- 7 Okt 2011
- 3 menit membaca
Diperbarui: 7 Feb
SUATU hari Moerdiono menelpon sejarawan Sartono Kartodirdjo. Menteri Sekretaris Negara yang terkenal bicara terbata-bata kala diwawancara wartawan itu meminta Sartono mengoreksi buku putih terbitan Sekretariat Negara RI soal “Pemberontakan G.30.S/PKI”. Sartono menjawab singkat, “tugas sejarawan bukan mengoreksi buku putih.” Tapi toh Moerdiono tetap mengirim kurir ke Yogyakarta, membawakan naskah “buku putih” untuk Sartono.
Sartono kemudian melakukan beberapa koreksi dan memberikan catatan ihwal aspek metodologis yang digunakan dalam menulis buku tersebut. Betapa pun dililit persoalan metodologis, buku tersebut tetap terbit. Moerdiono memberi kata pengantar. Dalam buku ini disajikan biografi sebuah institusi bernama PKI yang disebut telah berkali-kali melakukan pemberontakan mulai 1926/1927, 1948 dan kemudian 1965. Rentetan peristiwa itu tak disertai penjelasan kepada siapa dan apa latar belakang pemberontakan, misalnya dalam soal peristiwa 1926.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












