top of page

Kamp Orang Indonesia di Texas

Bekas interniran Jepang di Amerika Serikat mencatat sekira 300 orang Indonesia ditahan di Crystal City, Texas, selama Perang Dunia II.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kamp Tule Lake, California. (Pamflet Edison Uno, Concentration Camps American-style)

  • 6 Sep 2022
  • 2 menit membaca

Edison Tomimaro Uno, seorang remaja Jepang-Amerika, ditahan di sebuah kamp di Crystal City, Texas selama Perang Dunia II. Ia ditahan bersama keluarganya di kamp yang terletak di dekat perbatasan Meksiko itu. Pasca perang, Uno menjadi aktivis hak sipil dan tokoh berpengaruh dalam upaya ganti rugi perang.


Pada 1967, Uno menulis pengalamannya ditahan di Crystal City untuk surat kabar Pacific Citizen. Menariknya, ia juga menyebut lebih dari 300 orang Indonesia ditahan di kamp itu. “Mereka diinternir di Crystal City untuk ‘penahanan pelindung’ selama perang,” tulis Uno dalam Pacific Citizen, 10 Maret 1967.


Menurut Uno, hanya sedikit dari orang-orang Indonesia yang bisa berbahasa Inggris. Mereka menunjuk juru bicara untuk bernegosisasi dalam hal apapun dengan otoritas kamp atau interniran lainnya. “Para pelaut ini tidak diizinkan untuk berbaur dengan kelompok lain di kamp,” tulis Uno.



Namun, alienasi itu ternyata bukan masalah bagi orang Indonesia. Menurut Uno, itu karena mereka beragama Islam serta memiliki pola makan dan budaya yang berbeda. Sehingga mereka cukup puas dibiarkan terpisah dari interniran lain.


Uno melanjutkan, kamp khusus orang Indonesia hanya diberi sedikit hiburan dan pekerjaan untuk membuat mereka sibuk. Salah satu yang menjadi kegemaran meraka adalah menonton film-film Amerika yang sesungguhnya tak mereka pahami. “…namun mereka selalu menikmati Barat dan, seingat saya, menjadi cukup riuh atas adegan cinta khas Hollywood,” tulis Uno.

Lalu dari mana orang-orang Indonesia ini?


Uno menyebut mereka adalah para buruh kapal Belanda yang mendarat di New York. Sementara itu, Charles Bidien, seorang imigran Indonesia di Amerika Serikat, dalam arsipnya Gerakan Angkatan ‘45 di U.S.A., menyebut 300 buruh kapal Belanda protes ketimpangan upah di New York pada 1943.



Para buruh kapal dari Indonesia itu kemudian mogok kerja dan meninggalkan kapal. Mula-mula mereka mengungsi ke Seaman House. Petugas imigrasi meminta mereka kembali ke kapal. Namun, mereka melarikan diri dan memilih menggelandang di New York.


“Banyak di antara mereka yang kelaparan dan kedinginan sampai ada yang menemui ajalnya. Di antaranya tujuh orang mati kelaparan dan kedinginan di pinggir jalan, tiga orang masuk rumah sakit gila, dan ada beberapa orang yang mendapat hukuman karena kejahatan kriminil,” tulis Bidien.


Bidien sempat mengungsikan mereka ke penginapan miliknya. Namun, penginapannya digrebek. Mereka kemudian di tahan di Pulau Ellis. Belakangan, Bidien dan ratusan buruh kapal di New York melakukan aksi mogok dan demonstrasi mendukung kemerdekaan Indonesia.



Belum diketahui apakah mereka yang ditahan di Crystal City adalah orang-orang yang sama dengan para buruh kapal di New York yang sempat ditahan di Pulau Ellis. Uno sendiri tak menyebutnya secara pasti.


Uno justru mengungkap fakta menarik lain dalam pamflet Concentration Camps American-style yang ditulisnya pada 1974. Ia menyebut orang-orang Indonesia di Crystal City adalah rombongan terakhir yang dikirim ke Crystal City. Sebelumnya mereka ditahan di Tule Lake, kamp lain di California.


Selain orang Indonesia, Crystal City juga menahan orang-orang Jerman, Italia, Peru-Jepang, dan Jepang dari Hawaii. “Kamp Crystal City unik karena merupakan kamp terakhir yang ditutup pada tahun 1947,” tulis Uno.


Baca kisah Charles Bidien dan aksi pemogokan buruh kapal di New York di sini: Ode Pejuang yang Kesepian

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
KH Chalimi once led the Surabaya student movement opposing Suharto’s re-election as president. He was arrested and then detained at the notorious Kalisosok Prison.
bg-gray.jpg
Bukan tanpa alasan Ahmad Subardjo dijuluki “Sang Penjamin Kemerdekaan”. Namun, dia malah absen saat kemerdekaan diproklamasikan Sukarno.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first steps in Batavia led her into the arena of the national movement.
bg-gray.jpg
Setelah kembali ke Indonesia, Ahmad Subardjo menjadi pengacara yang diawasi ketat oleh pemerintah kolonial Belanda. Menepi dari aktivitas politik, Subardjo pergi ke Jepang.
Tak hanya mengerahkan satu regu POM ABRI, Manila merekrut seorang pemain untuk dijadikan“informan” khusus guna mengusir hantu suap.
Tak hanya mengerahkan satu regu POM ABRI, Manila merekrut seorang pemain untuk dijadikan“informan” khusus guna mengusir hantu suap.
Penutup kepala yang sekaligus menunjang penampilan dan gaya.
Penutup kepala yang sekaligus menunjang penampilan dan gaya.
Nani Wijaya menari sejak SD, tampil di Istana Negara dan mancanegara. Mulai main film ketika duduk di bangku SMP.
Nani Wijaya menari sejak SD, tampil di Istana Negara dan mancanegara. Mulai main film ketika duduk di bangku SMP.
Tak sengaja ditemukan di sebuah zaman, sampai sekarang “susu basi” ini jadi hidangan lezat nan sehat.
Tak sengaja ditemukan di sebuah zaman, sampai sekarang “susu basi” ini jadi hidangan lezat nan sehat.
Saat masih aktif, kapal ini kalah duel dan tenggelam di Selat Sunda. Setelah menjadi bangkai, besi-besinya dicuri. Replikanya di Museum Bahari, hangus dilalap api.
Saat masih aktif, kapal ini kalah duel dan tenggelam di Selat Sunda. Setelah menjadi bangkai, besi-besinya dicuri. Replikanya di Museum Bahari, hangus dilalap api.
Sebuah pameran yang tak semata untuk merespon kondisi kekinian, tapi juga untuk menghidupkan sekaligus mengabadikan Balai Budaya selaku tempat bersejarah dalam dunia seni-budaya bangsa.
Sebuah pameran yang tak semata untuk merespon kondisi kekinian, tapi juga untuk menghidupkan sekaligus mengabadikan Balai Budaya selaku tempat bersejarah dalam dunia seni-budaya bangsa.
transparant.png
bottom of page