Mayang Memang Menggoda

Kapal kecil yang berlaju cepat, efisien digunakan dalam pelayaran antarpulau.

1512874088000
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Mayang Memang Menggoda
Tipe perahu atau kapal mayang.

STASIUN Meteorologi Maritim Tanjung Mas, Semarang, Jawa Tengah hari ini (9/12/17) mengeluarkan prakiraan cuaca yang menerangkan bahwa wilayah perairan selatan Kalimantan Tengah, Laut Jawa bagian tengah, perairan Kepulauan Karimun Jawa dan perairan utara Jawa Tengah akan berawan dan berpeluang hujan.

Situasi tersebut membuat banyak nelayan di perairan utara Jawa tidak melaut. Di pelabuhan-pelabuhan sepanjang pantai utara Jawa itulah kapal-kapal kayu beraneka warna tertambat. Sebagian besar kapal yang dimiliki nelayan di pantura Jawa adalah jenis kapal mayang.

Mayang merupakan perahu klasik yang berfungsi sebagai penangkap ikan dan alat transportasi di pantai utara Jawa. Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya, Jaringan Asia, menuliskan bahwa perahu khas Jawa itu mengunakan kerangka badan yang mengikuti dinding sekat kedap air yang khas Cina. Kapal jenis Mayang tidak muncul dalam relief di kaki Candi Brobudur melainkan muncul di gambar-gambar Eropa sejak abad ke-18.

“Kelihatannya banyak sejarawan yang hanyut dalam hegemoni kebesaran Cina. Semuanya dipandang pengaruh Cina. Ingat bahwa tradisi perkapalan untuk mengarungi lautan lebih duluan maju Nusantara. Cina masih berkutat dengan kapal-kapal sungai ketika para pelaut Indonesia sudah sering lalu lalang ke Cina untuk berdagang. Baru abad ke-11 setelah belajar perkapalan dari Nusantara dan Persia yang datang ke Cina mereka bisa membuat kapal-kapal laut. Makanya Kertanegara raja Singasari begitu mudah menghalau dan menghina utusan Khan dari Cina,” ujar Singgih Tri Sulistyono, sejarawan dari Universitas Diponegoro yang menekuni sejarah maritim, kepada Historia. “Mayang adalah salah satu genre kapal Austronesia,” imbuhnya.

Diaspora suku-suku rumpun Austronesia pada kedua milenium sebelum masehi ke Nusantara, dari arah Utara dan Barat, telah menciptakan tipe perahu bercadik sebagai alat transportasi migrasi mereka, dan perkembangan jenis perahu asli Nusantara maupun kawasan Oseania berdasarkan atas ciptaan itu.

Ciri khas dari kebanyakan perahu Austronesia adalah terbuat dari satu batang kayu saja. Dalam bahasa Inggris, disebut dugout, yang mengacu pada cara pembuatannya, yaitu batang kayu yang dikeruk bagian dalamnya atau perahu lesung. Jenis perahu ini tersebar di seluruh Kepulauan Nusantara. Biasanya, perahu berukuran besar pun mulai dibentuk dengan dasar perahu lesung yang kemudian dibesarkan dengan meninggikan dindingnya menggunakan papan.

“Walaupun perahu model lesung ini dikatakan yang paling sederhana, teknik pembuatannya memerlukan keahlian dan pengalaman khusus. Kerumitan sudah dimulai ketika memilih kayu yang paling cocok, menebang pohonnya, sampai pada mengeruk batangnya. Untuk itu para tukang harus memenuhi persyaratan yang tinggi... Doa dan sesajen sering menyertai atau mendahului setiap fase baru dalam pembuatan kapal sesuai dengan adat kebiasaan setempat,” tulis AB Lapian dalam Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan 17. Lapian pun menjelaskan bahwa sumber-sumber sejarah mengenai kemajuan teknik perkapalan di Indonesia susah ditemukan.

Horst H. Liebner dalam artikel Perahu-Perahu Tradisional Nusantara menerangkan, ada catatan-catatan tertulis dari Cina mengenai jenis dan bentuk perahu Nusantara. Syahbandar, pejabat, biksu dan ilmuwan Cina sudah pada abad ke-3 Masehi memperhatikan k’un-lun b/po, atau ‘perahu-perahu layar orang Lautan Selatan’. Disebutkan dalam tulisan tersebut, perahu-perahu jenis p/bo dapat membawa antara 600 sampai 700 orang, dengan muatan sampai 10.000 ikat, sekira 250-1000 metrik ton, serta dapat mengangkut lebih dari 1.000 orang. Namun deskripsi dari Cina ini, lanjut Liebner, tidak didukung oleh penemuan arkeologi dan ikonografi. Baik fresko perahu di Candi Borobudur maupun sisa-sisa kapal karam yang ditemukan sampai sekarang berasal dari perahu-perahu yang ukurannya lebih kecil.

AB Lapian, sejarawan yang memelopori kajian sejarah maritim, menerangkan bahwa pengaruh atas kapal-kapal pribumi bisa datang dari Portugis, Spanyol, bahkan Gujarat, Persia, dan Arab. Teknik pembuatan kapal, tali-temali perkapalan di Indonesia yang dinilai konservatif, bukan disebabkan karena kekurangan daya inventif, melainkan bentuk atau jenis kapal yang ada disesuaikan dengan situasi setempat.

“Perahu mayang dengan layar tanjak-nya, misalnya, adalah bentuk yang terbaik untuk keperluan para nelayan yang harus berlayar di perairan utara Jawa yang dikuasai sistem angin setempat,” tulis Lapian.

Kapal mayang, menurut Singgih Tri Sulistyono dalam Pengantar Sejarah Maritim Indonesia, berada dalam jenis kelompok perahu Jawa yang mempunyai ciri-ciri antara haluan dan buritan sejajar; badan perahu vertikal; layar empat persegi panjang, kadang trapesium dan segitiga; pada saat ini bentuknya kecil-kecil. Dalam kelompok perahu Jawa, kepal mayang tidak sendiri. Jopie Wangania dalam Jenis-Jenis Perahu di Pantai Utara Jawa-Madura juga menuliskan, selain kapal mayang, yang termasuk dalam kelompok kapal Jawa adalah perahu lesung, sampan, sope, jegong, tembon/compreng, bondet, kolek, konting/dogol, jukung katir, perahu prawean, golean lete, janggolan, pencalang, lambo.

Memasuki abad ke-17, kapal-kapal kecil menjadi pilihan bagi pelaut untuk perdagangan maritim karena efisien. “Efisiensi tipe-tipe perahu ‘baru’ itu terlihat dalam angka persentase jenis-jenis perahu yang dinahkodai orang Eropa di Jawa Utara: Lebih dari 50% dari orang Barat itu memilih perahu tipe mayang dan pencalang sebagai sarana perdagangan mereka,” tulis Liebner.

Pada pertengahan kedua abad ke-18, tulis Liebner yang mengutip keterangan G.J Knaap dalam Shallow Waters, Rising Tide–Shipping and Trade in Java around 1775, kapal mayang yang ada di pelabuhan-pelabuhan utara Jawa memiliki spesifikasi panjang 9,15 hingga 12,2 meter; berdaya muat 7,24 metrik ton dan jumlah kru 6 orang. Kapal ini hanya melayani jarak lokal serta pelayaran antarpulau yang berdekatan.

Hingga pascakemerdekaan, kepal jenis mayang mendominasi perdagangan maritim di laut Jawa dan sekitarnya. “Pada tahun 1951/1952, Pemerintah Indonesia melalui Pusat Jawatan Perikanan Laut mendapat bantuan/hibah 60 buah kapal mayang dan 14 buah kapal motor cakalang dari Pemerintah Amerika dengan Program International Cooperation Administration (ICA). Kapal mayang dibuat di Jepang dari kayu cemara atau matsu berukuran 13,50 x 3,20 x 1,20 m dengan mesin Yanmar 30 DK tipe 2 LD. Kapal-kapal tersebut disalurkan kepada koperasi perikanan di pantai utara Jawa,” tulis Soewito dalam Sejarah Perikanan Indonesia.*

  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
0 Suka
BOOKMARK