- 29 Sep 2022
- 7 menit membaca
Diperbarui: 1 Mar
APARAT kepolisian hingga Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) merespon aksi massa anti-pemerintah dengan tindakan represif. Gejolak aksi protes yang berlangsung sejak 16 September 2022 itu kian memanas dan berdarah hingga menewaskan 76 orang dan melukai hampir seribu lainnya.
Pemerintahan Presiden Ebrahim Raisi sejak 2017 memang “langganan” digoyang aksi protes dengan beragam tuntutan oleh sejumlah kelompok anti-pemerintah, pro-demokrasi hingga pro-monarki. Mulai dari tingginya harga-harga bahan pokok, otoritarianisme pemimpin tertinggi Ali Khamenei hingga persoalan-persoalan HAM, termasuk terkait hukum wajib mengenakan hijab bagi setiap perempuan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












