top of page

Kebingungan Rombongan Perwira Angkatan Udara Sepulang dari China

Sepulang dari studi tur ke RRC, rombongan perwira AURI bingung dihadapkan pada situasi berbeda dari ketika sebelum berangkat. Akibat G30S.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 8 Nov 2019
  • 3 menit membaca

SAAT menerbangkan pulang helikopter Mi-6 dari Pangkalan Angkatan Udara (PAU) Husein Sastranegara, Bandung ke PAU Atang Senjaya, Bogor pada 2 Oktober 1965, Letda Udara (kini kolonel udara purnawirawan) Pramono Adam mendapati hal janggal. “Di atas, ramai (informasi radio, red.). Nggak boleh ke sana, nggak boleh ke sini. Nggak boleh ke Halim, Halim udah diduduki oleh Angkatan darat,” ujar Pram menirukan suara radio di cockpit helinya, kepada Historia.


Ternyata, larangan di radio yang didengar Pram merupakan aturan yang dikeluarkan komandan-komandan PAU kepada pesawat-pesawat AURI yang sedang mengudara menyusul terjadinya G30S. Larangan itu muncul mengikuti keadaan yang cepat berubah lantaran keadaan darurat.


Kondisi seperti yang dialami Pram juga dirasakan Kolonel Udara Santoso saat ditugaskan memiloti pesawat Hercules AURI untuk menjemput rombongan Seskau AU yang study tour ke RRC. Dari Canton (kini Guangzhou) sampai memasuki wilayah udara Indonesia, tanggal 6 Oktober, penerbangan Santoso berjalan dengan baik dan tenang. Perubahan baru terjadi ketika pesawat mendekati ibukota.


“Setelah pesawat mendekati Jakarta, mendapat tiga instruksi. Pertama, agar Hercules mendarat di PAU Halim, instruksi kedua, agar mendarat di PAU Atang Senjaya Semplak dan yang ketiga, agar mendarat di PAU Husein Sastranegara,” tulis Aristides Katoppo dan kawan-kawan dalam Menyingkap Kabut Halim 1965.


Tiga instruksi itu membuat bingung Santoso dan juga Komodor Sri Bimo Ariotedjo, Danjen Sekolah Staf Komando AU (Seskau), yang berada di cockpit.


“Ini perintah siapa?” tanya Bimo.


“Kalau instruksi dari PAU Husein pasti datang dari Kolonel Ashadi komandan PAU Husein,” jawab Santoso.


Ashadi (KSAU 1977-1982) merupakan komandan PAU pertama yang mengeluarkan himbauan kepada pesawat-pesawat AURI yang hendak mendarat ke Halim agar mengalihkan pendaratan ke PAU Husein yang dianggapnya lebih aman. Himbauan itu muncul menyusul didudukinya Halim oleh RPKAD pada 1 Oktober sore karena mengira AURI bakal membom Kostrad.


Himbauan pertama Ashadi, dinihari 2 Oktober 1965, ditujukan kepada lima pesawat AURI yang dikirim dari Wing Ops 002 Abdulrachman Saleh, Melang ke Halim. Sebuah pesawat B-25 Mitchell yang terlanjur mendarat di Halim sebelum himbauan Ashadi keluar, akhirnya roda-rodanya digembosi para personil RPKAD.


Namun karena tidak mengetahui maksud Ashadi dan justru menilai himbauan itu akan dimaksudkan untuk bermacam hal yang tak diinginkan, Bimo memerintahkan agar Santoso tak mendaratkan Hercules ke Bandung. Bimo lalu menanyakan pada Santoso apakah sebelum berangkat ke Canton mendapatkan kejadian aneh. Sang pilot pun menjawab bahwa pada dinihari 2 Oktober ketika Laksda Sri Mulyono Herlambang hendak kembali ke Jakarta dari Medan, di atas Tanjung Priok pesawatnya ditembaki oleh Artileri Serangan Udara milik AD.


Mendengar jawaban Santoso, Bimo langsung memerintahkan agar Hercules mendarat di Halim dan sebelum masuk Karawang, pesawat turun ke ketinggian 500 kaki. “Straight masuk Halim. Nggak usah call-call-an. Long final runway 24, langsung mendarat!” kata Bimo memberi perintah.


Hercules akhirnya selamat mendarat di Halim yang saat itu sudah aman setelah pasukan RPKAD keluar usai diberi penjelasan Laksda Herlambang. Namun ketika rombongan siswa Seskau hendak pulang ke rumah masing-masing pada pukul 20.00, datang perintah agar rombongan segera menghadap Pangkostrad Mayjen TNI Soeharto. Kendati bingung, Bimo dan rombongannya yang berisi 70 perwira AU pun berangkat menghadap Soeharto.


Kebingungan Bimo makin bertambah ketika di Kostrad dia bertemu kawan lamanya di AMN Yogyakarta, Letkol Oerip Widodo, yang sama sekali beda dari biasanya. Sampai di situ, Bimo dan rombongan masih belum tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Terlebih, di ruangan tempat mereka diterima terdengar suara dua orang bercakap dengan keras di belakang ruangan. “Ada yang sedang berkelahi. Mayjen TNI Soeharto dan Mayjen TNI Pranoto Reksosamodro,” kata seorang ajudan berpangkat letnan yang menemani rombongan Bimo.


Setelah sekira sejam menunggu, rombongan Bimo akhirnya ditemui Soeharto. Setelah menanyakan siapa pimpinan rombongan, Soeharto langsung mengambil sebuah catatan. “Begini ya, saya perlu brief semua,” kata Soeharto, dikutip Aristides dkk. Pangkostrad lalu membacakan kronologi peristiwa G30S. “Seolah-olah, pimpinanmu ada di pihak sana,” kata Soeharto menutup briefing.


Pernyataan Soeharto itu makin menambah kebingungan para anggota rombongan Bimo. Terlebih setelah Soeharto mempertunjukkan foto beberapa jenazah jenderal yang dibunuh di Lubang Buaya.


Puncak kebingungan Bimo dan rombongannya terjadi ketika Soeharto menutup pertemuan dengan sebuah pertanyaan. “Jadi, Saudara pilih pimpinanmu atau pilih kami?” kata Soeharto.


Alih-alih memberi pilihan, Bimo yang sama sekali tak mengetahui perkembangan keadaan tanah air beberapa hari belakangan menjawab diplomatis. “Begini, Pak, saya berangkat atas perintah Men/Pangau. Saya pulang mau laporan dulu,” ujarnya.


Jawaban itu membuat Soeharto kecewa. Dia langsung bangun dari duduknya dan keluar ruangan tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
100 tahun lalu, gempa dahsyat menguncang Sumatra. Bukan hanya mengakibatkan kerusakan parah dan jatuhnya korban jiwa, gempa mengubah wajah bentang alam Dataran Tinggi Padang dalam hitungan detik.
bg-gray.jpg
In his novels, Motinggo Boesje weaves in elements of sexuality and eroticism that captivated readers. Toward the end of his writing career, he changed his path to serious literature.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Setelah pensiun, Sudiro mencurahkan waktunya untuk menulis dan berkegiatan sosial. Sifat humoris Sudiro menurun ke salah satu cucunya, Tora.
Buku fiksi untuk anak-anak. Diterjemahkan ke lebih dari 600 bahasa dan dialek di seluruh dunia. Menempatkannya di posisi kedua sebagai buku paling banyak diterjemahkan setelah Alkitab.
Buku fiksi untuk anak-anak. Diterjemahkan ke lebih dari 600 bahasa dan dialek di seluruh dunia. Menempatkannya di posisi kedua sebagai buku paling banyak diterjemahkan setelah Alkitab.
Iran mengenal sepakbola lewat senjata dan industri minyak. Sejak 1920-an sudah ada pemain Iran di Eropa. Kini langganan tampil Piala Dunia.
Iran mengenal sepakbola lewat senjata dan industri minyak. Sejak 1920-an sudah ada pemain Iran di Eropa. Kini langganan tampil Piala Dunia.
Kapal selam Jepang karam setelah mendapat serangan mendadak dari kapal Amerika Serikat. Legenda menyebut awak kapal Amerika menyerang awak kapal selam Jepang dengan kentang.
Kapal selam Jepang karam setelah mendapat serangan mendadak dari kapal Amerika Serikat. Legenda menyebut awak kapal Amerika menyerang awak kapal selam Jepang dengan kentang.
Intelektualitas Agus Widjojo sudah terlihat sejak menjadi taruna Akabri. Dia dikenal sebagai jenderal reformis yang mendukung reformasi TNI dan supremasi sipil.
Intelektualitas Agus Widjojo sudah terlihat sejak menjadi taruna Akabri. Dia dikenal sebagai jenderal reformis yang mendukung reformasi TNI dan supremasi sipil.
Sepakbola di Kanada diperkenalkan para imigran Skotlandia dan Irlandia. Tim dari Kanada pernah menyabet medali emas sepakbola Olimpiade.
Sepakbola di Kanada diperkenalkan para imigran Skotlandia dan Irlandia. Tim dari Kanada pernah menyabet medali emas sepakbola Olimpiade.
Berbisnis sejak jadi tentara, M.F. Lichtendahl kerap tersangkut tindakan ilegal.
Berbisnis sejak jadi tentara, M.F. Lichtendahl kerap tersangkut tindakan ilegal.
transparant.png
bottom of page