top of page

Nasib Orang Indonesia di Jepang Pasca Perang

Ratusan orang Indonesia terlantar di Negeri Sakura. Kendati mengalami penderitaan dan tekanan, mereka tetap berjuang kembali ke tanah air.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mahasiswa Asia Tenggara di Hiroshima tahun 1944 (Repro Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang)

19 Agu 2020
3 menit membaca

Diperbarui: 20 Agu

PEMBACAAN teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945 menjadi tanda berakhirnya hubungan tidak resmi Indonesia dan Jepang. Selama kurun tiga tahun (1942-1945), bahkan sejak tahun 1930-an, telah banyak orang Indonesia yang menetap di Jepang. Sebagian besar memilih Negeri Sakura itu sebagai tempat menuntut ilmu.


Menurut sejarawan Universitas Waseda Ken’ichi Goto dalam Jepang dan Pergerakan Kebangsaan Indonesia, orang Indonesia pertama yang mendapat kesempatan belajar ke Jepang adalah Madjid Usman dan Mahjuddin Gaus. Keduanya berasal dari Minangkabau. Permohonan mereka disampaikan pada 1932 oleh konsulat Jepang Naito Keizo kepada Menteri Luar Negeri Uchida Koya di Tokyo.


“Saya mohon agar orang-orang asing seperti ini yang masih belum memahami bahasa Jepang dapat diberi kelonggaran untuk belajar di sekolah Jepang,” tulis Naito.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Pengalaman dan usianya membuat Gatot Soebroto acap jadi tempat mengadu para perwira. Namanya tetap abadi di banyak tempat, mulai jalan-jalan protokol hingga RSPAD.
bg-gray.jpg
Kasus perdagangan anak di daerah transmigrasi Rawa Makmur, Kalimantan Timur ungkap kemiskinan ekstrem yang menjerat kehidupan para transmigran. Praktik korupsi aparat disinyalir biang keladinya.
bg-gray.jpg
Panglima tempur yang memadamkan gejolak di berbagai daerah. Menggagas banyak hal penting setelah aktif lagi di Angkatan Darat.
bg-gray.jpg
Sebagai gubernur militer, Gatot Soebroto berperan dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dia disebut turut bertanggung jawab atas eksekusi mati Amir Sjarifoeddin cs.
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Rumah komunal di Sulawesi hanya bertahan dalam ingatan.
Rumah komunal di Sulawesi hanya bertahan dalam ingatan.
Pemugaran gedung Sarinah akan memadukan sejarah dan modernitas. Ide awal Bung Karno bertemu dengan tantangan zaman.
Pemugaran gedung Sarinah akan memadukan sejarah dan modernitas. Ide awal Bung Karno bertemu dengan tantangan zaman.
Akankah Arab Saudi mengulang prestasi di Piala Dunia 1994?
Akankah Arab Saudi mengulang prestasi di Piala Dunia 1994?
Raksasa pemakan tumbuhan yang lembut ini juga karnivora dan oportunis?
Raksasa pemakan tumbuhan yang lembut ini juga karnivora dan oportunis?
transparant.png
bottom of page