top of page

Riwayat Nama Ruang dan Gedung Parlemen

Gedung dan ruang-ruang di DPR/MPR RI diberi nama Sanskerta pada era Orde Baru. Reformasi menyederhanakannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 27 Nov 2014
  • 2 menit membaca

SEJAK era reformasi, nama-nama gedung di kompleks DPR/MPR bernama Nusantara I sampai V. Pada masa pemerintahan Soeharto, yang kental dengan nuansa Jawa, nama-nama gedung dan ruangan itu berasal dari Sanskerta.


Gedung DPR/MPR dibangun atas perintah Sukarno. Semula ditujukan untuk penyelenggaraan Conference of the New Emerging Forces (Conefo). Proyeknya digarap pemenang sayembara, yaitu tim dari Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik yang dipimpin Sujudi Wirjoatmodjo, arsitek jebolan Technische Universitat Berlin Barat. Pemancangan tiang pertama pada 19 April 1965. Pembangunan terhenti karena meletus peristiwa Gerakan 30 September 1965.


Pada 9 November 1966, Soeharto, sebagai ketua Presidium Kabinet Ampera, menginstruksikan untuk melanjutkan proyek gedung Conefo, namun peruntukkannya akan menjadi gedung parlemen. Keputusan ini diambil setelah proyek peremajaan gedung DPR GR di Lapangan Banteng, terhenti.


Menteri Pekerjaan Umum menerjemahkan instruksi Soeharto dengan membubarkan Komando Proyek New Emerging Force dan membentuk badan pelaksana bernama Proyek Pembangunan Gedung DPR/MPR RI.


Secara bertahap, pembangunan gedung selesai dan diserahkan kepada Sekretariat Jenderal DPR: Main Conference Building pada Maret 1968, Secretariat Building dan Gedung Balai Kesehatan (Maret 1978), Auditorium Building (September 1982), dan Banquet Building (Februari 1983). Pemberian nama gedung yang semua pakai bahasa Inggris kemudian diubah menggunakan bahasa Sansekerta: Grahatama, Lokawirabasha Tama, Pustakaloka, Grahakarana, dan Samania Sasanagraha.


“Yang jelas semua menggunakan bahasa Sanskerta yang amat sulit bahkan untuk orang Jawa, apalagi mereka yang datang dari seberang,” tulis Salim Said dalam Dari Gestapu ke Reformasi.


Tak jarang, nama-nama ruangan ini salah diucapkan oleh anggota parlemen. Salim Said mencontohkan Ismail Hassan Metareum, ketua Partai Persatuan Pembangunan yang juga wakil ketua DPR/MPR, dalam sebuah sidang salah menyebut ruang utama paripurna sebagai ruang Kartasasmita, yang disambut tawa anggota parlemen. Maklum, Kartasasmita adalah nama keluarga Ginandjar, tokoh politik terkemuka saat itu.


Pada 1998, gedung DPR/MPR diduduki mahasiswa, Orde Baru pun tumbang. Semua hal yang berbau Orde Baru mulai digugat. Termasuk dominasi bahasa Jawa.


Beberapa waktu berselang, muncul usulan dari anggota DPR/MPR untuk mengubah nama-nama gedung dan ruangan tersebut. “Saya mengusulkan perubahan dan penyederhanaan nama ruang rapat di gedung DPR,” tulis Salim Said, yang di awal reformasi menjadi anggota Badan Pekerja MPR.


Salim Said lalu membuat dan mengedarkan petisi mengenai perubahan nama. Setelah berhasil menghimpun hampir 300 tanda tangan anggota parlemen, dia menyerahkan petisi itu kepada Afif Ma’roef, sekretaris jenderal DPR/MPR, pada September 1998.


Menurut Afif Ma’roef, usulan perubahan nama itu sudah tercetus sejak keanggotaan DPR/MPR periode 1992/1997. “Sudah diusulkan, cuma tidak terlalu direspons, jadi dibiarkan saja,” ujar Afif kepada Panji Masyarakat terbitan tahun 1999.


Rapat pimpinan DPR pada 18 November 1998 memutuskan membentuk Tim Penggantian Nama-nama Gedung MPR/DPR RI yang dipimpin Wakli Ketua DPR Korkesra Fatimah Achmad. Tim segera bekerja. Rapat terakhir pada 14 Desember 1998 memutuskan menyetujui penggantian nama gedung-gedung DPR/MPR.


Maka, gedung-gedung yang menggunakan bahasa Sansekerta pun berubah: Grahatama menjadi Gedung Nusantara, Lokawirasabha Tama (Gedung Nusantara I), Ganagraha (Gedung Nusantara II), Lokawirasabha (Gedung Nusantara III), Pustakaloka (Gedung Nusantara IV), Grahakarana (Gedung Nusantara V), Samania Sasanagraha (Gedung Sekretariat Jenderal DPR RI), dan Mekanik Graha (Gedung Mekanik).


Perubahan juga terjadi pada nama ruangan, yang cukup menyebut ruang sidang atau ruang fraksi, komisi, dan paripurna.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Jejak pertama Maria Ullfah di Batavia. Membawanya masuk ke gelanggang pergerakan nasional.
bg-gray.jpg
Kewarganegaraan anggota DPR dari kalangan minoritas, E.F. Wens, dipertanyakan. Memantik polemik hingga intrik internal dalam organisasi Indo.
bg-gray.jpg
Di masa tuanya, Henk Ngantung hidup memprihatinkan. Dikucilkan dan distigma PKI. Bahkan, pameran terakhir mantan gubernur DKI Jakarta ini diganggu aparat intelijen pemerintah.
bg-gray.jpg
The term “tante girang”, which means cougar, gained popularity in the 1970s, though the phenomenon had already been emerging for two decades prior. Popular literature captured it as a social portrait in Indonesia.
Ryamizard dikenal sebagai jenderal TNI yang suka bicara blak-blakan. Di puncak kariernya, ia gagal menjadi panglima TNI.
Ryamizard dikenal sebagai jenderal TNI yang suka bicara blak-blakan. Di puncak kariernya, ia gagal menjadi panglima TNI.
“Lorem ipsum” yang bertahan berabad-abad, bermula dari karya filsuf Romawi Kuno, hingga kini tak tergantikan jadi elemen penting desain grafis.
“Lorem ipsum” yang bertahan berabad-abad, bermula dari karya filsuf Romawi Kuno, hingga kini tak tergantikan jadi elemen penting desain grafis.
Fenomena begal yang marak akhir-akhir ini ternyata sudah terjadi sejak masa Jawa Kuno. Pelakunya ada yang diberi hukuman mati.
Fenomena begal yang marak akhir-akhir ini ternyata sudah terjadi sejak masa Jawa Kuno. Pelakunya ada yang diberi hukuman mati.
Seratusan pekerja tambang dibunuh dan dimasukkan ke lubang oleh Jepang. Sisanya hidup dalam kelaparan dan penyakit.
Seratusan pekerja tambang dibunuh dan dimasukkan ke lubang oleh Jepang. Sisanya hidup dalam kelaparan dan penyakit.
Jusuf Randy dijuluki “raja komputer” yang sukses membangun bisnis kursus komputer di Indonesia. Namun, dia ditangkap polisi karena kasus penipuan.
Jusuf Randy dijuluki “raja komputer” yang sukses membangun bisnis kursus komputer di Indonesia. Namun, dia ditangkap polisi karena kasus penipuan.
Armada Vasco da Gama memblokade Laut Merah. Sebuah kapal dagang yang membawa ratusan rombongan haji dicegat, dijarah, dan dibantai.
Armada Vasco da Gama memblokade Laut Merah. Sebuah kapal dagang yang membawa ratusan rombongan haji dicegat, dijarah, dan dibantai.
transparant.png
bottom of page