top of page

Peristiwa Tanjung Priok: Darah Pun Mengalir di Utara Jakarta

Ratusan orang tewas disiram peluru tentara di kawasan Tanjung Priok. Bermula dari isu politik hingga pelecehan agama.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ranpur ABRI tengah berjaga di Tanjungpriok usai kerusuhan. (Repro Sinar Harapan).

13 Sep 2018
4 menit membaca

Diperbarui: 12 Sep

ZULKARNAIN masih ingat peristiwa berdarah pada 12 September 1984. Sebagai anak umur sembilan tahun, dirinya merasa aneh dan takut ketika kawasan Jalan Yos Soedarso dipenuhi truk-truk tentara dan mobil-mobil pemadam kebakaran malam itu. Bau anyir darah serasa menusuk hidung bersanding dengan bunyi teriakan para serdadu dan polisi mengusir orang-orang untuk menghindari kawasan tersebut.


“Kebetulan saya dan bapak habis beli sepatu dan lewat daerah itu ketika mau pulang ke Cilincing,” ujar lelaki berdarah Sumbawa itu.


Nasib Zulkarnain dan bapaknya tentu saja jauh lebih bagus dibanding Wasjan bin Sukarna (saat kejadian berlangsung berumur 32 tahun). Pengemudi mesin pengangkut barang di Pelabuhan Tanjung Priok itu tengah menunggu angkutan umum untuk pulang kala dia melihat munculnya keruman massa yang tengah berlari. Seiring kemunculan mereka, tetiba terdengar rentetan senjata.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page