top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Peter Carey: Tak Ada Bantuan Turki untuk Diponegoro

Diponegoro kagum dan terinspirasi Turki Usmani. Belum ada sumber sejarah yang memuat informasi keterlibatan pasukan Turki Usmani dalam Perang Jawa.

16 Apr 2020

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Pangeran Diponegoro menunggangi kuda bersama pasukannya. (KITLV).

PANGERAN Diponegoro memiliki beberapa nama dalam hidupnya. Lahir di Keraton Yogyakarta pada 11 November 1785, ia diberi nama Raden Mas Mustahar. Menginjak dewasa, berusia dua puluh tahun, ia menyandang nama Raden Ontowiryo.


Ketika berziarah ke Pantai Selatan, Diponegoro menyandang nama Syekh Ngabdurahim. Berasal dari bahasa Arab, Syekh 'Abd al-Rahim, nama ini mungkin disarankan oleh penasihatnya di bidang agama, barangkali oleh Syekh al-Ansari di Tegalrejo. Diponegoro kemudian mengubah nama Ngabdurahim menjadi Ngabdulkamit.


Menurut sejarawan Peter Carey, penulis biografi Diponegoro, Kuasa Ramalan, perubahan nama dari Ngabdurahim ke Ngabdulkamit mempunyai makna penting. Ngabdulkamit adalah nama yang disandang oleh Diponegoro selama Perang Jawa dan yang disenyawakan dalam gelarnya sebagai raja, yakni Sultan Erucokro.


Diponegoro juga menggunakan nama Ngabdulkamit di Manado. Setelah tiba di pengasingan itu, ia meminta dipanggil hanya dengan nama Pangeran Ngabdulkamit bukan Pangeran Diponegoro, gelar yang diteruskannya kepada putranya yang sulung. Di Makassar, ia juga menggunakan nama Abdulkamit dalam karya-karya tulis keagamaannya.


Nama Ngabdulkamit begitu penting bagi Diponegoro karena nama itu merujuk kepada nama sultan Turki, bangsa yang dikaguminya.


'Abd al-Hamid I, sultan Turki Usmani (bertakhta 1773–1787). (Wikimedia Commons).
'Abd al-Hamid I, sultan Turki Usmani (bertakhta 1773–1787). (Wikimedia Commons).

Menurut sejarawan M.C. Ricklefs, pilihan nama itu mungkin berkaitan dengan 'Abd al-Hamid I, sultan Turki Usmani akhir abad ke-18 (bertakhta 1773–1787), raja Turki pertama yang mengaku memiliki kewenangan sebagai khalifah, pelindung kaum muslim di seluruh dunia.

Diponegoro mengetahui tentang aneka upaya Sultan 'Abd al-Hamid I dalam memperbarui tentara Turki Usmani dan pendakuannya sebagai khalifah dari mereka yang pulang dari naik haji.


"Lagi pula banyak orang Jawa kagum dengan Kemaharajaan Turki Usmani waktu itu sebagai benteng kekuasaan Islam di Timur Tengah dan sebagai pelindung terhadap meluasnya kekuatan Eropa yang Kristen," tulis Peter Carey.


Kekaguman Diponegoro ditunjukkan dengan menyalin sejumlah pangkat dan nama-nama resimen yang digunakan dalam kemiliteran Turki Usmani. Pasukan kawal elitenya yang mengenakan sorban aneka warna dan panji-panji resimen berlambang ular, bulan sabit, dan ayat-ayat Alquran, ditata dalam kompi-kompi dengan nama seperti Bulkio, Turkio, dan Arkio.


Nama resimen itu meniru nama-nama Bölüki (dari bölüki, satu regu), Oturaki, dan resimen kawal para sultan Turki Usmani, Janissar Ardia. Dalam waktu yang sama, panglima tentaranya yang terkemuka, Sentot yang baru berusia 17 tahun, menerima gelar Ali Basah, yang mungkin diambil dari istilah Turki 'Ali Pasha ('al-Basha al-'Ali/Pasha Yang Mulia) atau dari nama Muhammad Ali Pasha, penguasa Mesir, gubernur atau wakil (pasha) terkemuka Kesultanan Turki Usmani awal abad ke-19. Para pangeran dan pejabat tinggi Yogyakarta yang berjuang di pihak Diponegoro juga menggunakan nama dan gelar Turki Usmani, seperti Basah dan Dullah.


"Diponegoro juga menyebut dalam babad karyanya teladan sultan Turki Usmani sebagai penguasa tertinggi di Mekah," tulis Peter Carey. "Panji perang pribadi Diponegoro sendiri pola layar segitiga hijau dengan bulatan matahari di tengah dan panah bersilang mungkin juga diilhami oleh tradisi militer Turki Usmani."


Meskipun mengagumi Turki Usmani, menurut Peter Carey, Diponegoro tidak mendapatkan balabantuan langsung dari Turki Usmani dalam Perang Jawa. "Ketika mengajukan Babad Diponegoro sebagai warisan dunia, kami ditanya apakah pentingnya naskah ini bagi dunia," kata Peter Carey dalam live instagram@historiadotid tentang "Sisi Lain Kehidupan Pangeran Diponegoro" pada Kamis, 16 April 2020, pukul 12.00 WIB.


Untuk menjawab pertanyaan itu, Peter Carey menanyakan kepada koleganya Ismail Hakki Kadi, sejarawan muda Turki dan penulis buku Ottoman–Southeast Asian Relations: Sources from the Ottoman Archives, apakah ada hubungan atau dukungan Turki Usmani kepada Diponegoro dalam Perang Jawa. "Sayangnya, tidak ada. Jika ada akan menguatkan pengusulan Babad Diponegoro sebagai warisan dunia," kata Peter Carey.


Meskipun demikian, pada 21 Juni 2013, UNESCO (organisasi PBB untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya), tetap menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World).


“Meski menetapkan busana dan memberikan pangkat Turki Usmani seperti Ali Basah (Pasha Tinggi) buat para panglima tertingginya, Diponegoro bukanlah pembaru Islam," tulis Peter Carey. "Sebaliknya, ia seorang muslim Jawa tradisional yang tidak mengenal pertentangan antara dunia kerohanian Jawa dan keanggotaannya dalam umat internasional yang pusat kerohanian serta budaya politiknya adalah Hejaz (Arab Saudi sekarang ini) dan Turki Usmani."*





Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja bersekutu melawan Belanda. Keduanya telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Prajurit Keraton Ikut PKI

Prajurit Keraton Ikut PKI

Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
bottom of page