top of page

Perempuan dalam Cengkraman Pergundikan

Nasib buruk perempuan-buruh perkebunan. Dipaksa menjadi gundik, penolakan hanya berujung hukuman.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 6 Sep 2018
  • 4 menit membaca

KETIKA berkunjung ke sebuah perkebunan di Deli, Van den Brand anggota Raad van Justice, tak sengaja melihat hal mengerikan. Di rumah pemilik perkebunan, dia mendengar erangan perempuan dari halaman depan. Rasa penasaran membuatnya mendatangi sumber suara. Ternyata, suara itu berasal dari gadis belia yang tengah disalib dalam kondisi telanjang bulat. Di bawah terik matahari siang bolong, alat kelamin gadis itu diolesi cabai Spanyol yang super pedas.


“Bagi saya hal ini sangat keterlaluan dan saya pun meneruskan perjalanan. Menurut yang saya dengar, sang gadis harus bertahan dalam keadaan demikian dari jam enam pagi sampai jam enam sore,” tulis Brand dalam laporannya, De Milioenen van Deli.


Gadis berusia 16 tahun yang disiksa itu merupakan buruh di perkebunan milik si penyiksa yang orang Belanda. Dia dihukum secara sadis lantaran memilih menjalin asmara dengan sesama buruh ketimbang menerima pinangan si tuan yang ingin menjadikannya nyai.


Di tangan orang-orang Eropa, para perempuan buruh menjadi korban kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan kekuasaan. Para buruh yang berparas cantik bahkan lebih banyak bernasib buruk lantaran mesti jadi pemuas nafsu tuan mereka. Brand menceritakan, seorang administratur perkebunan selalu memeriksa perempuan yang baru datang di dalam ruangannya. Dengan memeriksa buruh perempuan satu per satu, administratur itu lalu memilih yang paling cantik untuk dijadikan gundik. “Membicarakan hal itu lebih jauh membuat saya muak,” ujar Brand.


Praktik nista seperti itu jamak di lingkungan perkebunan semasa kolonial. Bila ada seorang buruh perempuan dipanggil seorang diri oleh penguasa atau pegawai Eropa di jam kerja, bisa dipastikan buruh itu harus melayani nafsu si tuan. Buruh perempuan tak punya kuasa apapun. Si tuan tak ubahnya melakukan pemerkosaan karena tanpa persetujuan si perempuan.


Si tuan tak peduli meski si perempuan sudah bersuami. Bagi para tuan kulit putih, kuli atau buruh pribumi tak pantas menyandang status pernikahan. Mereka selalu merendahkan perempuan dengan tidak pernah mengindahkan status perempuan yang mereka tiduri.


Perilaku melanggar batas dengan memanggil perempuan buruh yang bersuamikan seorang buruh kerap menimbulkan konflik. Para lelaki buruh dibantu rekan-rekan sesama buruh sering memberontak dengan menyerang pegawai Belanda karena merasa istrinya dilecehkan. Dalam Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda, Reegie Baay mencatat antara 1923-1925 ada sekira 70-an pemberontakan dari para buruh di Deli. Salah satu pemicunya, istri buruh direbut paksa oleh pegawai Belanda.


Akibat pemberontakan itu, seringkali suami yang membela istrinya harus meregang nyawa atau bila nyawanya selamat, dia harus meninggalkan perkebunan dan berpisah dengan pujaan hatinya lantaran diusir oleh pegawai Belanda. Sang istri tak bisa berbuat apapun lantaran tak punya hak bersuara apalagi hak untuk menentukan pilihan.


Setelah “dipilih” lelaki Belanda, si perempuan hidup sebagai nyai dan mendapat kenaikan status meski sebenarnya status nyai tak jelas dalam kehidupan sosial kolonial. Nyai lebih mirip kepala pelayan, bedanya dia juga harus menemani tidur tuannya. Tapi meski sampai kumpul ranjang, hubungan nyai-tuan tak romantis lantaran tak didasari saling cinta.


Status rendah para perempuan buruh, rasisme, dan superioritas lelaki Belanda membuat para nyai sering mengalami kekerasan seksual dan penyiksaan. Selain menimpa gadis-buruh di awal tulisan, pengalaman pahit itu juga menimpa buruh-gadis migran asal Jawa sebagaimana dicatat oleh pegawai Departemen Hukum JTL Rhemrev.  Seorang pegawai perkebunan Belanda, tulis Rhemrev, baru saja mengurung seorang perempuan Jawa bernama Karimah di dalam kamarnya dan menyiksanya. “Kurang lebih enam bulan lalu, seorang perempuan dikurung di kamar dan dipukuli sampai berdarah,” tulis Rhemrev.


Kasus lain yang banyak ditemui, misalnya, lelaki Belanda yang mempunyai anak dari nyainya jatuh cinta pada perempuan Eropa. Sebelum menikah, calon istri Eropa ini mensyaratkan agar si nyai diusir dari rumah. Kadang sang anak juga ikut diusir, tapi ada juga kasus hanya ibunya saja yang dibuang dan si anak dibuat untuk melupakan ibunya dengan disekolahkan ke Belanda. Perpisahan dengan anak kandung kerap menggerus hati para nyai. Beberapa dari mereka berakhir depresi bahkan bunuh diri.


Hidup sebagai nyai sangat riskan untuk disiksa, dibuang begitu saja, atau diberikan pada lelaki Belanda lain sebagai “kado”. Banyak perempuan pribumi menganggap hukuman yang mereka terima sebagai penghinaan besar. Ketimbang mesti menanggung malu, mereka memilih bunuh diri.


Hukuman-hukuman kejam yang mereka terima sebetulnya oleh lelaki Belanda dimaksudkan untuk melegitimasi kekuasaan sekaligus keunggulan kulit putih dan tentu saja kejantanan mereka. Mereka mempermalukan perempuan lewat penelanjangan dan menyerang alat kelamin. Hal itu erat kaitannya dengan budaya patriarkis perkebunan Deli di mana ada citra yang seolah harus dipenuhi para lelaki Belanda seperti jantan, heteroseksual, dan tidak memperlakukan perempuan pribumi dengan lembut.


Namun, tak semua perempuan pribumi pasrah menerima hal itu. Banyak dari mereka melawan dengan cara amat halus dan tersembunyi, seperti yang dilakukan seorang nyai yang ditulis Bernard Dorleans dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis. Ketika mengetahui tuan Belandanya hendak kembali ke negaranya dengan membawa-serta anaknya, si nyai menysun siasat. Di depan si Tuan, nyai itu bersikap seperti biasa, penurut, untuk memenuhi citra perempuan Jawa dalam alam pikir orang Belanda. Namun diam-diam, si nyai menambahkan lugut bambu ke dalam makanan si tuan. Lugut itulah yang mengganggu pencernaan si tuan sampai menimbulkan penyakit yang mengakibatkan kematian perlahan sebelum sempat kembali ke Belanda.


“Si istri tidak akan tampak kesal atau marah. Bentuk kesedihan dan penyesalannya adalah diam seribu bahasa,” tulis Dorleans. Para lelaki Belanda pikir, mereka cukup kuat untuk terus menguasai hidup nyainya dan membuangnya begitu saja tanpa ada perlawanan. Nyatanya, tidak Tuan.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
bg-gray.jpg
Pernah berguru ke Rahmah El Yunusiyah dan H.R. Rasuna Said, Shamsiah Fakeh getol memperjuangkan kemerdekaan negeri dan kaumnya. Kini, buku memoar aktivis Malaysia berdarah Minang itu dilarang pemerintah Malaysia.
bg-gray.jpg
Dalam novel-novel karangannya, Motinggo Boesje menyuguhkan bumbu seksualitas dan erotisme yang digandrungi pembaca. Di akhir masa kepengarangannya, dia menekuni sastra serius.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Pablo Escobar mengisi kebun binatangnya dengan kuda nil. Setelah kematiannya, kuda nil itu berkembang biak tak terkendali hingga menimbulkan masalah.
Pablo Escobar mengisi kebun binatangnya dengan kuda nil. Setelah kematiannya, kuda nil itu berkembang biak tak terkendali hingga menimbulkan masalah.
transparant.png
bottom of page