ke Eropa dan sepasukan sanak saudara aristokrat yang hidupnya bergantung pada sultan. “Sultan Mahmud dari Langkat yang penghasilannya jauh lebih besar, juga dililit utang sebanyak f1.318.000 pada akhir tahun 1934. Bagi Sultan Mahmud yang senantiasa curiga dan tidak yakin pada dirinya sendiri, utangnya ini semakin menimbulkan kecemasan,” catat Reid dalam The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra. Berbeda dengan ayahnya, Sultan Abdul Aziz yang tegas dan dihormati, Sultan Mahmud agak berjarak dengan rakyatnya. Kesenjangan antara kehidupan kaum bangsawan di istana dengan rakyat menjadi bom waktu, yang akhirnya meledak dalam peristiwa revolusi sosial pada Maret 1946. Istana Darussalam porak-poranda hingga tak berjejak akibat dilalap api. Tangan-tangan liar menjarah harta benda kesultanan. Beberapa keluarga bangsawan ditangkap, dianiaya, diperkosa, bahkan dibunuh. Tak lama setelah peristiwa nahas itu, Sultan Mahmud mangkat pada 1948. Kejayaan dan kekayaan Kesultanan Langkat yang tersohor tinggal catatan sejarah.*

  • Sharon Stone dalam Bayang-bayang Simbol Seks

    FOUNDATION memang bisa sedikit menutupi kerut-kerut di wajahnya. Namun, tulang pipinya yang begitu menonjol menunjukkan usianya sudah tak lagi muda, 62 tahun. Begitulah Sharon Stone kini, yang masih tetap cantik dan ceria. Lama menghilang dari dunia entertainment, Sharon masih dilekati citra sebagai simbol seks. Itu diakuinya ketika berbincang secara daring di program “Mola Living Live” yang dipandu aktor Reza Rahadian dan sineas Rayya Makarim di Mola TV, Sabtu, 7 November 2020. Sharon tak kuasa menghindari citra tersebut meski sekarang tampak kurang nyaman dengannya. Itu diperlihatkannya ketika menjawab pertanyaan Rayya, bagaimana sulitnya mendapat peran lain yang tidak mendefinisikan dia sebagai simbol seks dan berapa lama imej itu mengikuti kariernya.

  • Sengkarut Drama Emma dalam Empat Musim

    AIR muka Nona Emma Woodhouse (diperankan Anya Taylor-Joy) begitu tenang pada suatu hari di musim gugur. Ia duduk dengan tubuh tegap sempurna di kursi terdepan sebuah gereja di Highbury, Inggris, di sisi ayahnya, Tuan Henry Woodhouse (Bill Nighy). Namun, batinnya tengah dirundung mendung. Pasalnya, pengasuhnya sedari kecil, Nona Taylor (Gemma Whelan), akan menjalani pemberkatan pernikahan di altar gereja dengan Tuan Weston (Rupert Graves). Untung kesedihan Emma yang ditinggal Nona Taylor tak berlangsung lama. Di musim yang sama, gadis jelita, pintar, dan kaya itu mendapat teman sekaligus pengasuh baru, Nona Harriet Smith (Mia Goth). Kepada Harrietlah Emma berbagi kesah dan keceriaan tentang kehidupan sosial dan asmara kalangan elit lingkungannya karena ibunya sudah meninggal sejak Emma masih kecil.

  • Konsekuensi dari Kesimpulan Tim Peneliti Belanda

    AKHIR tahun 2021 tim riset Belanda tentang sejarah kekerasan yang terjadi pada masa revolusi Indonesia telah menyelesaikan tugasnya. Tim yang beranggotakan para sejarawan profesional dari empat lembaga riset di Belanda itu menghasilkan 14 buku. Buku-buku itu baru saja dirilis dan minggu ini tim peneliti mengumumkan kesimpulan penelitian itu dalam sebuah siaran pers. Penelitian yang mengundang kontroversi di dalam masyarakat dan akademisi di Belanda maupun di Indonesia ini menyimpulkan bahwa selama periode revolusi kemerdekaan, yang dalam perspektif Belanda disebut sebagai periode “Bersiap” itu, telah terjadi kekerasan masif yang dilakukan oleh militer Belanda terhadap rakyat sipil Indonesia. Di lain pihak kekerasan juga dialami oleh kelompok masyarakat Belanda khususnya Indo-Eropa, etnis Tionghoa, dan elite Indonesia yang dianggap pro-Belanda. Sebenarnya tidak ada hal yang baru yang dihasilkan dari riset ini karena kesimpulan serupa sudah dikemukakan oleh para sejarawan yang telah melakukan penelitian tentang topik yang sama sebelumnya. Sekalipun demikian, kesimpulan tim Belanda ini memiliki implikasi yang berbeda karena penelitian ini merupakan state-sponsorship dan mengatasnamakan negara. Sementara itu penelitian-penelitian sebelumnya lebih bersifat individual.

  • Kisah Djokosujono dan Simatupang yang Terpisah

    SEHARUSNYA Shodancho Djokosujono berada di Madiun. Sebab, ia bagian dari Daidan (Batalyon) tentara sukarela Pembela Tanah Air (Peta) di Madiun, daerah asalnya. Namun, pada 14 Agustus 1945 Djokosujono malah berada di Jakarta. Ia tinggal di rumah Sukarni di Jalan Fort de Kock (kini Jalan Minangkabau). Tiga hari kemudian, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan di Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Djokosujono, kata T.B. Simatupang dalam Laporan Dari Banaran, adalah tipe pemuda yang sekitar tahun 1930 telah tertarik oleh pidato-pidato dan kursus-kursus dari Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan pemimpin gerakan-gerakan nasional lain, kemudian ia menjadi kader gerakan nasional itu. Simatupang menganggap Djokosujono telah menjadikan sebagian yang dipelajarinya dari Marxisme dan lain-lain sebagai dogma. Simatupang mengakui rasa setiakawan Djokosujono cukup tinggi. Sebagai pejuang, musuh Djokosujono tentu saja Belanda yang ingin berkuasa lagi di Indonesia. Selain Belanda, kaum borjuis kapitalis, golongan ningrat dan priayi juga termasuk daftar musuh yang harus dienyahkan dalam kemerdekaan.

  • Komandan Resimen Dikagetkan Tank Jadi-jadian

    SETELAH pertempuran Titi Bambu, Letkol Djamin Gintings memerintahkan penggotongan keenam prajurit Kompi Markas yang masih hidup ke Kampung Suka. Dalam proses evakuasi dan identifikasi, tiga orang prajurit tak ditemukan. Mereka ternyata hanyut terbawa arus Sungai Lau Biang yang deras. Sementara itu, enam prajurit lainnya dipastikan meninggal. Dalam suasana penuh duka, komandan Resimen I Sumatra itu tetiba dikejutkan oleh suara teriakan. “Awas, Tank datang!” Mendengarnya, sontak saja situasi dilanda hiruk-pikuk. Dikira tentara Belanda datang. Tapi, mujurlah kepanikan itu tak berlangsung lama. Sejurus kemudian diketahui bahwa tank yang digembar-gemborkan itu adalah kereta lembu petani yang baru pulang dari ladang. Deru langkah lembu itu memang terdengar menghentak tanah dengan keras.

  • Dukung Indonesia Berarti Masuk Kamp Pulau Semau

    KEDATANGAN kapal motor Australia Experance Bay di Pelabuhan Kupang, Nusa Tenggara Timur pada awal 1946 membuat geger. Otoritas Belanda di sana sampai buka suara. Bukan tanpa alasan, sebab kapal yang mengangkut ratusan orang Indonesia dari Australia untuk dipulangkan itu menurunkan 20 orang penumpangnya di sana. Ke-20 orang yang diturunkan itu bukan sembarang orang alias berbahaya. Pihak Belanda mencap mereka sebagai agitator. Menurut kabar dari Ilyas Jacoub kepada Djamaludin Tamin, seperti tercatat dalam Arsip Mohamad Bondan 460 yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), mereka yang diturunkan di Kupang itu yakni Mohamad Senan, Soedihat, Soeparmin, J.A. Loemanau, Ilyas Jacoub bersama istri dan tujuh anak mereka, A. Quddus, Maoen, Aroean, Hendrik Salenda, Loeter Salendeho, Agoes Linggar, Bakri, Misnan, Takim, Poeri, Badri, Kadri, Markatab, Loedin Djalaloedin, dan Rail. Otoritas Belanda pun menahan ke-20 orang tadi di Pulau Semau, sebuah pulau kecil di barat Kupang. Menurut Het Dagblad, 12 Maret 1946, dari Pulau Semau ke-20 orang itu hendak dipindahkan Labuan. Diberitakan pula, para agitator itu menerima ransum militer Australia secara penuh selama mereka tinggal di Semau.

  • Memupuk Asa di Djajaloka

    STASIUN Kertapati, Sumatra Selatan akhirnya dicapai Presiden Sukarno dan rombongannya. Kendati dekat, perjalanan mereka dari pusat kota Palembang tidaklah mudah. Mereka mesti menyeberangi Sungai Musi terlebih dulu menggunakan kapal motor. Dalam penyeberangan itu, salah satu kapal pengiring sempat ada yang terbalik pula. Perjalanan pada 10 April 1956 itu dilakukan Sukarno untuk meresmikan proyek transmigrasi Djajaloka. Proyek yang namanya diberikan langsung oleh Sukarno itu terletak di Tebing Tinggi, hampir 200 kilometer di barat Palembang. Proyek tersebut tak bisa dilepaskan dari kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) yang diterapkan Kabinet Hatta pada masa Perang Kemerdekaan. Diberlakukannya (Re-Ra) menimbulkan gejolak di masyarakat. Para pejuang yang angkat senjata melawan Belanda, yang berupaya menguasai kembali bekas jajahannya, dibebastugaskan sehingga menganggur. Hanya mereka yang memiliki latar belakang pendidikan formal mumpuni yang tertampung dalam wadah resmi bernama TNI. Banyak pejuang yang menganggur itu tidak terima. Politisi ataupun partai politik yang punya ketergantungan besar pada mereka pun mempermasalahkan Re-Ra, terutama mereka yang menjadi oposisi.

  • Berdebat dengan T.B. Simatupang

    TAHI Bonar Simatupang menjadi jenderal pada usia muda. Saat berumur 30, Simatupang mengemban jabatan Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP). Sejak Perang Kemerdekaan, dia telah membuktikan dirinya sebagai perwira intelektual yang brilian. Satu-satunya perwira TNI yang terlibat dalam perundingan dengan Belanda sejak 1946 hingga pengakuan kedaulatan. “Saya waktu berusia 28 tahun diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang, dan waktu Pak Dirman meninggal kemudian, setelah melalui banyak kesulitan, akhirnya diangkat sebagai kepala staf,” kenang Simatupang dalam Percakapan dengan Dr. T.B. Simatupang. Menjadi jenderal di usia muda dan berasal dari suku Batak yang suka bicara ceplas-ceplos membuat Simatupang tak sungkan mendebat siapa saja. Presiden Sukarno bahkan pernah jadi sasaran kritik Simatupang lantaran gemar mengenakan seragam militer. Simatupang pada suatu pertemuan mengatakan agar presiden tak perlu lagi mengenakan uniform usai Perang Kemerdekaan. Anjuran itu rupanya jadi persoalan antara Simatupang dan Bung Karno.

  • Gagal dapat SIM Gara-gara Pertanyaan Ujian yang Aneh

    SURAT Izin Mengemudi (SIM) merupakan dokumen penting yang harus dimiliki pengemudi kendaraan. Tak berbeda dengan masa kini, SIM di zaman kolonial Belanda yang disebut rijbewijs bisa didapatkan pengemudi dengan mengikuti serangkaian tes, salah satunya ujian berkendara di jalan umum. Saat menjalani tes ini pengemudi didampingi seorang inspektur polisi yang akan menilai kemampuan mereka selama berkendara. Menurut G.H. von Faber dalam Oud Seorabaia, melalui tes berkendara ini pihak berwenang akan menilai kemampuan pengendara. Biasanya peserta akan diminta mengemudikan kendaraannya melewati sejumlah jalan. Lalu, mereka diuji untuk bermanuver di antara barisan bendera, menggerakan mobil maju dan mundur, hingga berbelok. Bagi banyak orang, ujian berkendara ini menjadi tes yang paling sulit dalam rangkaian ujian mendapatkan SIM. Dalam beberapa kasus, alih-alih lolos ujian berkendara, sejumlah peserta justru mengalami kecelakaan. Seperti pengalaman seorang peserta ujian SIM yang diberitakan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 13 Juli 1909. Dikisahkan, Tuan B dari Magelang pergi ke kantor polisi di Surabaya untuk mengajukan permohonan SIM bagi sopirnya seorang penduduk lokal.

  • Handala, Simbol Perlawanan Palestina dalam Seni Jalanan

    HABIS kapal Madleen, terbitlah Handala. Tak kapok dengan apa yang menimpa Madleen bulan lalu, Gabungan lembaga kemanusiaan independen Freedom Flotilla Coalition (FFC) menjadwalkan akan memberangkatkan kapal Handala –yang membawa aneka bantuan kemanusiaan– dari Siracusa, Italia ke Jalur Gaza, Palestina, pada Minggu (13/7/2025). Pada 1 Juni lalu, FFC memberangkatkan kapal Madleen yang berlayar –dengan menggunakan bendera Inggris– dari Sisilia, Italia dengan membawa persediaan susu formula, 100 kilogram tepung, 250 kilogram beras, popok, barang keperluan wanita, hingga alat-alat kesehatan. Madleen berlayar dengan 11 kru dan aktivis, di antaranya anggota Parlemen Eropa Rima Hassan asal Prancis, aktivis kemanusiaan Thiago Avila dari Brasil, dan Greta Thunberg asal Swedia. Namun saat masih berlayar di perairan internasional dekat Siprus pada dini hari 9 Juni 2025, mereka dicegat Angkatan Laut (AL) Israel dan ke-11 aktivis itu diculik ke Israel. Setelah beberapa hari diinterogasi, mereka dikembalikan ke negara asal masing-masing. Meski tak senahas kapal bantuan kemanusiaan MV Mavi Marmara yang diberangkatkan lembaga HAM Türkiye, İHH, pada 2010 silam hingga menewaskan 10 orang dan melukai 12 lainnya, tetap saja misi Madleen menembus blokade Israel demi menyelamatkan dua juta populasi Gaza yang butuh bantuan kemanusiaan tak tercapai.

  • Ulos Ragi Hidup Simbol Kehidupan Paripurna Orang Batak

    DI kalangan suku Batak, kaum pria boleh jadi menempati posisi lebih dominan dalam struktur sosial. Pada setiap hajatan, entah itu pesta pernikahan, upacara perkabungan, atau parhata –orang yang memimpin jalannya prosesi adat– selalu diperankan oleh laki-laki yang dituakan. Namun, andai kata tidak ada perempuan yang menenun kain ulos, nicaya tradisi adat itu mati belaka. Sepenting itulah ulos, sebutan untuk kain tenun Batak, begitu pula peran perempuan penenunnya (partonun). Ulos dalam adat budaya Batak bukan sekadar sehelai kain tenun. Ia mengandung nilai keluhuran. Selain itu, penyematan ulos (mangulosi) kepada seseorang punya filosofi masing-masing. Tergantung jenis ulos apa yang dipakai dan kepada siapa ulos itu disematkan.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page