Kaiin Meregang Nyawa di Tangerang

Muncul untuk mengembalikan tanah yang dikuasai tuan tanah kepada para petani, Gerakan Kaiin tumbang di tanah tempat kelahirannya.

04 February 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Kaiin Meregang Nyawa di Tangerang
Topi Tangerang. Digunakan Kaiin Bapak Kayah dan anak buahnya ketika melancarkan gerakan/Foto: KITLV.

KAMPUNG Pangkalan, Teluk Naga, Tangerang ramai pada 10 Februari 1924. Hari itu, Kaiin Bapak Kayah –disebut demikian karena ayah Kaiin bernama Bapak Kayah– menggelar pesta sunatan anak tirinya. Tamu yang datang jumlahnya banyak, bukan hanya penduduk setempat atau orang kampung sebelah. Maklum, Kaiin merupakan tokoh yang dipandang di Pangkalan meski dia hanya petani.

Pesta itu tak semata untuk merayakan sunatan anak tirinya, Kaiin menjadikan momen untuk menggalang massa. Di pesta itu pula Kaiin akan mengumumkan hal penting yang akan menentukan nasib penduduk setempat, yang umumnya miskin, dan orang-orang yang senasib.

Merebut tanah “leluhur”

Lahir tahun 1884 di Kampung Pangkalan, Kaiin datang dari keluarga biasa. Seperti umumnya anak-anak Betawi, penghuni mayoritas Pangkalan, saat kanak-kanak Kaiin belajar mengaji sekaligus main pukulan (baca: silat). Bocah pendiam itu merupakan anak yang taat kepada orangtuanya.

Seperti lelaki sebaya di kampungnya, begitu beranjak dewasa Kaiin bertani. “Status petaninya sebagai bujang sawah (buruh) dan pernah menjadi petani bagi hasil,” tulis Suhartono W. Pranoto dalam Bandit-Bandit Pedesaan di Jawa: Studi Historis 1850-1942. Dia tinggal di gubuk sederhananya yang didirikan di tanah sewaan kakaknya, Maiah.

Berbeda dari kakaknya yang secara teratur membayar sewa tanah kepada sang pemilik Lie Kim Liong, Kaiin seringkali telat membayar kompenian, uang yang harus dibayar penduduk untuk membiayai ronda, perbaikan jalan, dan jembatan. Beruntung, Lie seorang yang baik dan dermawan sehingga Kaiin tak diusir.

Kaiin dikenal saleh dan jago main pukulan. Seorang tuan tanah Tionghoa lalu mempekerjakan Kaiin jadi mandor di perkebunan miliknya. Namun, Kaiin yang amat muak pada ketidakadilan dan terobsesi menolong si lemah, tak tahan melihat pemerasan yang dilakukan tuan tanah sehingga mengundurkan diri. Kaiin kemudian merantau ke Teluk Naga dan bekerja sebagai pembantu polisi. Pekerjaan ini tak lama dijalaninya.

Pada 1913, Kaiin merantau ke Batavia dan bekerja sebagai opas seorang komisaris polisi. Lantaran tak betah, Kaiin pulang ke Pangkalan. Dia kemudian menghidupi dirinya dengan menjadi pembantu seorang dalang di Mauk. Dari situlah Kaiin belajar mendalang hingga akhirnya berhasil menjadi dalang populer di daerah Kebayoran.

“Saat menjadi dalang ini pola kehidupan Kaiin Bapak Kayah mengalami transformasi menjadi tokoh paham nativisme, terlebih setelah berguru kepada Sairin alias Bapak Cungok dari Cawang tentang elmu kawedukan dan elmu keslametan,” tulis G.J. Nawi dalam Maen Pukulan Pencak Silat Khas Betawi.

Kaiin tak hanya belajar kepada seorang guru. Kyai Mohammad Santri di lereng Gunung Salak juga kerap dikunjunginya. Kaiin menganggap kyai itu bisa melindungi rencananya. Sebaliknya, sang kyai menganggap Kaiin sebagai jelmaan Pangeran Alibasah yang dipercaya sebagai pembebas atau imam mahdi.

Penilaian sang guru menguatkan keyakinan Kaiin untuk mewujudkan gerakan merebut tanah-tanah yang dikuasai para tuan tanah Tionghoa dan mengembalikan ke para petani. Memanfaatkan popularitasnya, Kaiin lalu  menanamkan pemikirannya kepada teman-temannya agar mendukung gerakan merebut tanah Pangkalan. Tanah itu menurut Kaiin merupakan milik mereka yang diwariskan dari leluhur. Untuk itulah, tulis Suhartono, “pengikutnya harus mencari ilmu sakti dan kebal pada guru sakti dan keramat.”

Berbeda dari pemikiran para pemimpin gerakan serupa, Kaiin tak anti-pemerintah. Gerakan untuk merebut tanah Pangkalan perlu bantuan petinggi pemerintah di Buitenzorg (kini Bogor), bila perlu dari ratu Belanda.

Di tengah pergulatan batinnya, Kaiin melepas masa lajangnya dengan menikahi janda Tionghoa kaya, Tan Teng Nio pada 1922. Meski janda yang kemudian masuk Islam itu mencukupi kebutuhan materinya, hasrat Kaiin untuk membantu kaum tertindas dan merebut kembali tanah Pangkalan makin besar. “Setelah tahun 1922, ia berubah menjadi seorang pendiam dan serius. Tanah Pangkalan adalah milik mereka sejak leluhurnya, karena itu orang Cina harus diusir dan tanahnya dirampas,” tulis Suhartono.

“Tanah-tanah perkebunan yang dikuasai para tuan tanah dari etnis Cina harus dikembalikan kepada para petani sebagai pemilik awal keturunan Pangeran Blorong dan Ibu Mas Kuning,” tulis GJ Nawi.

Dalam sebuah pertunjukan wayang di Parangkurad, Kaiin yang membawakan lakon "Penggiring Sari" dan "Soklawijaya" mengalami trance di tengah pertunjukan. Di tengah ketidaksadarannya itu dia menyebut dirinya keturunan raja-raja Sunda dan akan dinobatkan sebagai Ratu Rabulalamin.

Di waktu hampir bersamaan, Sairin guru Kaiin melakukan ziarah dan ritual dengan membagikan jimat serta ilmu kebal kepada para pengikut Kaiin. Kepada mereka Sairin memerintahkan agar mengenakan pakaian putih dan topi anyaman, bambu atau pandang, Tangerang ketika melakukan gerakan.

Gerakan yang diimpikan Kaiin perencanaannya dimantapkan saat dia menyunatkan anaknya, 10 Februari 1924, di mana tamu yang hadir amat banyak dari bermacam tempat. “Kaiin Bapak Kayah mengusung pola gerakan yang memanfaatkan gerakan protes dan pertentangan golongan petani terhadap golongan tuan tanah,” lanjut GJ Nawi. Dalam rapat itu ditetapkan, gerakan akan dimulai pada Selasa, 19 Februari, dengan sasaran awal tanah partikelir Pangkalan.

Kaiin di rapat itu juga mengumumkan akan menghapuskan cuke (pajak) dan kompenian bila berhasil menjadi raja di Pangkalan dan Tanah Melayu. Dia juga berjanji akan mengusir orang Tionghoa. “Yang berjanji akan pulang ke negerinya, dibebaskan,” tulis Suhartono.

Maka ketika tanggal 19 Februari tiba, Kaiin dan 39 pengikutnya (empat di antaranya perempuan) yang berpakaian serba putih dengan membawa bermacam senjata pun bergerak menyerang rumah-rumah tuan tanah dan kantor Kongsi. Selain menghancurkan bangunan dan membakar arsip-arsip, mereka menangkap para tuan tanah Tionghoa. Seorang pemilik warung Tionghoa diancam dan seorang mandor Jawa diserang.

Komplotan selanjutnya melanjutkan gerak-maju ke Tangerang untuk kemudian ke Buitenzorg. Sebelum ke Tangerang, mereka singgah ke rumah Asisten Wedana Teluk Naga R. Toewoeh. Kaiin memberitahukan niatnya hendak menyerang Batavia dan sebelum ke Batavia mereka memerlukan ke Buitenzorg menggunakan kereta api dari Tangerang untuk mendapatkan izin mengusir orang Tionghoa dari petinggi kolonial. “Ia harus pergi ke Bogor karena ayahnya, Prabu Siliwangi, telah mendatanginya dalam mimpi dan memintanya untuk naik ‘takhta’,” tulis Marieke Bloembergen dalam Polisi Zaman Hindia Belanda: Dari Kepedulian dan Ketakutan.

Toewoeh berusaha tenang menangani masalah itu. Sambil menunggu aparat keamanan tiba, dia mengulur waktu dengan mengajak Kaiin minum teh dan memberi mereka rokok. Sekira pukul 9.30, delapan agen polisi berkuda tiba di rumah itu. Dengan perlindugnan polisi bersenjata, kontrolir mencoba membujuk Kaiin agar mengurungkan niatnya. Upaya itu gagal.

Pada tengah hari, Asisten Residen Van Helsdingen dan tiga mobil berisi rombongan pejabat kepolisian dan marsose tiba di lokasi. Keengganan Helsdingen menggunakan kekerasan membuat upaya penaklukan Kaiin berjalan lambat. “Setelah gagal memisahkan Kaiin dari rombongan pengikutnya, Van Helsdingen memutuskan untuk menjalankan tindakan alternatif, yaitu untuk membuat rombongan ini kelelahan dan mencari kesempatan terbaik untuk melucuti mereka tanpa kekerasan,” tulis Marieke.

Para personil keamanan pun menyertai perjalanan komplotan Kaiin menuju Tangerang. Di dekat Tanah Tinggi, Helsdingen meminta Kaiin agar memerintahkan pengikutnya beristirahat di kebun kelapa di selatan jalan. Kaiin sendiri lalu ke mobil asisten residen yang diparkir di utara jalan. Di sana sudah menunggu Scheepmaker (komandan reserse) dan May yang sudah diplot akan melucuti Kaiin. Di antara mobil dan pengikut Kaiin, Kapten Marsose Reterink menempatkan pasukan Marsose dan Polisi Lapangan.  

Belum lagi masuk ke mobil, Kaiin keburu ditangkap Scheepmaker dan May. Mengetahui hal itu, seorang perempuan pengikut Kaiin langsung melompat dan berteriak. Para pengikut Kaiin yang lain pun langsung bangkit dari duduk. Salvo tembakan dan tebasan kelewang dan beragam senjata tajam lain langsung meramaikan lokasi.

Pertarungan tak imbang yang berjalan hanya sekira lima menit itu akhirnya mewaskan Kaiin dan 19 pengikutnya serta melukai 17 lainnya. Aparat kolonial menderita kerugian dua korban jiwa: Scheepmaker yang tewas tertebas senjata tajam di punggung, dan personil Polisi Lapangan Darsono. 

Insiden tersebut mengguncang masyarakat maupun para pejabat di pemerintahan pusat. Sejumlah anggota Volksraad mengecam aparat keamanan dalam aksi berdarah tersebut. RAA Said mempertanyakan mengapa pejabat bumiputra tak diikutsertakan dalam penangangan peristiwa itu. Padahal, katanya, dengan pengetahuan dan kewibawaan atas masyarakat bumiputra, pejabat bumiputra dapat mencegah memburuknya situasi.

“Kenyataan bahwa kemunculan pergerakan ini tidak dapat dicegah oleh Polisi Lapangan Tangerang padahal mereka melakukan patroli harian secara rutin menunjukkan bahwa kinerja kepolisian modern sebagai sarana beradab dan seharusnya efisien sangatlah buruk,” tulis Marieke.

Tangerang
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
0 Suka
BOOKMARK