- Andri Setiawan
- 5 Jan 2021
- 4 menit membaca
YOGYAKARTA, 21 Desember 1989. Suasana dalam ruang Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan itu mulai panas karena tidak ber-AC. Volume suara sang penceramah mulai menurun. Tangannya diletakkan di kening, ia menengadah dan memejamkan mata. Ketika ruangan hening, ia terkulai seperti hendak tidur. Soedjatmoko, intelektual sosialis itu, meninggal ketika sedang mengisi ceramah.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












