Kisah Bowo Anak Kebayoran

Sejak bocah, dia sudah tumbuh menjadi sosok yang cerdas sekaligus keras. 

07 March 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Kisah Bowo Anak Kebayoran
Prabowo dalam buku tahunan International School of Zurich pada 1965. Saat itu, Prabowo di Grade 8 (setara SMP). Foto: Prabowo Subianto/Instagram.

Kiprah Prabowo Subianto begitu mentereng sebagai prajurit TNI. Potretnya yang gagah acapkali terlihat dalam balutan seragam Kopassus. Namun cerita masa kecil calon presiden kita ini tak banyak dikulik kepada publik. Bagaimana kisah masa kecil Bowo –panggilan akrab Prabowo?  

“Waktu itu (masa kecil), saya banyak dipengaruhi kakek saya, Pak Margono seorang pejuang perintis kemerdekaan,” kata Prabowo kepada tabloid The Politic dilansir Gerindra TV.

Trah Prabowo berasal dari keluarga aristokrat yang ikut mewarnai perjalanan sejarah negeri ini. Kakeknya, Margono Djojohadikusumo adalah pengikut Budi Utomo, anggota BPUPKI, dan pendiri Bank Negara Indonesia (BNI). Nama kedua Prabowo diambil dari nama pamannya, Subianto Djojohadikusumo, perwira yang gugur dalam Pertempuran Lengkong di Tanggerang, Januari 1946.

"Akhirnya waktu saya lahir, saya diberikan nama Prabowo Subianto agar seolah-olah menggantikan anaknya (Margono) yang gugur, untuk meneruskan cita-cita mereka," tutur Prabowo.

Hidup Berpindah-pindah

Prabowo Subianto Djojohadikusumo lahir di Jakarta, 17 Oktober 1951. Anak ketiga dari pasangan Soemitro Djojohadikusmo dengan Dora Sigar. Nama saudari-saudaranya antara lain Maryani, Biantiningsih, dan Hashim Djojohadikusmo. Prabowo bertumbuh sebagai anak Kebayoran yang tinggal di Jalan Sisingamangaraja, ketika kawasan itu belum seramai dan semacet sekarang.

Ayah Prabowo, Soemitro juga bukan orang sembarangan. Soemitro merupakan guru besar bergelar profesor di Fakultas Ekonomi UI dan menjabat sebagai dekan di sana. Prabowo kecil sering diajak Soemitro main ke kampus tempatnya mengajar di bilangan Salemba, Jakarta Pusat.

Di zaman Sukarno, Soemitro lebih dikenal sebagai politisi kawakan dari Partai Sosialis Indonesia (PSI). Di tengah perjuangan politiknya, Soemitro memilih membelot bersama sejumlah panglima militer pembangkang dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Perjuangan Semesta (Permesta). Bergelut dalam gerakan yang menentang pemerintah menyebabkan Soemitro terpaksa melarikan diri dari Indonesia.

Soemitro hidup berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain mengindari penangkapan. Dalam pelariannya, Soemitro difasilitasi oleh diplomat senior Des Alwi yang juga sama-sama pentolan PSI. Di balik “petualangan” ini, ada istri dan anak-anak yang ikut kena imbas sepak terjang politik Soemitro.

“Ayah mereka (Soemitro) terus giat melanjutkan perjuangan dan sekaligus menghindari kemungkinan tertangkap oleh pihak Jakarta yang terus mengintai ke mana keluarga ini pergi. Inilah mengapa keluarga Soemitro tak pernah menetap lebih dari dua tahun,” tulis tim penulis biografi Soemitro Jejak Perlawanan Begawan Pejuang: Sumitro Djojohadikusumo.

Prabowo waktu kecil. Tampan dan imut. Foto: Prabowo Subianto/Instagram.

Usia Prabowo baru menginjak lima tahun saat Soemitro memilih jalan terjal sebagai buronan negara. Selama masa pelarian ayahnya, Prabowo menginjakan kaki di berbagai berbagai belahan dunia. Berturut-turut, Prabowo bermukim di Singapura selama dua tahun, di Hongkong setahun, di Malaysia dua tahun, di Swiss dua tahun, dan di Inggris dua tahun.

 “Ia mengikuti ayahnya yang berpindah-pindah dalam masa pengasingan. Tak heran, sikapnya pun kebarat-baratan dan cenderung arogan,” tulis Femi Adi Soempeno dalam Prabowo: Dari Cijantung Bergerak ke Istana.

Menurut Prabowo, dirinya kerap mengalami diskriminasi di negara-negara yang disinggahinya. Sedari kecil, dia terbiasa hidup dalam lingkungan minoritas. Lambat laun, Bowo tumbuh menjadi anak yang tangguh.

 “Waktu saya sekolah di luar negeri, seringkali saya satu-satunya anak yang bukan kulit putih. Bagi saya itu adalah suatu pengalaman yang sangat mendidik,” kenang Prabowo. “Di sekolah saya sering dihina. Saya merasakan bagaimana hidup sebagai minoritas.”

Anak Brilian

Singapura menjadi negeri asing pertama yang disinggahi Prabowo. Di kawasan Bukit Timah, keluarga Soemitro tinggal berdekatan bersama sepuluh keluarga pelarian PRRI-Permesta yang lain. Keluarga Soemitro bermukim di Delkeith Road. Tak banyak cerita yang diperoleh dari Singapura.

Sekira tahun 1959, Prabowo pindah ke Hongkong. Tersebutlah nama Kolonel Jacob Frederick Warouw yang berjasa mempersiapkan perpindahan ini. Warow adalah atase militer Indonesia di Beijing, yang juga menjabat sebagai wakil perdana menteri Permesta. Warouw menyediakan flat berkamar tiga yang cukup besar untuk ditempati Soemitro bersama istri, anak perempuannya, dan juga Prabowo.

Prabowo bersama ibunya, Dora Sigar dan saudari-saudaranya: Maryani, Bianti, dan Hashim. Foto: Prabowo Subianto/Instagram.

Dilansir laman resmi prabowosubianto.info. di Hongkong, Prabowo senang main perang-perangan bersama anak sebayanya. Ketika Prabowo mengetahui bahwa salah satu teman mainnya ada yang anak tentara, Prabowo meminta izin untuk dipinjami bedil milik ayahnya. Menurut teman-temannya semasa di Hongkong, Prabowo adalah anak yang pemberani dan cenderung cepat marah. Sisi temperamental Bowo mulai terlihat.

Setahun kemudian, tepatnya tahun 1960, Prabowo pindah lagi ke Malaysia. Di sana, Bowo tinggal bersama keluarganya di daerah Petaling Jaya, Kuala Lumpur. Soemitro membuka pabrik perakitan alat elektronik untuk menghidupi keluarganya. Sementara itu, Bowo kecil bersekolah di Victoria Institution, sekolah Inggris paling bergengsi di Malaysia. Usianya masih menginjak sembilan tahun

Saat itu, hubungan Indonesia dengan Malaysia mulai memburuk. Bowo acapkali mendapat olok-olok dari teman sekolahnya yang berisi umpatan kepada Presiden Indonesia, Sukarno. Ledekan itu malah bikin Bowo jadi berang pada ayahnya. Bowo mempertanyakan alasan mengapa keluarganya memilih tinggal di Malaysia seraya melontarkan ultimatum.

“Saya tahu Papi berseberangan dengan Sukarno. Tapi saya tidak tahan, semua meledek negara kita. Kalau sampai satu tahun lagi saya di sini, saya akan menjadi pro Sukarno,” demikian ucapan Bowo sebagaimana tercatat dalam biografi Soemitro.

Memasuki masa remaja, Prabowo hijrah ke Eropa. Dia dan keluarganya menetap di Swiss. Bowo bersekolah di International School yang terletak di Zurich. Sebagian besar yang bersekolah di sana adalah anak-anak dari Amerika.  

Hari pertama masuk sekolah, lagi-lagi Bowo dilecehkan. Sebagai anak baru, Bowo memperkenalkan dirinya berasal dari Indonesia. Seseorang kemudian menanyakan dirinya apakah rakyat Indonesia masih tinggal diatas pohon. Pengalaman itu tak bisa dilupakan oleh Prabowo sampai kapanpun.

“Saya akhirnya lebih merasakan kita harus belajar dari Barat. Kita harus akui keunggulan-keunggulan mereka tapi kita juga harus bertekad suatu saat untuk membangun negara kita untuk tidak kalah dengan bangsa lain,” kata Prabowo.

Dari Swiss, Prabowo pindah lagi ke Inggris. Pada usianya yang ke-16, Prabowo menamatkan pendidikan bangku sekolah di American School, London. Memasuki perguruan tinggi, Prabowo bahkan diterima sebagai mahasiswa di tiga universitas terkemuka di Amerika Serikat, salah satunya Colorado University.

Secara intelegensi, Prabowo tergolong anak brilian. Kecerdasannya di atas rata-rata orang Indonesia saat itu. Itu tak mengherankan sebab Prabowo mengenyam pendidikan di negara maju. Dari segi mentalitas, wataknya cukup keras karena pengalaman bertahan hidup di negeri asing sebagai minoritas.

Soemitro kemudian menyarankan Prabowo untuk pulang ke Indonesia. Hal itu dimaksudkan agar Prabowo memperluas jaringan dan relasi, serta pengalaman bergaul dengan sesama aktivis muda dari kalangan PSI. Siapa nyana, pada akhirnya Prabowo memutuskan untuk menjadi prajurit TNI.

 

 

 

Prabowo-Subianto, Pilpres, Pemilu
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
8 Suka
BOOKMARK