- 28 Agu 2023
- 4 menit membaca
Diperbarui: 18 Mar
WAHYU Susilo berdiri tegak di muka panggung. Melipat tangan kirinya ke punggung tetapi mantap memegang sebuah catatan di tangan kanannya. Dengan ekspresi tegar ia pun melantangkan sebuah puisi di depan mikrofon.
Apakah nasib kita akan terus seperti sepeda rongsokan karatan itu?
Oh, tidak, dik!
Kita akan terus melawan.
Waktu yang bijak bestari kan sudah mengajari kita.
Bagaimana bertahan menghadapi derita.
Kitalah yang akan memberi senyum kepada masa depan.
Jangan menyerahkan diri kepada ketakutan.
Kita akan terus bergulat.
Apakah nasib kita akan terus seperti sepeda rongsokan karatan itu?
Oh, tidak, dik!
Kita harus membaca lagi.
Agar bisa menuliskan isi kepala dan memahami dunia.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












