top of page

Kisah D.N. Aidit di Putera

D.N. Aidit disebut sebagai anak emas Hatta yang dikirim dari Jakarta ke Putera Bandung. Apa kata Bung Hatta?

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 7 Jun 2021
  • 3 menit membaca

Utuy Tatang Sontani penasaran betul kala kepala kantor Pusat Tenaga Rakyat (Putera) cabang Bandung memberitahunya bahwa akan ada tenaga baru dari Jakarta. Orang baru itu tampaknya bukan orang biasa. Kepala kantor mengatakan bahwa orang itu adalah anak emas Bung Hatta.


“Coba saja kau bayangkan! Kalau pada waktu itu ada orang yang dikatakan anak mas Bung Hatta, maka paling tidak dia itu mewarisi semangat juang dari Bung Hatta, yang sudah dengan sendirinya pula berhak diberi julukan ‘pemuda yang berwajah semangat’,” kenang Utuy dalam memoarnya Di Bawah Langit Tak Berbintang.


Tebakan Utuy ternyata tak meleset. Orang itu bermata melotot, gerak-geriknya kaku, dan suaranya datar. Karakter itu sangat cocok dengan karakter tokoh Kawista dalam novel Utuy yang berjudul Tambera. Kawista merupakan seorang pemberontak radikal yang melawan kolonialisme Belanda di Pulau Banda.


Namun, orang itu bukan orang Banda seperti tokoh novelnya. Orang baru itu ternyata asal Belitung, bernama Dipa Nusantara Aidit.


Sesuai perkiraan Utuy, Aidit ternyata memang seorang pembangkang. Di Putera, semua pegawai harus taiso setiap pagi sebelum masuk kerja. Namun, suatu hari hanya segelintir orang yang datang taiso. Pimpinan Sendenbu pun marah, mereka kemudian dikumpulkan oleh opsir Jepang berseragam lengkap dengan katananya.


Ketika dimarahi dan ditanya siapa yang mau mencoba menberontak, Aidit maju dan menepuk dada. “Saya. Saya yang mengajak teman-teman lainnya untuk tidak ber-taiso,” kata Aidit seperti dikisahkan Utuy.


Aidit beralasan bahwa mereka yang tak datang taiso adalah para pemimpin yang berkerja hingga larut malam. Paginya, mereka juga harus lanjut bekerja sehingga tidak sempat datang taiso. Ia berdalih, taiso dilakukan di rumah sebelum berangkat ke kantor.


Si opsir Jepang ternyata tak membalas lagi jawaban Aidit. Justru sejak peristiwa itu taiso pagi dilakukan dengan sukarela.


Jika Utuy menyebut bahwa Aidit adalah anak emas Bung Hatta dari Jakarta, Bung Hatta justru berkata tak menyukai Aidit. Sebagaimana termuat dalam buku Mengenang Bung Hatta yang ditulis Iding Wangsa Widjaja, Bung Hatta mengatakan bahwa ia telah lama mengenal Aidit di Putera.


“Waktu itu saya sering diminta untuk memberi kursus mengenai seluk beluk pers kepada generasi yang lebih muda dari saya. Salah seorang dari peserta kursus itu ialah Aidit,” kata Bung Hatta.


Sejarah mencatat, di kemudian hari kedua tokoh ini bersimpang jalan. Hatta tak menyukai Aidit dengan jalan komunismenya.


“Amat disayangkan, rupanya perjalanan waktu membawa dia ke alam pikiran yang amat berbeda dengan saya. Aidit memilih PKI sebagai organisasi tempat ia menempa dirinya,” kata Hatta.


Dalam Bung Hatta Menjawab, ia juga mengatakan bahwa Aiditlah yang belakangan membuat hubungannya dengan Bung Karno menjadi renggang. Bahkan Hatta menyebut, sejak di Putera, Aidit tak menyukai Bung Karno.


Selama bergabung dengan Putera yang berkantor di Jalan Gereja Theresia, Bung Hatta juga berkantor di Pegangsaan sebagai penasehat tentara Jepang. Di kantor Pegangsaan ini, ia memiliki ruangan yang tak boleh ada satupun orang Jepang di dalamnya.


“Waktu itu, salah seorang pegawai di kantor itu adalah Aidit. Yang lain ada lagi, Yusuf Yahya,” ungkap Bung Hatta.


Suatu hari, kata Bung Hatta, Bung Karno masuk dan semua orang yang ada dalam ruangan tersebut berdiri. Namun ada satu orang yang tak mau berdiri, yakni Aidit. Sikap itu membuat Bung Karno marah.


“Kenapa kau tidak berdiri?" tanya Bung Karno.


"Biasanya orang yang datang dan baru masuk memberi salam, baru kami berdiri. Ini Bung masuk tanpa memberi salam. Lihat Bung Hatta, kalau dia masuk, seperti biasanya orang Islam, ia memberi salam, baru kami berdiri membalasnya. Ini, Bung minta kami berdiri. Ini sistem Jepang. Kami tidak biasa demikian,” jawab Aidit.


Menurut Bung Hatta, Bung Karno sangat marah dengan jawaban Aidit. Bung Hattapun membicarakan kasus ini dengan Mr. Sartono agar Aidit dipindah ke kantor lain agar berjauhan dengan Bung Karno.


“Kalau tidak, lama-lama nanti bisa repot,” katanya.


Tidak jelas apakah peristiwa tersebut yang kemudian membuat Aidit dipindah ke kantor Putera di Bandung. Yang pasti, soal kabar Aidit sebagai anak emas Bung Hatta diamini sang adik Sobron Aidit dalam bukunya Aidit: Abang, Sahabat, dan Guru di Masa Pergolakan.


“Dia muridnya Bung Karno, Bung Hatta, Muhammad Yamin di Menteng 31, markas pejuang kemerdekaan ketika itu. Dia juga, katanya, bahkan murid yang termasuk disayangi Hatta. Meskipun pada akhirnya menjadi musuh bebuyutan karena aliran politiknya berlainan dengan Hatta,” tulis Sobron.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Maria Ullfah satu indekos dengan Siti Soendari, adik bungsu dr. Soetomo. Berbeda kepribadian tetapi saling mengisi.
bg-gray.jpg
Setiati Surasto memperjuangkan hak-hak buruh perempuan. Dia juga berkiprah dalam gerakan buruh internasional. Berakhir sebagai eksil.
bg-gray.jpg
Kapten Drury, veteran Invasi Jawa, menjadi satu-satunya orang Inggris yang dikebumikan di makam kuno Belanda di Kebun Raya Bogor.
bg-gray.jpg
Perceraian bibinya menorehkan duka dalam diri Maria Ullfah. Awal tekad keras membela hak kaum perempuan.
Armada Vasco da Gama memblokade Laut Merah. Sebuah kapal dagang yang membawa ratusan rombongan haji dicegat, dijarah, dan dibantai.
Armada Vasco da Gama memblokade Laut Merah. Sebuah kapal dagang yang membawa ratusan rombongan haji dicegat, dijarah, dan dibantai.
Pria kembar Belanda yang mengalami pendudukan Nazi nyaris kehilangan nyawa di Surabaya. Keduanya bagian dari Brigade Marinir Belanda yang terkenal kejam.
Pria kembar Belanda yang mengalami pendudukan Nazi nyaris kehilangan nyawa di Surabaya. Keduanya bagian dari Brigade Marinir Belanda yang terkenal kejam.
Upayanya untuk membuat hukuman mati lebih manusiawi justru menjadikan namanya sinonim dengan mesin jagal yang menjadi ikon salah satu periode paling berdarah dalam sejarah Prancis.
Upayanya untuk membuat hukuman mati lebih manusiawi justru menjadikan namanya sinonim dengan mesin jagal yang menjadi ikon salah satu periode paling berdarah dalam sejarah Prancis.
Chairil Anwar dan kawan-kawan membangun majalah sastra di tengah revolusi kemerdekaan. Setelah itu, penerbitan majalah sastra menggeliat dan beririsan dengan konflik ideologis.
Chairil Anwar dan kawan-kawan membangun majalah sastra di tengah revolusi kemerdekaan. Setelah itu, penerbitan majalah sastra menggeliat dan beririsan dengan konflik ideologis.
Mikel Arteta diusulkan dibikinkan patung seperti Arsène Wenger hingga Herbert Chapman. David Danskin si pendiri justru sekadar dihargai batu nisannya.
Mikel Arteta diusulkan dibikinkan patung seperti Arsène Wenger hingga Herbert Chapman. David Danskin si pendiri justru sekadar dihargai batu nisannya.
Pasang-surut nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS yang mencerminkan kondisi perekonomian tiap-tiap presiden yang menjabat.
Pasang-surut nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS yang mencerminkan kondisi perekonomian tiap-tiap presiden yang menjabat.
transparant.png
bottom of page