top of page

Repotnya Menyusun Pidato Sukarno

Ketelitian Bung Karno dalam merancang naskah pidato kenegaraan mungkin tak akan tertandingi oleh presiden-presiden Indonesia sesudahnya.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 17 Agu 2021
  • 4 menit membaca

SETIAP memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, sudah kewajiban bagi Bung Karno untuk menyampaikan pidato kenegaraan. Menjelang 17 Agustus, kesibukan selalu terjadi di ruang tengah Istana Merdeka. Di tempat itulah Bung Karno biasa menyusun konsep pidatonya.


Ketelitian Sukarno dalam menyusun pidato kenegaraan diungkapkan oleh putra sulungnya, Guntur Sukarnoputra. Bung Karno, menurut Guntur dalam Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku, selalu mendiskusikan tema pidatonya terlebih dahulu dengan orang-orang penting seperti para menteri dan tokoh-tokoh masyarakat. Setelah itu, Sukarno mengumpulkan bahan-bahan pendukung melalui literatur, suratkabar, majalah, hingga berita dan laporan dari luar negeri.


Kebiasaan lain Sukarno dalam menyusun teks pidatonya adalah penggunaan pulpen kelas atas merk Parker dengan tinta warna biru merek Quink. Penulisan dilakukan di atas kertas kepresidenan ukuran folio. Setelah selesai ditulis tangan, naskah pidato itu kemudian diketik sebagai konsep. Sukarno kerap kali mengutip pemikiran dari tokoh-tokoh besar maupun istilah asing yang semakin menambah bobot pidatonya.  


Guntur dalam memoarnya mengisahkan pengalaman keterlibatannya dirinya dalam penyusunan teks pidato kenegaraan Sukarno. Entah tahun berapa persisnya, yang jelas bulan Agustus antara tahun 1955—1959. Waktu itu Guntur yang beranjak remaja, sepulang sekolah mendapati sang ayah tengah sibuk menulis naskah pidato. Supaya tidak mengganggu, Guntur masuk mengendap-endap menuju kamarnya. Sukarno ternyata menyadari kehadiran Guntur yang melangkah. Tetiba Sukarno memerintahkan Guntur untuk mengambil tinta di sebelah tempat penyimpanan tongkat komando yang ada di kamar Sukarno.


“Ini Pak tintanya,” kata Guntur.


“Kau sudah makan,” tanya Bung Karno.


“Belum. Bapak sudah makan belum?” Guntur balik nanya.


“Sebentar lagi. Jangan makan dulu. Bantu dulu Bapak,” pinta Sukarno.


“Ya Pak,” jawab Guntur, “Belum selesai nulisnya, Pak?”


“Belum! Heh, kau jangan jauh-jauh dari Bapak. Kalau-kalau aku perlu kau ambilkan buku-buku.” Sukarno berpesan.


Di tengah perutnya yang sudah keroncongan, Guntur siaga di kursi dekat pintu keluar ke ruang tengah, tempat Bung Karno menulis. Dari situ, tidak jauh dengan beranda depan yang tidak lain ruang pribadi Sukarno yang difungsikannya sebagai perpustakaan. Di dalam perpustakaan tersebut, terdapat koleksi buku Sukarno sejak tahun 1919 meliputi beragam tema. Mulai dari politik, ekonomi, filsafat, kebudayaan, sosiologi, agama, dan sebagainya. Tidak lama kemudian, terdengar suara menggelegar memanggil Guntur yang akrab dipanggil Totok itu.


“Tok!! Bawa kemari Declaration of Independent dari Thomas Jefferson,” perintah Sukarno. Thomas Jefferson ialah presiden Amerika Serikat ketiga sekaligus penyusun Konstitusi Amerika. Buru-buru Guntur beranjak ke perpustakaan mengambil buku yang diminta. Setelah buku diserahkan Guntur duduk kembali ke tempat semula.


“Toook!! Ambilkan bukunya Abraham Lincoln,” minta Bung Karno lagi. Abraham Lincoln ialah presiden Amerika Serikat ke-16 yang menentang perbudakan di Amerika. Guntur menjalankan tugasnya.


“Toook!!” Bawa kemari bukunya Vivekananda,” perintah selanjutnya.  Swami Vivekananda ialah seorang ahli filsafat India yang menjiwai gerakan nasionalisme India. Tanpa banyak cakap, Guntur melangkah ke perpustakaan mengambil buku dan menyerahkannya.


“Kembalikan buku ini! Bawa kemari buku Nehru dan Karl Kautsky,” kata Sukarno. Pandit Jawaharlal Nehru adalah pemimpin nasionalis India sedangkan Karl Johann Kautsky filsuf beraliran Marxis dari Jerman. Guntur lagi-lagi kembali ke perpustakaan untuk mengambil buku tersebut.


Masih belum cukup, Sukarno kemudian memanggil Guntur lagi. Dimintanya buku karya Lothrop Stoddard. Stoddard adalah seorang orientalis terkemuka penulis buku The Rising Tide of Color yang dialihbahasakan menjadi Pasang Surut Kulit Berwarna. Untuk kesekian kalinya Guntur menjadi asisten ayahnya.


Sukarno melanjutkan kembali menulis teks pidatonya. Tidak berapa lama kemudian, Sukarno kembali memanggil Guntur. Tidak hanya sekali, namun berkali-kali. Rupanya Guntur tertidur karena kecapaian bolak-balik dari perpustakaan ke ruangan tengah Istana Merdeka.  


“Toook!”


“Took!”


“Toook, Toook, Toook!”


“Ayo bangun,” ujar Sukarno.


“Haah…eh… a, a, apa Pak??” jawab Guntur yang mendadak terjaga dari tidurnya, “Bukunya Karl Marx ya Pak?” katanya lagi seraya mengusap-usap mata.


“Husy! Kau ngelindur! Ayo temani bapak makan”


Guntur pun bergegas mengikuti ayahnya yang presiden RI itu ke ruangan makan. Perutnya sudah kelaparan dari tadi. Menurut Guntur, Sukarno selalu dibantu oleh sebuah tim yang bekerja 24 jam tanpa berhenti dalam penyusunan naskah pidatonya. Terdiri dari seorang Liaison Officer (pegawai penghubung) yang membawahkan 2 sampai 3 orang pengetik cepat dari Sekretariat Negara.


“Kalau saat penulisan dimulai maka tidak seorangpun boleh mengganggu Bapak mulai dari pagi sampai pagi lagi,” kenang Guntur.


Kerepotan dalam menysusun pidato Sukarno juga diakui oleh Molly Bondan. Pada 1960-an, Molly yang berkewarganegaraan Australia itu bertugas sebagai penyusun pidato bahasa Inggris Presiden Sukarno. Menurut Molly cara Bung Karno berpidato bagaikan seorang dalang yang bercerita. Sukarno gemar melakukan pengulangan kata sebagai upaya untuk lebih menjelaskan, seolah-olah dirinya secara pribadi berbicara kepada hadirin. Selingan humor, kutipan kalimat dan juga sarat lukisan suasana berwarna-warni. Begitu dalam berpidato, demikian pula keadaannya kalau Bung Karno menulis.


“Menyadari keadaan ini dan juga untuk menjaga agar nuansa terjemahan bahasa Inggrisnya tetap sepadan, Molly terus terang mengaku seringkali sengaja agak mengorbankan akurasi pidato Bung Karno, tanpa harus mengurangi maknanya” seperti tersua dalam Kisah Istimewa Bung Karno yang disusun Hero Triatmono.


Kendati demikian, Molly menegaskan, Bung Karno sangat terampil dalam merumuskan pemikiran serta menyampaikan gagasan. Semua pidatonya termasuk pidato tahunan setiap tanggal 17 Agustus selalu diperbincangkan dengan semua anggota kabinetnya. Ide dasarnya tentu datang dari Bung Karno sendiri. Dengan persiapan yang teliti dan seksama ditambah dengan kecakapan berorasi, pidato kenegaraan Sukarno selalu ditunggu-tunggu bahkan menjadi daya tarik bagi rakyat yang mendengarnya.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
transparant.png
bottom of page