- 25 Jul 2024
- 6 menit membaca
Diperbarui: 3 hari yang lalu
MARWAH dan spirit “bapak bangsa” Ir. Sukarno yang dibangkitkan putrinya, Megawati Soekarnoputri, saat masuk ke Partai Demokrasi Indonesia (PDI) ternyata jadi ancaman buat rezim Orde Baru (Orba). Klimaks dinamika politiknya lantas terjadi pada Peristiwa 27 Juli 1996 alias Kudatuli untuk menyingkirkan Megawati dari partai berlambang banteng berperisai segilima itu.
“Megawati muncul di tengah situasi di mana desukarnoisasi berlangsung begitu kuat. Magnetnya Bung Karno yang menitis pada Ibu (Megawati) itu menarik banyak anak muda. Nah di situ mulai tuh. Terus alarmnya rezim nih alert, mulai bunyi. Awas nih ada apa?” ujar sejarawan Bonnie Triyana dalam diskusi mengenang 28 tahun Kudatuli bertajuk “Kudatuli: Arus Bawah vs Hukum Alat Kekuasaan” di DPP PDIP Jakarta, Sabtu (20/7/2024).
Rezim Orba, lanjut Bonnie, lantas bermanuver untuk mendongkel kepemimpinan Megawati usai terpilih sebagai ketua umum PDI di Kongres Luar Biasa (KLB) Surabaya, medio Desember 1993. Salah satunya dengan membekingi Kongres PDI di Medan pada 1996 yang mengangkat Suryadi kembali ke kursi ketum PDI.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















