top of page

Van Mook, Tokoh Belanda Kontroversial dalam Memori Orang Indonesia

Mayoritas responden survei memilih Van Mook sebagai aktor penting di balik upaya penjajahan kembali Indonesia pascakemerdekaan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Letnan Gubernur Jenderal H.J. van Mook. (Nationaal Archief/Wikimedia Commons).

1 Des 2021
6 menit membaca

Diperbarui: 30 Mei

JAJAK Pendapat “Persepsi Penjajahan Belanda di Indonesia” yang digulirkan Historia.ID bekerjasama dengan Volkskrant pada 17 Agustus–16 September 2021 mengungkapkan, mayoritas orang Indonesia menganggap alasan di balik sikap Belanda menentang kemerdekaan Indonesia pada 1945 adalah karena “Belanda hanya ingin memulihkan kekuasaan kolonialnya.” Pendapat tersebut disuarakan oleh 74,62% dari 1.604 responden.


Jawaban “Belanda hanya ingin memulihkan kekuasaan kolonialnya” tak bisa dilepaskan dari nama Van Mook. Kendati bukan yang terbesar persentasenya, nama Van Mook juga muncul di jajak pendapat, tepatnya di jawaban dari pertanyaan “Tokoh-tokoh yang berperan dalam kolonialisme Belanda di Indonesia.”  


Upaya pemulihan kekuasaan Belanda pasca perang dan Van Mook merupakan dua sisi dari sekeping mata uang. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena faktanya memang demikian.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page